NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Perhatian Devon ke Minda

Di dekat konter sendok yang menyemburkan uap panas, waktu seolah berhenti berputar bagi Minda.

Tangannya yang sedang menggenggam beberapa pasang garpu stainless steel mendadak kaku, membeku di udara.

Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Devon bukan sekadar sapaan basa-basi biasa.

Nada suaranya yang rendah namun penuh penekanan terdengar sangat jelas di telinga Minda, mengalahkan riuhnya dentingan mangkok seblak dan gemuruh obrolan pengunjung lain di warung siang itu.

"Akhirnya kita berjumpa lagi," ucap Devon sambil menatap langsung ke manik mata Minda.

Sebuah senyuman tipis, jenis senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan di koridor sekolahnya sendiri, terukir di wajah tegasnya.

Deg.. deg.. deg...

Minda mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menata debaran jantungnya yang mendadak menggila.

"Eh... iya. Halo, Devon," jawab Minda terbata-bata.

Ia buru-buru menundukkan kepala, berpura-pura sangat sibuk merapikan tumpukan sendok di tangannya agar punya alasan logis untuk menghindari tatapan tajam cowok di depannya.

"Lu... lu kok bisa ada di sini?" Devon terkekeh pelan melihat kepanikan Minda yang begitu kentara.

"Gue kan udah bilang, akhirnya kita berjumpa lagi. Berarti, ini ketiga kalinya kita ketemu setelah drama barang-barang lu yang selalu tertinggal itu."

Mendengar ucapan Devon, pipi Minda langsung terasa panas terbakar.

Ingatannya langsung berputar cepat ke dua kejadian sebelumnya.

Pertemuan pertama mereka di warung seblak ini beberapa minggu lalu sebenarnya adalah sebuah ketidaksengajaan yang memalukan.

Saat itu, Minda yang terburu-buru pulang karena kejadian hal yang memalukan di warung seblak saat Minda salah minum Es Teh, tidak sengaja meninggalkan gantungan tas di atas meja.

Devon yang duduk di meja sebelah menemukan barang tersebut.

Pertemuan kedua mereka jauh lebih epik sekaligus membuat satu kelas X-5 SMA Bangsa gempar.

Devon, dengan seragam SMA Garuda yang mencolok, nekat datang ke area kelas Minda hanya untuk mengantarkan gantungan itu secara langsung.

Minda masih ingat betul bagaimana seisi kelas langsung menyorakinya dengan seruan "cie-cie" yang membahana sampai ke ujung koridor, sementara ia sendiri rasanya ingin melebur menjadi debu saat itu juga karena malu.

"Soal yang di kelas waktu itu... sori banget ya," gumam Minda sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan kiri.

"Satu kelas gue langsung heboh berhari-hari gara-gara lu nekat anterin gantungan itu langsung ke depan kelas. Gue beneran gak enak sama lu."

Devon melipat kedua tangannya di dada, bersandar santai pada pilar kayu di dekat konter tisu.

"Kenapa harus minta maaf? Gue malah sengaja samperin ke kelas lu biar mastiin gantungannya gak salah tangan. Lagian, reaksi teman-teman lu seru juga. Gak sekaku anak-anak di kelas gue."

_________________

Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, suasana di meja pojok sudah seperti ruang kendali operasi rahasia.

Rian dan Amel mencondongkan tubuh mereka ke depan dengan sangat ekstrem, mengabaikan mangkok seblak mereka yang mulai mendingin.

"Mel, Mel, lihat deh! Si Devon beneran betah banget berdiri di sana," bisik Rian dengan mata berbinar-binar penuh gosip.

"Dia kayaknya lagi ngebahas soal kejadian pas dia nganterin barang ke kelas Minda. Lihat tuh mukanya Minda udah kayak kepiting rebus lagi."

Amel menyenggol lengan Rian dengan gemas agar sahabatnya itu menurunkan volume suaranya.

"Duh, Rian, pelan-pelan napa! Nanti mereka sadar kalau kita lagi nguping dari jauh. Tapi asli, taktik kita bawa Minda ke sini bener-bener jackpot. Ternyata takdir mereka emang kuat di warung seblak ini."

Lyra yang duduk di sebelah Amel hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua temannya.

Namun, seulas senyum tipis tidak bisa disembunyikan dari wajah tenangnya.

"Kayaknya kalian berdua gak perlu repot-repot bikin rencana jilid dua deh. Dari bahasa tubuhnya, Devon emang sengaja nyari kesempatan buat ngobrol sama Minda."

_________________

Di sisi lain meja, teman-teman basket Devon dari SMA Garuda juga mulai menyadari gerak-gerik ketua mereka yang tidak biasa.

"Woi, lihat si Devon. Ambil tisu doang lamanya kayak antre sembako," seloroh salah satu cowok berbadan tegap sambil tertawa kecil, memancing perhatian pengunjung lain.

Kembali ke konter sendok, Minda mencoba mengalihkan perhatian dari rasa malunya dengan melihat ke arah tangan Devon.

"Lu... lu gak jadi ambil tisu?" Devon mengangkat sebelah alisnya, lalu melihat ke arah kotak tisu yang sedari tadi diabaikannya.

"Oh, iya. Sampai lupa kan gue tujuan ke sini apa," ujarnya jenaka sambil menarik beberapa lembar tisu.

"Lagian, ngobrol sama cewek ceroboh yang suka ninggalin barang itu jauh lebih menarik daripada sekadar ambil tisu."

"Heh! Gue gak seceroboh itu ya," protes Minda spontan, mengerucutkan bibirnya kesal namun dalam hati merasa ada kembang api yang meletup-letup mendengar kalimat terakhir Devon.

"Itu cuma... apes aja. Kebetulan lagi apes dua kali berturut-turut."

"Apes yang membawa berkah kalau kata teman-teman gue," sahut Devon santai tanpa beban.

Tatapannya melembut saat melihat Minda yang masih memegang sendok terlalu banyak.

"By the way, sendok yang lu ambil itu kayaknya cukup buat satu RT, Min."

Minda menurunkan pandangannya dan seketika membelalak.

Saking gugupnya mengobrol dengan Devon, ia telah mengambil hampir belasan pasang sendok dan garpu hingga wadahnya hampir kosong.

"Astaga! Kok banyak banget?!" seru Minda panik.

Dengan gerakan canggung dan terburu-buru, ia mengembalikan sebagian besar sendok itu ke tempatnya, membuat beberapa di antaranya berdenting nyaring.

"Hahaha...."

Devon tertawa lepas melihat kelakuan Minda. Suara tawanya yang renyah membuat beberapa anak SMA Garuda di meja pojok bersiul menggoda.

"Udah, bawa segitu aja cukup. Yuk balik ke meja, kasihan agen rahasia lu di sana udah pegal lehernya mantau kita dari tadi."

Minda melirik ke arah mejanya dan mendapati Rian serta Amel mendadak membuang muka dengan sangat canggung, berpura-pura sangat tertarik dengan menu makanan yang tertempel di dinding warung.

Minda hanya bisa menghela napas panjang, bersiap menghadapi rentetan pertanyaan interogasi dari kedua sahabatnya itu nanti.

Tap-tap

Saat mereka berdua berjalan beriringan kembali ke meja, atmosfer di sekitar meja pojok langsung berubah.

Devon kembali duduk di hadapan Minda dengan santai, seolah-olah obrolan intens di konter sendok tadi adalah hal yang biasa baginya.

Sementara Minda membagikan sendok dengan gerakan super anggun yang sangat dibuat-buat, mencoba menutupi kegugupannya yang belum sepenuhnya hilang.

Begitu pantat Minda menyentuh bangku, Amel langsung menggunakan kaki kirinya untuk menendang pelan sepatu Minda di bawah meja, memberikan kode mata yang sangat jelas: “Lu utang cerita lengkap ke gue setelah ini!” Minda hanya membalas dengan pelototan tajam, meminta Amel untuk menahan diri demi keselamatan reputasinya di depan anak-anak SMA Garuda.

Makan siang di warung seblak siang itu pun berlanjut dengan penuh tawa.

Rian yang pandai mencairkan suasana mulai membuka obrolan tentang turnamen basket yang akan datang, membuat Devon dan teman-temannya ikut larut dalam diskusi seru.

Namun, di tengah riuhnya perbincangan tentang strategi lapangan dan skor pertandingan, fokus Devon sesekali tetap kembali pada Minda.

Setiap kali Minda tersedak karena kuah seblak yang pedas atau saat ia sibuk mengipasi dirinya sendiri dengan buku menu, Devon akan dengan sigap menggeser gelas es teh manis atau menyodorkan tisu yang diambilnya tadi ke hadapan Minda.

Rencana rahasia yang disusun Rian dan Amel di kantin sekolah kemarin siang mungkin awalnya terdengar seperti keisengan remaja belaka.

Namun, melihat bagaimana Devon memperlakukan Minda hari ini, mereka tahu bahwa warung seblak ini telah resmi menjadi saksi bisu dimulainya sebuah babak baru yang jauh lebih manis dalam kehidupan masa SMA Minda.

Bersambung~~~

Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗 Devon selalu mandang Minda gess ehehehe 🤭🌚

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!