Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
Jeruji Tanpa Dinding
Suara ketukan palu sidang seolah sudah bergema di kepala Sarah Amelia, meskipun jadwal persidangan perdana baru akan digelar tiga hari lagi. Di dalam ruang kerja kantor hukum Adhitama & Partners yang terletak di lantai 22 sebuah gedung pencakar langit, Sarah duduk dengan tenang. Penampilannya kini berubah total. Tidak ada lagi daster longgar atau rambut yang diikat asal-asalan dengan jepitan plastik murah. Sarah mengenakan blazer formal berwarna biru dongker yang pas di tubuhnya, memancarkan aura keanggunan yang dingin dan berwibawa.
Di hadapannya, Rendra meletakkan sebuah map tebal berisi berkas-berkas perkara. Di samping pengacara muda itu, duduk seorang pria paruh baya berambut perak yang merupakan salah satu komisaris utama dari konsorsium keluarga Sarah.
"Semua aset PT Reksa Tama sudah resmi dibekukan dan dialihkan ke bawah pengawasan kurator, Nona Sarah," ujar Rendra, suaranya terdengar profesional namun menyimpan kepuasan tersendiri. "Ardi dan keluarganya sudah dievakuasi dari rumah utama. Dari laporan orang lapangan kami, saat ini mereka menempati sebuah rumah kontrakan petak di pinggiran kota setelah Ardi memaksa keluar dari rumah sakit umum."
Sarah hanya tersenyum tipis. Tidak ada binar balas dendam yang kekanak-kanakan di matanya, hanya ada rasa lega yang hambar. "Bagaimana dengan gugatan cerai kita, Rendra? Apa ada respons dari pihak Ardi?"
Rendra terkekeh pelan, sebuah tawa yang sarat akan cibiran. "Sesuai dugaan Anda. Ardi menolak menandatangani surat panggilan sidang pertama. Pengacara yang bersedia dia bayar dengan sisa-sisa uang simpanannya menyatakan bahwa kliennya tidak akan pernah menghadiri sidang dan menolak bercerai. Mereka berniat menggantung status hukum Anda seumur hidup."
Mendengar hal itu, pria paruh baya di samping Rendra mendengus sinis. "Ardi masih mengira dia memiliki kartu as untuk menahanmu, Sarah. Dia tidak sadar siapa yang sedang dia lawan."
Sarah menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk. Dia memutar-mutar pena emas di jarinya, mengingat bagaimana Ardi, Mama Widya, dan Mbak Rika selalu memperlakukannya seperti pembantu tak berharga selama bertahun-tahun. Delusi mereka yang ingin menjadikannya "istri gantung" justru menunjukkan betapa dangkalnya pemikiran keluarga tersebut tentang hukum.
"Biarkan saja mereka menolak, Rendra," ucap Sarah tenang, nadanya datar namun mematikan. "Ardi berpikir dengan tidak datang dan mempersulit persidangan, dia bisa memenjarakan aku dalam status pernikahan. Dia lupa bahwa hukum Indonesia mengenal mekanisme Verstek. Jika dia mangkir tiga kali berturut-turut, majelis hakim justru akan memutus perceraian ini secara verstek demi hukum."
"Tepat sekali, Nona," Rendra mengangguk setuju. "Lagipula, bukti perselingkuhan Ardi dengan Tyas di menara The Grand Pinnacle, ditambah seluruh bukti transfer dana perusahaan untuk membiayai wanita simpanannya, sudah lebih dari cukup untuk membuat hakim langsung mengabulkan gugatan tanpa perlu kehadiran Ardi. Mereka justru mempermudah jalan kita."
Sarah mengalihkan pandangannya ke luar jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang padat. Di bawah sana, di salah satu sudut kota yang kumuh, mantan suaminya mungkin sedang merancang rencana busuk bersama ibu dan kakaknya yang penuh kedengkian. Mereka mengutuknya, menyumpahinya, dan merasa menjadi korban yang dizalimi.
"Rendra," panggil Sarah memecah keheningan. "Pastikan semua utang pribadi Ardi yang dia agunkan menggunakan aset-aset di luar perusahaan tetap dikejar oleh pihak bank. Aku ingin mereka tahu, bahwa penjara yang sedang Ardi siapkan untukku... sebenarnya adalah jeruji besi nyata yang akan mengurung dirinya sendiri karena kasus penipuan dan penggelapan dana."
Senyum Rendra melebar. "Segera dilaksanakan, Nona Sarah. Di sidang lusa, kita akan memberikan kejutan pertama untuk mereka."
Di tempat lain, di sebuah ruangan sempit yang berbau lembap dan pengap, Ardi mendadak bersin berturut-turut. Di atas kasur lantai yang tipis, dia memandangi langit-langit tripleks rumah kontrakan barunya dengan rahang mengeras, masih meyakini bahwa dia memegang kendali atas hidup Sarah. Ardi tidak pernah tahu, bahwa singa yang dia remehkan kini siap menutup pintu perangkapnya rapat-rapat.