NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Secara tiba-tiba, Repan melayangkan lengan kirinya untuk merangkul pinggang Vina dan menarik tubuh gadis itu mendekat hingga jarak mereka nyaris menempel tanpa celah.

"Kiyaa!" Vina tersentak kaget, sepasang kelopak matanya membelalak lebar.

Dia sama sekali nggak menyangka kalau Repan bakal nekat bertindak sejauh itu di depan kerumunan orang.

"A-apa yang kamu lakukan?!" bisik Vina dengan nada panik, sementara rona merah merayap cepat memenuhi wajah cantiknya.

Repan sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Vina.

"Kita harus bisa meyakinkan pria tambun di depan kita ini kalau kita berdua beneran pacaran."

Vina langsung terdiam, kehilangan kata-kata untuk mendebat. Poros tubuhnya mendadak menegang, wajahnya terasa semakin memanas akibat malu, namun anehnya dia sama sekali nggak menolak dekapan tersebut.

Repan kembali menegakkan wajahnya, lalu melemparkan pandangan lurus ke arah Sidat dengan ekspresi penuh percaya diri.

"Dia ini memang pacar ku. Kami berdua memang sudah janjian untuk bertemu dan jalan-jalan di mall ini," ucap Repan dengan intonasi tegas dan penuh keyakinan, seolah-olah skenario sandiwara yang ia karang adalah sebuah realitas yang nyata.

Sidat menyipitkan matanya tajam, rona wajahnya memerah padam akibat perpaduan antara rasa amarah dan ketidakpercayaan yang membubung.

"Kamu pikir aku ini orang bodoh, hah? Mana mungkin aku percaya kalau gadis secantik dia mau berpacaran dengan remaja kelas bawah seperti kamu?!"

Repan sama sekali nggak gentar. Ia justru semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Vina, sukses membuat primadona sekolah itu kembali tersentak di dalam pelukannya.

"Hei gembrot, lebih baik kamu sekarang menjauh dari pacar ku sebelum kamu tertimpa masalah besar," ancam Repan dengan nada suara yang lambat laun berubah sedingin es, terasa tajam bagaikan mata pisau.

Sidat mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Bangsat! Berani-beraninya kamu, anak miskin nggak tahu diri, bicara sekasar itu di depan mukaku!"

Bibir Repan menyunggingkan senyuman sinis.

"Miskin? Kamu yakin dengan penilaianmu itu? Total isi saldo tabunganmu saat ini mungkin bahkan nggak akan sanggup mencapai satu persen dari jumlah dana yang saya punya."

Pernyataan angkuh dari mulut Repan sukses membuat emosi Sidat meledak sepenuhnya.

"Kalau kamu memang merasa kaya raya, ayo kita buktikan di sini! Kita bersaing memborong perhiasan paling mahal yang ada di dalam toko itu! Kalau kamu kalah, kamu harus berlutut dan menjilat sepatuku!" tantang Sidat lantang, dengan napas yang memburu naik-turun karena dikuasai emosi.

Repan melirik ke arah gerai perhiasan di samping mereka sejenak, lalu mendengus pelan.

"Oh... jadi kamu beneran serius mau menantang ku?"

"Seratus persen serius!" bentak Sidat kalap.

"Lalu, bagaimana kalau posisinya saya yang menang?" tanya Repan memancing.

"Kalau sampai kamu yang menang, aku rela berguling-guling seperti babi di atas lantai mall ini!" jawab Sidat sesumbar, terlampau percaya diri kalau dirinya nggak mungkin akan menelan kekalahan dari seorang anak sekolahan.

"Menarik. Saya rasa itu bakal jadi sebuah tontonan komedi yang sangat menghibur," sahut Repan santai.

'Bocah SMA sialan! Kurang ajar banget mulutnya! Aku harus kasih dia pelajaran biar tahu rasa!' geram Sidat di dalam hatinya.

Sementara itu, Vina menatap wajah Repan dari jarak dekat dengan pandangan tak percaya. 'Apa-apaan sih dia ini?! Kenapa dia malah nekat menerima tantangan dari pria tambun itu?! Padahal kan di sekolah dia dikenal sebagai murid yang... miskin!'

Vina refleks mencengkeram lengan baju Repan lalu berbisik cemas, "Repan... kamu serius?! Kenapa kamu malah meladeni tantangan orang itu?!"

Repan membalas bisikan itu tanpa perlu menolehkan pandangannya.

"Sudah nggak ada pilihan lain. Kalau nggak diginiin, dia bakal terus-menerus menguntit dan mengganggumu."

"Tapi Pan, kamu bisa kalah taruhan! Dia itu orang kaya... kamu nggak bakal sanggup membeli perhiasan yang harganya lebih mahal dari modal dia!" vokal Vina terdengar semakin panik.

Repan hanya melempar senyuman tipis yang menenangkan.

"Nggak usah khawatir, aku punya dana yang lebih dari cukup."

Vina menatapnya dengan raut heran yang kentara. "Ta-tapi... itu kan uang tabungan untuk masa depanmu! Jangan malah dihambur-hamburkan cuma demi membantuku..."

Repan sempat terdiam selama beberapa saat, lalu melirik ke arah wajah Vina.

'Ternyata dia gadis yang punya hati baik... dan dia bukan tipe cewek matre yang memanfaatkan situasi...' batin Repan menilai.

Ia kemudian beralih menggenggam jemari tangan Vina, terasa lembut namun tersirat ketegasan yang kuat.

"Ikuti langkah ku."

Dengan langkah kaki yang mantap penuh percaya diri, Repan menuntun Vina masuk melintasi pintu gerai perhiasan mewah yang berada di dalam Mall Botani Square tersebut. Sidat segera mengekor di belakang mereka dengan ekspresi wajah yang dipenuhi hawa amarah bercampur keangkuhan.

"Selamat datang di gerai kami, ada yang bisa saya bantu untuk pilihannya?" sapa salah seorang pramuniaga toko dengan sikap ramah.

Sidat langsung menyerobot maju paling depan, memasang posisi dagu yang terangkat tinggi.

"Tunjukkan pada saya apa produk perhiasan yang harganya paling mahal di toko ini! Saya mau membelinya khusus untuk gadis cantik di sebelah sana," ucapnya lantang sambil melemparkan pandangan penuh hasrat ke arah tubuh Vina.

"Baik, Tuan. Mohon kesediaannya untuk menunggu sebentar."

Pramuniaga tersebut segera membalikkan badan, berjalan menuju ke ruang penyimpanan eksklusif yang berada di area belakang.

Tidak butuh waktu lama, wanita itu kembali dengan membawa sebuah kotak perhiasan elegan berlapis kain beludru berwarna biru tua.

"Ini unitnya, Tuan. Sebuah kalung berlian eksklusif dengan seri Diamond Queen. Salah satu koleksi mahakarya terbaik yang gerai kami miliki saat ini."

Sepasang mata Sidat langsung berbinar serakah begitu melihat kilau kalung tersebut. Namun, begitu sang pramuniaga menyebutkan nominal harganya, seluruh persendian tubuh Sidat mendadak terasa membeku di tempat.

"Untuk nilai jualnya berada di angka satu koma lima miliar rupiah, Tuan."

"APA?!" Sidat sontak terlonjak kaget.

Rona wajahnya yang semula memerah padam karena emosi kini mendadak berubah pias tanpa darah akibat syok berat. Ia sama sekali nggak pernah memprediksi kalau harga kalung sport mewah itu bakal selangit itu. Butir-butir keringat dingin mulai tampak menetes dari pelipisnya.

'Sialan... aku terlampau besar kepala tadi! Kenapa juga aku harus sok-sokan minta barang yang paling mahal?!' batin Sidat panik setengah mati.

Di sisi lain, Repan masih bersikap teramat santai. Ia sama sekali nggak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya fokus menggenggam erat jemari tangan Vina yang sedang berdiri dengan gestur gugup di sampingnya.

Sidat mulai dirundung kegelisahan yang hebat. Keringat dingin kian deras membasahi keningnya, dan ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sangat panik.

'Mampus... aku nggak mungkin sanggup membeli perhiasan semahal itu. Mengeluarkan uang 1,5 miliar cuma demi menarik perhatian seorang siswi SMA? Gila saja! Kalau sampai Ayah tahu soal pengeluaran ini, dia bisa-bisa langsung memblokir seluruh akses kartu kreditku!' pikirnya kalap.

"A-apa... di sini ada koleksi perhiasan lain yang harganya sedikit lebih terjangkau dari ini?" tanya Sidat dengan volume suara yang mengecil, hampir menyerupai bisikan, sembari menundukkan wajahnya karena menanggung rasa malu di depan semua orang.

Pramuniaga toko yang masih berusaha menjaga profesionalitas kerjanya tampak membungkukkan tubuhnya ringan.

"Kira-kira berapa estimasi budget dana yang Anda persiapkan saat ini, Tuan?" tanyanya dengan nada sopan.

Sidat menelan ludahnya dengan susah payah. "Mungkin... perhiasan yang berada di kisaran harga 25 juta rupiah," jawabnya dengan vokal yang nyaris nggak terdengar.

"Hah? Cuma 25 juta rupiah saja?" seru Repan sengaja mengeraskan suaranya, memecah keheningan ruangan dengan nada penuh penekanan.

Seketika itu juga, seisi toko langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah pusat keributan.

"Dan dengan modal sekecil itu, kamu tadi punya nyali besar buat menantang saya?" cibir Repan.

Wajah Sidat langsung memerah padam menanggung rasa malu yang teramat sangat.

"Bangsat kau! Kamu pikir remaja miskin sepertimu bakal sanggup mengeluarkan uang 25 juta rupiah cuma buat membeli perhiasan, hah?!"

Repan sama sekali nggak berniat membalas makian itu dengan kata-kata kosong. Ia hanya mengayunkan kaki melangkah maju ke arah depan meja etalase dengan ketenangan yang luar biasa.

Tangan kirinya masih setia menggenggam erat jemari Vina, dan dari pancaran sorot matanya terkesan sebuah rasa percaya diri mutlak yang sanggup menggetarkan mental orang di sekitarnya.

"Tolong bungkus dua unit kalung berlian yang ini," ucap Repan santai, sembari menunjuk ke arah barisan perhiasan di dalam etalase kaca.

"Apa?!" Hampir seisi orang yang berada di dalam gerai tersebut langsung terperanjat syok.

Vina menatap wajah Repan dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Bahkan Sidat tampak mematung di posisinya laksana patung batu.

Sang pramuniaga toko tampak mengerjapkan matanya berulang kali dengan gestur gugup.

"M-mohon maaf, Tuan... untuk seri kalung berlian tersebut saat ini hanya tersedia satu unit saja. Namun, kami masih memiliki beberapa model varian lain yang tingkat kemewahannya nggak kalah saing."

Repan menyunggingkan senyuman tipis.

"Kalau memang begitu kondisinya, tolong keluarkan dan bawakan ke sini semua koleksi perhiasan yang harganya paling mahal di gerai ini. Saya ambil semuanya."

Hening. Suasana di dalam ruangan toko perhiasan itu mendadak terasa membeku selama beberapa saat, sebelum akhirnya pecah oleh riuh suara bisik-bisik dari para pengunjung yang terkejut setengah mati.

"Hah... dia bilang mau borong semuanya?!"

"Gila! Sebenarnya dia ini anak dari konglomerat mana, sih?"

Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, sang pramuniaga langsung berlari cepat menuju ke area ruang penyimpanan belakang.

Beberapa saat kemudian, ia kembali ke ruang depan didampingi oleh sang manajer toko, sembari membawa beberapa kotak beludru mewah yang berisi cincin berlian premium, gelang emas putih bertabur batu safir, serta kalung mewah yang dihiasi permata biru langka.

"Ini unitnya, Tuan. Tiga item perhiasan termahal yang saat ini gerai kami miliki. Jika Anda berniat untuk memborong semuanya sekaligus hari ini, kami bisa memberikan kebijakan insentif potongan harga sebesar lima persen," jelas sang manajer toko dengan sikap yang sangat santun.

Namun Repan justru menggelengkan kepalanya pelan.

"Nggak usah dipotong. Saya mau menebus semuanya dengan nominal harga penuh tanpa diskon."

Sekali lagi, pernyataan santai Repan sukses membungkam mulut semua orang di ruangan itu. Bahkan Vina mulai diserang rasa gugup yang hebat.

'Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan? Dia beneran berniat memborong semua perhiasan mewah ini? Demi membantuku? Tapi... bukankah dia ini statusnya adalah siswa paling prasejahtera di sekolah?!' pikir Vina dengan deru napas yang terasa tercekat.

'Apa semua ini cuma bagian dari aksi sandiwaranya saja? Atau dia sebenarnya menyembunyikan identitas rahasia yang besar?'

Di sisi lain, tingkat kepanikan Sidat sudah berada di ambang batas. Keringat dingin mengucur semakin deras membasahi pakaian mewahnya.

'Gawat! Sebenarnya siapa identitas bocah misterius ini? Apa dia beneran punya uang sebanyak itu? Jangan-jangan dia ini anak dari keluarga miliarder kelas atas?! Atau jangan-jangan dia anak dari ketua organisasi massa terbesar?!'

"Untuk total keseluruhan dari seluruh item ini berada di angka 4 miliar rupiah, Tuan," ucap sang manajer toko dengan nada suara yang penuh kehati-hatian.

Tanpa ada keraguan sedikit pun, Repan merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan sebuah ponsel model jadul miliknya. Semua orang di gerai itu sempat tertegun heran begitu melihat penampakan fisik gawai tersebut yang terkesan sangat kontras dengan gaya hidup mewah yang dipamerkannya. Namun, Repan tetap bersikap kalem.

Hanya dengan beberapa ketukan jari di atas layar ponsel jadulnya, ia langsung memproses dan menyelesaikan transaksi transfer instan saat itu juga.

Detik berikutnya....

Bip! Transaksi Sukses.

Sebuah notifikasi dana masuk seketika mencuat di atas layar sistem komputer toko, dan ekspresi wajah sang manajer gerai langsung berubah drastis menjadi sangat takjub.

"Da-dananya sudah masuk secara penuh, Tuan!" serunya dengan nada suara yang bergetar hebat karena syok.

"Kami akan segera membungkus seluruh perhiasan mewah ini khusus untuk Anda!"

"Hah?!" Vina langsung terlonjak kaget di tempatnya berdiri. Sementara Sidat hanya bisa melongo bodoh tanpa sanggup mengeluarkan suara.

Bahkan kerumunan pengunjung mall yang sedari tadi menonton jalannya drama dari balik kaca luar toko ikut heboh dan gempar.

Repan tetap berdiri tegak di posisinya dengan ekspresi wajah yang teramat kalem tanpa riak.

"Sudah ku katakan dari awal... aku bakal memborong semuanya."

Ting!

[Anda Berhasil Memperoleh +40 Poin Atribut]

Notifikasi hologram dari sistem mendadak mencuat di hadapan ruang pandang Repan, yang eksistensinya hanya bisa terdeteksi secara eksklusif oleh sepasang netranya sendiri.

'Bagus... dengan memborong seluruh perhiasan mewah ini, aku kembali sukses mendulang poin tambahan dari sistem. Rencana belanjaku berjalan dengan sangat mulus,' batin Repan sambil menyunggingkan senyuman tipis penuh kepuasan.

Namun, ada satu hal krusial yang sama sekali belum disadari oleh Repan—senyuman tipis penuh wibawa yang tersaji di wajahnya itu, di mata Vina, perlahan-lahan mulai mengubah total cara pandang gadis itu terhadap dirinya. Entah karena alasan apa... lubuk dada sang primadona sekolah mendadak berdebar dengan sangat kencang.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!