Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Angin malam berhembus kencang di atas ketinggian empat ratus meter. Hujan rintik-rintik mulai turun, menyamarkan siluet sesosok tubuh berpakaian serba hitam yang menempel di dinding kaca luar Menara Linzhou Corp.
Agen Khusus Leng Yue bergerak dengan kelincahan seekor macan tutul. Pakaian taktis siluman yang dikenakannya dilengkapi dengan teknologi penyerap gelombang radar militer tingkat tinggi, membuatnya secara teoritis tidak terlihat oleh kamera keamanan, sensor panas, maupun pemindai laser jenis apa pun.
"Markas, ini Rajawali Satu," bisik Leng Yue melalui alat komunikasi mikro di telinganya. "Aku telah menembus perimeter luar lantai seratus dua puluh. Tidak ada perlawanan. Sistem keamanan sipil mereka tidak mendeteksi kehadiranku."
"Roger, Rajawali Satu," balas suara Jenderal Song dari ujung komunikasi. "Retas ruang server utama mereka. Kita butuh jejak aliran dana Yao Wi malam ini juga."
Leng Yue menyeringai tipis di balik masker taktisnya.
Biro Keamanan Nasional telah meremehkan betapa mudahnya misi ini. Sekaya apa pun Yao Wi, dia hanyalah seorang pemuda sipil. Teknologi keamanan yang bisa dibeli dengan uang di pasar bebas tidak akan pernah bisa menandingi teknologi militer rahasia milik Divisi Sembilan.
Dengan menggunakan alat pemotong kaca laser tanpa suara, Leng Yue melubangi jendela kaca berlapis baja itu dan melompat masuk ke dalam lorong yang gelap gulita. Pendaratannya sempurna, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Ia menyalakan kacamata miliknya, bersiap menyusup lebih dalam menuju ruang server.
Namun, baru tiga langkah ia berjalan, sesuatu yang sama sekali di luar nalar terjadi.
Bip!
Suara statis yang memekakkan telinga meledak di dalam alat komunikasi mikronya.
"Argh!" Leng Yue merintih tertahan, segera mencabut alat komunikasi itu dari telinganya.
Detik berikutnya, seluruh sistem elektronik di pakaian taktisnya mati total. Kacamata hitamnya menggelap, dan sensor suhu di pergelangan tangannya padam. Sebuah gelombang Elektromagnetik (EMP) lokal dengan frekuensi yang belum pernah ia temui baru saja melumpuhkan seluruh peralatan militer senilai miliaran rupiah miliknya dalam kedipan mata.
Klik. Klik. Klik.
Lampu neon putih di sepanjang lorong menyala satu per satu secara berurutan, menyilaukan mata Leng Yue.
"Kau datang terlambat tiga menit dari prediksi sistem kami, Nona Leng Yue."
Sebuah suara mekanis AI yang terdengar sangat jernih menggema dari pengeras suara tersembunyi di langit-langit.
"Detak jantung Anda berdetak seratus sepuluh kali per menit. Suhu tubuh Anda sedikit menurun. Apakah Anda membutuhkan handuk hangat?"
Leng Yue membeku. Keringat dingin seketika membasahi punggungnya. Ia telah terdeteksi? Sejak kapan?!
Wush!
Empat bayangan hitam pekat melesat dari empat sudut lorong dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Leng Yue, dengan refleks membunuhnya yang terlatih, segera mencabut sepasang pisau kerambit titanium dari pinggangnya dan menebas ke arah bayangan terdekat.
Trang! KRAK!
Mata Leng Yue melebar dipenuhi kengerian. Pisau titanium kebanggaan Divisi Sembilan miliknya yang diklaim mampu membelah plat baja patah menjadi dua bagian hanya karena berbenturan dengan sarung tangan taktis milik salah satu bayangan tersebut.
Sebelum Leng Yue sempat bereaksi lagi, dua tangan kekar telah mencengkeram kedua bahunya dengan kekuatan yang mustahil untuk dilawan, memaksanya berlutut di lantai pualam.
Keempat sosok itu adalah Pasukan Bayangan. Mereka menatap Leng Yue dari balik topeng balaclava mereka tanpa emosi sedikit pun.
"K-kalian... siapa kalian sebenarnya?!" desis Leng Yue, mencoba meronta, namun cengkeraman mereka terasa seperti penjepit baja hidrolik yang akan meremukkan tulangnya jika ia bergerak satu inci saja.
Salah satu Pasukan Bayangan menekan earpiece di telinganya.
"Tuan Bos, tikus dari ibu kota telah diamankan tanpa kerusakan fisik," lapor penjaga bayangan itu dengan nada datar.
Terdengar suara tawa pelan dari ujung saluran, lalu penjaga itu menatap Leng Yue kembali.
"Tuan Bos mengundang Anda untuk makan malam, Agen Leng Yue. Tolong jangan membuat keributan yang merusak suasana hatinya."
Tanpa menunggu persetujuan, Pasukan Bayangan itu menarik Leng Yue berdiri dan membawanya menuju lift pribadi VVIP yang langsung melesat menuju lantai puncak, lantai delapan ratus.
Ding.
Pintu lift terbuka. Leng Yue, yang masih ditahan oleh dua penjaga, diseret masuk ke dalam sebuah penthouse mewah yang luasnya menyaingi lapangan sepak bola.
Di tengah ruangan yang dikelilingi oleh kaca panoramik dengan pemandangan gemerlap Kota Linzhou, berdiri sebuah meja makan panjang berlapis emas.
Yao Wi duduk di ujung meja dengan santai, kemeja hitamnya digulung hingga siku. Di atas meja, tersaji hidangan daging sapi Wagyu, kaviar Almas, dan sebotol anggur merah yang usianya lebih tua dari negara ini. Shen Yue berdiri di sudut ruangan dengan tablet di tangannya, menatap Leng Yue dengan tatapan kasihan.
"Lepaskan dia," perintah Yao Wi santai sambil memotong daging bistiknya.
Pasukan Bayangan segera melepaskan cengkeraman mereka dan mundur ke dalam bayang-bayang ruangan, seolah mereka tidak pernah ada.
Leng Yue terhuyung ke depan, memegangi bahunya yang memar. Ia memelototi Yao Wi dengan tatapan membunuh, amarah dan harga dirinya sebagai agen top negara memberontak.
"Yao Wi! Kau baru saja melakukan pengkhianatan tingkat tinggi!" bentak Leng Yue, suaranya menggema tajam di ruangan mewah itu. "Penyerangan terhadap agen Divisi Sembilan adalah deklarasi perang terhadap negara! Besok pagi, militer akan meratakan menara sombongmu ini dengan tanah!"
Yao Wi mengunyah dagingnya perlahan, menelannya, lalu menyesap anggur merahnya sebelum menatap agen wanita yang sedang mengamuk di depannya.
"Duduklah, Nona Leng. Bistikmu akan segera dingin," ucap Yao Wi tanpa memedulikan ancaman tersebut sama sekali.
"Kau tuli?! Militer..."
"Militer tidak akan melakukan apa pun," potong Yao Wi dengan suara rendah namun memancarkan dominasi yang membungkam Leng Yue seketika.
Yao Wi menjentikkan jarinya. Shen Yue melangkah maju dan meletakkan tabletnya di atas meja makan, memproyeksikan sebuah data holografik ke udara.
Itu adalah daftar rincian anggaran pertahanan Divisi Sembilan dari ibu kota.
"Divisi Sembilan, biro intelijen rahasia yang kebanggaannya setinggi langit, tapi anggaran tahunannya hanya sebesar sepuluh triliun rupiah," ucap Yao Wi sinis. "Tahukah kau, Nona Leng, bahwa setengah jam yang lalu, aku baru saja membeli sembilan puluh persen saham dari tiga perusahaan pemasok alutsista dan logistik tempur tempat Divisi Sembilan bergantung?"
Mata Leng Yue melebar. Napasnya tercekat.
"Itu... itu mustahil! Mereka adalah kontraktor pemerintah!"
"Uang adalah pemerintah yang sesungguhnya di dunia ini," kekeh Yao Wi dingin. "Jika aku memutus kontrak logistik besok pagi, Jenderal Song-mu yang bodoh itu bahkan tidak akan punya cukup bahan bakar untuk menerbangkan satu helikopter ke mari."
Yao Wi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Leng Yue yang kini berdiri gemetar, menyadari betapa mengerikannya pria di hadapannya ini.
"Kau datang ke mari untuk mencari tahu dari mana asalnya uangku?" Yao Wi tersenyum merendahkan. "Uangku tidak memiliki batas. Aku bisa membeli atasanmu, aku bisa membeli negaramu, dan yang paling penting..."
Yao Wi mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menembus tepat ke dalam jiwa Leng Yue.
"...aku bisa membelimu, Leng Yue."
Ding!
[Serangan Psikologis Berhasil.]
[Mentalitas target (Leng Yue) mengalami keruntuhan 50%.]
Leng Yue, agen terdingin dan paling mematikan dari ibu kota, perlahan mundur satu langkah. Semua doktrin militer yang ia pelajari seumur hidupnya hancur lebur di hadapan realitas kapital absolut yang ditunjukkan Yao Wi.
Ia dikirim untuk menangkap seorang penjahat ekonomi, namun yang ia temui di puncak menara ini adalah seorang dewa yang mengendalikan dunia dengan uangnya.
"A-apa yang kau inginkan dariku?" bisik Leng Yue, suaranya kehilangan seluruh ketajamannya.
Yao Wi tersenyum puas. Ia menunjuk kursi kosong di ujung meja yang berlawanan dengannya.
"Makan malammu. Lalu besok, kau akan kembali ke ibu kota dengan membawa pesan dariku untuk Jenderal Song," titah Yao Wi mutlak. "Beri tahu dia, mulai sekarang, Divisi Sembilan bekerja untuk Linzhou Corp. Atau aku akan membuat mereka semua kelaparan di jalanan."
Hari itu, pedang paling tajam milik negara tidak hanya dibuat tumpul, tetapi dipaksa berlutut di hadapan Sang Sultan.