Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 15
"Kurang ajar kamu ya, Aulia! Sudah berani menjawab sekarang?!" Bu Ratna berkacak pinggang, napasnya memburu.
"Kamu tanya ada apa kami datang? Kamu sengaja kan, menyita ATM Galang sampai dia cuma bisa kirim uang bulanan ke Ibu setengah dari biasanya? Hah?!"
"Betul itu!" Rika ikut menimpali dengan wajah sinis, melipat tangan di dada.
"Gara-gara kamu pelit, Ibu jadi tidak bisa bayar arisan, dan anakku gagal ikut studi tur sekolah! Kamu ini egois ya, Aulia. Menantu macam apa yang membiarkan keluarga suaminya kelaparan, sementara kamu sendiri malah enak-enakan keluyuran pakai mobil mewah sama laki-laki lain?!" Rika ikut maju dengan tatapan sinis, melirik piala emas yang dipegang Cantika dengan dengusan remeh.
"Nggak usah pura-pura lugu kamu, Aulia! Kita ke sini mau minta pertanggungjawaban kamu! Pantesan aja akhir-akhir ini Galang pelitnya minta ampun sama keluarga sendiri. Jangankan buat kirim uang bulanan ke Ibu, buat bantu biaya rumah sakit anakku kemarin saja dia bilang nggak ada uang!"
"Lalu apa hubungannya dengan saya, Mbak? Bukankah urusan anak mbak adalah urusan kedau orang tuanya bukan om dan tantenya. Bukankah pula jabatan Mas Bayu, suami mbak jauh lebih tinggi dari Mas Galang? Kenapa malah minta ke suami saya? Apa pernah saya juga minta tambahan biaya terapi Cantika kepada kalian?" tanya Aulia dingin.
Mendengar keberanian Aulia membuat wajah Rika memerah menahan marah campur malu. Bu Ratna segera mendekat untuk mengambil alih kembali dominasi mereka seperti biasanya. Sedangkan Ghani masih berada di sana, ingin pergi tapi Farrel malah memeluk Cantika seperti seorang kakak yang melindungi adiknya melihat pertengkaran orang dewasa di depannya. Apalagi ucapan Bu Ratna dan Rika sangat kasar di telinga mereka.
"Nggak usah urusi keluarga kakakmu! Kamu masih tanya?!" Bu Ratna membentak, jarinya menunjuk kasar ke arah Cantika.
"Galang sendiri yang bilang kalau seluruh uang gajinya habis dikuras sama kamu! Ratusan juta habis cuma buat bayar dokter dan terapi bicara anak cacatmu ini! Kamu sengaja kan bikin Galang miskin supaya dia nggak bisa bantu ibunya dan saudaranya?!"
Mendengar makian "anak cacat" dilontarkan langsung di depan wajah Cantika, dada Aulia seketika bergemuruh hebat. Rahangnya mengeras. Asumsi yang selama ini berputar di kepalanya tentang ke mana perginya uang gaji Galang, yang selalu diklaim pria itu habis untuk memenuhi kebutuhan ibu dan kakanya, kini pecah menjadi sebuah kenyataan yang menjijikkan.
Galang telah menjadikannya dan Cantika sebagai tameng. Pria itu menuduh anak kandungnya sendiri demi menutupi kebusukannya yang menghamburkan uang bersama wanita lain. Dan Aulia sangat yakin jika suaminya sudah berkhianat, namun dia belum punya bukti untuk meyakinkan dugaannya.
Aulia menarik napas dalam-dalam. Bukannya menangis atau histeris, seulas senyum sinis yang penuh tuntutan balas dendam justru terbit di bibirnya. Tatapan matanya yang tadi tenang kini berubah setajam silet, menatap langsung ke arah mertua dan iparnya.
Aulia hampir saja tertawa getir mendengar tuduhan absurd itu. Uang bulanan berkurang? Jadi, sebagian sisa uang yang dikuras Galang ternyata diambil dari jatah ibunya sendiri demi membelikan tas branded dan melunasi gaun satin Belinda yang berharga lima belas juta itu. Dan sekarang, keluarga toksik ini malah melampiaskan kesalahan pada dirinya.
"Uang bulanan Ibu berkurang? Dan mbak ngak bisa bayar biaya study tour anak sendiri yang kedua orang tuanya masih lengkap dan bahkan lebih dari mampu membiayai anaknya.." Aulia menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus ke mata mertuanya tanpa rasa takut lagi.
"Kalau begitu, silakan Ibu tanyakan langsung pada anak kesayangan Ibu, ke mana perginya uang-uang itu. Karena demi Allah, saya tidak memegang sepeser pun uang Mas Galang bulan ini. Bahkan untuk biaya terapi wicara Cantika saja, dia tega berbohong!"
"Halah! Jangan puji diri sendiri dan memutarbalikkan fakta! Kamu pasti sengaja menyembunyikannya!" bentak Bu Ratna lagi. Pak Hendra yang sejak tadi diam hanya berdehem keras, memandang Aulia dengan tatapan menghakimi yang tak kalah dingin.
Di tengah ketegangan yang memuncak itu, tiba-tiba suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar mendekat. Mobil milik Galang bergerak memasuki halaman rumah dan langsung mengerem mendadak tepat di belakang mobil mewah Ghani.
Pintu mobil terbuka kasar. Galang turun dengan pakaian rapi, setelan terbaik yang diperintahkan Belinda untuk acara makan malam nanti. Namun wajahnya langsung pucat pasi saat melihat pemandangan di depannya. Ada ibunya, ayahnya, kakaknya, Aulia dan yang paling membuat jantungnya mencelos. Ghani. Pria matang, berwibawa, sedang berdiri tegak di samping Aulia dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Ibu? Ayah? Rika? Kenapa... kenapa ada di sini?" tanya Galang terbata-bata, langkahnya tertahan di samping mobil.
"Masukke dalam rumah dan langsung ke kamar dulu ya, Sayang. Cantika bisa kan cucu tangan dan kaki sendiri?. Mama ada urusan sebentar," bisik Aulia lembut pada Cantika. Anak cantik itu mengangguk setelah melirik Farrel. Setelah memastikan putrinya masuk, pandangan Aulia kini beralih kepada Farrel yang terlihat masih kesal kepada Bu Ratna.
"Farrel, terima kasih sudah melindungi Cantika ya, sayang... Sekarang Farrel juga harus pulang dan istirahat. Sudah sore, kasihan papanya juga. Lusa ketemu lagi di sekolah ya, Nak..." Ujar Aulia lembut kepada Farrel.
"Baik Tante, tolong jaga Cantika dari Mak Lampir itu ya! Jangan sampai dia berani berbuat jahat kepada Cantika," Aulia mengangguk sambil tersenyum dan mengusap kepala Farrel kemudian beralih ke Ghani.
"Pak Ghani, terima kasih sudah mengantar dan membuat Cantika bahagia di saat tak ada sosok ayah untuk Cantika, namun anda memberikan dukungan untuk dia... Maaf anda harus melihat dan mendengar hal yang tak mengenakkan ini..." Aulia sengaja mengatakan hal itu mambuat Galang tercekat.
"Tidak masalah Bu Aulia. Saya permisi dulu..." Ghani pamit dan saat berpapasan dengan Galang dia tersenyum dan mengangguk sopan.
"Kita mau bicarakan semuanya di luar atau di rumah? Mumpung Mas Galang juga sudha ada di sini biar semuanya jelas, Bu, Mbak..." Tanya Aulia setelah mobil Ghani pergi.
Bu Ratna mendengus kencang, melipat tangannya di dada dengan angkuh.
"Di luar saja! Biar tetangga-tetangga tahu bagaimana busuknya kelakuan istri yang sudah berani menelantarkan keluarga suaminya sendiri!"