Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sang pewaris yang hilang
Di dalam Jantung Keseimbangan...
waktu seakan berhenti.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Semua mata tertuju pada sosok yang muncul dari cahaya.
Atlas dan Oliver berdiri diam.
Karena wajah itu...
bukan wajah asing.
Mereka pernah melihatnya.
Di ukiran kuno.
Di catatan sejarah yang hilang.
Dan dalam bayangan masa lalu Aurelian.
SOSOK DARI MASA LALU
Sosok itu perlahan melangkah keluar.
Ia mengenakan pakaian pendekar kuno.
Di tangannya terdapat pedang yang memiliki bentuk hampir sama dengan milik Atlas.
Namun auranya berbeda.
Lebih tua.
Lebih dalam.
Seolah membawa ribuan tahun kesedihan.
Atlas menggenggam pedangnya.
"Siapa kau?"
Sosok itu menatapnya.
Lalu menjawab:
"Aku adalah orang yang seharusnya tidak pernah dilupakan."
NAMA YANG TERSEMBUNYI
Sang Penguasa Singgasana menatap sosok itu dengan wajah pucat.
"Tidak mungkin..."
"Kau..."
Sosok itu menoleh.
"Kau masih mengingatku?"
Semua terdiam.
Oliver melihat ke arah sang penguasa.
"Kalian mengenalnya?"
Sang Penguasa menunduk.
"Ya."
"Karena dia adalah alasan kenapa sejarah Aurelian berubah."
PEWARIS PERTAMA
Algojo berjalan maju.
Matanya penuh keterkejutan.
"Mustahil."
"Kau seharusnya sudah menghilang."
Sosok itu tersenyum kecil.
"Menghilang?"
"Aku hanya dikurung."
Atlas mengerutkan kening.
"Dikurung oleh siapa?"
Tidak ada jawaban.
Namun semua mata perlahan mengarah kepada para dewa.
KISAH YANG DIHAPUS
Sosok itu menyentuh permukaan kristal di Jantung Keseimbangan.
Sebuah gambaran masa lalu muncul.
Ribuan tahun lalu.
Sebelum Aurelian membagi warisan.
Ada tiga pewaris.
Bukan dua.
Tiga garis darah.
Penjaga Langit.
Penjaga Waktu.
Dan satu warisan terakhir yang tidak pernah tercatat.
Penjaga Kehampaan.
Oliver terkejut.
"Tiga?"
Sosok itu mengangguk.
"Ya."
"Namun para dewa menghapus garis ketiga."
WARISAN YANG DITAKUTI
Atlas menatap sosok itu.
"Kenapa?"
Jawabannya membuat semua diam.
"Karena Penjaga Kehampaan adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menghapus bahkan kekuatan para pencipta."
Oliver memahami.
"Jadi para dewa takut..."
"Bukan pada Penghancur Lapisan."
"Tapi pada pewaris ini."
PENGKHIANATAN PARA DEWA
Sosok itu menatap Sang Penguasa Singgasana.
"Kalian berkata aku berbahaya."
"Kalian berkata aku akan menghancurkan dunia."
"Tapi kalian lupa..."
"Aku adalah orang yang menyelamatkan dunia ketika kalian memilih menyelamatkan kekuasaan."
Sang Penguasa menutup matanya.
Karena ia tidak bisa menyangkalnya.
HUBUNGAN DENGAN ATLAS DAN OLIVER
Atlas menatapnya.
"Kalau begitu..."
"Siapa kau bagi kami?"
Sosok itu diam.
Lalu menjawab:
"Aku adalah kakak dari leluhur kalian."
Oliver membeku.
"Kakak?"
"Berarti..."
Sosok itu mengangguk.
"Aku adalah bagian pertama dari darah Aurelian."
NAMA SANG PEWARIS
Cahaya memenuhi ruangan.
Sosok itu memperkenalkan dirinya.
"Namaku..."
"Aeron Valtherion."
Nama itu menggema di seluruh Jantung Keseimbangan.
Nama yang dihapus dari sejarah.
Nama yang bahkan para dewa takut untuk disebut.
TUJUAN AERON
Atlas tidak menurunkan pedangnya.
"Kalau kau benar keluarga kami..."
"Kenapa muncul sekarang?"
Aeron menatap mereka.
"Karena waktu kalian hampir habis."
Oliver langsung waspada.
"Maksudmu Penghancur Lapisan?"
Aeron menggeleng.
"Bukan."
"Ada sesuatu yang lebih berbahaya."
Aeron melihat ke arah inti Jantung Keseimbangan.
"Penghancur Lapisan bukanlah akhir dari perang ini."
"Itu hanyalah penjaga pintu."
Atlas dan Oliver saling melihat.
Karena jika perkataan Aeron benar...
maka semua yang mereka lawan selama ini hanyalah permulaan.
Nama Aeron Valtherion masih menggema di dalam Jantung Keseimbangan.
Nama yang selama ribuan tahun dihapus dari seluruh catatan dunia.
Nama yang tidak pernah disebut oleh para dewa.
Namun kini...
pemilik nama itu berdiri tepat di hadapan Atlas dan Oliver.
RAHASIA PENJAGA KEHAMPAAN
Oliver menatap Aeron dengan penuh pertanyaan.
"Kalau kau adalah bagian dari darah Aurelian..."
"Kenapa para dewa menghapus keberadaanmu?"
Aeron berjalan mendekati inti cahaya.
"Karena mereka tidak takut pada kekuatanku."
"Mereka takut pada apa yang bisa kulihat."
Atlas mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Aeron menatap inti Jantung Keseimbangan.
"Aku bisa melihat sesuatu yang bahkan para pencipta coba sembunyikan."
SUMBER KEHANCURAN SEBENARNYA
Aeron mengangkat tangannya.
Sebuah gambaran muncul.
Bukan tentang perang.
Bukan tentang kehancuran.
Melainkan tentang awal penciptaan.
Atlas dan Oliver melihat para pencipta pertama kali membentuk dunia.
Namun di balik cahaya penciptaan...
ada bayangan lain.
Sebuah energi yang jauh lebih tua.
Sesuatu yang sudah ada sebelum dunia tercipta.
Oliver terdiam.
"Jadi sebelum dunia ada..."
"sudah ada sesuatu yang menunggu?"
Aeron mengangguk.
"Ya."
"Dan para pencipta tidak menciptakan dunia untuk melawannya."
"Mereka menciptakan dunia untuk menyembunyikan diri darinya."
KEHADIRAN YANG LEBIH TUA
Atlas menggenggam pedangnya.
"Kalau begitu..."
"apa sebenarnya Penghancur Lapisan?"
Aeron menjawab:
"Penghancur Lapisan hanyalah alat."
"Alat yang digunakan untuk menjaga sesuatu tetap tersegel."
Oliver terkejut.
"Jadi ketika dunia akan dihapus..."
"Itu bukan untuk menghancurkan kita?"
Aeron menatapnya.
"Tidak."
"Itu untuk mencegah sesuatu yang jauh lebih buruk keluar."
KESALAHAN PARA PEWARIS LAMA
Atlas melihat ke arah Aurelian yang pernah muncul dalam catatan.
"Kalau begitu kenapa leluhur kami melawan?"
Aeron tersenyum sedih.
"Karena mereka tidak mengetahui seluruh kebenaran."
"Aurelian percaya bahwa kekuatan harus diberikan kepada makhluk yang memiliki kebebasan memilih."
"Tapi dia tidak tahu bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi."
TIGA DARAH AURELIAN
Aeron menunjukkan tiga simbol.
Merah.
Biru.
Dan hitam keperakan.
"Ketiga warisan ini memiliki tugas berbeda."
"Penjaga Langit menjaga kehidupan."
"Penjaga Waktu menjaga alur kehidupan."
"Penjaga Kehampaan menjaga sesuatu yang tidak boleh bangkit."
Oliver menatap simbol ketiga.
"Dan tugasmu?"
Aeron menjawab:
"Menjadi penghalang terakhir."
PILIHAN YANG DIBUAT AERON
Atlas memperhatikan wajah Aeron.
"Kau dikurung selama ribuan tahun."
"Tapi kau tidak membalas dendam?"
Aeron tersenyum tipis.
"Karena jika aku membiarkan kemarahan menguasai diriku..."
"aku akan menjadi alasan kehancuran yang mereka takutkan."
PESAN IBU MEREKA
Tiba-tiba kalung Oliver bersinar.
Sebuah suara muncul.
Suara yang sudah lama tidak mereka dengar.
Suara ibu mereka.
"Atlas..."
"Oliver..."
Mereka langsung terdiam.
Aeron menatap kalung itu.
"Dia berhasil meninggalkan pesan."
Bayangan ibu mereka muncul.
Tidak seperti ilusi sebelumnya.
Ini adalah pesan terakhir yang benar-benar disimpan.
"Jika kalian bertemu Aeron..."
"jangan anggap dia sebagai musuh."
"Dia adalah orang yang menjaga rahasia terbesar keluarga kita."
WARISAN TERAKHIR
Pesan itu berlanjut.
"Namun kalian harus berhati-hati."
"Karena tidak semua pewaris ingin menyelamatkan dunia."
Cahaya perlahan melemah.
Kalimat terakhir terdengar:
"Salah satu dari kalian akan diuji oleh darah sendiri."
ANCAMAN DARI DALAM
Semua terdiam.
Atlas menatap Oliver.
Oliver menatap Atlas.
Tidak ada yang tahu maksud pesan itu.
Namun Aeron terlihat serius.
"Dia benar."
Atlas menoleh.
"Apa maksudmu?"
Aeron melihat ke arah pintu Jantung Keseimbangan.
"Karena seseorang dari garis keturunan kalian..."
"...telah bangkit kembali."
AKHIR BAGIAN 2
Tiba-tiba seluruh Jantung Keseimbangan bergetar.
Sebuah energi gelap muncul dari luar.
Bukan energi Penghancur Lapisan.
Bukan energi dewa.
Melainkan energi yang memiliki darah Aurelian.
Aeron menggenggam pedangnya.
"Waktu kita hampir habis."
Atlas bersiap.
Oliver membuka aliran waktu.
Karena musuh berikutnya...
bukan datang dari kegelapan.
Tetapi dari keluarga mereka sendiri.
Getaran kuat mengguncang Jantung Keseimbangan.
Cahaya putih yang sebelumnya memenuhi ruangan perlahan berubah menjadi gelap.
Namun bukan kegelapan biasa.
Energi itu memiliki pola yang sama dengan darah Aurelian.
Atlas langsung menyadarinya.
"Itu..."
Oliver menatap sumber energi tersebut.
"Mustahil."
Aeron menggenggam pedangnya.
"Waktunya telah tiba."
PEWARIS KEEMPAT
Dari balik retakan ruang muncul sebuah sosok.
Langkahnya perlahan.
Namun setiap langkah membuat seluruh Jantung Keseimbangan bergetar.
Ia mengenakan pakaian pendekar kuno.
Di tangannya terdapat senjata berwarna hitam.
Dan di matanya...
terdapat cahaya yang sama seperti para pewaris Aurelian.
Atlas berdiri di depan Oliver.
"Siapa kau?"
Sosok itu tersenyum.
"Lucu."
"Kalian membawa darah Aurelian..."
"tapi bahkan tidak mengenal seluruh keluargamu."
NAMA YANG TIDAK TERCATAT
Aeron menatap sosok itu dengan ekspresi serius.
"Tidak mungkin."
"Kau seharusnya tidak pernah lahir."
Sosok itu tertawa kecil.
"Itulah alasan kalian menghapusku."
Oliver mengerutkan kening.
"Menghapus?"
Aeron diam.
Karena ia tahu kebenaran itu.
Sosok itu mengangkat senjatanya.
"Namaku adalah..."
"Kael Valtherion."
"Anak terakhir dari garis darah yang tidak pernah dicatat."
DARAH YANG TERBELAH
Atlas menatap Aeron.
"Berapa banyak pewaris sebenarnya?"
Aeron menjawab pelan.
"Dulu hanya ada tiga garis."
"Tapi setelah pengkhianatan para dewa..."
"darah Aurelian terpecah lebih jauh."
Kael tersenyum.
"Aku adalah hasil dari kesalahan kalian."
TUJUAN KAEL
Oliver menatap Kael.
"Kalau kau juga pewaris..."
"Kenapa kau muncul sebagai musuh?"
Kael terdiam sejenak.
Lalu menjawab:
"Karena aku melihat apa yang kalian tidak lihat."
Atlas mengerutkan kening.
"Apa?"
Kael menatap inti Jantung Keseimbangan.
"Dunia ini tidak bisa diselamatkan."
"Dunia ini harus diulang."
PERBEDAAN PANDANGAN
Aeron maju.
"Jangan ulangi kesalahan para pencipta."
Kael tertawa kecil.
"Kesalahan?"
"Mereka menciptakan dunia penuh penderitaan."
"Para dewa menguasainya."
"Manusia menghancurkannya."
"Lalu kalian masih ingin mempertahankannya?"
Atlas menatap Kael.
"Karena masih ada sesuatu yang berharga."
Kael menatapnya.
"Apa?"
Atlas menjawab:
"Pilihan."
BENTROKAN DARAH AURELIAN
Energi tiga pewaris mulai bertemu.
Cahaya merah Atlas.
Cahaya biru Oliver.
Cahaya hitam Aeron.
Dan energi gelap Kael.
Jantung Keseimbangan mulai tidak stabil.
Suara kuno terdengar:
"Konflik antar pewaris terdeteksi."
"Keseimbangan terancam."
RAHASIA KAEL
Namun sebelum pertarungan dimulai...
Oliver melihat sesuatu melalui kekuatan waktunya.
Masa lalu Kael.
Ia melihat seorang anak kecil.
Sendirian.
Ditinggalkan.
Diburu para dewa.
Oliver terdiam.
"Atlas..."
"Dia bukan lahir sebagai monster."
Kael menatap Oliver.
"Kau melihatnya, bukan?"
Oliver tidak menjawab.
"Kau melihat bagaimana mereka memperlakukanku."
LUKA SEORANG PEWARIS
Kael mengepalkan tangan.
"Aku kehilangan segalanya karena darah ini."
"Kalian mendapatkan keluarga."
"Kalian mendapatkan perlindungan."
"Aku hanya mendapatkan perburuan."
Atlas terdiam.
Karena untuk pertama kalinya...
ia melihat musuh di hadapannya bukan sebagai ancaman.
Tetapi sebagai seseorang yang terluka.
PILIHAN ATLAS
Atlas menurunkan pedangnya sedikit.
"Aku tidak akan membenarkan apa yang kau lakukan."
"Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak memahami rasa sakitmu."
Kael terdiam.
"Jangan bicara seolah kau mengenalku."
Atlas menjawab:
"Aku tidak mengenalmu."
"Tapi aku tahu rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai."
Jantung Keseimbangan semakin retak.
Waktu hampir habis.
Penghancur Lapisan mulai bergerak kembali.
Dan kini...
empat darah Aurelian telah bertemu.
Namun tidak semuanya memilih jalan yang sama.
Atlas dan Oliver harus memutuskan.
Apakah mereka akan melawan Kael...
atau menyelamatkannya sebelum ia menghancurkan dunia.