NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:610.8k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sejak malam itu, sejak ciuman singkat di atas luka benjol yang seharusnya biasa saja, sesuatu di dada Enzo berubah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa sentuhan sesederhana itu tanpa hasrat dan tanpa niat apa pun. Namun, bisa meninggalkan bekas sedalam ini. Setiap kali ia melihat Azalea melintas di hadapannya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Setiap kali wanita itu tersenyum lembut kepada anak-anak, dadanya terasa hangat dengan cara yang asing.

Ciuman kilat yang bahkan tak sampai satu detik, namun seolah membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat sejak Jasmine pergi.

“Ini tidak seharusnya begini,” batin Enzo sering kali memperingatkan dirinya sendiri. ”Ini hanya kebiasaan dan hanya rasa nyaman.” Namun, tubuhnya selalu lebih jujur dari pikirannya.

Di sisi lain, Azalea juga tidak lebih baik. Ia menyadari perubahan itu. Jantungnya yang kerap berdebar ketika Enzo berdiri terlalu dekat. Gugup yang datang tiba-tiba ketika tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Rasa hangat yang menjalar di dadanya setiap kali Enzo menatapnya lebih lama dari biasanya. Namun, Azalea memilih diam. Ia menutupi semuanya dengan senyum tenang dan sikap biasa.

Azalea takut. Takut perasaan itu hanya tumbuh di satu sisi. Takut ia kembali berharap, lalu kembali jatuh. Takut melukai diri sendiri dengan perasaan yang belum tentu memiliki tempat.

“Kamu harus sadar diri Azalea?! Siapa dirimu itu,” katanya pada hatinya sendiri. “Belum tentu dia merasakan hal yang sama.“

Hari Minggu pagi, rumah dipenuhi suara riang anak-anak. Mereka bisa bermain sepuasnya di hari libur.

“Daddy!” Erza berlari menghampiri Enzo yang sedang duduk membaca pesan di ponselnya. “Boleh enggak aku sama Elora main ke Timezone sama Mommy?”

Elora ikut berdiri di samping kakaknya, memeluk boneka kecilnya. “Aku mau main mesin kuda, Daddy.”

Enzo tersenyum. Ia sebenarnya ingin ikut. Ia ingin merasakan kebersamaan itu. Tertawa bersama, melihat anak-anaknya bermain, dan melihat Azalea menikmati waktu tanpa beban.

Namun, ponselnya kembali bergetar. Nama rekan bisnisnya muncul di layar. Mereka akan bermain golf, janji yang sudah dibuat jauh hari.

Enzo menghela napas kecil. “Daddy enggak bisa ikut hari ini. Daddy sudah janji sama teman-teman Daddy.”

Wajah Elora sedikit meredup, tapi Azalea segera mendekat. “Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Mommy sama Kak Erza bisa jaga Elora.”

Enzo menatap Azalea sejenak. Ada rasa bersalah di sana. “Maaf,” katanya lirih.

Azalea tersenyum. “Kita pulang sebelum sore.”

Enzo mengangguk. “Hati-hati.”

Timezone ramai oleh suara mesin permainan dan tawa anak-anak. Erza berlari dari satu mesin ke mesin lain dengan mata berbinar. Elora menggenggam tangan Azalea, melompat-lompat kecil penuh semangat.

“Mommy, Elora mau yang itu!” kata gadis kecil itu menunjuk mesin berwarna cerah.

Azalea tertawa kecil. “Satu-satu, ya.”

Mereka bermain bergantian. Erza membantu Elora memasukkan koin, Elora tertawa setiap kali lampu mesin menyala. Untuk sesaat, dunia terasa ringan.

“Mommy ke toilet sebentar,” kata Azalea setelah beberapa waktu. “Kak Erza jaga adik, ya.”

Erza mengangguk mantap. “Siap.”

Azalea melangkah pergi, meninggalkan dua anak itu di dekat mesin permainan balapan.

Namun, suasana berubah cepat. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun mendekat. Wajahnya usil, senyumnya mengejek.

“Heh, pipimu gembung, kayak boneka” kata anak itu tiba-tiba, lalu mencubit pipi Elora dengan keras.

“Aduh, sakit!” Elora menjerit, air mata langsung mengalir.

Erza yang sedang bermain pun menoleh mendengar suara adiknya. Dia membeku sesaat, lalu amarahnya meledak.

“Jangan sentuh adikku!” teriak Enzo.

Anak itu bernama Felix, tertawa mengejek. “Huh, dasar cengeng!"

Enzo berjalan cepat ke arah Felix dengan ekspresi marah.

“Kenapa? Adik kamu nangis?” ucap Felix semakin menjadi. Dia menjulurkan lidah kepada Enzo.

Erza mendorong Felix dengan keras. Felix membalas. Dalam hitungan detik, keduanya bergumul di lantai, saling pukul dan tarik baju.

Enzo lebih unggul. Dia memukul kepala Felix berulang kali. Dia sangat marah.

“BERHENTI!”

Suara itu datang bersamaan dengan Azalea yang baru kembali dari toilet. Ia terkejut melihat pemandangan di depannya.

“Erza!” teriak Azalea panik, berlari menghampiri. Ia langsung menggendong Elora yang menangis tersedu-sedu, lalu meraih tangan Erza yang masih berusaha menyerang.

“Cukup! Lepaskan!” titah Azalea dengan tegas.

Beberapa orang tua mendekat. Petugas Timezone ikut menghampiri.

Felix ditarik oleh ibunya yang datang dengan wajah marah. “Kamu kenapa sih?! Pukul anak orang sembarang,” bentaknya pada Erza.

Erza terengah, matanya merah. “Dia cubit adikku sampai nangis dan mengejek kami!”

Azalea berdiri tegak, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ia menatap ibu Felix dengan tenang.

“Anak Ibu mencubit pipi anak saya sampai menangis,” ucap Azalea jelas, tanpa meninggikan suara. “Anak saya hanya membela adiknya.”

Ibu Felix terdiam sejenak, lalu menoleh ke anaknya. Felix menunduk karena takut.

Suasana mereda, meski masih tegang. Orang-orang yang berkumpul tadi pun sudah membubarkan diri.

Azalea berjongkok, mengusap rambut Erza. “Kamu benar melindungi adik,” katanya lembut. “Tapi lain kali, bilang ke orang dewasa dulu. Jangan pakai tanganmu untuk melukai orang lain.”

Erza menunduk, air matanya jatuh. “Aku cuma enggak mau Elora disakiti.”

Azalea memeluknya erat. “Mommy tahu.”

Elora terisak di pelukan Azalea. Gadis itu masih gemetar.

Di saat yang sama, jauh di lapangan golf, Enzo tiba-tiba perasaannya tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang salah. Ia melirik ponselnya tanpa alasan jelas.

“Kenapa aku gelisah?” batin Enzo.

Pria itu tidak tahu bahwa di saat itu, putranya baru saja berdiri sebagai pelindung. Bahwa istrinya baru saja menenangkan badai dengan kelembutan dan ketegasan.

Hari itu, tanpa Enzo sadari, Azalea dan anak-anaknya telah mengajarkan satu nilai hidup yang tak pernah ia pelajari di ruang rapat atau meja bisnis. Bahwa keberanian tidak selalu tentang melawan, dan cinta tidak selalu tentang memiliki, melainkan tentang melindungi dengan cara yang benar.

Malam itu rumah kembali dipenuhi cahaya hangat.

Lampu ruang makan menyala lembut, aroma masakan Azalea menguar dari dapur. Enzo baru saja selesai mengganti pakaiannya dan melangkah ke ruang keluarga. Ia mendapati Elora sudah duduk di sofa, kakinya bergoyang-goyang, wajahnya penuh semangat—seolah menyimpan cerita besar yang tak sabar untuk dikeluarkan.

Begitu melihat Enzo, Elora langsung berdiri. “Daddy!” serunya lantang.

Enzo tersenyum kecil. “Iya, kenapa teriak-teriak begitu?”

Elora naik ke sofa, berdiri dengan gaya dramatis. Tangannya bergerak ke sana kemari, matanya membesar.

“Tadi di Timezone ada anak nakal!” cerita Elora heboh. “Dia cubit pipi aku, terus aku nangis, huaaa ... huaaa, gitu!”

Alis Enzo langsung bertaut. Ia berlutut agar sejajar dengan putrinya. “Apa sakit?”

Elora mengangguk cepat. “Sakit, makanya Kak Erza marah!”

Erza yang duduk di kursi makan langsung menunduk, sedikit canggung.

“Kak Erza bilang jangan sentuh adikku!” lanjut Elora sambil menirukan gaya kakaknya. “Terus mereka berantem!” Dia memamerkan aksi tinju dengan kedua tangannya.

Enzo menoleh ke arah Erza.

“Erza?” suaranya datar, tapi sorot matanya dalam.

Erza menggenggam ujung kausnya. “Aku cuma, enggak mau Elora disakiti, Daddy.”

Hening sejenak. Anak dan ayah itu saling pandang.

***

Bismillah, berharap retensi bagus, ya, biar ceritanya full. Jangan lupa like dan komen.

1
Dini Anggraini
Enzo Azalea sekarang hamil besar semoga kamu cepat angkat tlv istrimu sebelum semua terlambat seperti jasmine saat itu pendarahan di temukan Erza keesokan harinya saat jasmine sudah meninggal. Karena hamil muda saja gak boleh stress berlebihan bisa keguguran apalagi hamil tua bisa bahaya, jangan mentang2 kamu menyesal telantarkan jasmine kamu juga abaikan tlv Azalea juga. 🙏🙏😍😍😍
Ruwi Yah
jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya enzo kebetulan posisi keduanya sama2 sedang hamil besar
Ariany Sudjana
Enzo penyesalan selalu datang terlambat, dan semoga dengan kamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, dengan mengabaikan Azalea seharian penuh 😄
dewi wijayanti
❤️❤️❤️❤️
Arwondo Arni
berziarah ke makam Jasmin biar hatinya lapang dan Jasmin maafin,mungkin kl kamu cerita Lea kamu akan didiemin Lea Krn mengabaikan kakaknya yg hamil besar
Arwondo Arni
semoga Kel mama Elsa atau Kel kecil Enzo terhindar dr niat jahat karmila
dewi wijayanti
lea❤️❤️❤️
ken darsihk
Pengalaman terdahulu adalah guru terbaik dan untuk itu , belajar lah dari pengalaman itu jangan sampai penyesalan itu hadir lagi
Angkat telpon nya Azalea, Enzo
Esther
Tragis nasibmu Jasmine.
Dan kebenaran baru terungkap saat ini, membuat Enzo hidup dalam penyesalan.
Apa reaksi Azalea kalau tahu kakaknya meninggal, karena kecerobohan Enzo
sunaryati jarum
Lanjuut
ken darsihk
Nah ini dia yng menjadi penyesalan Enzo selama ini , dia tidak mempercayai Jasmine dan itu penyesalan Enzo yng terus menghantui hidup nya
Sugiharti Rusli
semoga apa yang terjadi pada mendiang Jasmine dulu jadi pelajaran yah bagi Enzo, dan beruntung saat sekarang Azalea tertimpa gosip video editan, Enzo bergerak cepat dan cari tahu kebenarannya terlebih dulu dan memang sang istri hanya jadi korban pihak yang tidak bertanggung jawab
Sugiharti Rusli
pengorbanan Jasmine ga sia", meski nyawa nya sendiri jadi taruhannya demi sang putri
vania larasati
lanjut
Sugiharti Rusli
yah pada akhirnya penyesalan datang belakangan bagi Enzo, sebetulnya dia masih beruntung tidak kehilangan Elora juga saat itu,,,
Sugiharti Rusli
dia lebih percaya gambar tak bergerak dibandingkan istrinya sendiri saat itu,,,
Sugiharti Rusli
semua berasal dari praduga sih yah, dan kemarahan menutup pintu hati Enzo saat itu,,,
Susma Wati
untuk kali ini enzo tidak terjebak akan permainan karmila, enzo mendapatkan kebenaran akan apa yang terjadi pada jasmine adalah permainan karmila dan dia teramat menyesal, tapi dengan apa yang menimpa azelea yang di fitnah terkuak sudah kejahatan karmila yang tidak dapat di maafkan oleh enzo dan mama elsa, tapi bagaimana dengan azelea jika tahu kakaknya meninggal karena fitnah karmila dan ketidak percaya an enzo terhadap jasmine yang membuat dia bersedih dan meninggal?
Ita rahmawati
huh dasar Enzo 😏
gimana kalo azalea tau ceritanya,,tp gpp sih azalea kan bijaksana pasti gpp sambil tersenyum menyejukkan 😂
SasSya
💔💔💔💔💔💔😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
sakit hati rasanya
remuk redam
Jasmine 🫂🫂🫂🫂
entahlah!!!
Enzo pantas menyesali semua
tapi ingat!!!
jangan berlarut2 meratapi masa lalu!!!!!
jangan mengulang!
kasih kabar istri di rumah!!!
Azalea khawatir itu
ah!!!!
entahlah!!!!
zo Enzo!!!
tragis sekali nasib Jasmine 🫂🫂🫂🫂😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!