Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Darius mengibaskan sedikit debu yang menempel di lengan bajunya dengan gerakan santai. Di sekelilingnya, sepuluh pria kekar tergeletak tak berdaya yang mengerang kesakitan.
Dengan satu helaan napas yang halus, ia memutar tubuhnya perlahan dan mulai melangkah dengan sangat tenang menuju taksi yang masih terparkir di tengah area lapang.
Di dalam taksi, sang sopir tampak mencengkeram kemudi dengan tubuh gemetar. Matanya membelalak lebar, ketika melihat Darius yang berjalan mendekat.
Darius lalu membuka pintu penumpang belakang dan duduk dengan tenang. Ia merapikan lipatan jasnya dan tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda napas tersengal.
"Jalan," ucap Darius singkat, sebuah perintah mutlak dengan nada suara yang terdengar begitu datar dan dingin.
Sopir taksi itu seketika terperanjat. Ia menatap Darius dari spion tengah dengan bibir yang bergetar. "T-Tuan... Anda... Anda tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa," sahut Darius dengan pendek seraya membuang pandangannya ke luar jendela. "Lanjutkan perjalanan ke Perumahan Dama Sanctuary."
"B-Baik, Tuan! Baik!" ucap sang sopir dengan cepat. Tangannya yang masih bergetar hebat itu buru-buru memindahkan tuas transmisi.
Mobil taksi itu perlahan bergerak mundur, berputar arah meninggalkan tumpukan orang-orang yang terkapar, lalu melaju cepat meninggalkan kawasan utara yang terisolasi tersebut.
Sepanjang perjalanan, keheningan total menyelimuti taksi. Sang sopir tidak berani melayangkan sepatah kata pun. Ia sesekali melirik spion tengah dengan rasa hormat dan ketakutan yang mendalam.
Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti tepat di depan gerbang utama Perumahan Dama Sanctuary yang megah, disambut oleh petugas keamanan yang bersiaga di pos penjagaan.
Darius merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas
"T-Tuan, ini terlalu banyak..." ucap sopir taksi dengan suara terbata-bata saat Darius menyerahkan uang tersebut tanpa meminta kembalian.
"Simpan sisanya untuk mengganti kerusakan pada mobilmu," jawab Darius tenang, lalu perlahan mendorong pintu dan melangkah keluar dari taksi.
Sopir itu menatap punggung Darius yang berjalan menjauh dengan pandangan takjub. Baginya, pria yang baru saja turun dari mobilnya bukan sekadar penumpang, melainkan sosok luar biasa.
Tanpa membuang waktu, sang sopir kemudian segera menginjak pedal gas dan meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut.
Dua orang petugas keamanan berseragam yang bersiaga di pos penjagaan dengan sigap memberi hormat dan segera membuka gerbang kecil bagi pejalan kaki saat Darius melangkah mendekat.
"Selamat siang, Tuan," sapa sang komandan keamanan dengan nada suara yang teramat hormat.
Darius hanya mengangguk tipis sebagai respon, lalu terus melanjutkan langkahnya membelah jalanan kompleks yang teduh dan dikelilingi pepohonan yang asri hingga akhirnya sampai di Mansion Nomor Satu.
Begitu pintu utama mansion terbuka secara perlahan, jajaran pelayan yang dipimpin oleh Angelina sudah berbaris rapi dengan sikap penuh hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan," ucap Angelina seraya membungkukkan badan dengan anggun diikuti para pelayan lain di belakangnya.
"Terima kasih, Angelina," sahut Darius datar seraya melangkah masuk ke dalam ruang utama mansion yang luas dan megah.
Darius melepas jas hitamnya yang sedikit berdebu, lalu menyerahkannya kepada Angelina yang menyambutnya dengan nampan kecil di tangan.
Ia memutar lehernya perlahan untuk merenggangkan otot-ototnya yang sedikit tegang setelah pertarungan singkat di tadi. Sorot matanya yang tajam kini perlahan meneduh.
"Dimana Karina dan Maria?" tanya Darius dengan tenang dan suara yang terdengar mengalun begitu pelan.
"Nona Karina dan Nyonya Muda Maria sedang berada di ruang keluarga, Tuan," jawab Angelina dengan lembut dan penuh hormat.
Dengan langkah yang santai dan mantap, Darius segera menuju ruang keluarga. Setiap sudut ruangan itu memancarkan kemewahan dari tata letak interior yang tertata rapi dan berkelas.
Begitu sampai di ruang keluarga, Darius melihat Karina sedang duduk di atas sofa, mengenakan pakaian rumah yang sederhana namun tetap memancarkan keanggunan alami.
Sementara itu, Maria duduk nyaman di pangkuan ibunya. Tangan kecilnya menggenggam erat boneka beruang sambil menatap acara kartun di layar televisi besar.
Darius menyunggingkan senyum tipis, senyuman tulus yang sangat langka dan jarang ia perlihatkan. Ia menatap ke arah Karina dan Maria dengan pandangan yang lembut.
"Karina, Maria ... bagaimana keadaan kalian selama aku pergi?" tanya Darius dengan nada suara yang lembut dan penuh perhatian.
Suara rendah Darius seketika memutus ketenangan di dalam ruangan. Karina menoleh, dan wajah cantiknya langsung dihiasi senyuman lega begitu melihat Darius.
"Darius, kau sudah pulang!" seru Karina, suaranya memecah keheningan ruangan seraya perlahan merapikan posisi duduknya.
"Papa!" pekik Maria kegirangan. Anak kecil itu langsung melompat turun dari pangkuan ibunya dan berlari menghampiri Darius dengan tangan terentang.
Darius kemudian berlutut, menyambut tubuh mungil putri kecilnya itu ke dalam pelukannya. Ia lalu mencium lembut puncak kepala Maria.
"Papa... Maria kangen!" celoteh bocah kecil itu dengan riang, sambil memeluk leher Darius dengan erat seolah takut sang ayah akan pergi lagi.
Mendengar hal itu, Darius seketika tersenyum hangat. Ia lalu menggendong Maria dan berdiri tegak dan melangkah mendekati Karina yang menatap mereka berdua dengan binar penuh kasih sayang.
"Kami baik-baik saja, Darius," jawab Karina lembut seraya mengusap lengan Darius. "Lalu bagaimana urusanmu? Apakah berjalan lancar?"
Darius tersenyum tipis, merapikan rambut halus Maria yang ada di pangkuannya sebelum membalas tatapan Karina dengan sorot mata yang hangat.
"Semuanya berjalan lancar, Karina," jawab Darius dengan nada suara yang begitu tenang dan santai. "Hanya menyelesaikan beberapa urusan kecil."
"Syukurlah kalau begitu," ujar Karina seraya bangkit dari sofa, lalu mengambil Maria dari gendongan Darius. "Aku tadi sempat khawatir karena kau pergi agak lama. Tapi melihatmu kembali, hatiku jadi tenang."
Karina lalu menggendong Maria yang tampak sudah mengantuk di pelukannya, menepuk-nepuk pelan punggung putrinya itu dengan lembut dan kehangatan seorang ibu.
Darius menatap kelembutan yang memancar dari wajah Karina saat wanita itu mengayun-ayunkan tubuhnya pelan untuk menenangkan Maria.
Dengan langkah perlahan, Darius kemudian mendekat. Ia menatap Karina yang sedang merapikan rambut Maria, lalu bersuara dengan nada yang teramat halus dan penuh kehati-hatian.
"Karina..." panggil Darius dengan nada pelan, suaranya nyaris berbisik namun sarat akan kesungguhan.
Karina mendongak, mendapati sorot mata Darius yang begitu intens namun lembut sedang menatapnya. "Ya, Darius?"
"Bagaimana dengan tempat ini?" tanya Darius, membiarkan jeda sejenak tercipta di antara mereka. "Apakah kau dan Maria merasa nyaman tinggal di mansion ini?"
Karina tertegun sejenak mendengarnya. Jemarinya yang sedang membelai punggung Maria terhenti. Ia melihat rasa tanggung jawab yang amat besar di wajah pria di hadapannya.
"Darius, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Karina lembut, bibirnya mengukir senyum tipis yang hangat. Sementara matanya menatap Darius lekat-lekat,
"Aku hanya ingin memastikan," sahut Darius datar namun sarat akan perhatian. "Tempat ini berbeda dengan apa yang biasa kalian jalani. Aku tidak ingin kalian merasa tertekan atau terasing tinggal disini."