Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu
Di tengah malam, lilin di sayap timur Kediaman Marquis Yong'an tiba-tiba padam.
Lebih tepatnya, lilin itu dipadamkan oleh embusan angin yang menerobos ruangan. Namun, sebelum pelayan yang berjaga di luar sempat menyalakannya kembali, terdengar bunyi gedebuk dari dalam, seolah ada benda berat yang jatuh dari ranjang.
"Nyonya?"
Tak ada jawaban.
Ketika pelayan itu mendorong pintu dan masuk, ia melihat nyonyanya tergeletak tengkurap di lantai. Satu tangan mencengkeram erat ukiran kayu di sisi ranjang, sementara tangan lainnya menutupi lehernya, seakan baru saja dicekik seseorang. Cahaya bulan menerangi wajah pucat yang biasanya memang tanpa warna itu, membuatnya kini tampak seputih kertas.
"Nyonya! Ada apa dengan Anda..."
Sebelum kalimatnya selesai, wanita di lantai tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Pelayan itu mundur setengah langkah karena terkejut.
Sebab, di mata itu tak lagi ada kemurungan dan keputusasaan seperti biasanya. Yang menggantikannya adalah sesuatu yang sangat asing, sangat sadar, bagaikan dua lentera yang mendadak menyala di tengah kegelapan.
Yang lebih mengerikan lagi, dia tersenyum.
Sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyumnya tipis, tetapi jelas terlihat.
"...Aku tidak apa-apa."
Saat Lin Xiao mengucapkan kalimat pertama dengan tubuh ini, bahkan dirinya sendiri merasa asing.
Suara ini beberapa tingkat lebih lembut dibanding suara aslinya, membawa kelembutan khas wanita bangsawan yang tumbuh di balik tembok dalam. Sayangnya, ia berbicara dengan bahasa Mandarin modern, sementara gadis kecil di hadapannya yang mengenakan sanggul kembar jelas tidak memahaminya.
Maka, ia mengganti ucapannya.
"...Aku baik-baik saja."
Kali ini, pelayan itu mengerti, tetapi ekspresinya justru semakin ketakutan. Karena sejauh yang ia tahu, sejak nyonyanya menikah ke keluarga marquis pada usia lima belas tahun hingga kini berumur delapan belas tahun, selama tiga tahun penuh, ia belum pernah berbicara dengan nada seperti itu.
Terlalu tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal, semua orang mendengar kejadian tadi.
Setelah jamuan di aula depan bubar, sang marquis muda, suaminya secara hukum, pulang ke sayap timur dalam keadaan mabuk. Ia membanting pintu dan menunjuk hidungnya sambil memaki,
"Istri kejam sepertimu seharusnya sudah lama dipulangkan ke keluarga Shen dengan surat cerai dari ayah!"
Lalu dia pergi.
Pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Tak lama kemudian, kepala Shen Qingyue mulai terasa sakit. Rasa sakit itu seperti ada sesuatu yang meledak di dalam otaknya. Ia tak sanggup bertahan dan jatuh di atas ranjang.
Saat membuka mata lagi, jiwa yang menghuni tubuh itu telah berganti.
Lin Xiao duduk di lantai, memandangi jemarinya yang ramping dan pucat, lalu melihat halaman bergaya kuno yang sama sekali asing di luar sana. Ia membutuhkan waktu sekitar tiga puluh detik untuk menerima kenyataan:
Dia sudah mati.
Dia ditabrak truk yang menerobos lampu merah, lalu bereinkarnasi ke tubuh wanita ini.
Dan yang lebih buruk lagi...
Ingatan wanita itu mulai membanjiri pikirannya seperti banjir besar.
Shen Qingyue.
Istri sah Pei Yanzhi, putra sulung Marquis Yong'an.
Sudah tiga tahun menikah, tetapi belum memiliki anak.
Sifatnya murung, pendiam, dan kasar terhadap orang lain. Ia sering memukul dan memarahi para pelayan. Di luar, semua orang mengenalnya sebagai wanita kejam yang sangat pencemburu, bahkan tidak membiarkan selir suaminya hidup tenang.
Keluarga asalnya merupakan keturunan pejabat sipil yang telah jatuh miskin. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu, kakak laki-lakinya tidak becus, dan kini seluruh kehormatan keluarga hanya bergantung pada posisinya di kediaman marquis.
Sayangnya, kehormatan itu hampir habis karena ulahnya sendiri.
Lin Xiao memijat pelipisnya.
Hebat.
Dia memulai permainan langsung dari tingkat neraka.
Ia berdiri, meski kakinya terasa lemas. Tubuh ini setidaknya sepuluh kilogram lebih kurus daripada tubuh aslinya. Rangkanya begitu kecil hingga tampak bisa patah hanya karena hembusan angin.
Ia berjalan menuju meja rias dan, dengan bantuan cahaya bulan, melihat wajah di cermin perunggu.
Sudut matanya sedikit terangkat dan hidungnya mancung. Seharusnya dia adalah wanita cantik yang dingin dan elegan. Sayangnya, kebencian dan keluhan yang tertanam bertahun-tahun di antara alisnya membuat seluruh wajah itu kehilangan cahayanya.
"Nyonya... Anda benar-benar tidak apa-apa?"
Pelayan itu mendekat dengan takut-takut sambil membawa secangkir air hangat.
"Hamba... haruskah memanggil tabib?"
"Tidak perlu."
Lin Xiao menerima cangkir itu dan meneguknya.
"Siapa namamu?"
Pelayan itu terpaku.
Beberapa saat kemudian, ia menjawab pelan,
"Hamba bernama Qingxing."
Lin Xiao mencari ingatan tentang gadis itu.
Shen Qingyue memiliki tiga pelayan utama, dan Qingxing adalah yang termuda sekaligus paling jujur. Dia juga yang paling sering dipukuli.
Karena ketika Shen Qingyue sedang marah, siapa pun yang berada di dekatnya akan dimarahi. Qingxing yang selalu bergerak paling lambat sering kali menjadi korban pertama.
"Qingxing."
Lin Xiao menyerahkan kembali cangkir itu.
"Katakan, apa yang dikatakan Tuan Marquis malam ini?"
Qingxing menunduk.
"Tuan Marquis... menyuruh Nyonya merenungkan kewajiban Anda."
"Apalagi?"
"Beliau juga berkata... bahwa Selir Zhou sedang mengandung, dan meminta Nyonya untuk tidak mencari masalah dengannya."
Selir Zhou.
Lin Xiao menemukan nama itu dalam ingatan Shen Qingyue.
Zhou Ruolan, selir Pei Yanzhi yang masuk ke kediaman tahun lalu.
Wajahnya lembut dan rapuh seperti bunga putih kecil. Suaranya halus dan penuh kesopanan. Di depan Nyonya Tua, ia sangat patuh dan manis.
Yang paling penting, dia sedang mengandung.
Alasan Shen Qingyue dimarahi habis-habisan adalah karena setengah bulan lalu, Selir Zhou "secara tidak sengaja" terpeleset di taman hingga hampir keguguran.
Shen Qingyue kebetulan berada di tempat kejadian.
Nyonya Tua langsung menyimpulkan bahwa dialah pelakunya, dan Pei Yanzhi bahkan tidak repot bertanya sebelum memvonisnya.
Padahal...
Lin Xiao menelusuri ingatan tubuh ini.
Shen Qingyue sama sekali tidak menyentuhnya.
Selir Zhou terpeleset karena kakinya sendiri, lalu refleks menarik lengan baju Shen Qingyue. Karena gagal meraih, dia jatuh.
Bahkan saat itu Shen Qingyue sempat mencoba menolongnya.
Tetapi tidak ada yang percaya.
Karena di mata semua orang, Shen Qingyue memang wanita kejam yang dipenuhi rasa iri dan niat buruk.
Apa pun yang ia katakan hanyalah pembelaan diri.
Apa pun yang ia lakukan hanyalah sandiwara.
Lin Xiao menghela napas dan kembali duduk di sisi ranjang.
"Nyonya... benarkah tidak perlu memanggil tabib?"
Qingxing bertanya dengan takut.
"Tadi Anda jatuh dan membentur kepala..."
"Qingxing."
"Ya..."
"Besok pagi, apa ada acara di kediaman Nyonya Tua?"
"Besok tanggal lima belas, Nyonya harus pergi memberi salam pagi ke halaman utama."
"Apakah Selir Zhou juga datang?"
"Tentu. Selir Zhou setiap hari menemani Nyonya Tua berbincang. Nyonya Tua sangat menyukainya."
Lin Xiao mengangguk.
Lalu, ia membuka laci meja rias.
Menurut ingatan Shen Qingyue, setiap kali merasa diperlakukan tidak adil, dia akan menulis surat untuk keluarga Shen di tengah malam.
Namun, surat-surat itu tidak pernah dikirim.
Karena dia tahu, keluarganya tak lagi mampu membantunya.
Lin Xiao menemukan setumpuk kertas surat di dasar laci.
Semua surat itu hanya ditulis setengah jalan.
Tulisan tangannya indah, tetapi berantakan, seolah ditulis sambil menangis.
Surat terakhir berhenti pada satu kalimat:
"Putrimu tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan."