NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pintu kamar dibanting keras hingga berdentum. Begitu tiba di dalam ruangan yang luas itu, Adrian langsung mendorong tubuh Fatma dengan sisa amarahnya yang meluap-luap.

Fatma yang masih mengenakan gaun pengantin panjangnya kehilangan keseimbangan, membuat tubuhnya tersungkur keras ke atas lantai yang dingin.

"Bryan! Bawa dan ikat dia!" perintah Adrian lantang.

Fatma tersentak dan terkejut setengah mati ketika menyadari bahwa di dalam kamar itu ternyata sudah ada orang lain yang menunggu.

Bryan, orang kepercayaan Adrian, muncul dari balik pilar kamar bersama beberapa anak buahnya.

Mendengar perintah sang bos, Bryan dan anak buah Adrian langsung bergerak maju tanpa memedulikan air mata Fatma.

Mereka mengangkat tubuh Fatma yang lemas ke atas ranjang king size, lalu dengan cepat mengikat kedua tangan dan kakinya di tiang-tiang tempat tidur menggunakan tali yang kuat.

"M-Mas Adrian, apa yang kamu lakukan?" tanya Fatma dengan suara bergetar hebat, menatap suaminya dengan pandangan horor.

"Hahahaha! Sekarang kamu telah menjadi tawananku!" tawa Adrian pecah, terdengar begitu mengerikan dan sarat akan kepuasan yang menyimpang.

Plakkkkk!

Plakkkkk!

Tanpa belas kasihan, Adrian berkali-kali menampar wajah Fatma secara membabi buta.

Pukulan tangan kekarnya membuat kepala Fatma terlempar ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya ujung bibir Fatma pecah dan mengeluarkan darah segar.

"Aku tidak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas semua perbuatanmu!" raung Adrian dengan mata yang membelalak merah.

"M-Mas, aku tidak tahu hubungan Jamie dan Liana... Percayalah kepadaku. Saat itu..." Fatma mencoba berbicara di sela ringisannya, berusaha meluruskan kesalahpahaman. Namun, kalimatnya tidak pernah selesai.

Cetar!

Cetar!

Cetar!

Adrian menarik sabuk kulit tebal miliknya, lalu melayangkannya tanpa ampun ke arah tubuh Fatma yang terikat di atas ranjang.

Sabuk itu menghantam kulit dan gaun pengantin putihnya, meninggalkan bekas kemerahan yang pekat.

"S-Sakit... Tolong aku... Abah... Umi..." tangis Fatma pecah, jeritannya memenuhi sudut kamar.

Namun, Adrian sudah menutup mata dan telinganya dari rasa kemanusiaan.

Ia tidak menghiraukan sama sekali tangisan dan permohonan ampun istrinya.

Ia masih terus mencambuk tubuh Fatma dengan brutal hingga akhirnya, karena rasa sakit yang teramat sangat menyiksa fisik dan batinnya, kesadaran Fatma meredup. Ia jatuh pingsan dalam keadaan terikat.

Setelah merasa puas melampiaskan emosinya dan melihat Fatma tak lagi bergerak, Adrian menurunkan sabuknya. Napasnya terengah-engah.

Ia melangkah keluar dari kamar tersebut, lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari luar.

Di depan pintu, Adrian menatap tajam para penjaga.

"Tidak ada satu pun orang yang boleh masuk ke kamar ini, dan jangan pernah beri dia makan atau minum!" ancamnya mutlak.

Adrian kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Ia melempar sabuknya ke lantai dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.

Di bawah guyuran air shower yang dingin, Adrian menatap dinding dengan pandangan kosong yang dipenuhi dendam.

"Itu belum seberapa, Fatma. Aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita lagi dari ini," ucap Adrian berdesis di balik gemercik air.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian rapi, Adrian memutuskan untuk keluar rumah, mengendarai mobilnya menuju rumah mendiang Liana untuk menemui kedua orang tua wanita itu.

Beberapa jam berlalu. Di dalam kamar yang terkunci, kelopak mata Fatma bergerak perlahan.

Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, rasa sakit, perih, dan linu yang luar biasa langsung mendera seluruh tubuhnya. Setiap tarikan napas terasa begitu menyiksa.

Air mata hangat kembali mengalir bebas, membasahi pipinya yang bengkak dan perih.

Fatma menangis dalam diam, mengira bahwa dirinya tidak akan pernah membuka mata lagi setelah penyiksaan kejam tadi.

Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Fatma mencoba menggerakkan pergelangan tangannya, berusaha melepaskan ikatan tali yang mengekang dirinya.

Namun sayang, ikatan yang dibuat oleh anak buah Adrian terlalu kuat dan justru membuat kulit pergelangan tangannya lecet dan berdarah.

Dalam kesendirian dan kegelapan kamar yang mengurungnya, Fatma hanya bisa meratapi nasibnya yang malang.

Andaikan waktu bisa diputar kembali, ia pasti akan lebih memilih untuk tetap tinggal di pesantren dan tidak pernah datang ke lokasi kecelakaan maut yang mengubah seluruh hidupnya menjadi neraka dunia ini.

Sesampainya di kediaman mewah milik keluarga mendiang Liana, Adrian disambut langsung oleh kedua orang tua Liana.

Suasana di rumah itu masih diselimuti duka yang mendalam, dengan karangan bunga yang memenuhi pelataran.

Wajah ibu Liana tampak sangat kuyu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis semenjak kepergian putri tercintanya.

Begitu Adrian duduk di ruang tamu, Ibu Liana langsung menggenggam tangan Adrian dengan erat, menyalurkan rasa frustrasi dan kemarahan yang membuncah di dadanya.

Tanpa basa-basi, Ibu Liana meminta Adrian untuk menghukum Fatma sekeras-kerasnya.

"Ibu yakin kalau Liana itu diculik, Adrian! Wanita jahat itu pasti yang meminta kekasihnya untuk melakukan semua ini!" ucap Ibu Liana dengan suara bergetar menahan amarah yang meluap-luap.

"Kamu tahu sendiri, kan, Liana begitu setia kepadamu selama ini? Tidak mungkin dia mengkhianatimu kalau tidak dijebak!"

Adrian mendengarkan dengan rahang yang mengeras, membiarkan asumsi dan kesalahpahaman itu semakin mempertebal dinding kebencian di hatinya.

"Ibu tidak mempersoalkan kamu terpaksa menikah dengan wanita jahat itu untuk menjaga nama baik keluarga kita di depan media hari ini. Tapi Ibu mohon, Adrian... hukum dia! Jangan biarkan dia hidup tenang setelah menghancurkan masa depan putriku!" tangis Ibu Liana kembali pecah, sementara suaminya mencoba menenangkan dari samping.

Mendengar dukungan dari orang tua Liana, Adrian merasa tindakannya di rumah tadi seolah mendapatkan pembenaran yang mutlak.

Ia mengangguk pelan dengan tatapan mata yang beralih menjadi sangat dingin dan kejam.

"Iya, Ibu. Saya akan menghukumnya. Saya pastikan hidupnya akan menderita," jawab Adrian dengan nada suara yang penuh penekanan.

Ia membalas genggaman tangan Ibu Liana, meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa dendam mereka berada di jalan yang sama.

"Saya juga yakin, Ibu. Jamie pasti melakukan hal sekeji itu kepada Liana, kekasihku, karena hasutan dari wanita itu. Mereka berdua harus membayar mahal atas apa yang terjadi."

Di dalam kamar yang terkunci, keheningan yang menyiksa itu mendadak terusik oleh suara putaran kunci dari luar.

Pintu terbuka sedikit, dan langkah kaki yang sangat pelan terdengar mendekat.

Fatma tersentak, mengira Adrian telah kembali untuk menyiksanya lagi. Namun, siluet yang mendekat ternyata adalah Bryan.

Tangan kanan Adrian itu membawa sepotong roti dan segelas air putih di tangannya.

Ia menatap Fatma yang terkulai lemas di atas ranjang dengan tatapan iba yang berusaha ia sembunyikan.

Bryan melangkah mendekat, lalu perlahan membantu menyuapkan potongan kecil roti itu ke mulut Fatma.

"Bukankah, Mas Adrian melarangmu untuk memberikan aku makan?" bisik Fatma dengan suara yang sangat serak, tenggorokannya terasa begitu kering.

Bryan menghela napas pelan sambil tetap menyodorkan makanan itu.

"Aku tidak sekejam Tuan Adrian, Nyonya. Makanlah sedikit untuk mengisi tenagamu sebelum dia datang," ucap Bryan dengan nada rendah, hampir berbisik agar tidak terdengar oleh penjaga di luar.

Air mata Fatma kembali menetes, terharu karena di rumah neraka ini masih ada orang yang memiliki secercah rasa kemanusiaan. Fatma menganggukkan kepalanya dengan lemah.

"Terima kasih, Bryan..." ucapnya tulus sebelum menerima suapan roti tersebut demi mempertahankan hidupnya.

Deruuummm...

Baru beberapa suapan masuk ke dalam mulut Fatma, suara raungan mesin mobil Adrian terdengar memasuki pelataran rumah. Suasana seketika kembali menegang.

Bryan bergerak dengan sangat cepat dan sigap. Ia segera menggunakan saputangannya untuk membersihkan sisa makanan di sudut mulut Fatma yang terluka, lalu memungut setiap remah-remah roti yang jatuh di atas kasur agar tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Setelah memastikan semuanya bersih dan rapi seperti semula, Bryan bergegas keluar dan kembali mengunci rapat pintu kamar Fatma dari luar.

Tepat saat Bryan berbalik di lorong, Adrian berjalan tegap menghampirinya.

Tatapan mata Adrian tampak sangat dingin dan dipenuhi kelelahan setelah pulang dari rumah orang tua Liana.

"Bagaimana dia? Apakah dia sudah sadar?" tanya Adrian ketus, menghentikan langkahnya tepat di depan Bryan.

Bryan menundukkan kepalanya takzim, memasang wajah sedatar mungkin.

Ia menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Sudah, Tuan. Dia sudah sadar beberapa waktu yang lalu," jawab Bryan sambil menyembunyikan rapat-rapat rahasia bahwa ia baru saja menolong wanita malang tersebut.

Adrian melangkah gontai melewati lorong rumahnya yang sepi, mengabaikan keberadaan Fatma yang terkurung di kamar atas.

Ia berjalan menuju ruang tamu luas yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu resepsi pernikahan sandiwaranya.

Di sudut ruangan, di atas sebuah manekin yang belum sempat dirapikan oleh pihak WO, terpasang gaun pengantin mewah yang seharusnya dikenakan oleh Liana hari ini.

Gaun putih berkilau dengan potongan elegan yang sempat mereka pilih bersama dengan penuh tawa.

Adrian mendekat, lututnya mendadak terasa lemas.

Ia menjatuhkan dirinya di depan manekin tersebut, lalu meraih kain brokat halus itu dan memeluknya erat-erat ke dadanya.

Bahunya bergetar, menumpahkan seluruh kerapuhan dan rasa kehilangan yang sejak semalam ia sembunyikan di balik kemarahan yang membabi buta.

"Aku tahu kamu pasti dipaksa oleh lelaki itu. Aku tahu kalau kamu setia, Liana," gumam Adrian dengan suara parau yang pecah oleh isak tangis.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, membenamkan wajahnya di antara lipatan kain, menciumi aroma parfum Liana yang fana dan masih tertinggal samar di gaun pengantin itu.

Pikirannya sepenuhnya menolak kenyataan pahit tentang pengkhianatan kekasihnya.

Di dalam delusi dan rasa sakitnya, Adrian memilih mempercayai setiap ucapan ibu Liana demi menjaga sisa-sisa harga diri dan cintanya yang telah hancur lebur.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!