Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
Kabut tebal berwarna hijau keunguan yang menyelimuti kawasan pelabuhan tua itu bergerak lambat, bergulung-gulung ditiup angin laut yang membawa aroma garam dan besi berkarat. Di bawah kungkungan atmosfer yang ganjil ini, fajar tahun 2042 terasa dingin dan mati. Kesunyian dermaga hanya dipecah oleh deburan ombak pelan yang menghantam tiang-tiang pancang beton yang telah ditumbuhi lumut mutan berwarna neon redup.
Dari celah pintu besi gudang yang miring, sesosok bayangan hitam melesat keluar tanpa menimbulkan riak suara sekecil apa pun. Arkana Wijaya bergerak secepat kilat perak yang menyelinap di antara tumpukan kontainer logistik yang terbengkalai. Setelah berhasil menerobos ke ranah Spirit Gathering Tingkat Dua, setiap jengkal indra dan kesadaran batinnya telah meluas drastis. Di dalam radius lima ratus meter, ia bisa merasakan dengan jelas bagaimana partikel Qi alam bergesekan dengan material fisik dunia modern.
Mata perak Arkana berkilat tajam di balik bayangan tudung hoodie-nya. Fokusnya terkunci pada sebuah objek mekanis yang melayang rendah sekitar dua ratus meter di depannya.
Itu adalah Drone Pengintai Taktis milik militer, berbentuk cakram hitam ramping berdiameter tiga puluh sentimeter dengan tiga bilah baling-baling siber yang berputar sangat senyap. Di bagian bawahnya, lensa optik berwarna merah darah terus berputar, memancarkan sinar pemindai tak kasat mata untuk melacak tanda-tanda termal dan fluktuasi energi abnormal di sekitar dermaga.
"Pusaran Qi dari terobosanku tadi bener-bener menarik perhatian radar mereka," batin Arkana, tubuhnya merapat pada dinding kontainer baja yang dingin. "Kalau drone ini dibiarkan mendekat ke gudang, sistem pemindainya bakal mendeteksi keberadaan Dani dan Lisa dalam hitungan detik. Aku harus menghancurkannya, tapi gak boleh memicu alarm otomatis di pusat komando militer."
Di era teknologi mutakhir tahun 2042, setiap perangkat pengintai militer dilengkapi dengan "Sistem Penghancuran Diri" (Self-Destruct) dan protokol pengiriman data darurat. Jika drone tersebut mendeteksi benturan fisik yang keras atau hantaman senjata api, ia akan langsung mengirimkan koordinat terakhirnya ke satelit sebelum meledak. Arkana tahu betul risiko itu dari jurnal-jurnal teknologi siber yang sering ia baca di kampus tekniknya.
Namun, metode teknologi tidak akan bisa mendeteksi manipulasi energi mistis tingkat tinggi.
Arkana memejamkan matanya sejenak, memfokuskan aliran energi di dalam Dantian-nya. Cairan Qi Primordial berwarna perak keemasan yang kental mengalir lancar melintasi meridian lengannya, berkumpul di ujung ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya. Ia tidak berniat melepaskan pukulan kasar seperti saat melawan anjing mutan atau praktisi klan kuno di Puri Indah. Kali ini, ia membutuhkan presisi mikro yang mutlak.
Mengikuti panduan dari Kitab Primordial Kaisar Abadi, Arkana membentuk energinya menjadi sehelai benang yang sangat tipis, setipis jaring laba-laba namun memiliki kepadatan molekul spiritual yang setara dengan baja intan.
"Teknik Benang Penjerat Jiwa," gumam Arkana dalam hati.
Ia menjentikkan jarinya dengan lembut ke arah udara kosong.
Syuuuut!
Sehelai benang perak transparan melesat menembus kabut tebal, bergerak lurus tanpa menimbulkan distorsi udara sedikit pun. Kecepatannya melampaui tangkapan lensa kamera drone yang memiliki kecepatan tangkap ratusan frame per detik. Dalam sekejap, benang Qi tersebut telah mencapai tubuh drone pengantai yang sedang melayang di ketinggian tiga meter dari tanah.
Dengan kendali pikiran batinnya yang tajam, Arkana menggerakkan benang itu untuk menyelinap masuk melalui celah ventilasi mikro di bodi drone, melewati sirkuit antipeluru bagian luar, dan langsung melilit inti reaktor baterai litium-kuantum mini yang menjadi jantung penggerak mesin tersebut.
Arkana mengepalkan telapak tangannya secara tiba-tiba.
Bzzzt.
Energi perak dari benang tersebut meletup di dalam inti baterai, bukan menghancurkannya dengan ledakan, melainkan membekukan seluruh aliran arus elektron secara instan. Fluks magnetik di dalam mesin penggerak drone mendadak lumpuh total.
Lensa merah pada drone itu seketika meredup, kehilangan dayanya dalam hitungan seperseribu detik sebelum protokol daruratnya sempat diaktifkan oleh kecerdasan buatan internalnya. Perangkat pengintai senilai ratusan juta itu mendadak berubah menjadi sebongkah besi mati dan jatuh bebas dari udara.
Sebelum drone itu sempat menghantam lantai beton dermaga dan menimbulkan suara gaduh, bayangan hitam Arkana sudah melesat maju. Dengan satu gerakan tangan yang mulus, ia menangkap cakram logam tersebut tepat beberapa sentimeter sebelum menyentuh tanah.
Arkana berdiri tegak, menatap drone mati di tangansnya dengan ekspresi datar. Menggunakan kekuatan jarinya yang telah melewati penempaan tingkat tinggi, ia meremas bodi logam komposit itu hingga hancur berkerut seperti kertas bekas, lalu melemparkannya ke dalam tumpukan rongsokan besi tua di sudut dermaga.
"Ancaman pertama beres," pikir Arkana, mengedarkan pandangan batinnya sekali lagi untuk memastikan tidak ada drone cadangan yang mengikuti. "Tapi ini cuma masalah waktu. Distrik pelabuhan tua ini punya kepadatan Qi yang sangat tinggi karena merupakan Simpul Spiritual. Pemerintah atau klan kuno lainnya pasti bakal ngirim pasukan yang jauh lebih besar ke sini cepat atau lambat."
Arkana berbalik dan berjalan kembali menuju gudang terbengkalai dengan langkah tenang.
Di dalam gudang, suasana sudah mulai berubah. Dani membuka kedua matanya perlahan, mengembuskan napas panjang yang terasa sedikit berat. Seluruh permukaan wajah, leher, dan lengan jaket denimnya kini dipenuhi oleh lapisan keringat abu-abu yang lengket dan berbau tidak sedap.
Meskipun bau itu tidak sebusuk impuritas yang dikeluarkan oleh Arkana saat pertama kali melewati Body Tempering, Dani tetap merasa sangat risih. Namun di balik rasa risih itu, ekspresi wajah Dani dipenuhi oleh keterkejutan yang luar biasa.
Ia bangkit berdiri dari posisi bersilanya, mencoba menggerakkan kedua lengannya. "Gila... Ka, lo beneran gak bohong," seru Dani dengan suara berbisik saat melihat Arkana melangkah masuk dari pintu gudang. "Gua ngerasa... badan gua enteng banget. Otot-otot gua yang biasanya pegel karena terlalu sering begadang di depan komputer, sekarang rasanya kayak habis dipijat binaragawan profesional!"
Arkana menurunkan tudung jaketnya, tersenyum tipis. "Itu karena Teknik Penempaan Fisik Sembilan Perunggu baru saja membersihkan sisa-sisa racun siber dan kelelahan kronis dari tubuh fana lo, Dan. Lo belum secara resmi masuk ke ranah Body Tempering Tingkat Satu, tapi fondasi fisik luar lo sekarang sudah jauh lebih kuat dari manusia biasa di kampus kita."
Dani mencengkeram tangansnya, merasakan kepadatan otot lengannya yang tampak sedikit lebih kencang di bawah jaketnya. "Berarti kalau ada monster jubah hitam kayak semalam lagi, gua udah bisa ikut mukul?"
"Jangan ngaco," potong Arkana langsung, nadanya kembali serius. "Orang-orang dari klan kuno itu sudah melatih fisik mereka sejak kecil di bawah bimbingan energi spiritual, meskipun teknik mereka kotor. Lo baru latihan satu jam. Kalau lo nekat maju, lo cuma bakal jadi samsat hidup buat mereka. Tugas lo sekarang adalah tetep fokus latihan dan jaga Lisa."
Mendengar nama sepupunya disebut, Dani langsung menengok ke arah matras usang di sudut ruangan. Lisa tampak bergerak kecil, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Gadis remaja itu mendudukkan tubuhnya, melihat ke sekeliling ruangan gudang yang berdebu dengan tatapan yang jauh lebih segar dibandingkan semalam.
"Lisa! Lo udah bangun?" Dani langsung mendekati sepupunya, memberikan sebotol air mineral yang tadi diberikan Arkana.
Lisa menerima botol itu, meminumnya dengan rakus hingga setengahnya habis. Setelah menyeka bibirnya, ia menatap Arkana dengan pandangan yang dipenuhi rasa hormat yang mendalam. Sebagai seseorang yang memiliki bakat adaptasi elemen kayu murni yang sangat tinggi, ia bisa merasakan ada semacam resonansi tak kasat mata yang agung terpancar dari tubuh Arkana—sebuah tekanan hierarki yang membuatnya merasa tunduk sekaligus terlindungi.
"Kak Arka... terima kasih banyak," ucap Lisa, suaranya terdengar jauh lebih jernih dan berenergi dibandingkan semalam. "Aku bisa ngerasain... ada sesuatu yang aneh berputar di dalam dada aku. Warnanya hijau sejuk, dan rasanya nyaman banget."
Arkana berjalan mendekat, menatap Lisa dengan pandangan mengangguk. "Itu adalah benih Qi elemen kayu sejati yang gua tanam di dalam meridian lo semalam, Lisa. Jangan takut dengan energi itu. Itu adalah bagian dari diri lo sekarang. Di dunia yang baru ini, bakat lo adalah anugerah sekaligus kutukan. Banyak orang jahat yang bakal mengincar lo karena bakat ini, jadi lo harus belajar buat menyembunyikannya dan tumbuh menjadi lebih kuat."
Lisa mengepalkan tangan kecilnya yang bersih, lalu mengangguk tegas dengan mata yang berbinar penuh tekad. "Aku paham, Kak. Aku gak mau jadi beban buat Kak Dani dan Kak Arka lagi."
Arkana mengalihkan pandangannya ke arah jendela gudang yang menampilkan pemandangan luar pelabuhan yang semakin terang oleh sang surya, meskipun kabut spiritual masih menggantung tebal. Otak Teknik Informatikanya mulai bekerja, memetakan rencana strategis jangka pendek untuk bertahan hidup.
"Kita gak bisa tinggal di gudang ini terlalu lama," ucap Arkana kepada Dani dan Lisa. "Pemerintah lewat divisi Aditia Pramono sudah mulai menyisir kawasan pelabuhan menggunakan drone pengintai. Gua baru aja menghancurkan salah satunya, tapi itu bakal memicu kecurigaan baru di pusat komando mereka dalam beberapa jam ke depan."
"Terus kita harus pindah ke mana, Ka?" tanya Dani, wajahnya kembali dipenuhi kecemasan. "Semua jalanan utama pasti sudah dipasang pos pemeriksaan militer dengan alat pemindai Aura-Meter itu."
Arkana menyentuh Cincin Kaisar Abadi di jari tengahnya, merasakan denyutan hangat dari pusaka kuno tersebut. Di dalam memori warisan yang tersimpan di dalam cincin, ada sebuah peta kuno mengenai jalur-jalur bawah tanah purba yang dibangun oleh para kultivator masa lalu—sebuah jaringan terowongan spiritual yang terletak jauh di bawah fondasi kota modern Jakarta.
"Kakek gua pernah meninggalkan catatan tentang sebuah tempat rahasia di bawah distrik Kota Tua Jakarta," ucap Arkana berbohong secara taktis, menyamarkan memori dari cincin sebagai peninggalan lisan kakeknya untuk menjaga kerahasiaan terdalamnya. "Tempat itu adalah sebuah tempat perlindungan kuno yang memiliki formasi penyembunyian energi alami. Di sana, kita bisa berlatih dengan aman tanpa terdeteksi oleh radar militer maupun klan kuno."
"Kota Tua? Itu kan kawasan wisata siber yang penuh dengan kamera pemindai wajah pemerintah, Ka," sahut Dani bingung.
"Bukan di permukaannya, Dan. Tapi jauh di bawah labirin saluran pembuangan air kolonial yang sudah ditutup sejak tahun 2025," jelas Arkana, matanya berkilat penuh misteri. "Kita bakal bergerak lewat jalur air pelabuhan ini. Menggunakan energi kultivasi, kita bisa berenang di bawah permukaan air tanpa perlu memicu sensor apa pun."
Arkana berjalan menuju tas ranselnya, mengambil sisa persediaan makanan kaleng dan membagikannya kepada Dani dan Lisa. "Makan sekarang. Isi energi tubuh lo berdua. Begitu malam kedua tiba dan kabut spiritual berada di titik paling pekat, kita bakal memulai pelarian bawah air menuju Kota Tua."
Dani dan Lisa menerima makanan itu dengan diam, namun di dalam hati mereka masing-masing, keyakinan terhadap Arkana sudah berada di tingkat yang mutlak. Di tengah dunia modern yang sedang runtuh menuju ketidakpastian, pemuda berusia dua puluh tahun dengan sepasang mata perak itu adalah satu-satunya kompas yang bisa membimbing mereka melewati badai takdir yang baru saja dimulai