Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29:
Pagi hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh kalangan elit finansial akhirnya tiba. Gedung Pertemuan Utama Vane Group di pusat kota menjadi pusat perhatian seluruh media nasional dan internasional. Puluhan wartawan dengan puluhan kamera siap merekam peristiwa bersejarah yang akan menentukan siapa pemegang takhta tertinggi di salah satu imperium bisnis terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Rapat Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kali ini bukan sekadar pertemuan rutin tahunan, melainkan medan pertempuran sengit antara kubu kepemimpinan Adrian Vane bersama istrinya, Aura Valeria Vane, melawan kubu sang kakak kandung, Serena Vane, yang membawa klaim hak waris tertua dan dukungan modal asing.
Pukul sepuluh pagi, ruang rapat raksasa berkapasitas ratusan orang di lantai tiga puluh sudah dipenuhi oleh para investor utama, anggota dewan direksi, serta perwakilan pemegang saham dari seluruh penjuru dunia. Suasana di dalam ruangan sangat tegang, bagaikan ruang sidang pengadilan yang menunggu vonis terakhir.
Pintu samping ruang rapat terbuka lebar. Serena Vane melangkah masuk dengan gaun setelan double-breasted berwarna putih gading yang sangat anggun. Di belakangnya, tim pengacara internasional yang terdiri dari delapan orang berpakaian rapi membawa koper-koper dokumen hukum tebal. Serena berjalan dengan kepala terangkat tinggi, menyebarkan aura keangkuhan seorang bangsawan bisnis yang merasa kemenangan sudah berada di dalam genggamannya.
Beberapa detik kemudian, pintu utama ruangan bergeser.
Adrian Vane dan Aura Valeria Vane melangkah masuk secara berdampingan. Adrian tampil sangat dominan dengan setelan tuxedo hitam khas penguasa, sementara Aura memukau seluruh hadirin dengan gaun formal berpotongan tegas berwarna merah marun. Cincin berlian biru keluarga Vane melingkar indah di jari manis Aura, memancarkan pendar cahaya yang menegaskan posisinya sebagai Nyonya Utama yang sah.
Pasangan suami istri itu tidak membawa tumpukan koper atau belasan pengacara. Mereka berjalan tenang, memancarkan rasa percaya diri yang begitu besar hingga membuat beberapa direktur senior spontan berdiri untuk memberikan penghormatan.
Adrian dan Aura mengambil posisi duduk di meja pimpinan utama, sementara Serena duduk di seberang meja bersama tim hukumnya.
Pimpinan Rapat, seorang komisaris independen berambut perak, memukul palu sidang tiga kali.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
"Rapat Pemegang Saham Luar Biasa Vane Group resmi dibuka," suara pimpinan rapat bergema melalui pengeras suara. "Agenda utama hari ini adalah pengujian keabsahan klaim hak veto 35% saham warisan oleh Nyonya Serena Vane, serta penentuan kendali tunggal atas Konsorsium Logistik Pasifik."
Serena berdiri terlebih dahulu. Salah satu pengacara senior di sampingnya menggeser sebuah mikrofon.
"Terima kasih, Pimpinan Rapat," suara Serena terdengar sangat tenang, jernih, dan penuh otoritas. "Berdasarkan pasal 14 anggaran dasar Keluarga Utama Vane yang disahkan pada tahun 2015, hak waris anak tertua memiliki kedudukan mutlak atas 35% saham induk jika terjadi kondisi darurat kepemimpinan. Saya telah menyetor bukti legalitas dari Mahkamah Internasional yang menyatakan bahwa hak waris saya masih aktif dan sah secara hukum."
Serena melirik ke arah Aura dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan. "Selain itu, konsorsium saya telah mengamankan komitmen investasi sebesar 100 triliun rupiah untuk menguasai jalur distribusi Pasifik. Secara struktur modal dan legalitas, kepemimpinan Vane Group seharusnya dikembalikan kepada saya."
Gumam cemas dan bisik-bisik mulai membahana di antara para pemegang saham. Angka 100 triliun rupiah dan klaim hak waris tertua adalah kombinasi yang sangat sulit untuk dibantah dalam dunia bisnis. Beberapa direktur tampak mengangguk-angguk setuju dengan paparan Serena.
Serena merasa di atas angin. Ia menyilangkan tangannya di dada, menatap Adrian dan Aura dengan pandangan menantang. "Bagaimana, Adikku? Apakah kamu atau... 'istrimu' punya bantahan hukum atas dokumen ini?"
Adrian tidak bergeming. Wajahnya tetap datar dan dingin. Pria itu menoleh sedikit ke arah Aura, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan rasa percaya penuh.
Aura memajukan tubuhnya sedikit ke arah mikrofon. Begitu bibirnya terbuka, kata-katanya menyambar secepat senapan mesin, membedah seluruh argumen Serena dengan ketajaman analisis yang mematikan!
"Terima kasih atas paparannya, Mbak Kakak Ipar!" cecar Aura secepat peluru tanpa jeda napas, suaranya lantang menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. "Dokumen hukum yang kamu bawa itu memang sangat cantik di atas kertas! Tapi sayangnya... kamu lupa membaca tiga poin amat vital yang membuat seluruh klaimmu bernilai NOL BESAR hari ini!"
Degh!
Serena menyipitkan matanya, raut wajah tenangnya sedikit terganggu oleh keberanian dan kecepatan bicara Aura.
"Poin pertama!" lanjut Aura tanpa memberi jeda satu detik pun bagi lawan untuk memotong. "Pasal 14 anggaran dasar tahun 2015 yang kamu agung-agungkan itu sudah diamandemen pada rapat dewan pembina tahun 2021 lalu! Amandemen tersebut menyatakan bahwa hak waris tertua OTOMATIS GUGUR jika pemegang hak tidak aktif dalam pengelolaan operasional perusahaan selama lebih dari tiga tahun berturut-turut tanpa alasan medis yang tersertifikasi oleh tim medis Vane Group! Dan kamu... sudah hilang tanpa kabar selama lima tahun!"
Pengacara utama Serena seketika membelalakkan mata kaget! Ia terburu-buru membuka berkas tebal di depannya dengan tangan gemetaran untuk memeriksa pasal amandemen yang disebutkan Aura.
"Poin kedua!" cecar Aura makin deras, bicaranya meluncur tajam seperti anak panah. "Komitmen investasi 100 triliun rupiah yang kamu banggakan itu berasal dari Pasific Eagle Syndicate di Singapura, kan? Sekadar informasi untuk seluruh dewan direksi yang hadir di sini... tiga puluh menit yang lalu, seluruh izin operasi Pasific Eagle Syndicate telah dibekukan oleh otoritas keuangan Singapura karena terbukti terlibat dalam tindak pidana pencucian uang yang datanya aku serahkan langsung ke Interpol pagi tadi!"
Brak!
Para pemegang saham dan direktur di dalam ruangan langsung gempar hebat! Beberapa orang sampai berdiri dari kursi mereka karena kaget bukan main!
Wajah Serena yang tadinya anggun dan tenang seketika berubah pucat pasi! "K-kamu... bagaimana bisa kamu mengakses data internal Pasific Eagle?!"
Aura terkekeh dingin, melipat kedua tangannya di atas meja dengan gaya anggun dan penuh dominasi. "Sistem pertahanan siber yang kamu pakai di Singapura itu terlalu amatir buat ditembus oleh analisis data dasar milikku, Mbak! Dan poin ketiga sekaligus poin terakhir..."
Aura mengeluarkan sebuah kaset pita hitam berlabel emas—drive enkripsi otoritas Konsorsium Logistik Nusantara yang diberikan Adrian padanya kemarin—dan meletakkannya di atas meja rapat.
"Hak penguasaan atas seluruh jalur logistik darat dan laut di wilayah selatan telah secara sah dialihkan seratus persen ke bawah bendera V-Core Investments milik saya!" tegas Aura dengan intonasi yang begitu mantap dan tidak bisa dibantah. "Tanpa jalur selatan milik saya... proyek Jalur Sutra Pasifik milikmu tidak memiliki akses masuk ke port mana pun di Asia Tenggara! Kamu cuma memegang pilar kosong yang tidak ada harganya!"
Gasp!
Keheningan melanda ruang rapat selama tiga detik, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan dan decak kagum meluap dari mayoritas pemegang saham dan dewan direksi!
"Luar biasa! Nyonya Aura benar-benar jenius!"
"Klaim Serena hancur total dari segala sisi!"
"Vane Group berada di tangan pimpinan yang sangat tepat!"
Serena terduduk lemas di kursinya, matanya menatap Aura dengan bauran antara rasa syok, ketidakpercayaan, dan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. Tim pengacaranya hanya bisa menunduk malu, tidak mampu mengeluarkan satu patah kata hukum pun untuk menyelamatkan posisi klien mereka.
Pimpinan rapat mengetukkan palunya dengan mantap.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
"Berdasarkan bukti-bukti presisi yang disampaikan oleh Nyonya Aura Valeria Vane, maka RUPSLB memutuskan: Klaim hak veto Nyonya Serena Vane dinyatakan BATAL DAN TIDAK SAH! Kendali tunggal Vane Group dan Konsorsium Pasifik tetap berada secara mutlak di tangan Tuan Adrian Vane dan Nyonya Aura Valeria Vane!"
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan riuh memenuhi ruang rapat raksasa tersebut. Seluruh direktur berdiri memberikan penghormatan (standing ovation) kepada pasangan penguasa Vane Group.
Adrian berdiri dari kursinya, lalu melangkah menuju ke sisi Serena. Pria itu menatap kakak kandungnya dengan raut wajah yang lebih melunak dibanding biasanya.
"Permainanmu sudah selesai, Serena," ujar Adrian dengan suara berat yang tenang. "Aku tidak akan memenjarakanmu atau mengambil sisa aset pribadimu seperti yang kulakukan pada Lukas. Tapi kamu harus berjanji... untuk berhenti mencoba merebut takhta yang bukan lagi hakmu."
Serena mendongak, menatap adik laki-lakinya, lalu beralih menatap Aura yang berdiri tegap di samping Adrian. Serena menarik napas panjang, lalu sebuah senyuman tipis yang tulus akhirnya terukir di bibirnya.
"Aku mengaku kalah, Adrian... Aura," kata Serena dengan nada suara yang jujur. "Aku mengira adikku hanya menikahi wanita biasa dari keluarga kecil. Tapi ternyata... kamu menikahi seorang Ratu yang sanggup meratakan seluruh strategiku dalam waktu sepuluh menit. Vane Group memang lebih aman di tangan kalian berdua."
Serena berdiri, menjabat tangan Adrian singkat, lalu membungkuk kecil penuh rasa hormat ke arah Aura sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang rapat bersama tim hukumnya.
Setelah rapat yang melelahkan dan penuh kemenangan mutlak itu selesai, Adrian dan Aura melangkah keluar dari gedung melalui lorong pribadi VIP menuju area helipad di atap gedung.
Angin sore yang sejuk berhembus lembut, menerbangkan helai rambut hitam Aura. Pemandangan matahari terbenam berwarna jingga keemasan memayungi seluruh lanskap kota dari ketinggian.
Aura menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas helipad, menghirup udara segar sore hari dengan perasaan sangat lega. Seluruh konfrontasi besar—mulai dari keluarga Valeria, skandal hotel, teror musuh di jalanan, hingga perebutan takhta internal keluarga Vane—kini telah tuntas sepenuhnya.
Adrian melangkah mendekat dari belakang, menyelimutkan jas tuxedo-nya ke bahu Aura agar istrinya tidak kedinginan. Pria itu kemudian melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu bersandar rapat di dada bidangnya.
"Terima kasih untuk pertempuran yang luar biasa di ruang rapat tadi, Istriku," bisik Adrian dengan suara rendah yang sangat hangat dan seksi di dekat telinga Aura.
Aura tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di dada hangat Adrian, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdenyut tenang.
"Aku kan cuma menjalankan tugasku sebagai Ratu Vane Group," balas Aura pelan, bicaranya melunak penuh kehangatan. "Lagipula... mana mungkin aku membiarkan ada orang lain yang merebut posisi dan impian yang sudah kita bangun bersama?"
Adrian memutar tubuh Aura agar mereka saling berhadapan. Mata gelap sang CEO Mafia menatap lurus ke dalam mata bulat Aura dengan kedalaman rasa cinta, hormat, dan kepemilikan yang tak terbatas.
"Mulai hari ini," ujar Adrian tulus, jemarinya yang hangat mengusap pipi halus Aura, "tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi pertempuran saham, dan tidak ada lagi yang berani berdiri di antara kita. Kamu adalah ratuku... sekarang dan selamanya."
Aura menatap wajah tampan suaminya yang memancarkan ketulusan mutlak. Rasa bahagia yang begitu membuncah memenuhi seluruh relung dadanya.
"Iya, Adrian," jawab Aura lembut, mengikis sisa-sisa gengsinya. "Dan kamu... adalah satu-satunya raja yang aku pilih untuk mendampingi hidupku."
Adrian menundukkan kepalanya, menyapu bibir Aura dengan ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh rasa cinta di bawah pendar sinar matahari terbenam yang indah. Aura memejamkan mata, merangkul leher Adrian erat-erat, membalas kecupan itu dengan seluruh kehangatan jiwanya.
Di atas atap gedung tertinggi kota itu, di antara terbenamnya matahari dan indahnya langit sore, dua penguasa yang dulunya disatukan oleh takdir dan perjanjian kini telah terikat sempurna dalam cinta yang tak tergoyahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘