Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
Di ruang hampa perbatasan timur Langit Selatan, Kota Puing Naga yang dibangun dari tengkorak-tengkorak monster purba sedang terguncang oleh gempa dimensi. Jutaan pemburu harta, kultivator pengembara, dan pedagang pasar gelap menatap ke arah pusaran merah darah dengan wajah pucat.
Retakan dimensi yang tadinya stabil kini berdenyut liar, memancarkan hawa yang membuat bintang-bintang di sekitarnya meredup.
ZRAAAAAASH!
Ruang hampa robek. Sesosok bayangan hitam melesat keluar layaknya peluru meriam, menghantam salah satu pelataran tulang di tengah kota hingga hancur berantakan. Bayangan itu adalah Zeng Niu, yang mendekap erat tubuh Zhao Ying.
Jubah hitam Zeng Niu compang-camping, dan napasnya memburu. Namun, yang paling mengenaskan adalah kondisi Sang Dewi Es. Gaun putih Zhao Ying diwarnai oleh noda darah biru keemasan. Roda Bintang di punggungnya yang merupakan fondasi dari kultivasi Ascendant Tahap Menengah-nya kini memiliki sebuah retakan halus yang memancarkan serpihan cahaya pudar.
Ini adalah Luka Dao.
Bagi seorang kultivator tingkat tinggi, kehilangan tangan atau kaki bisa disembuhkan dalam sehari. Namun, ketika fondasi hukum (Dao) retak akibat benturan dengan kekuatan Nirvana milik Kaisar Naga, itu adalah luka yang mengancam untuk menjatuhkan ranah kultivasinya secara permanen!
Zhao Ying terbatuk, darah kembali merembes dari sudut bibirnya. "Kita... berhasil keluar..."
Zeng Niu menggertakkan giginya. Ia menahan Niat Membunuh yang meledak di dalam dadanya. Di dunia ini, segala sesuatu memiliki harga. Ia berhasil merampas tiga gunung harta dari Lautan Kesadaran Sang Kaisar.
Tiba-tiba, tawa serakah terdengar dari balik puing-puing pelataran.
Belasan kultivator berwajah garang, mengenakan jubah abu-abu dengan lambang tengkorak, melangkah maju mengepung mereka. Mereka adalah kelompok bandit elit Serigala Kehampaan, predator pasar gelap yang khusus memangsa kultivator yang terluka saat keluar dari alam rahasia. Pemimpin mereka berada di ranah Soul Transformation Tahap Akhir.
"Hei, lihat siapa yang baru saja merangkak keluar," seringai pemimpin bandit itu, matanya berkilat menatap sisa-sisa harta yang memancar dari cincin Zeng Niu, dan tubuh Zhao Ying yang tak berdaya. "Kultivasi gadis itu sedang runtuh. Dan bocah ini terlihat kehabisan Qi. Serahkan cincin kalian, dan kami akan memberikan kalian kematian yang ce—"
Ucapan bandit itu terhenti.
Zeng Niu tidak menjawab. Ia bahkan tidak berdiri. Ia hanya menoleh, matanya yang sebelah emas dan sebelah hitam memancarkan Niat Jurang Ketiadaan yang telah disatukan dengan Tulang Emas Asura.
Zeng Niu mengangkat satu jarinya, lalu menekannya ke bawah.
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Sebuah tekanan gravitasi yang beratnya menyamai runtuhnya sebuah tata surya jatuh tepat di atas kelompok Serigala Kehampaan.
Tidak ada jeritan. Tidak ada pertarungan. Belasan kultivator tingkat tinggi itu, beserta pemimpin Soul Transformation Akhir mereka, langsung meledak menjadi kabut darah, lalu terkompresi menjadi setitik debu hitam di lantai tulang!
Ini adalah Kemenangan Telak. Di hadapan fondasi Tulang Emas Asura yang baru lahir, kultivator fana tak lebih dari gelembung. Zeng Niu terlalu marah untuk bermain-main.
Pembantaian instan itu disaksikan oleh ribuan pasang mata di Kota Puing Naga. Rasa serakah yang tadinya menguasai para kultivator seketika berubah menjadi teror murni. Mereka mundur teratur, tak ada satu pun yang berani mengambil napas terlalu keras.
Namun, Zeng Niu tidak peduli pada serangga-serangga itu. Ia mendongak, menatap pusaran dimensi merah darah yang kini membengkak hingga puluhan ribu tombak.
"Ying'er... tahan sebentar," bisik Zeng Niu, memanggil Perahu Giok Naga dari cincinnya. Ia membaringkan Zhao Ying di dalam kabin, lalu menyuntikkan ribuan batu roh tingkat puncak (yang baru saja ia rampok) ke dalam tungku perahu untuk mengaktifkan formasi lompatan ruang maksimal.
Tepat saat perahu giok itu mulai bersinar...
KRAAAAAAAAK!
Pusaran merah darah itu meledak terbuka! Dari dalam kehampaan, sebuah tangan raksasa bermanifestasi. Tangan itu tidak terbuat dari daging, melainkan dari lautan darah murni dan jeritan jiwa jutaan kultivator. Ukuran tangan itu lebih besar dari seluruh Kota Puing Naga!
"PENCURI... KAU TIDAK BISA LARI DARI KARMAMU..." Suara Kaisar Naga Primal menggema menembus batas dimensi, membawa paksaan Kaisar Bumi Awal yang baru saja ia peroleh dari menelan Patriark Yan Zun dan Gui Hai!
Tangan darah itu menekan ke bawah, mencoba meraih Perahu Giok Naga.
Namun, pergerakan tangan itu tidak hanya mengancam Zeng Niu. Tekanan dari Kaisar Bumi meruntuhkan Hukum Ruang di wilayah tersebut. Kota Puing Naga yang dihuni oleh jutaan kultivator pengembara, pedagang, dan pembunuh bayaran... mulai hancur!
Bangunan tulang remuk. Kultivator tingkat Nascent Soul dan Soul Transformation meledak di udara hanya karena terhimpit oleh tekanan gravitasi tangan tersebut. Ribuan faksi kecil dan menengah yang sedang berdagang di kota itu musnah dalam satu tarikan napas! Mereka Kalah karena Keadaan; terhapus dari eksistensi hanya karena mereka berdiri di dekat lintasan amarah seorang dewa purba.
"JALAN!" raung Zeng Niu, menampar inti formasi perahu.
WUUUUUSSSSH!
Perahu Giok Naga merobek ruang, melompat ke dalam terowongan astral tepat seperseribu detik sebelum jari-jari darah raksasa itu mencengkeram posisi mereka!
Tangan darah itu menghantam ruang hampa, menciptakan gelombang kejut kosmik yang menyapu sisa-sisa Kota Puing Naga menjadi debu bintang. Kaisar Naga Primal meraung murka dari dalam dimensi, raungannya menciptakan badai astral yang akan mengisolasi perbatasan timur Langit Selatan selama ratusan tahun ke depan!
Di Ujung Lain Alam Semesta — Istana Pusat (Central Palace)
Jauh dari kekacauan di Langit Selatan, di pusat dari segala pusat kekuasaan dunia kultivasi, berdiri Istana Langit Tiga Puluh Tiga. Tempat ini dikelilingi oleh awan emas abadi dan dijaga oleh ribuan jenderal tingkat Nirvana.
Di puncak istana tertinggi, di dalam sebuah aula yang lantainya terbuat dari cermin takdir, seorang pria paruh baya mengenakan jubah kekaisaran putih sedang duduk bersila. Sembilan naga emas ilusi berputar di sekeliling tubuhnya.
Ia adalah Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Istana Pusat, Sosok di ranah Kaisar Raja Tahap Menengah.
Di Shitian membuka matanya perlahan. Cermin takdir di bawahnya memunculkan riak-riak merah yang berasal dari arah selatan.
Di luar aula, seorang tetua penasihat agung dengan janggut menyapu lantai berlutut dengan gemetar.
"Melapor pada Yang Mulia Kaisar Langit!" suara penasihat itu dipenuhi kepanikan. "Cermin Pemantau Bintang baru saja mendeteksi fluktuasi kelahiran seorang Kaisar Bumi baru di perbatasan timur Langit Selatan! Dan... fluktuasi itu memancarkan Niat Iblis dari ras Naga Primal yang seharusnya sudah punah!"
Mata Di Shitian tidak memancarkan emosi apa pun. Ia telah hidup terlalu lama untuk terkejut.
"Naga Primal," gumam Di Shitian, suaranya sedingin kekosongan kosmik. "Binatang buas tua itu ternyata menipu surga dan bumi dengan menggunakan kematiannya sebagai kepompong. Sayang sekali, dia bangun sebelum waktunya. Fondasinya tidak sempurna."
"Yang Mulia, apakah kita harus mengirim Pasukan Penghakiman untuk membasminya? Kehadiran seorang Kaisar Bumi baru di Selatan akan merusak keseimbangan politik kita, apalagi Raja Perang Di Cang baru saja terluka parah di Benua Utara!"
"Tidak," jawab Di Shitian tenang.
Di Shitian mengangkat tangannya, memainkan pion catur emas di udara. Dunia ini baginya hanyalah papan permainan sebab-akibat.
"Klan-klan besar di Langit Selatan, seperti Klan Pil Emas dan keluarga kerajaan mereka, selama ini terlalu makmur dan mulai melupakan siapa penguasa sejati alam semesta ini. Biarkan naga gila itu mengamuk di Langit Selatan. Biarkan dia membakar sekte-sekte mereka dan menghancurkan perbendaharaan mereka. Ketika Langit Selatan telah menjadi lautan darah dan mereka memohon bantuan kita di atas lutut mereka... barulah aku akan turun tangan secara pribadi untuk memenggal kepala naga itu."
Sang Kaisar Langit menyipitkan matanya, Niat Kaisar Raja-nya bergetar pelan.
"Selain itu... aku merasakan ada benang karma aneh yang mengikat naga purba itu dengan kematian armada Matahari Darah di Utara. Panggil Biro Intelijen Bayangan. Cari tahu, siapa serangga yang sedang mengaduk-aduk lautan di wilayah bawahku ini."
Dalam politik tingkat dewa, kehancuran satu wilayah adalah alat untuk menaklukkan wilayah lainnya. Istana Pusat akan membiarkan Langit Selatan terbakar!
Di Dalam Terowongan Astral — Perahu Giok Naga
Perahu terbang itu melaju dengan kecepatan cahaya, menjauh dari perbatasan Langit Selatan, melintasi kehampaan tak berujung.
Di dalam kabin utama, Zeng Niu duduk di lantai kayu giok. Di hadapannya, Zhao Ying terbaring pucat, matanya terpejam menahan rasa sakit dari Luka Dao di dalam jiwanya. Retakan pada Roda Bintang nya terus memancarkan fluktuasi yang menggerogoti umur dan kultivasinya.
Zeng Niu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Zhao Ying. Ia tidak mengalirkan Qi fana, melainkan menyalurkan energi primordial dari Tulang Emas Asura miliknya, yang telah disucikan oleh Benih Dunia, untuk menahan agar retakan itu tidak menyebar.
"Ini hanya tindakan sementara," gumam Zeng Niu dengan rahang mengeras. "Energi fisikku bisa menahan keruntuhan Dao-mu, tapi tidak bisa menyembuhkannya."
Di Lautan Kesadarannya, Lei Ling mendesah berat. "Luka Dao yang disebabkan oleh Hukum Pemusnahan Nirvana sangatlah mematikan, Niu. Obat fana tidak akan berguna. Kau membutuhkan Pil Kelas Dewa atau Mata Air Pencerahan Dao tingkat kosmik untuk memperbaiki Roda Bintangnya, dan juga sangat sulit untuk mencarinya, karena dia juga bukan dari semesta mu, jika ayahnya Zhao Xuan tahu, Kau mungkin akan dibunuh tanpa tahu kau mati"
Zeng Niu menatap Dantiannya sendiri dengan penglihatan batin. Di dalam Lautan Ketiadaan-nya, melayang tiga gunung raksasa yang terbuat dari miliaran batu roh dan pusaka hasil perampokannya dari Lautan Kesadaran Kaisar Naga.
Kekayaan ini cukup untuk menciptakan sepuluh sekte kelas satu! Ia memiliki materi untuk membangun angkatan perang, ia memiliki zirah, senjata, dan pil-pil kuno yang tak terhitung jumlahnya.
Namun, tumpukan harta itu tidak memiliki obat spesifik untuk menyembuhkan Luka Dao Zhao Ying.
"Harta sebanyak ini..." Zeng Niu tersenyum pahit, membelai rambut putih Zhao Ying yang sedingin es. "Dunia kultivasi benar-benar gemar melontarkan lelucon kotor. Saat kau miskin, kau butuh harta. Saat kau akhirnya mendapatkan seluruh harta di dunia, benda yang paling kau butuhkan justru tidak ada di sana."
Zeng Niu berdiri. Auranya yang selama ini beringas dan meledak-ledak kini berubah menjadi sangat dingin, senyap, dan absolut. Ia tidak lagi sekadar seorang pemuda barbar yang mencari masalah; ia kini memikul tanggung jawab atas karma yang ia ciptakan sendiri.
"Kaisar Naga Primal telah bangkit. Istana Pusat pasti akan segera bergerak," gumam Zeng Niu, menatap lautan bintang di luar jendela perahu. "Kita tidak bisa kembali ke Langit Selatan, setidaknya untuk saat ini. Tempat itu akan segera menjadi neraka."
Zeng Niu memutar kemudi formasi perahu.
"Kita kembali ke Benua Utara. Aku akan menggunakan tiga gunung harta ini untuk memaksa seluruh Sekte Angin Merah melampaui batas fana dalam waktu satu tahun. Dan setelah itu..."
Mata Zeng Niu, yang kini sepenuhnya memancarkan pendaran Emas Kegelapan, menyipit dengan tekad pembantaian yang mengunci alam semesta.
"...aku akan memburu siapa pun, klan mana pun, atau kaisar mana pun yang memiliki obat untuknya."