Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tepat pukul lima sore, lobi utama gedung Dirgantara Media Group sudah lengang dari pekerjaan para karyawan. Mereka sedang bersiap-siap untuk pulang.
Larasati melangkah keluar dari lift dengan penampilan yang sedikit berbeda dari jam kantor tadi. Ia telah merapikan riasan wajahnya, mengoleskan lipstik merahnya tipis-tipis, serta membiarkan rambut hitamnya tergerai indah membingkai bahunya.
Jantungnya berdegup kencang saat mendapati sosok Dewa Dirgantara sudah berdiri tegap di samping mobil SUV mewah berwarna hitam legam miliknya yang terparkir tepat di depan lobi.
Dewa yang mengenakan kemeja hitam bermerk dengan lengan digulung rapi melangkah maju, membukakan pintu untuk Larasati dengan gerakan yang sangat jantan.
Sepanjang perjalanan menembus kemacetan kota Jakarta, keheningan di dalam mobil begitu terasa, dan hanya ditemani oleh alunan musik jazz instrumental yang mengalir lembut dari pemutar audio.
Tujuan mereka adalah sebuah restoran privat mewah di lantai teratas gedung pencakar langit Jakarta. Restoran itu telah dipesan penuh oleh Dewa khusus untuk malam ini, menyajikan pemandangan dinding kaca raksasa yang langsung memperlihatkan hamparan lampu kota yang berkelap-kelip indah.
Setelah pelayan menyajikan menu pembuka berupa sup krim truffle hangat, Dewa meletakkan sendoknya perlahan. Pria tampan itu menatap lekat sepasang mata indah Larasati dengan sangat dalam, hangat, dan serius.
"Larasati, saya tahu malam ini masih ada keraguan di dalam hatimu." suara Dewa yang berat dan merdu memecah kesunyian di antara mereka.
"Saya bisa melihat dari caramu menatap saya sejak di dalam mobil tadi. Kamu masih merasa takut, bukan?"
Larasati tertegun sejenak, genggaman tangannya pada garpu perak mendadak mengerat. Ia menurunkan pandangannya ke arah meja, menarik napas panjang untuk menguasai emosinya.
"Jujur aja, iya, Pak Dewa... saya masih sangat ragu dan takut." jawab Larasati dengan nada suara yang bergetar lirih, memberanikan diri untuk menumpahkan seluruh isi kepalanya. "Arjuna adalah pacar pertama dalam hidup saya. Selama tiga tahun kami bersama, saya menjaga diri saya dengan prinsip pacaran sehat. Saya mempercayainya secara penuh. Namun nyatanya dia menorehkan luka yang paling dalam, yang baru saya ketahui tepat dua minggu sebelum pernikahan kami.
Di balik semua ketegasan dan profesional saya di kantor, saya tetaplah wanita biasa yang hancur.
Pak Dewa, luka saya belum sepenuhnya hilang. Saya takut, jika saya membuka hati terlalu cepat, saya hanya akan mengulang mimpi buruk yang sama.
Selain itu, Anda pun bukan orang sembarangan, Pak Dewa. Posisi Anda terlalu tinggi. Saya ini hanya karyawan Anda, Pak."
Dewa menyimak setiap untaian kalimat jujur Larasati dengan saksama tanpa sekali pun memotong pembicaraan.
Perlahan, Dewa mengulurkan tangannya, menyentuh dan menggenggam jemari Larasati yang dingin dengan kehangatan yang begitu menenangkan, sekaligus mengunci pergerakan wanita itu.
"Dengarkan saya baik-baik, Larasati. Saya tidak sedang mengajakmu bermain-main dengan sebuah drama asmara murahan." ucap Dewa secara tegas dan penuh keyakinan.
"Ketahuilah satu fakta yang belum kamu ketahui sebelumnya. Saya sebenarnya sudah lama mengagumimu, jauh sebelum skandal Arjuna itu terbongkar.
Saya sudah memperhatikan setiap langkah kerjamu dari balik meja marmer hitam saya, selama dua tahun terakhir.
Saya mengagumi kemandirianmu, kecerdasanmu, dan harga dirimu yang mahal sebagai wanita yang berdiri di atas kakinya sendiri tanpa pernah menjual nama besar ayahmu."
Larasati mendongak, matanya membelalak sempurna menatap lurus ke dalam manik mata elang milik Dewa yang memancarkan kejujuran.
"Saya melajang bukan karena saya tidak laku, tapi karena saya sangat pemilih dan belum pernah menemukan wanita yang benar-benar klop di hati saya." lanjut Dewa, mengencangkan genggaman tangannya untuk menyalurkan kekuatan batin pada Larasati.
"Dan ketika badai pengkhianatan itu menimpamu, saya melihat bagaimana kamu menghadapinya dengan kepala tegak dan kebesaran hati yang luar biasa. Di situlah saya semakin kagum.
Larasati, saya tidak akan memaksamu untuk melupakan sepenuhnya lukamu malam ini. Saya akan menunggumu!"
Wajah cantik Larasati memerah, mendengar itu semua. Seluruh ketakutan dan keraguan yang sejak sore menghimpit dadanya mendadak runtuh dan menguap begitu saja.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok