Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tepuk tangan menggema memenuhi halaman rumah Juragan Darmawan. Alunan musik tradisional berpadu dengan suara tawa para tamu yang masih enggan meninggalkan pesta. Setelah akad nikah selesai dan doa dipanjatkan, suasana berubah semakin meriah. Para pekerja perkebunan teh yang sejak tadi duduk rapi mulai berdiri. Beberapa pria bertepuk tangan mengikuti irama musik, sementara ibu-ibu tersenyum menyaksikan keramaian itu.
"Juragan, ayo ikut!" teriak salah seorang mandor sambil melambaikan tangan.
Juragan Darmawan yang sejak tadi duduk di kursi kehormatan langsung terkekeh.
"Ah, kalian ini. Aku sudah tua begini masih disuruh joget."
"Justru karena lagi bahagia, Juragan!" sahut yang lain.
"Wah, kalau Juragan nggak ikut, acaranya kurang seru!"
Sorakan semakin ramai. Juragan Darmawan pun akhirnya beranjak dari tempatnya.
Sherly hanya menggeleng sambil tertawa kecil. "Ayah, hati-hati."
"Tenang saja!"
Juragan Darmawan berjalan dengan penuh semangat. Meski rambutnya telah memutih seluruhnya, semangatnya masih seperti anak muda. Ia berjalan ke tengah halaman, disambut tepuk tangan meriah.
"Juragan! Juragan!"
"Semangat!"
Pria tua itu mulai menggerakkan bahunya mengikuti irama musik. Gerakannya memang kaku, tetapi justru itulah yang membuat semua orang tertawa.
"Astaga!" Sherly menutup mulutnya sambil tertawa. "Ayah lucu sekali."
Di sisi lain, Gavin hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat tingkah kakeknya.
Dara yang duduk di sampingnya juga ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, ia melihat sisi lain keluarga Juragan Darmawan. Mereka tidak sekaku yang dibayangkannya. Bahkan seorang juragan besar pun tidak malu menghibur para tamunya.
"Hahaha .... tarik Juragan!" seru sang mandor.
Juragan Darmawan semakin bersemangat. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Ayo, semuanya! Yang muda jangan kalah sama aku yang sudah tua!"
Sorakan kembali pecah. Beberapa tamu ikut turun ke halaman. Suasana berubah menjadi pesta kecil yang penuh tawa.
Namun, tiba-tiba tubuh Juragan Darmawan tiba-tiba oleng. "Aaaaaa!"
"Kakek!" Gavin spontan berdiri.
Juragan Darmawan terduduk di atas rumput sambil meringis. "Aduuuuh, sakit!"
"Ayah!" Sherly berlari menghampiri.
Beberapa orang langsung mengerumuni pria tua itu. "Apa yang sakit, Juragan?"
"Kakiku ...." Juragan Darmawan memegang pergelangan kaki kanannya.
"Sepertinya keseleo."
Belum selesai rasa paniknya mereda, pria tua itu kembali memegang pinggangnya. Wajahnya berubah pucat. "Aduuuuh .... Pinggangku juga."
Semua orang yang tadi tertawa kini berubah panik. Dokter desa yang kebetulan hadir sebagai tamu segera maju memeriksa keadaan Juragan Darmawan.
"Syukurlah tidak patah tulang. Hanya keseleo cukup berat.
Dokter mengembuskan napas lega. Beliau lalu menekan perlahan bagian pinggang Juragan.
"Untuk pinggangnya, kemungkinan ototnya tertarik. Beberapa hari ini sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak."
Juragan Darmawan hanya bisa menghela napas panjang. "Beginilah kalau terlalu semangat."
Ucapan itu justru membuat beberapa tamu tertawa kecil.
Meski pesta kembali dilanjutkan, suasananya tidak lagi semeriah tadi.
Sherly menemani ayah mertuanya duduk di kursi khusus keluarga. Tatapan wanita itu sesekali mengarah kepada Gavin dan Dara yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu.
Menjelang sore Sherly memanggil keduanya.
"Gavin ... Dara."
"Iya, Ma."
Sherly menatap putranya dengan wajah serius. "Kondisi Kakek tidak memungkinkan tinggal sendirian."
Gavin mengangguk pelan. "Ya. Aku tahu."
Sherly menggenggam tangan Dara dengan lembut. "Karena itu, Mana ingin kalian tinggal di rumah ini untuk sementara waktu sampai kakek sembuh."
Dara sedikit terkejut. "Aku juga, Ma?"
"Iya." Sherly tersenyum hangat. "Ayah pasti lebih senang kalau rumah ini kembali ramai."
Sherly pun menoleh kepada Gavin. "Sekalian kamu awasi pekerjaan di perkebunan. Sudah lama kamu tidak terlibat langsung di sini."
Gavin terdiam beberapa saat. Ia sebenarnya masih memiliki banyak pekerjaan di ibu kota. Namun, melihat keadaan kakeknya ia tahu tidak ada pilihan lain.
"Baik, Ma."
Sherly tersenyum lega. "Terima kasih."
Dara ikut mengangguk. "Aku akan membantu merawat Kakek."
Ucapan sederhana itu membuat hati Sherly menghangat.
Di sudut lain halaman, Rama, Tina, dan Kiara berdiri sedikit menjauh dari kerumunan tamu. Ketiganya sama sekali tidak tertarik menyaksikan kemeriahan pesta yang kembali berlangsung setelah keadaan Juragan Darmawan berangsur membaik.
Tatapan mereka justru terus mengikuti setiap gerak keluarga Juragan Darmawan.
Sesekali Sherly terlihat berbicara dengan Gavin. Tak lama kemudian Dara ikut dipanggil. Ketiganya lalu berjalan masuk ke dalam rumah bersama beberapa anggota keluarga.
Tina menyipitkan mata. "Ada apa mereka berkumpul begitu?" bisiknya pelan.
Rama ikut memperhatikan ke arah pintu rumah yang kini sudah tertutup. "Entahlah."
"Apa sedang membahas sesuatu?" tanya Tina lagi.
Rama hanya mengangkat bahu. "Mana aku tahu."
Entah mengapa, dada Tina mendadak dipenuhi kegelisahan. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada satu hal, uang mahar.
Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Setelah itu, ia mendekat ke arah suaminya.
"Pak."
Rama menoleh. "Apa?"
"Uang maharnya."
Alis Rama langsung berkerut. Ia mengusap dagunya pelan.
"Iya, juga. Dari tadi belum diserahkan."
Tina menggigit bibir bawahnya. "Harusnya setelah akad selesai langsung diberikan, kan?"
Rama tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke rumah besar milik Juragan Darmawan.
"Pasti ada yang mengurus."
"Tapi kenapa sampai sekarang belum ada yang membicarakannya?" suara Tina mulai terdengar gelisah.
"Gara-gara Juragan jatuh, semua orang malah sibuk mengurus beliau."
Kiara yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut menyela. "Jangan-jangan ditunda?"
"Tidak mungkin," jawab Rama dengan cepat. Namun, nada suaranya tidak lagi setegas tadi. Ia sendiri mulai diliputi keraguan.
Ketiganya saling berpandangan. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bukan memikirkan keadaan Juragan Darmawan yang sedang beristirahat. Melainkan membayangkan koper atau tas berisi uang mahar sebesar satu miliar rupiah yang belum juga mereka lihat.
Dalam benak Tina, uang itu seolah sudah menjadi miliknya. Ia sudah membayangkan rumah yang akan diperbaiki. Perhiasan yang akan dibeli. Hingga kehidupan nyaman yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Karena itulah, setiap menit yang berlalu justru membuatnya semakin gelisah.