NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Satu jam telah berlalu sejak deru roda taksi yang membawa Maya dan Naya lenyap di ujung gang perumahan. Namun, sisa-sisa ketegangan fajar tadi masih mengendap pekat di udara, menyelimuti setiap sudut rumah beratap limas itu bagaikan kabut tebal yang beracun.

​Aroma nasi goreng dan ikan asin goreng yang dimasak Rika menyeruak di area dapur. Di atas meja makan kayu yang terletak di ruang tengah, empat buah piring telah tertata. Namun, suasana di sekitar meja makan itu terasa begitu kaku dan pengap.

​Ibu Sumiati duduk di kepala meja dengan wajah yang dipaksakan tampak tenang, meski beberapa kali jemarinya yang keriput mengusap daster batiknya dengan gelisah. Di sisi kirinya, Fery duduk bersandar santai sambil terus fokus menatap layar ponsel pintarnya, memain-mainkan jemarinya pada game daring yang suara efeknya sengaja dimatikan. Di sebelah Fery, Rika sedang mengoleskan mentega ke atas selembar roti tawar dengan raut wajah penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan.

​Sementara itu, di sisi kanan meja, duduk Bayu.

​Pria itu hanya menatap kosong ke arah piring nasi goreng di hadapannya. Sendok di tangan kanannya sama sekali tidak bergerak. Penampilannya sangat kusut kemeja kerja berwarna biru muda yang dikenakannya bahkan belum dikancingkan dengan rapi pada bagian lengan, dan rambutnya tampak berantakan. Wajah Bayu masam, matanya sembab berbingkai lingkaran hitam tebal akibat kurang tidur dan tekanan emosi yang memuncak sejak kemarin sore.

​Setiap kali Bayu menatap kursi kosong di ujung meja kursi yang biasanya ditempati Maya saat mereka masih makan bersama, atau membayangkan kamar belakang yang kini tertutup rapat dan hampa tanpa suara celoteh polos Naya dadanya serasa dihantam benda tumpul yang teramat berat.

​Rika yang menyadari raut wajah masam dan pandangan kosong kakaknya itu mendadak mendengus pelan. Ia meletakkan pisau mentega ke atas piring kecil dengan dentang nyaring yang sengaja dibuat-buat.

​"Halah... Mas Bayu ini dari tadi mukanya dilipat terus kayak kain lap!" celetuk Rika tanpa empati, memulai percakapan dengan nada suara melengkingnya yang khas. "Kenapa sih, Mas? Masih mikirin wanita itu?"

​Bayu tidak menjawab. Ia hanya menghela napas berat tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.

​Rika melipat kedua tangannya di atas meja, memiringkan tubuhnya menatap Bayu. "Harusnya Mas Bayu itu bersyukur! Sujud syukur sama Allah! Tuhan itu masih sayang sama Mas Bayu, makanya diperlihatkan dan dibukakan mata Mas lebar-lebar tentang bagaimana tabiat asli istrimu itu sama Mas dan Ibu!"

​Bayu perlahan mengesampingkan sendoknya, lalu menengadah menatap adiknya dengan tatapan dingin.

​"Maksudmu apa ngomong gitu, Rik?" tanya Bayu, suaranya terdengar serak dan berat.

​"Ya jelas dong, Mas!" sergah Rika tak mau kalah. "Coba Mas pikir pakai logika. Tadi pagi Mbak Maya itu ngelakuin apa? Dia kabur! Dia bawa tas ransel besar, bawa semua bajunya, terus bawa Naya pergi gitu aja tanpa izin Mas Bayu! Kalau dia gak merasa salah atas keributan kemarin pagi, kenapa dia harus kabur pagi-pagi blind kayak pencuri?!"

​Rika tersenyum sinis, melanjutkan doktrinnya. "Orang kalau gak salah itu ya bertahan, Mas. Berani berdiri di depan Ibu, minta maaf, terus nyelesaiin masalah! Tapi apa yang dibuat Mbak Maya? Dia malah ngacir! Itu buktinya nyata banget kalau Mbak Maya itu memang salah! Dia itu gengsi mau Minta maaf sama Ibu karena ketahuan tabiat busuknya yang suka maki-maki kami di belakang Mas Bayu!"

​"Iya, Mas," Fery ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar ponsel. "Lagian istri modelan begitu mah gak ada

berbakti-berbaktinya sama suami. Masa suami lagi pusing mikirin rumah tangga, dia malah makin memperkeruh suasana dengan ancaman kabur? Biarin aja pergi, Mas. Palingan nanti seminggu di luar kehabisan uang juga mengemis-ngemis minta dijemput pulang."

​Mendengar cemoohan dari adik dan iparnya, sesuatu di dalam dada Bayu mendadak bergolak hebat. Perasaan bersalah, malu, dan emosi yang membendung sejak semalam seolah-olah mulai retak.

​Kata-kata Maya sebelum melangkah keluar dari pintu rumah tadi pagi bergaung kembali di dalam kepala Bayu dengan sangat jelas. Kamu memilih menjadi anak yang tunduk pada kezaliman ibumu, ketimbang menjadi suami dan Ayah yang bertanggung jawab.

​Lalu tatapan mata Naya... tatapan dingin dari putri kecilnya yang menarik tangannya dan berkata. Naya gak mau sama Pipo lagi. Pipo jahat... suka teriak-teriak sama Mimo...

​"Cukup, Rik! Fery! Cukup!" tegur Bayu dengan nada tinggi, mengetuk meja makan dengan kepalan tangannya hingga cangkir teh di atas meja bergetar.

​Rika dan Fery tersentak kaget. Fery bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.

​"Kenapa kalian gampang banget menyimpulkan?!" cecar Bayu dengan mata memerah menahan amarah yang berkecamuk. "Maya itu istriku! Lima tahun dia hidup sama aku di rumah ini! Selama lima tahun ini, kalian pernah lihat Maya ngamuk-ngamuk gak jelas seperti yang kalian ceritakan kemarin?! Hah?!"

​"Lho, Bayu! Kok kamu malah ngebela dia?!" potong Ibu Sumiati cepat, matanya melotot menatap putra sulungnya.

​"Bayu gak ngebela siapa-siapa, Bu!" balas Bayu, suaranya mulai bergetar emosional. "Tapi Bayu ini suaminya! Bayu yang paling tahu bagaimana sifat Maya! Maya itu wanita sabar, Bu. Dia gak pernah menuntut hal-hal aneh, dia selalu ngurus Bayu dan Naya dengan baik. Kemarin sore... Bayu memang emosi karena lihat Ibu menangis. Tapi tadi pagi, pas Bayu lihat mata Maya... Bayu sadar ada yang gak beres!"

​Bayu menyapu pandangannya menatap Ibu, Rika, dan Fery bergantian.

​"Kalian sadar gak apa yang udah kalian perbuat?!" lanjut Bayu dengan nada menyesal yang teramat sangat. "Kalian terus-menerus memojokkan dia! Maya tadi pagi pergi bukan karena dia merasa salah, Rik! Dia pergi karena dia sudah kecewa berat sama aku! Dia kecewa karena aku sebagai suaminya justru lebih percaya sama bentakan dan tuduhan tanpa bukti, ketimbang dengerin penjelasan dari dia dulu!"

​Napas Bayu memburu. Penyesalan yang terlambat itu kini menghantam dirinya bagaikan gelombang besar. Semua tuduhan dan teriakan yang dilontarkannya pada Maya kemarin sore kini terasa seperti racun yang menghancurkan rumah tangganya sendiri.

​"Halah, Mas! Nggak usah sok merasa paling bersalah begitu!" cibir Rika lagi, berusaha menutupi kepanikan karena kakaknya mulai sadar. "Mbak Maya itu memang pinter main drama! Mas Bayu aja yang terlalu polos mau dibodoh-bodohi sama air mata palsunya! Ingat ya, Mas, yang melahirkan Mas Bayu itu Ibu! Bukan Mbak Maya! Harusnya Mas Bayu itu berdiri di pihak Ibu, bukan malah ngebela wanita asing yang gak ada hormat-hormatnya sama mertua!"

​"Maya bukan wanita asing, Rika!" bentak Bayu tegap. "Dia istriku! Dan Naya itu anak kandungku! Sekarang mereka pergi bawa semua baju-bajunya! Kamu pikir aku gak hancur lihat anak kandungku sendiri ketakutan dan gak mau lagi dipeluk sama ayahnya?!"

​Suara Bayu tertahan di tenggorokan. Air mata penyesalan menetes di pipinya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apapun pembelaan yang diucapkannya saat ini, kenyataan pahit tidak bisa diubah Maya sudah pergi, dan Naya sudah tak lagi berada dalam pelukannya.

​Melihat Bayu yang mulai emosional dan menyudutkan anak-anaknya, Ibu Sumiati segera memotong percakapan itu dengan suara melengkingnya yang otoriter.

​"Sudah! Sudah! Nggak usah diributkan lagi!" seru Ibu Sumiati seraya menggebrak meja makan pelan. "Pagi-pagi kok malah bertengkar gara-gara perempuan itu!"

​Ibu Sumiati menatap Bayu dengan pandangan menasihati yang terkesan menggurui dan tidak merasa bersalah sedikit pun atas hancurnya rumah tangga anaknya.

​"Bayu, dengerin Ibu, Le..." ucap Ibu Sumiati dengan suara yang dilembut-lembutkan, mencoba mengambil kendali pikiran anak sulungnya kembali. "Kamu itu laki-laki, kepala rumah tangga. Kamu punya pekerjaan bagus, punya penghasilan tetap. Nggak usah kamu pusing-pusing memikirkan istri yang gak tahu untung seperti Maya itu! Biarkan saja dia pergi! Nanti kalau dia sudah kepentok susah di luar sana, dia juga bakal tahu diri!"

​Ibu Sumiati menyodorkan piring nasi goreng ke dekat tangan Bayu.

​"Sekarang yang penting kamu fokus kerja!" tegas Ibunya. "Fokus cari uang yang banyak di kantor biar bisa dapat bonus besar! Nanti kalau bonusmu cair, kan uangnya bisa dipakai buat makan enak sekeluarga di rumah ini, bisa buat beli ini-itu buat kenyamanan rumah. Daripada uangmu dihabiskan buat mengurus istri yang sukanya ngelawan dan bikin pusing kayak Maya!"

​Kalimat yang meluncur mulus dari bibir ibunya itu mendadak menjadi pemicu terakhir bagi ledakan emosi Bayu yang sejak tadi ditahannya.

​"Fokus kerja supaya dapat bonus besar dan bisa buat makan enak?."

​Bayu menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. Di saat rumah tangganya hancur berantakan, di saat cucu kandungnya sendiri dibawa pergi dan mengalami trauma, fokus utama ibunya ternyata masih tetap sama: uang gajinya dan makanan enak untuk rumah ini.

​Rasa muak yang sangat besar mendadak memenuhi dada Bayu. Dulu, saat uang gajinya dikelola oleh Maya, kebutuhan rumah tangga selalu tercukupi, Naya mendapat gizi terbaik, dan ada tabungan yang tersimpan rapi. Namun sejak uang gajinya diambil alih sepenuhnya oleh Ibu Sumiati demi membiayai Rika dan Fery, rumah ini tak pernah sepi dari percekcokan, dan kini istrinya justru terusir.

​Mata Bayu yang memerah perlahan bergulir, melirik tajam ke arah Fery yang masih bersikap tak peduli dan asyik memainkan ponsel di samping Rika.

​"Makan enak, Bu?" bisik Bayu dengan suara dingin yang sarat akan sindiran menusuk.

​Ibu Sumiati berkedip canggung. "I-iya, Le... Kan kalau ada uang lebih, kita bisa makan enak sama-sama..."

​Bayu menyunggingkan senyuman miris, lalu menatap ibunya tepat di manik mata.

​"Kalau Ibu mau makan enak, jangan cuma nodong uang bonus dari Bayu terus, Bu!" tegur Bayu dengan nada kesal dan penuh penekanan.

​Ruang tengah mendadak hening seketika. Rika dan Fery langsung membeku.

​Bayu mengarahkan dagunya dengan tegas ke arah Fery. "Minta tuh sama suaminya Rika! Suruh Fery kerja juga, Bu! Jangan cuma bisa menumpang tidur, makan gratis, dan main game sebulan penuh di rumah ini!"

​Fery yang mendadak disindir secara terbuka di depan muka mertuanya langsung membelalak kaget. Ia menurunkan ponselnya dengan wajah yang seketika memerah padam karena malu dan tersinggung.

​"Mas Bayu! Kok ngomongnya gitu sih?!" jerit Rika histeris, tidak terima suaminya disudutkan secara telak. "Mas Fery itu lagi berusaha cari kerjaan yang pas! Kenapa Mas Bayu jadi pelit dan perhitungan banget gini sama adik sendiri?!"

​"Perhitungan?!" balas Bayu seraya berdiri dari kursi makan dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berdecit keras. "Aku sudah menanggung makan kalian berdua selama sebulan penuh! Aku kerja banting tulang dari pagi sampai malam, tapi uang gajiku dikuras habis sampai anak dan istriku sendiri disingkirkan ke kamar belakang! Dan sekarang, gara-gara keributan yang kalian buat, anak istriku pergi!"

​Bayu menatap Fery dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu itu laki-laki, Fery! Kepala rumah tangga! Punya badan sehat tapi cuma bisa jadi beban di rumah orang! Kalau mau makan enak, kerja pakai keringatmu sendiri! Jangan cuma bisa mengandalkan uang gaji kakak iparmu!"

​Fery mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya bertaut menahan malu dan amarah, namun ia tidak berani membalas sepatah kata pun karena memang kenyataannya ia tidak bekerja.

​"Bayu! Cukup! Jangan kurang ajar kamu sama adik dan iparmu!" bentak Ibu Sumiati seraya berdiri membela Rika dan Fery.

​Namun Bayu sudah tidak peduli lagi. Rasa hormatnya yang selama ini digunakan oleh ibu dan adiknya untuk memanipulasinya kini telah menipis hingga batas terkritis.

​Tanpa menyentuh nasi gorengnya sedikit pun, Bayu menyambar kunci mobil dan tas kerjanya yang tergeletak di atas sofa ruang tamu.

​"Bayu berangkat kerja dulu," ucap Bayu datar tanpa melihat ke arah ibunya lagi.

​"Bayu! Nasi gorengmu belum dimakan!" seru Ibu Sumiati.

​Bayu tidak menghiraukan panggilan itu. Dengan langkah lebar dan napas yang memburu, ia berjalan keluar menuju teras depan.

​Brak!

​Bayu menutup pintu depan rumah dengan hempasan kuat, meninggalkan Ibu Sumiati, Rika, dan Fery yang terpaku di meja makan dengan wajah berantakan dan diselimuti kecanggungan yang amat sangat tebal.

​Di teras depan, Bayu membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam kabin, dan menguncinya dari dalam. Ia mencengkeram kemudi mobil rapat-rapat, menyandarkan dahinya di atas lingkaran setir.

​Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu menyiksa.

​Bayu memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah Maya yang menatapnya dengan dingin serta suara tangis Naya yang memanggilnya Pipo jahat kembali berputar di dalam ingatannya bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung usai.

​"Maya... Naya..." bisik Bayu lirih, suaranya pecah di tengah kesendirian.

​Pria itu meremas setir mobilnya makin kuat, merasakan dada dan tenggorokannya yang menyakitkan. Ia baru tersadar bahwa rumah yang selama ini dipertahankannya demi alasan 'berbakti pada ibu' kini benar-benar telah menjadi sebuah neraka hampa. Ia telah mengorbankan wanita yang paling mencintainya dan anak kandungnya sendiri hanya demi membela keluarga yang pada akhirnya cuma menganggapnya sebagai mesin pencetak uang.

​Dengan tangan yang gemetar, Bayu menghidupkan mesin mobil. Deru mesin memenuhi halaman rumah. Bayu menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah jalanan pagi menuju kantor dengan pikiran yang hancur berkeping-keping.

​Penyesalan memang selalu datang terakhir. Namun bagi Bayu, penyesalan kali ini terasa seperti awal dari kehancuran hidupnya yang sesungguhnya.

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!