Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Konspirasi di belakang punggung Larissa
Pagi harinya di Rumah Sakit Medika Kirana terasa mencekam bagi Larissa. Bau tajam cairan disinfektan yang khas berbaur dengan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri.
Gedung rumah sakit swasta yang baru diresmikan di pusat kota ini tampak begitu megah dengan dinding-dinding marmer putih dan pilar-pilar kaca yang menjulang tinggi.
Larissa berjalan menyusuri koridor lantai tiga, sayap khusus obstetri dan ginekologi dengan langkah yang terasa sangat berat. Di sampingnya, Bram berjalan tegap dengan wajah yang penuh perhatian. Tangan pria itu menggenggam jemarinya dengan erat yang membuat hati Larissa sedikit menghangat.
Setelah pertengkaran hebat di kantor kemarin tentang kalung berlian Vera, Larissa sempat berpikir bahwa hubungannya dengan Bram sudah berakhir. Namun sikap manis Bram semalam dan ajakan untuk melakukan tes kesuburan ulang ini menumbuhkan secercah harapan baru di hatinya.
Mungkin Mas Bram benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Mungkin jika aku mengikuti tes ini, Mas Bram akan tersentuh oleh kepatuhanku dan menjauh dari Vera, batin Larissa mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Jangan tegang begitu, tarik napas dalam-dalam," bisik Bram lembut, menyandarkan kepalanya sedikit ke arah Lana saat mereka berhenti di depan pintu ruang praktik dengan papan nama kuningan mengilat:
dr. Hendra Pratama, Sp.OG (K)
"Dokter Hendra ini ahli terbaik. Apa pun hasilnya nanti, kita hadapi bersama, ya?"
Larissa menoleh, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata suaminya. Senyuman Bram begitu sempurna pagi ini, memancarkan ketulusan yang luar biasa. Larissa membalas genggaman tangan itu, merasa bersyukur karena Bram masih mau berdiri di sampingnya.
Tepat saat itu, seorang perawat dengan seragam hijau toska membuka pintu dan tersenyum ramah. "Ibu Larissa Baskoro? Silakan masuk, Dokter Hendra sudah menunggu."
Di dalam ruangan yang luas dan beraroma esensial lemon itu, seorang pria awal 40 tahun dengan jas putih dokter menyambut mereka dengan senyuman yang sangat hangat.
Wajahnya memancarkan aura kebapakan yang menenangkan, tipe dokter yang akan langsung membuat pasien merasa aman.
"Selamat pagi, Pak Bram, Ibu Larissa. Silakan duduk," sapa Dokter Hendra dengan hangat.
"Pak Bram sudah mendaftarkan jadwal pemeriksaan ini, dan sudah membaca riwayat singkat yang disampaikan. Jadi, ini pemeriksaan ulang setelah lima tahun pernikahan, betul?"
"Betul, Dok," Bram yang mengambil alih pembicaraan dengan cepat, duduk bersandar sembari melingkarkan lengannya di sandaran kursi istrinya.
"Kami ingin mendapatkan kepastian medis yang paling akurat dari ahli seperti Dokter Hendra. Kami sangat berharap ada titik terang untuk pernikahan kami."
Dokter Hendra mengangguk-angguk dengan raut wajah penuh empati, lalu mengalihkan pandangannya pada Larissa. "Baik, Ibu Larissa. Kita akan melakukan rangkaian pemeriksaan menyeluruh hari ini. Mulai dari USG transvaginal, pemeriksaan laboratorium untuk profil hormon, hingga mengecek saluran telur. Ibu tidak perlu takut, prosesnya akan kita lakukan senyaman mungkin."
Larissa memaksakan sebuah senyuman, menggantungkan seluruh harapan masa depannya pada ruangan ini. "Baik, Dokter. Saya siap."
Proses pemeriksaan pun dimulai. Larissa diminta berganti pakaian dengan jubah rumah sakit dan berbaring di atas ranjang periksa di balik tirai medis.
Selama proses USG dan pengambilan sampel darah dilakukan, dr. Hendra bersikap sangat profesional. Beliau menjelaskan setiap bagian yang terlihat di layar monitor dengan bahasa medis yang mudah dipahami.
Larissa yang melihat layar itu pun sempat mengembuskan napas lega, merasa bahwa fisiknya baik-baik saja.
"Ibu Larissa, silakan menunggu di ruang tunggu VIP di luar agar bisa beristirahat sejenak dan minum air hangat," kata dr. Hendra ramah setelah Larissa kembali mengenakan pakaian biasa.
"Kebetulan ada beberapa dokumen administrasi khusus dan formulir persetujuan rekam medis lanjutan yang harus diisi dan ditandatangani oleh Pak Bram selaku penanggung jawab utama. Hasil laboratorium akan keluar sekitar tiga puluh menit lagi."
Larissa mengangguk patuh. "Baik, Dokter. Terima kasih." Dia menoleh ke Bram. "Aku tunggu di luar ya, Mas."
"Iya, sayang. Tunggu saja di luar dengan rileks, ya. Biar urusan administrasi ini aku yang selesaikan," jawab Bram dengan senyum manis yang mengantar langkah Larissa keluar dari ruangan.
Begitu pintu kayu tebal itu tertutup rapat dan memastikan Larissa telah berjalan jauh ke ruang tunggu VIP, atmosfer di dalam ruang kerja dr. Hendra mendadak berubah total. Senyum ramah di wajah dokter itu lenyap, digantikan oleh ekspresi yang dingin.
Bram berdiri dari kursinya, tidak lagi menampilkan wajah suami yang cemas. Dia melangkah menuju pintu geser yang terhubung langsung dengan laboratorium internal rumah sakit yang sepi karena sedang dalam jam pergantian sif. Di dalam lab itu, seorang analis medis yang sudah disuap telah menunggu.
"Semua aman, Dokter Hendra?" tanya Bram dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan yang berkuasa.
Dokter Hendra mengembuskan napas pendek, merapikan letak kacamatanya sembari menatap layar komputer analis. "Semua sudah berjalan sesuai rencana yang disusun oleh Nona Vera, Pak Bram. Tim analis yang bertugas di lab saat ini adalah orang-orang saya, Sampel darah dan hasil USG fisik Ibu Larissa yang asli sudah kami pisahkan untuk dihancurkan."
Dokter Hendra kemudian mengambil sebuah dokumen rekam medis yang baru saja dicetak ulang. Dokumen itu menggunakan kop resmi Rumah Sakit Medika Kirana yang sah, namun seluruh data di dalamnya telah dimanipulasi secara total.
"Data di dalam sistem dan lembar cetak ini sudah diubah secara permanen," lanjut dr. Hendra dengan suara berbisik, menunjuk ke arah baris diagnosis buatan.
"Di sini tertulis bahwa Ibu Larissa mengalami Hipoplasia Uteri atau kondisi rahim kecil disertai dengan Endometritis parah yang menyebabkan jaringan dinding rahimnya rusak permanen. Kesimpulan akhirnya adalah mandul total dan tidak ada teknologi medis apa pun, termasuk bayi tabung, yang bisa menyelamatkan rahimnya untuk mengandung."
Bram mengambil lembaran kertas itu, membaca setiap baris diagnosis palsu tersebut dengan mata yang berkilat puas. Senyum licik dan kejam terukir di sudut bibirnya.
"Bagus, sangat mendetail dan meyakinkan. Dengan dokumen resmi dari rumah sakit ternama ini, saya punya alasan mutlak untuk menuntut perceraian tanpa ada celah bagi Larissa untuk membela diri atau menuntut harta sepeser pun."
Bram mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat dari balik kantong dalam jasnya, meletakkannya dengan suara pelan di atas meja lab di samping barisan tabung reaksi. Amplop itu berisi tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu dalam jumlah yang sangat besar.
"Ini untuk profesionalisme Anda dan tim Anda, Dokter. Pastikan tidak ada rekam medis asli yang tersisa," kata Bram dengan nada dingin.
"Tentu saja, Pak Bram. Kami tahu bagaimana cara menjaga rahasia klien berharga kami," jawab dr. Hendra dengan senyum mengembang.
Tiga puluh menit kemudian, perawat kembali memanggil nama Larissa. Suasana di dalam ruang konsultasi dr. Hendra kini terasa jauh lebih berat dan suram saat dia melangkah masuk.
Larissa duduk kembali ke kursi di samping Bram. Selama setahun ini dia hidup dengan beban kebohongan yang dia ciptakan sendiri demi melindungi suaminya dengan mengaku bahwa rahimnya lemah. Tapi dengan tes ulang ini dia berharap bisa membersihkan namanya secara perlahan.
Di hadapan mereka, dr. Hendra menatap dokumen di atas mejanya dengan raut wajah yang dibuat sangat prihatin, dahinya berkerut dalam seolah sedang memegang sebuah kabar duka yang sangat berat untuk disampaikan.
"Pak Bram, Ibu Larissa..." dr. Hendra memulai dengan suara yang sengaja dibuat bergetar pelan, menunjukkan empati palsu seorang dokter.
"Hasil dari tim laboratorium baru saja keluar dan sudah saya pelajari secara mendalam bersama tim analis utama kami. Saya... saya sangat menyesal harus menyampaikan kabar ini kepada Anda berdua."
Jantung Larissa mendadak berdegup kencang. Perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya. "Ada apa, Dokter? Apakah ada sesuatu yang buruk dengan rahim saya?"
Dokter Hendra menghela napas panjang, lalu memutar layar monitor komputernya dan menggeser lembar cetak hasil lab palsu itu ke hadapan Larissa.
"Berdasarkan hasil analisis menyeluruh, kami menemukan adanya kelainan bawaan yang sangat serius pada organ reproduksi Ibu Larissa," dr. Hendra menunjuk ke arah grafik dan angka-angka palsu di atas kertas.
"Ibu Larissa mengalami kerusakan dinding rahim permanen akibat infeksi kronis laten yang tidak terdeteksi selama bertahun-tahun, dikombinasikan dengan kondisi jaringan rahim yang tidak berkembang sempurna atau kecil."
Dokter Hendra menjeda kalimatnya sejenak, memberikan tekanan psikologis yang berat. "Kesimpulan medis kami menyatakan bahwa Ibu Larissa mengalami kemandulan total yang bersifat permanen. Secara ilmiah dan medis, rahim Ibu Larissa tidak akan pernah bisa digunakan untuk mengandung atau mempertahankan janin, bahkan jika kita mencoba metode canggih seperti bayi tabung sekalipun. Peluangnya adalah nol persen."
Blar!
Vonis itu menghantam kepala Larissa bak petir di siang bolong. Ruangan itu seketika terasa berputar, dan udara di sekelilingnya mendadak habis hingga dia merasa sesak napas.
Larissa menatap lembaran kertas di depannya dengan pandangan mata yang kabur oleh air mata yang menyeruak keluar seketika. Tubuhnya gemetar hebat, tulisan Mandul Permanen yang dicetak dengan tinta hitam tebal di atas dokumen tersebut seolah-olah menjadi rantai yang mengikat dan mematikan seluruh harapan hidupnya.
Dia hancur seancur-hancurnya. Rahasia besar yang selama ini dia simpan rapat-rapat tentang kemandulan Bram seolah-olah menjadi bumerang yang kini berbalik menghancurkan dirinya sendiri.
Larissa menangis tergugu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya kacau balau; dia tidak pernah menyangka bahwa vonis itu justru jatuh pada rahimnya sendiri yang dia yakini sehat.
Di sampingnya, Bram memulai aksinya dengan sangat kejam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan lunglai, seolah-olah seluruh kekuatannya baru saja direnggut dari tubuhnya.
"Nol persen, Dok? Tidak mungkin... tidak mungkin istri saya mandul total..." suara Bram bergetar, akting kekecewaannya begitu memukau hingga mampu menipu dunia.
"Tolong periksa sekali lagi, Dok! Saya... saya adalah anak tunggal, saya butuh penerus untuk keluarga saya! Kenapa takdir begitu kejam pada saya?!"
"Saya sangat memahami kedukaan Anda, Pak Bram. Tapi hasil lab patologi anatomi ini tidak pernah berbohong. Ini adalah hasil mutlak yang sudah diverifikasi," jawab dr. Hendra dengan nada tenang namun tegas, mengunci mati sisa harapan Larissa.
Larissa yang sedang menangis histeris perlahan menurunkan tangannya, mencari pegangan dari satu-satunya orang yang dia harapkan bisa menguatkannya saat ini.
Dengan tubuh yang gemetar, dia mengulurkan tangannya mencoba meraih dan menggenggam kembali jemari tangan Bram.
"Mas... Mas Bram... maafkan aku... aku tidak tahu kalau rahimku serusak ini..." rintih Larissa di sela-sela tangisnya, menatap Bram dengan pandangan memohon ampunan dan perlindungan.
Namun belum sempat jemarinya menyentuh kulit suaminya, Bram melakukan gerakan yang meremukkan sisa-sisa hatinya.
Dengan gerakan yang sangat dingin, Bram menarik tangannya menjauh. Dia menjauhkan lengannya dari jangkauan Larissa, menolak untuk disentuh oleh istrinya sendiri.
Pria itu membuang muka, menatap ke arah dinding dengan raut wajah yang dipenuhi rasa jijik dan kekecewaan yang mendalam, seolah-olah Larissa adalah seonggok sampah cacat yang telah menipunya selama lima tahun.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut