Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Chen Mo berdiri dan menepuk debu dari celananya dengan santai.
"Wang Bo, tetaplah di dalam gua ini sampai matahari terbit besok."
"Ada sesuatu yang menarik perhatianku di pusat hutan, aku harus pergi memeriksanya sendiri."
Wang Bo menghentikan kunyahannya dan menatap Chen Mo dengan raut wajah sangat cemas.
"Tetapi Saudara Chen, di luar sana sangat gelap dan berbahaya, bagaimana kalau kau diserang oleh sekawanan monster?"
"Jangan khawatirkan aku dan juga gua ini dilapisi sisa aura petapa kuno, tidak akan ada binatang buas yang bisa mencium baumu di sini," jawab Chen Mo mengabaikan kekhawatiran murid kurus itu.
"Tidurlah, aku akan kembali ke sini sebelum fajar menyingsing."
Wuuush!
Tanpa menunggu balasan dari Wang Bo, tubuh Chen Mo berkedip dan menghilang tertiup hembusan angin malam.
Wang Bo hanya bisa menatap pintu gua yang kosong dengan mulut setengah terbuka.
Chen Mo bergerak melompati dahan-dahan pohon raksasa dengan sangat lincah di tengah kegelapan Hutan Kabut Hitam.
Teknik Langkah Hantu Asura miliknya membuat pergerakannya tidak mengeluarkan suara gesekan dedaunan sedikit pun.
Bahkan burung hantu malam yang memiliki pendengaran tajam tidak menyadari ada manusia yang melintas di atas mereka.
Semakin dalam Chen Mo masuk ke arah pusat hutan, suhu udara di sekitarnya terasa semakin tidak masuk akal.
Satu sisi angin terasa membekukan hingga ke tulang, sementara sisi lainnya memancarkan hawa panas seperti uap neraka.
"Dua energi besar yang saling berlawanan sedang bertarung," batin Chen Mo penasaran.
Dia mengaktifkan skill Mata Kebenaran secara penuh untuk menembus pekatnya kabut hitam yang beracun itu.
Berkat Fisik Kebal Segala Racun miliknya, miasma tebal di zona terlarang ini terasa seperti kabut pagi biasa baginya.
Di kejauhan, Chen Mo melihat sebuah danau kecil yang airnya terbagi menjadi dua warna, merah mendidih dan biru membeku.
Di tengah danau aneh itu, terdapat sebuah pulau batu kecil dengan sekuntum bunga teratai kristal yang mekar dengan sangat indah.
Bunga itu memancarkan aura kehidupan yang sangat kental dan murni.
Namun tentu saja, bunga ajaib seperti itu tidak dibiarkan sendiri tanpa penjagaan di alam liar.
Dua ekor monster raksasa sedang saling mencabik dengan brutal di pinggir danau tersebut.
Satu ekor adalah Ular Piton Api berkepala dua, dan lawannya adalah seekor Beruang Es Berbaju Besi.
Kedua monster ini memancarkan fluktuasi energi yang sangat mengerikan, menandakan mereka adalah monster tingkat penguasa Rank A.
Brak!
Ekor piton api itu menghantam tubuh beruang es dengan sangat keras, membuat tanah di sekitarnya retak dan hancur berantakan.
Beruang raksasa itu membalas dengan gigitan mematikan yang merobek salah satu leher piton tersebut.
Darah panas dan darah dingin menyembur deras ke segala arah, melelehkan dan membekukan pepohonan di sekitar mereka secara bersamaan.
"Bagus sekali, aku lebih baik membiarkan mereka saling bunuh sampai mati," gumam Chen Mo santai dari atas dahan pohon beringin raksasa.
Dia menyandarkan punggungnya di batang pohon, menonton pertarungan maut itu seperti sedang menonton film aksi di bioskop.
Ting!
[Anda telah memasuki Area Terlarang Inti Hutan Kabut Hitam.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus tingkat legendaris yang menyimpan energi purba.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Suara sistem yang sangat jernih memecah fokus Chen Mo dari pertarungan monster di bawah sana.
"Lakukan check-in."
Ding!
[Check-in Khusus Lokasi Terlarang berhasil.]
[Mendapatkan: Teratai Kembar Es dan Api (Item Rank Dewa).]
[Mendapatkan: Mata Air Kehidupan (1 Botol).]
[Mendapatkan: Poin Kekuatan Fisik x50.]
Seketika itu juga, otot-otot di seluruh tubuh Chen Mo berkedut keras menahan aliran tenaga buas yang tiba-tiba masuk.
Kekuatan fisiknya melonjak tajam dalam hitungan detik hingga menembus angka tujuh puluh lima.
Dia merasa cukup kuat untuk menghancurkan sebuah gunung batu kecil hanya dengan satu pukulan tangan kosong tanpa bantuan sihir.
Tiba-tiba, bunga teratai kristal yang berada di tengah pulau batu itu menghilang dari tempatnya.
Bunga berharga itu telah dipindahkan secara otomatis oleh sistem ke dalam Cincin Ruang milik Chen Mo.
Kehilangan harta karun yang sedang mereka perebutkan mati-matian membuat kedua monster raksasa itu berhenti bertarung.
Mereka menoleh ke arah pulau kosong itu dengan pandangan bingung, lalu menatap tajam ke arah pepohonan.
Insting binatang liar mereka langsung menyadari bahwa ada penyusup yang baru saja mencuri bunga tersebut dari bawah hidung mereka.
Ggrrrrr!
Beruang es itu meraung sangat marah dan langsung menembakkan balok es tajam raksasa ke arah pohon tempat Chen Mo bersembunyi.
Syuuut!
Boom!
Pohon beringin raksasa itu hancur berkeping-keping akibat hantaman balok es tersebut, menciptakan awan debu putih.
Namun Chen Mo tidak terluka sama sekali, dia sudah melesat tinggi ke udara, melayang sejenak di bawah cahaya bulan yang redup.
"Karena kalian sudah setengah sekarat, biar aku yang berbaik hati ini mengakhiri penderitaan kalian," ucap Chen Mo dengan suara dingin.
Dia mengepalkan tangan kanannya erat-erat, menarik lengan kanannya sedikit ke belakang.
Energi fisik murni seketika terkumpul di buku-buku jarinya, memicu distorsi pusaran udara yang terlihat sangat jelas.
Ini adalah momen yang tepat untuk menguji coba teknik Tinju Penghancur Bintang tingkat bumi miliknya.
Buaaagh!
Chen Mo memukul udara kosong tepat ke arah bawah, mengarah tepat ke kepala kedua monster raksasa tersebut.
Gelombang kejut transparan yang luar biasa mengerikan melesat ke bawah seperti komet yang jatuh dari langit malam.
Krak! Boom!
Tanah di sekitar pinggiran danau amblas sedalam belasan meter dalam sekejap mata.
Kepala beruang es dan sisa kepala ular piton api itu hancur berantakan menjadi bubur daging dalam hitungan detik.
Tulang-tulang baja kebanggaan mereka hancur menjadi debu akibat tekanan murni dari tinju Chen Mo.
Tubuh raksasa kedua monster penguasa itu ambruk ke tanah tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun.
Chen Mo mendarat di tanah dengan mulus, sama sekali tidak ada debu yang menempel di sepatunya.