Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Vivienne mencengkeram ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun menahan amarah. Isi pesan yang baru saja dibacanya terus berputar di kepalanya, membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Tanpa berpikir panjang, Vivienne langsung menekan tombol panggil. Baru satu dering, panggilannya sudah diangkat.
"Killian ...! Apa maksud pesan kamu itu, hah?!" teriak Vivienne tanpa memberi kesempatan pria itu membuka suara lebih dulu. Nada suaranya menggema di seluruh ruang keluarga.
Di seberang telepon terdengar embusan napas panjang, disusul suara Killian yang tak kalah kesal. "Berisik! Bisa tidak bicara dengan nada yang lebih lembut?"
Vivienne menggertakkan giginya. "Lembut, katamu?" bentaknya. "Kamu mengirim pesan seperti itu, lalu berharap aku bicara baik-baik?"
Killian mendengkus. "Kalau tidak mau dengar, ya sudah. Anggap saja aku tidak pernah menghubungimu."
"Kamu sengaja ingin menghasut aku supaya bertengkar dengan Dominic, kan?" tuduh Vivienne. "Kamu memang tidak pernah suka melihat aku hidup tenang!"
Hubungan mereka memang seperti air dan api. Sejak kecil, mereka hampir tidak pernah akur. Mulai dari berebut empeng, dot susu, mainan saat masih balita, saling mengejek ketika duduk di bangku sekolah, hingga saling menyindir saat dewasa.
Setiap kali bertemu, selalu saja ada alasan untuk berdebat. Di mata Vivienne, Killian adalah pria paling menyebalkan yang pernah dikenalnya. Pria itu selalu pandai membuat darahnya mendidih.
Sementara bagi Killian, Vivienne adalah perempuan keras kepala yang manja, tidak mau kalah dengan orang lain, dan punya rasa percaya diri yang terlalu tinggi.
"Untuk apa aku menghasutmu?" balas Killian dengan nada dingin. "Harusnya kamu berterima kasih karena sudah kuberi tahu kebusukan laki-laki itu."
"Kebusukan? Jangan bicara sembarangan!" Vivienne tertawa sinis
"Apa kamu punya bukti?" lanjut wanita itu tajam. "Kalau memang punya, tunjukkan sekarang juga!"
"Tidak semudah itu." Suara tawa Killian terdengar mengejek. "Kalau kamu mau melihat buktinya, datang sendiri ke rumahku."
Vivienne mengepalkan tangan. "Kenapa bukan kamu yang datang?"
Killian terkekeh pelan. "Enak saja suruh-suruh aku! Kamu yang butuh jawaban, bukan aku."
Ucapan itu membuat kesabaran Vivienne benar-benar habis. Ia menarik napas panjang sebelum kembali berteriak.
"Oke. Awas saja kalau ternyata kamu hanya mempermainkanku!" Napas Vivienne memburu, tetapi suaranya tetap tegas.
"Aku akan datang ke rumahmu sekarang juga!"
Tanpa menunggu jawaban, Vivienne langsung memutus sambungan telepon. Ponsel itu ia letakkan cukup keras di atas meja. Napasnya masih memburu dan dadanya terasa sesak. Emosi yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar meluap.
Di sudut ruangan, Casandra yang sedang membawa keranjang pakaian bersih membeku di tempat. Matanya membelalak.
Selama bekerja di rumah keluarga Ashcroft, baru kali ini Casandra melihat sang nyonya marah sebesar itu. Biasanya Vivienne selalu berbicara lembut. Tak pernah meninggikan suara, bahkan kepada para pelayan.
Melihat majikannya berteriak sampai wajahnya memerah membuat Casandra ikut gugup. Dia takut hal buruk sedang terjadi kepada tuannya.
Vivienne menutup kedua matanya. Ia menarik napas panjang. Lalu, mengembuskannya perlahan. Dia mengulang hal itu sampai tiga kali. Sedikit demi sedikit, detak jantungnya mulai kembali normal.
Saat membuka mata, ia baru menyadari seseorang sedang memandanginya. Vivienne menoleh.
"Ada apa, Casandra?"
Pelayan itu tersentak. "Nyo-Nyonya ...." Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. "Malam ini ... Nyonya ingin makan apa?"
Vivienne mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut. "Masak saja apa yang paling disukai Tuan Dominic."
"Baik, Nyonya."
Casandra segera pergi menuju dapur, meski sesekali masih menoleh dengan wajah penuh kebingungan.
Vivienne kembali menatap ponselnya. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Bagaimana mungkin Killian mengirim pesan seperti itu? Apa tujuannya? Sekadar ingin mengacaukan rumah tangganya? Atau pria itu benar-benar mengetahui sesuatu?
Vivienne melirik jam dinding. Masih ada sekitar dua jam sebelum Dominic pulang dari kantor. Perjalanan menuju rumah Killian memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Kalau dihitung pergi dan pulang, ia masih punya cukup waktu untuk menemui pria itu tanpa membuat Dominic curiga.
"Aku tidak bisa terus memikirkannya. Lebih baik aku datang sekarang daripada terus mati penasaran."
Vivienne meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil tasnya lalu berjalan cepat keluar rumah.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Vivienne berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern yang berdiri megah di kawasan elite. Ia turun dengan langkah cepat penuh emosi. Tanpa sempat menenangkan diri, jemarinya langsung menekan bel rumah berkali-kali.
Ting tong!
Ting tong!
Ting tong!
Bunyi bel terdengar nyaring dan nyaris tanpa jeda. Beberapa detik kemudian, pintu rumah perlahan terbuka.
Vivienne yang sudah siap meluapkan kemarahannya mendadak terdiam. Matanya membelalak lebar. Raut wajahnya berubah dari kesal menjadi terkejut. Bahkan, secercah kebahagiaan tanpa sadar muncul di wajahnya.
"E-Estelle ...?"
Wanita yang berdiri membuka pintu itu sama terkejutnya. Rambut panjang berwarna hitam kecokelat tergerai rapi di atas bahunya. Wajah cantiknya masih sama seperti beberapa tahun lalu, hanya saja kini tampak lebih dewasa dan anggun.
"Vivienne?"
Beberapa detik mereka hanya saling menatap tanpa berkedip. Lalu, hampir bersamaan, senyum lebar menghiasi wajah keduanya.
"Ya, Tuhan! Ini benar-benar kamu!" seru Vivienne.
"Viv!" pekik Estelle sambil berlari kecil.
Tanpa ragu, mereka langsung saling berpelukan. Pelukan itu begitu erat, seolah ingin menebus tahun-tahun yang memisahkan mereka.
"Aku kangen sekali sama kamu," ucap Estelle dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga."
Vivienne tertawa kecil di sela harunya. "Kapan kamu pulang? Kenapa tidak bilang?"
Estelle melepaskan pelukannya perlahan. "Baru beberapa menit yang lalu."
Kembarannya Killian itu mengusap lengan Vivienne sambil tersenyum. "Aku sengaja ingin memberi kejutan. Kejutanmu benar-benar berhasil."
Vivienne menggeleng pelan sambil tertawa. "Aku sampai tidak percaya."
Tatapan Estelle perlahan turun ke arah perut Vivienne yang sudah membesar. Matanya langsung berbinar.
"Astaga. Kamu hamil?"
Vivienne mengangguk malu-malu. "Iya."
Estelle kembali memeluk sahabatnya. "Selamat. Aku ikut bahagia."
Ucapan itu membuat mata Vivienne kembali berkaca-kaca. Ia mengusap perutnya perlahan.
"Kamu tahu sendiri, betapa aku menunggu momen ini."
Estelle menggenggam tangan sahabatnya. "Aku tahu. Makanya aku benar-benar ikut bahagia."
Mereka saling tersenyum. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Estelle mengernyitkan dahi. "Tunggu dulu."
Tatapannya bergantian mengarah kepada Vivienne, lalu ke dalam rumah. Ia pun tersenyum jahil.
"Kalau kamu ada di sini bukan untuk menemui aku, berarti hubunganmu dengan Killian akhirnya membaik?"
"Mana mungkin!" bantah Vivienne spontan.
"Hah?" Estelle berkedip.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara Killian yang langsung menyahut dengan nada ketus. "Jangan mimpi. Aku juga tidak pernah berharap akur dengan perempuan keras kepala dan sombong itu."
Vivienne langsung melotot. "Aku keras kepala? Kamu tuh yang menyebalkan!"
Killian mendengkus. "Kalau bukan karena kamu datang sendiri ke sini, aku juga malas melihat wajahmu."
"Memangnya aku senang melihat wajahmu?"
"Sudah, sudah." Estelle buru-buru berdiri di tengah-tengah mereka. Ia memijat pelipisnya pelan.
"Kalian ini tidak berubah sama sekali. Sudah bertahun-tahun, tapi setiap bertemu tetap saja bertengkar."
Vivienne mendengkus kesal. "Dia yang mulai."
"Dia yang teriak-teriak di telepon," balas Killian tanpa mau kalah.
"Kamu juga!"
"Kamu!"
"Cukup!" Suara Estelle kali ini terdengar lebih tegas.
Keduanya langsung diam.
Estelle mengembuskan napas panjang. "Aku sampai lupa kalau sedang berada di rumah sendiri."
Ia menatap Vivienne dengan bingung. "Ngomong-ngomong, sebenarnya ada apa? Kamu datang terburu-buru begini pasti bukan cuma mau bertengkar."
Raut wajah Vivienne perlahan berubah serius. Senyumnya menghilang. Ia menggenggam erat tali tas yang dibawanya.
"Tadi ...." Vivienne menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Killian mengirim pesan kepadaku."
Estelle menoleh ke arah saudara kembarnya. Killian hanya berdiri bersandar di dinding dengan wajah datar.
Vivienne melanjutkan, nada suaranya mulai bergetar. "Dia mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia bilang Dominic telah mengkhianatiku."
Wajah Estelle langsung berubah. Senyum di bibirnya lenyap. "Apa maksudmu?"
Vivienne menatap Killian. "Dia juga mengatakan ada sesuatu tentang bayi yang sedang kukandung."
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tak ada lagi yang bercanda. Estelle memandang saudaranya dengan tajam.
"Killian. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Killian tidak langsung menjawab..Tatapannya tetap tertuju kepada Vivienne.
Sementara itu, Vivienne menggeleng pelan. Air matanya mulai menggenang.
"Aku tidak mau mendengar tuduhan tanpa bukti. Selama ini Dominic selalu menjagaku. Dia selalu ada saat aku jatuh. Aku tidak mungkin mempercayai begitu saja ucapanmu."
Estelle mengepalkan tangan..Jika apa yang dikatakan Killian benar, berarti Vivienne sedang menghadapi pengkhianatan yang jauh lebih kejam daripada yang pernah ia bayangkan.
"Demi Tuhan, kalau Dominic benar-benar menyakitimu, aku sendiri yang akan meminta pertanggungjawaban darinya," gumam Estelle dengan rahang mengeras. Sorot matanya berubah penuh kemarahan.
Vivienne mengusap sudut matanya. Ia menoleh lurus kepada Killian.
"Kalau memang kamu tidak sedang mengada-ada, tunjukkan buktinya kepadaku." Suara Vivienne terdengar lirih, tetapi tegas.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡