NovelToon NovelToon
Malaikat Pelindung

Malaikat Pelindung

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Tamat
Popularitas:81.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Sariyah

Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.

Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.

Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?

Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps. 6 Kebohongan

Tik.. Tik.. Tikk

Hujan dipagi hari tidak menyurutkan semangat Vika. Ia berjalan kaki dengan memegang sebuah payung ditangannya. Melewati setiap rumah yang tampak sepi, namun ia tidak memperdulikannya. Ia harus cepat sampai hari ini juga dirumah Siska. Jarak rumah Vika dan Siska kurang lebih sekitar dua ratus kilometer, tak jarang jika mereka saling bertemu dan akhirnya menjadi sahabat dekat.

Sesampainya dirumah Siska, ia meletakkan payungnya terlebih dahulu diteras, kemudian Vika mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian Siska datang membukakan pintu, ia kaget melihat Vika datang kerumahnya namun tidak berseragam. Sementara Siska sudah bersiap-siap hendak berangkat kesekolah.

"Apa kamu sakit?" Tanya Siska.

"Tidak, aku ada perlu denganmu."

"Masuklah dulu!" Siska membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Vika untuk masuk. Mereka lalu duduk disofa ruang tamu.

"Katakan, ada perlu apa?" Tanya Siska.

"Kamu paling hebat meniru tulisan orang Siska, aku butuh bantuanmu saat ini juga. Pagi ini hujan sangat lebat, bagaimana kalo kita absen sekolah dan kamu bantu aku menuliskan beberapa lembar surat?" Ucap Vika berbisik, takut ada yang mendengar obrolan mereka.

"Apa yang kamu katakan! Apa tidak lihat aku sudah rapi saat ini!" Gerutu Siska berusaha menolak ajakan Vika.

"Oh ayolah, sekali ini saja." Rengek Vika.

"Kamu ini. Surat apa?"

Vika menyeringai mendengar pertanyaan Siska.

"Aku akan memberitahumu jika kamu menyetujuinya!"

"Baiklah, aku setuju! Ayo ikut aku kekamar!"

Siska dan Vika berjalan menuju kamar. Sesampainya didalam, Vika duduk disamping tempat tidur dan mengambil beberapa kertas berwarna pink. Sementara Siska mengganti baju seragamnya dengan baju santai. Lalu mendekati Vika.

"Kamu ingin mengirim surat untuk siapa lagi dan tulisan siapa yang akan ku tiru?" Tanya Siska penasaran lalu memeluk boneka Panda kesayangannya.

"Lihat!" Vika memberikan sebuah kertas fotocopy.

Siska mengernyitkan keningnya heran, mengapa dia memfotocopy surat itu? Siska membatin.

"Lalu?"

"Aku ingin kamu meniru tulisan itu!" Ucap Vika dengan menunjuk surat yang ada ditangan Siska.

"Maksudnya meniru tulisan Arifah? Untuk apa?"

Vika mengangguk.

"Aku akan memberitahumu jika kamu sudah selesai!"

Siska hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat mengenal Vika yang tidak suka jika ia terlalu banyak bertanya tentang rencananya.

Siska kembali memperhatikan tulisan Arifah dengan seksama, kemudian ia pergi kemeja belajar yang tidak jauh dari tempat tidurnya lalu mengambil kertas kosong dan pulpen. Ia mulai menulis kata per kata menirukan tulisan Arifah. Setelah selesai satu paragraf, Siska menunjukkannya pada Vika. Vika menerima kertas itu dan tersenyum lebar.

"Kamu memang hebat Siska, tulisan ini benar-benar mirip." Ucap Vika setelah membandingkannya dengan tulisan Arifah.

"Bisakah kamu menceritakan rencanamu sekarang saja sebelum aku membuatkan surat yang sesuai dengan keinginanmu?" Tanya Siska.

"Tidak! Aku mau kamu membuatkannya terlebih dahulu!" Jawab Vika.

Siska menatap Vika tajam.

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Siska dan dijawab anggukan Vika.

"Sebenarnya ada dendam apa kamu dengan Arifah?"

Vika tampak kesal dengan pertanyaan Siska.

"Aku akan mengatakan semuanya, jika kamu sudah menyelesaikan apa yang aku mau. Semua pertanyaanmu akan aku jawab!" Jelas Vika.

Siska mengambil nafas dan membuangnya kasar. Ia selalu kalah dengan Vika jika sudah berdebat.

Vika mengambil kertas berwarna pink yang ia bawa dari rumah kemudian memberikannya.

"Tulis disini! Aku akan mendiktekan!" Perintah Vika.

Dalam hal ini Vika melibatkan Febri saudara sepupunya untuk berpura-pura menjadi pacar Arifah dalam surat yang dikarangnya. Febri terpaksa mengiyakan, karena dia diancam Vika apabila tidak mau terlibat maka Vika bertekad akan menarik semua biaya sekolah dan uang saku yang ditanggung keluarga Vika.

Siska tidak habis pikir dengan ulah Vika, dia berani sekali menghancurkan nama baik Arifah. Vika masih sangat kecil, tapi pemikirannya sudah mengerikan, bagaimana jika ia sudah dewasa nanti? Siska membantin menggeleng-gelengkan kepalanya. Siska ingin menolak permintaan Vika, tapi ia sudah terlanjur mengatakan bahwa ia akan selalu mendukung Vika, meski apapun yang dilakukannya.

Setelah selesai dengan yang mereka kerjakan. Mereka pergi kerumah Pak Rusli, dan menyerahkan surat itu.

Pak Rusli membaca dengan sangat teliti. Seakan tak percaya dengan apa yang ia baca, Pak Rusli kembali membacanya berulang-ulang. Kemudian menatap Vika dan Siska bergantian. Ini adalah kasus pertama yang ia temui.

Siska dan Vika berusaha meyakinkan Pak Rusli. Sampai akhirnya Pak Rusli berencana melaporkan kasus ini ke kepala sekolah karena sudah benar-benar mencoreng nama baik sekolah.

***

Arifah, Mami, Papi dan Aska berkumpul diruang keluarga.

Tidak seperti biasanya Arifah bersikap murung seperti itu, pasti ada masalah. Batin Aska.

"Apa kamu baik-baik saja adik jelek?" Tanya Aska yang sejak tadi memperhatikan Arifah.

Arifah diam, ia tidak tahu harus memulainya dari mana.

Mami yang mendengar Aska bicara lalu melihat Arifah yang terlihat tegang. Mami mendekati Arifah dan memeluknya.

"Katakan, apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" Tanya Mami.

"Jangan takut, ayo katakan." Tanya Mami lagi sembari mengangkat dagu Arifah. Mami melihat Arifah menahan tangisnya, tak lama Arifah kembali memeluk Mami dan menangis sejadi-jadinya. Mami berusaha menenangkan Arifah, dengan memeluknya semakin erat dan berkali-kali mencium ubun-ubun milik Arifah.

Mami melepaskan pelukannya dan menatap Arifah lembut.

"Katakan sayang!" Ucap Mami.

Arifah melirik Aska, Aska mengangguk.

Arifah merogoh saku celananya dan mengeluarkan surat dari sekolah.

Mami mengambil surat itu dan membacanya. Tiba-tiba Mami menutup mulutnya seakan tak percaya. Mami melihat Arifah tajam, Arifah hanya menunduk menahan tangisnya. Mami sungguh tak menyangka anak kesayangannya yang selama ini ia lihat baik-baik saja ternyata melakukan kesalahan fatal.

Aska mengambil surat yang ada ditangan Mami lalu memberikannya pada Papi.

"Besok kita kesekolah!" Ucap Papi Wijaya

***

Diruang kepala sekolah, Pak Rusli sudah menunggu kedatangan Arifah dan keluarga.

Diperjalanan menuju ruang kepala sekolah, Arifah mendapatkan sorotan tajam. Karena ia kesekolah bersama keluarganya, membuat Siswa dan Siswi yang melihatnya bertanya-tanya.

Sesampainya di ruang kepala sekolah, Arifah mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar. Kemudian Pak Hasibuan sebagai kepala sekolah mempersilahkan Arifah beserta orang tuanya masuk.

"Ada apa sebenarnya Pak? Anak Saya ini anak yang baik, dia tidak pernah berbuat nakal." Ucap Mami membuka pembicaraan.

Pak Hasibuan kemudian memberikan beberapa kertas berwarna pink kepada Mami Dinda. Mami Dinda membacanya terbelalak demikian juga Papi dan Aska. Mereka benar-benar tidak menyangka Arifah berbuat hal buruk.

"Apa yang kamu lakukan Arifah?" Tanya Mami.

"Ii-itu bukan aku yang buat Mi." Jawab Arifah menunduk dan menahan tangis.

"Ini sudah jelas tulisan kamu, Mami paham betul tulisan kamu."

"Sungguh, bukan aku Mi!" Jawab Arifah menatap Mami.

Mami membelai rambut Arifah.

"Apa kamu yakin?" Tanyanya pelan.

Arifah mengangguk pasti.

"Saya percaya anak Saya, bisa saja orang lain menjebak anak Saya dengan mencari orang yang memiliki tulisan yang sama dengannya." Ucap Mami dengan memeluk Arifah yang ketakutan.

"Darimana Bapak mendapatkan ini semua?" Tanya Aska menatap Pak Hasibuan dan Pak Rusli bergantian.

"Dua orang Siswi melapor pada Saya." Jawab Pak Rusli dengan melipat kedua tangannya diatas dada.

"Siapa kedua Siswi itu? Barangkali Arifah mengenalnya." Tanya Aska melirik Arifah yang sedang menangis dipelukan Mami.

"Mereka ingin namanya dirahasiakan, mereka benar menyaksikan Arifah sendiri yang menulis surat itu untuk Febri. Febri adalah Siswa SMP Kusuma Bangsa." Jelas Pak Rusli geram melihat Arifah yang tidak mau mengakui perbuatannya.

"Bisakah Bapak menghadirkan Febri kesini?" Tanya Papi.

"Ya, tentu saja!" Jawab Pak Rusli.

Pak Rusli lalu memanggil Febri yang sudah sedari tadi berada diluar ruangan kepala sekolah.

Febri masuk keruangan itu dengan bimbang. Febri sangat ketakutan, ia diposisi yang serba salah saat ini. Ia menatap Arifah kasihan, tapi tidak dapat berbuat apapun selain pasrah dengan keadaan.

"Katakan! Apakah benar ini surat ini pemberian Arifah?" Tanya Pak Rusli.

Semua orang menatap tajam kearahnya.

Dengan ragu-ragu Febri mengangguk, mengiyakan.

Arifah kaget dengan pengakuan Febri.

"Aku sama sekali tidak mengenali dia! Siapa kamu!"

"Tenanglah sayang." Mami berusaha menangkan Arifah.

"Jelaskan apa yang sesungguhnya terjadi diantara kalian berdua!" Ucap Pak Hasibuan dengan menyandarkan bahunya dikursi kebesarannya.

"Awalnya Saya sering melihat Arifah dipintu gerbang sekolah, saat itu Saya sangat ingin mengenalinya, tapi Saya tidak memiliki keberanian." Febri mengambil nafas pelan dan kemudian melanjutkan.

"Akhirnya Saya mencoba menulis sebuah surat untuknya, kemudian memasukkan surat itu kedalam tasnya secara diam-diam ketika kami berpapasan." Dengan suara bergetar Febri berusaha melanjutkan.

"Tak lupa Saya tinggalkan alamat rumah didalamnya. Dan Saya sangat senang Arifah mau membalas surat dari Saya. Saya selalu menemukan surat dari Arifah setiap hari di depan pintu rumah Saya. Dia adalah Siswi pemberani. Saya tidak menyangka surat-surat yang Arifah kirimkan diluar dugaan Saya, ternyata dia bukan Siswi yang baik, Saya telah salah menilainya." Febri mengambil nafas sejenak.

Semua yang hadir mendengarkan dengan intens. Tapi Arifah sangat jijik dengan pengakuan Febri yang semuanya adalah kebohongan.

"Saya merasa menyesal telah mengiriminya surat, dan Saya bermaksud melaporkan Arifah karena Saya tidak tenang setiap hari harus menemukan surat darinya. Kemudian Saya menemukan ide untuk memberikan surat ini ke kepala sekolah tempat dimana Arifah belajar melalui Siswi yang ada disini." Jelasnya panjang lebar.

"Bohong, dia berbohong!" Arifah menangis sejadi-jadinya.

Papi mendekat lalu menampar pipi Arifah.

Plakk...

"Memalukan!" Ucap Papi, lalu pergi menunggu Mami dan Aska didalam mobil. Papi benar-benar tidak menyangka bahwa anak perempuannya serendah itu.

Arifah menatap Mami, namun Mami hanya bisa diam tidak menghiraukan Arifah.

"Mas, Mas percaya sama aku kan?" Arifah mengadu dengan terisak-isak.

Febri merasa kasihan, namun ia tidak dapat berbuat apapun. Febri hanya menundukkan kepalanya.

"Saya sudah memutuskan. Arifah sudah tidak boleh mengikuti pelajaran seperti biasanya. Namun dia boleh mengikuti ujian akhir sekolah diruangan kosong dan seorang diri. Ini adalah pelajaran untukmu dan yang lainnya, agar tidak ada Siswa ataupun Siswi yang berani melakukan hal serupa!" Jelas Pak Hasibuan, lalu mempersilahkan semuanya keluar dari ruangannya termasuk Pak Rusli.

.

.

.

TBC...

Jangan lupa like n vote ya 😊

1
Novellette (akun thor hiatus)
bc lg judulnya" Pacarku super Idol " cr aja dikolom pencarian dn bc juga karyaku judulnya, "Wu lan zhang" cek diprofilku maaf gak sopan ttp sukses
Novellette (akun thor hiatus): tunggu,ya
total 2 replies
Novellette (akun thor hiatus)
udh mampir
Irena Marsha
stlh skian lama,terucap juga..lanjuut thor. 😁😁
🍬🧀Kara
Terus berkarya Thor😘
Author Rie: makasih yakk 💪
total 1 replies
Kohaku
mantab
Author Rie: makasih 😊
total 1 replies
YouTrie
Ok lanjut..support buat author..
Author Rie: maaciw budhe 🤗
total 1 replies
Ria Diana Santi
Wah, selamat!🥳🥳🥳 Sukses terus!
Author Rie: aamiin, maaciw 🤗
total 1 replies
alisha
rate 5 dan vote
Author Rie: maaciw 🤗
total 1 replies
Anindyta
semangat terus ya thorr
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
Yuniarti Muskan Sanir: udah habis ya Thor ??
total 2 replies
Yuniarti Muskan Sanir
lanjut
ͼӈªȋϩȧ
semangat up
Syl_Vien
RYU hadir ka👍🥰

lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Ria Diana Santi
Semangat up-nya Thor.
Ferly Ina
6 like mendarat 🤗🤗
🍬🧀Kara
Dukungan mendarat
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️
HIATUS
Like it 💕 semangat thor 💪 salam dari novel Cinta Beda Status Sosial 😘
HIATUS
Like 💞like 💞 like 💞
HIATUS
Like it 💕
HIATUS
Jempolll 👍
HIATUS
Like thor ❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!