Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Belanja Peralatan Bayi di London
Keesokan harinya, langit London tampak cerah. Matahari pagi menyinari jendela kamar hotel Sarah, dan ia terbangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Semalam, setelah acara peresmian, Samudra mengajaknya berjalan-jalan di sekitar sungai Thames. Mereka berbincang tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan hingga impian-impian kecil yang ingin mereka capai.
Sarah sudah tidak bisa memungkiri lagi. Perasaannya pada Samudra sudah tumbuh jauh lebih dalam dari sekadar kontrak. Dan saat ia melihat Samudra pagi ini, ia tersenyum lebar.
Samudra sudah menunggu di lobi hotel, mengenakan kemeja putih dengan jaket kasual berwarna krem. Ia terlihat sangat santai, berbeda dari penampilannya saat acara peresmian kemarin.
"Selamat pagi, Sarah. Kamu tidur nyenyak?" tanya Samudra.
"Selamat pagi, Pak. Sangat nyenyak. Pemandangan London dari jendela kamar sangat indah," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Aku punya rencana untuk hari ini. Kita tidak hanya akan menikmati London, tapi juga melakukan sesuatu yang spesial."
"Spesial?" tanya Sarah, penasaran.
"Ikuti aku. Aku akan menunjukkan sesuatu," ujar Samudra.
Mereka keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Perjalanan menuju tujuan memakan waktu sekitar 20 menit. Sarah menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung megah dan jalanan London yang mulai ramai.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mal mewah di kawasan Knightsbridge. Mal itu bernama Harrods, salah satu pusat perbelanjaan paling terkenal di dunia. Sarah menatap gedung itu dengan mata terbelalak.
"Pak, kita ke Harrods?" tanya Sarah tidak percaya.
"Iya. Ada sesuatu yang ingin aku beli di sini," jawab Samudra.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam mal. Suasana di dalam sangat mewah, dengan lantai marmer, lampu gantung kristal, dan berbagai butik mewah. Sarah mengitari sekeliling dengan kagum, karena ini pertama kalinya ia mengunjungi Harrods.
Samudra memimpin Sarah menuju lantai tiga, di mana terdapat sebuah toko khusus perlengkapan bayi. Toko itu bernama Baby Boutique, dengan berbagai macam barang yang sangat cantik. Ada kereta dorong bayi, tempat tidur bayi, baju bayi, mainan, dan masih banyak lagi.
Sarah menatap semua barang itu, dan matanya berbinar-binar. "Pak, ini toko perlengkapan bayi."
"Iya. Aku ingin membeli beberapa perlengkapan untuk bayi kita," jawab Samudra.
Sarah membelalak. "Bayi kita? Pak, ini masih awal. Bayinya masih kecil."
"Tapi tidak ada salahnya mempersiapkan dari sekarang," jawab Samudra. "Aku ingin memastikan bayinya mendapatkan yang terbaik."
Sarah tersenyum, merasa sangat tersentuh. Samudra yang biasanya sibuk dengan urusan bisnis, kini meluangkan waktu untuk memilih perlengkapan bayi.
Mereka berjalan di sepanjang rak-rak toko. Samudra memilih kereta dorong bayi yang sangat cantik dengan warna abu-abu muda dan rangka berwarna emas.
"Ini sangat bagus," ujar Samudra.
"Pak, ini harganya pasti sangat mahal," ujar Sarah.
"Tidak masalah. Bayi kita layak mendapatkan yang terbaik," jawab Samudra.
Sarah hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tersenyum melihat kegigihan Samudra.
Mereka berjalan ke bagian baju bayi. Ada berbagai macam pakaian kecil, mulai dari onesie, baju tidur, sampai topi kecil yang sangat menggemaskan. Samudra memilih beberapa set baju dengan warna pastel, lalu menatap Sarah.
"Kamu suka warna apa untuk bayi?" tanya Samudra.
Sarah tersenyum. "Saya suka warna kuning muda, atau biru muda. Tapi karena kita belum tahu jenis kelaminnya, mungkin yang netral lebih aman."
Samudra mengangguk. "Benar. Aku pilih yang hijau muda dan krem."
Ia mengambil beberapa set baju, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
Mereka melanjutkan belanja ke bagian mainan. Samudra memilih mainan kayu yang aman, dan juga sebuah boneka beruang kecil yang sangat lucu.
"Ini untuk bayi kita," ujar Samudra, menyerahkan boneka itu pada Sarah.
Sarah menerima boneka beruang itu, dan menatapnya dengan lembut. "Terima kasih, Pak. Ini sangat manis."
"Kita juga harus membeli tempat tidur bayi," ujar Samudra.
Mereka berjalan ke bagian perlengkapan tidur. Samudra memilih sebuah tempat tidur bayi dari kayu jati dengan ukiran yang indah. Ia juga memilih selimut, bantal kecil, dan kelambu yang sangat cantik.
Sarah menatap semua barang itu, dan perasaannya campur aduk. Ia sangat senang, tapi juga sedikit sedih.
"Pak," ujar Sarah pelan.
"Ada apa?" tanya Samudra.
"Setelah bayi lahir... saya akan kembali ke apartemen saya. Bapak akan merawat bayi ini dengan pengasuh. Saya hanya... pemilik rahim," ujar Sarah, suaranya bergetar.
Samudra menatap Sarah. Ia melihat kesedihan di mata wanita itu. Samudra meletakkan barang yang dipegangnya, lalu menatap Sarah dengan serius.
"Sarah, aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak lagi melihatmu sebagai asisten kontrak. Aku peduli padamu, dan aku sudah mulai memiliki perasaan lebih padamu," ujar Samudra.
"Tapi Pak, kontraknya—"
"Kontrak bisa diubah. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah bayi lahir," potong Samudra. "Kamu akan tetap bersama bayi ini, dan bersama aku, jika kamu mau."
Sarah menatap Samudra, air matanya mulai menggenang. "Pak..."
"Aku tidak memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku serius," ujar Samudra.
Sarah mengusap matanya, lalu tersenyum. "Terima kasih, Pak. Itu sangat berarti bagiku."
Samudra tersenyum, dan meraih tangan Sarah. "Sekarang, ayo kita lanjutkan belanja. Masih banyak barang yang harus kita beli."
Mereka melanjutkan belanja dengan semangat baru. Sarah mulai lebih bersemangat memilih barang-barang untuk bayinya. Ia memilih beberapa buku cerita anak, dan juga beberapa botol susu yang aman.
Setelah hampir dua jam, keranjang belanja mereka sudah penuh. Samudra membayar semua barang tersebut dengan kartu kreditnya, tanpa ragu.
Saat mereka keluar dari toko, Samudra menatap Sarah. "Kamu senang?"
"Sangat senang, Pak," jawab Sarah.
"Bagus. Besok, kita akan mengunjungi tempat lain yang spesial," ujar Samudra.
Sarah tersenyum. "London benar-benar memberikan kejutan yang tidak akan pernah aku lupakan."
Mereka kembali ke hotel dengan tas-tas belanja penuh perlengkapan bayi. Malam itu, Sarah menatap semua barang yang sudah dibeli, dan ia tersenyum.
"Mungkin, ini bukan lagi sekadar kontrak," bisiknya. "Mungkin ini adalah awal dari sebuah keluarga."