Maureen Fredelia, di kenal dengan sebutan Delia. Gadis berusia 18 tahun itu harus terpaksa menikah dengan seorang Brian Andreas Haidar! Pewaris sah dari Grup HDR.
Brian adalah sosok yang tidak ia kenal, tidak ia suka, dan tidak akan pernah bisa menjadi patner dalam hidupnya. Namun karna perjudian yang di lakukan oleh neneknya, membuat hutang keluarga mereka menumpuk. Dan akhirnya ia terpaksa menikah dengan lelaki itu.
Masuk dalam keluarga kaya membuat kehidupan Delia berubah sepenuhnya. Menjadi gunjingan teman teman dan tetangganya masih belum cukup untuk mengawali penderitaannya.
Delia harus banyak terluka karna mengenal seorang keluarga Andreas. Dan menjadi target baru untuk para pesaing bisnis keluarga tersebut bum lagi citranya yang begitu buruk di dalam masyarakat.
Namun Delia bukan Delia jika tidak sekuat baja. Delia memang kuat. Namun jalan terjal yang ia lalui juga bukan persoalan yang gampang untuknya.
Mampukah Delia bertahan di dunia keras itu? Yuk.. simak terus kelanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Dean dan Delia berjalan beriringan memasuki kafe tempat Roy dan Zahra berada. Sejauh mata mereka memandang, mereka tak kunjung menemukan sosok kedua temannya tersebut.
"Weh!" Panggil Chim melambikan tangannya pada Dean yang tak sengaja menatapnya.
"Sini!" Ujar lelaki itu dengan mengayunkan tangannya agar mereka pergi ke arahnya.
Dean dan Delia pun menghampirinya. "Ngapain lo disini?" Seru Dean mewakili kebingungan mereka berdua.
"Ngumpul! Yok naik. Lu lupa ini kafe punya gue? Roy udah di atas noh sama pacarnya" seru Chim berjalan memimpin mereka menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua kafe tersebut.
"Tapi muka pacarnya Roy judes amat ya? Cantik cantik judes! Sayang amat. Dari tadi gue gombalin gak baper baper malah gue di pelototin si Roy!" Curhat Chim pada mereka.
Delia hanya diam sedangkan Dean hanya manggut manggut saja. Pasalnya Dean masih terbawa emosi mangkannya gak banyak omong.
Sampai di atas!
Mereka melihat ketiga lelaki yang sedang main psp sedangkan seorang perempuan hanya diam dengan cuek pada keadaan disekitarnya.
"Zahra!" Panggil Delia langsung nyelonong mendekati sahabatnya yang sudah auto bad mood.
Zahra langsung mendongkak dan mencebikkan bibirnya kesal melihat kehadiran Delia. Tapi, kemudian Zahra langsung bangkit dengan raut wajah khawatir saat menyadari penampilan Delia yang acak acakan.
"Kamu kenapa!" Seru Zahra sedikit keras hingga mereka menjadi pusat perhatian.
"Gak papa hehehehe" jawab Delia cengengesan.
"Bohong! Itu dagunya kenapa lebam kalo gak papa? Baju juga kek habis kelai kan. Itu juga kenapa kuku kamu berdarah?"
Marah Zahra dengan menyebut semua keanehan dari diri sahabatnya. Lalu Zahra menyibak sedikit rok Delia "Nih! Berdarah juga dua duanya" amuk Zahra menjadi.
Dean yang mendengarnya langsung menciut sekaligus khawatir karna ia tak memperhatikan kondisi Delia baik baik tadi.
"Ssstttt! Malu Ra! Jangan keras keras. Aku gak papa sumpah" ucap Delia panik. Saat kedua wanita itu marahan, mode aku kamu nya otomatis berlaku jadi Dean dan Roy jelas tahu jika saat ini Zahra sedang marah dengan serius pada Delia.
Zahra menatap Dean dengan pandangan marah. "Lo lagi kan An! Gara gara lo lagi kan dia jadi kek gini" marah Zahra menatap tak suka pada lelaki itu.
Dean hanya diam karna ia tau memang dirinya lah penyebabnya. Wajar jika Zahra marah besar saat Delia berulang kali celaka karna dirinya.
Melihat Zahra yang membentak bentak Dean dengan begitu kasarnya otomatis para penonton kaum adam itu membatin 'Cewek itu memang mengerikan!' Batin mereka ngeri.
Roy bangkit dan menghampiri Delia disela sela ceramah Zahra pada adiknya itu. "Coba dongkak! Gue mau liat lebam nya" pintanya dan Delia menurutinya.
"Biru banget! Di apain lagi sama Riena? Di pukul pakek apa? Jujur!" Tanya Roy santai tapi penuh penekanan.
"Hummm...gak kena kok! Gue gak papa udah. Jangan pada lebay plisss"
Seketika Zahra dan Roy yang mendengar langsung mengerutkan keningnya sambari berteriak "Gak papa gimana!"
Delia langsung ciut dan memasang muka melasnya. Ia menatap Dean tapi sepertinya lelaki itu tak bisa menolongnya karna ini juga salahnya.
Alhasil Delia menoleh kesamping, menatap Brian yang duduk tak jauh darinya "Tolong!" Ujarnya melas.
Brian mengerjapkan matanya salting melihat kelakuan gadis itu. Imut! Itu kata yang langsung menggebrak otak Brian dengan keras ketika Delia berperilaku seperti itu.
"Tolongin gue" pinta Delia lagi dan tiba tiba tangan Brian menarik tangannya hingga Delia jatuh duduk menabrak dada lelaki itu.
"Asss!" desis Delia pelan, ia kesakitan saat kedua lututnya membentur lantai dengan keras.
Brian yang mendengarnya sontak berbisik kata maaf sambil membelai rambut Delia sayang. Dan Delia terpaku ditempatnya.
"Udah jangan dimarahin! Lagi sakit harus disayang" seru Brian membuat mereka syok. Bahkan Delia pun membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan lelaki itu.
Dean langsung menarik Delia agar berdiri dari posisinya. "Gak usah peluk peluk juga!" Sarkasnya menatap tak suka kelakuan Brian yang bar bar.
Walau Dean tahu Brian itu play boy kelas kakap tapi entah mengapa saat melihat Delia disentuh olehnya, hati Dean mendadak panas.
Brian pun mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga, tanda menyerah.
"Sorry"
Dean menatap Delia yang masih bengong. "Gak usah baper!" Ketusnya dan membuat Delia tersadar dan langsung melotot.
"Gue tampar boleh gak sih? Gak sopan amat jadi cowo" sekarang giliran Zahra yang marah pada Brian.
Brian menatapnya dan memasang wajah tak berdosa "Dia minta tolong! Gue cuman bantu" tungkas Brian sambari menggidikan bahu acuh.
Bummm! Amarah Zahra meledak melihat reaksi lelaki itu. Saat dirinya ingin mengambil langkah maju, tangannya sudah dicekal duluan oleh Roy.
"Apa!" Marah Zahra menatap tajam ke arahnya.
Roy dengan tenang melepaskan tangannya sambari berujar dengan lembut "Istifar Ra! Dia udah minta maaf kan. Delia juga gak papa kan? Lo gak usah marah marah ya! Ini tempat orang"
Seketika amarah Zahra sedikit mereda. Ia tersadar dari amarahnya. Gadis itu akhirnya hanya mendengus kesal dan segera mengambil tas sekolahnya yang ada di atas sofa. Lalu menyeret Delia untuk cabut dari sana.
"Kita balik! Delia gue antar" ketus Zahra dan turun bersama dengan Delia.
Sekarang tinggal ke lima lelaki yang masih bengong di tempatnya masing masing.
Prokk! Chim menepuk tangannya untuk mencairkan suasana yang menegang tersebut. Menyadarkan teman temannya dari rasa canggung karna amarah Zahra barusan.
"Yak! Debatnya sudah selesai tuan tuan. Mari kita lanjutkan permainan kita tadi"
Dan teman temannya pun menurutinya kecuali Dean yang memilih untuk pamit dan menyusul Delia. Hatinya masih resah karna kondisi Delia. Apa lagi ia tahu pasti gadis itu akan dimarahi ibunya jika pulang dengan keadan seperti itu.
"Gue cabut! Besok gue join" pamitnya dan segera menghilang.
"Lah? Gue pulang pakek apaan dek? Woy Dean!"
"Ojek banyak bang" sahut Dean setengah berteriak. Seketika teman temannya terbahak melihat raut wajah Roy yang seketika memberenggut kayak pantat ayam.
...🐢 🐢 🐢...
Di motor Zahra hanya diam dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Delia yang di bonceng hanya bisa diam, karna ia tau bawasannya sahabatnya itu tengah marah padanya.
Ckitt..
Sampai di depan sebuah kafe dekat perumahan Delia. Zahra memarkir motornya dengan rapi. Mereka berdua pun lekas turun lalu masuk bersamaan.
Zahra duduk terlebih dahulu sedangkan Delia memesankan makanan untuk mereka berdua.
Drakkk...
Delia duduk di depan Zahra, menatap sahabatnya yang masih setia dengan rajukannya. Helaan nafas sabar pun Delia perlihatkan jelas.
"Udah dong! Aku kan gak papa" seru Delia membujuk.
Zahra menatapnya kesal tapi seketika emosinya mereda saat melihat Delia yang tampak lelah.
"Humm...tapi cerita jujur sama aku! Tadi kamu kenapa? Di apaain juga? Kok bisa ketemu sama Reina? Izinnya kan ke toilet!"
Delia tersenyum masam. "Ya itu...emm.. tadi kan aku ke toilet! Tapi pas ketemu Reina and the gengs ada disitu bukannya aku pergi malah nerobos aja. Kebelet banget soalnya Ra! Yaudah habis keluar wc malah kena apes sama mereka. Dibawa ke atas! Kek biasanya gitu. Di bully ga jelas"
Zahra seketik menghela nafasnya kasar "Delia.. Delia! Coba kamu jauhi Dean aja kenapa sih? Reina gitu kan karna cemburu sama kalian. Hahhh.. gak habis pikir aku" keluh Zahra frustasi.
"Permisi kak! Ini pesanannya ya" ujar seorang pelayan menghidngkan pesanan Delia tadi.
Zahra menatap beberapa jenis es crim dengan siraman coklat diatasnya. Ia menatap Delia yang hanya tersenyum padanya "Nyogok nih ceritanya?" Sarkas Zahra menatapnya intens.
Delia mengangguk "Iya! Jangan marah ya. Tuh es crimnya banyak. Makan cepetan! Entar cair. Sekalian biar mood kamu balik. Ya??" Ucapnya disertai senyuman manis semanis manisnya.
Zahra menghela nafasnya pelan. "Makasih! Aku gak marah lagi. Tapi obatin luka kamu dulu. Nih.. aku bawa obat merah sama hansaplas" serunya sambil melirik ke arah lutut Delia yang berdarah.
Delia mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya "Makasih P3K ku wkwkwwk"
"Ga usah nyebelin deh! Makngkannya berhenti kelahi coba. Biar aku gak usah nyetok begituan di dalam tas!" Cibir Zahra jengkel. Delia hanya terkekeh sambil mengobati lututnya pelan pelan.
Grubrakk...
d tggu upnya kakak..
semangat terus, karyamu selalu yang terbaik..
D tggu feedback nya yaa..
salam hangat dari :
***. KEAJAIBAN CINTA KESYA
***. MR.PERWIRA vs MANTAN PREMAN