Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
Derap langkah empat ekor kuda jantan berzirah perak bergaung hebat di atas jembatan gantung Istana Valerian. Kereta kayu mahoni berukir lambang elang emas itu bergerak melintasi gerbang utama yang menjulang angkuh, menyusuri pelataran marmer putih yang memantulkan cahaya mentari sore yang samar.
Di dalam kabin kereta, udara terasa begitu dingin dan menghimpit. Alena meremas jemarinya sendiri yang bertaut erat di atas pangkuannya. Di sampingnya, Elian duduk menempel rapat, matanya yang besar memandang ke luar jendela berjeruji emas dengan rasa takjub sekaligus takut.
Tujuh tahun. Tembok-tembok batu berketinggian puluhan meter itu masih berdiri tegak, tak tersentuh waktu. Benteng yang dahulu menjadi panggung kisah cintanya yang manis, kini menjelma menjadi penjara megah yang menyambut kembali langkah kakinya.
"Ibu..." bisik Elian pelan, menarik-narik ujung lengan gaun hijau zaitun milik Alena. "Rumah ini... kenapa besar sekali? Apakah ada naga yang tinggal di dalam sana?"
Alena memaksakan sebuah senyuman tipis, mengusap lembut helai rambut cokelat keemasan putranya. "Tidak ada naga, Elian. Hanya... orang-orang yang mengenakan mahkota."
"Dan orang-orang yang memakai pedang?" tanya Elian lagi, menunjuk ke arah barisan Pengawal Kerajaan yang berdiri kaku di sepanjang jalur masuk paviliun.
"Ya. Dan orang-orang yang memakai pedang," ulang Alena dengan suara bergetar.
Kereta berhenti secara perlahan di depan tangga utama Paviliun Barat—kediaman yang telah disiapkan khusus untuk selir kerajaan. Pintu kereta dibuka dari luar oleh Gareth. Perwira senior itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, matanya sempat menatap Alena sekilas dengan kilatan rasa bersalah dan simpati yang tak mampu ia sembunyikan.
"Selamat datang kembali di Istana Valerian, Lady Alena," ucap Gareth kaku.
Alena melangkah turun, menggandeng erat tangan Elian. Mira menyusul dari belakang, membawa tas kain berisi sedikit pakaian mereka. Udara istana yang sarat wangi minyak lavender dan lilin lebah langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, memicu serangkaian memori pahit yang telah ia kubur dalam-dalam.
Namun, tidak ada waktu untuk tenggelam dalam kenangan.
Di puncak tangga, seorang bentara istana dengan jubah merah bata berdiri tegak. Dengan suara nyaring yang bergema di seluruh pelataran, bentara itu menyerukan pengumuman yang membekukan darah Alena.
"Hadirin sekalian! Sambutlah kedatangan Selir Kerajaan yang baru, Lady Alena dari Garis Virelle!"
Penetapan status itu jatuh bagai ketukan palu hakim. Alena tahu, dalam hitungan menit, kabar tentang kepulangannya dan kehadiran seorang anak laki-laki di sisinya akan menyebar bagai api liar ke seluruh sudut istana—ke telinga para dewan, ke telinga Lady Seraphina, dan... ke telinga Pangeran Adrian.
"Ikut saya, Nona," bisik Gareth pelan. "Raja dan Putra Mahkota sedang berada di Aula Utama. Pangeran Adrian telah diminta hadir untuk menyambut kedatangan Anda secara resmi."
Langkah Alena mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sakit yang berdenyut di dadanya. "Sekarang? Apakah harus sekarang, Gareth?"
"Ini adalah perintah Raja Cedric," jawab Gareth tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar. "Raja ingin memastikan status Anda ditegaskan di hadapan Putra Mahkota sejak hari pertama."
Alena memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menunduk menatap Elian yang memandangnya penuh kebingungan.
"Ingat janji kita, Elian," bisik Alena. "Tetaplah di samping Ibu. Jangan lepaskan genggamanmu."
Anak kecil itu mengangguk kencang, menggenggam jemari Alena lebih erat.
Pintu ganda setinggi lima meter yang terbuat dari kayu ek berukir di ujung lorong Aula Utama perlahan terbuka. Suara engsel besinya bergema berat, memecah keheningan ruangan yang megah dan beratap kubah tinggi tersebut.
Di dalam aula, cahaya matahari sore menembus kaca patri berwarna-warni, membiaskan bayangan merah dan biru di atas lantai marmer yang mengkilap. Di atas tahta batu di ujung ruangan, Raja Cedric duduk kaku dengan mahkota emas di kepalanya. Di samping kanannya, Ratu Eleanor berdiri anggun.
Dan di tangga bawah tahta, berdiri Pangeran Adrian Valerian.
Tujuh tahun telah menempa Adrian menjadi sesosok pria yang jauh lebih mengintimidasi daripada pemuda yang dulu ditemuinya di Taman Mawar. Bahunya lebih lebar, dibalut jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna hitam bersulam benang perak. Garis rahangnya makin tegas, keras bagai pahatan batu karang. Tidak ada lagi jejak kehangatan di wajah tampan itu—yang tersisa hanyalah aura dingin, tenang, dan berbahaya dari seorang calon penguasa.
Adrian berdiri membelakangi pintu saat aula berderit terbuka. Pria itu tampak enggan, raut wajahnya menunjukkan rasa jemu yang amat sangat terhadap permainan politik ayahnya yang mendadak menunjuk seorang selir baru tanpa persetujuannya.
"Siapa pun wanita yang Ayah pilih untuk mengisi Paviliun Barat," suara Adrian bergema dingin, kaku, dan acuh tak acuh, "saya tidak memiliki ketertarikan untuk—"
Kalimat itu terputus di udara.
Adrian berbalik perlahan. Matanya yang berwarna abu-abu pekat—setajam elang yang siap menyambar—mendarat pada sosok wanita yang berdiri di ambang pintu aula.
Waktu seolah-olah berhenti berputar. Udara di dalam ruangan megah itu mendadak mengristal.
Langkah kaki Alena terhenti di batas karpet merah. Ia mengenakan gaun hijau zaitun sederhananya, tanpa perhiasan, tanpa mahkota. Namun matanya yang berwarna hijau hazel menatap lurus ke arah pria di depannya.
Genggaman Adrian pada gagang pedang di pinggangnya mengetat seketika hingga buku-buku jarinya memutih. Pupil matanya melebar. Wajahnya yang biasanya tak mengekspresikan apa pun mendadak pucat pasi, diterpa badai emosi yang dahsyat—rasa terkejut yang luar biasa, ketidakpercayaan, dan luka lama yang membakar dari dasar jiwanya.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun sejak surat kejam itu diserahkan padanya. Tujuh tahun sejak ia percaya bahwa wanita ini telah pergi melintasi perbatasan bersama pria lain, meninggalkannya dalam kehampaan dan kemarahan yang membatu.
"Kau..." suara Adrian keluar sebagai bisikan parau yang hampir tak terdengar, namun dipenuhi oleh intensitas emosi yang sanggup menggetarkan lantai batu di bawah mereka.
Alena merasakan dadanya sesak, bagai dihantam bongkahan es. Suara itu... suara yang dulu selalu membisikkan janji manis di bawah naungan pohon eboni, kini terdengar bagai bisikan dari masa lalu yang menuntut balasan.
"Alena..." ulang Adrian. Kali ini suaranya menajam, dipenuhi oleh kebencian yang samar dan kerinduan yang ditolaknya mati-matian.
Adrian melangkah maju satu demi satu. Setiap pijakan sepatu boot kulitnya di atas lantai marmer bergema bagai ketukan drum perang. Tatapannya terkunci rapat pada wajah Alena, seolah-olah ia sedang memastikan apakah wanita di hadapannya ini adalah manusia nyata atau sekadar hantu dari masa lalu yang datang untuk menggeledah pikirannya.
Alena menahan napas. Ia memaksakan kepalanya tetap tegak, meski seluruh persendiannya gemetar hebat. Ia harus menjadi wanita yang dingin. Ia harus berakting sebagai selir yang tidak lagi memiliki perasaan pada sang Putra Mahkota.
"Lama tidak berjumpa, Yang Mulia Pangeran Adrian," ucap Alena. Suaranya terdengar datar dan terlatih, walau di balik gaunnya, telapak tangannya basah oleh keringat dingin.
Adrian menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di hadapan Alena. Begitu dekat hingga Alena bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu dan menghirup aroma kayu cendana yang masih sama persis seperti tujuh tahun lalu.
Mata abu-abu Adrian menyapu setiap senti wajah Alena—pada garis pipinya yang lebih tirus, pada matanya yang kini dibentengi oleh keteguhan yang asing, dan pada bibirnya yang pernah ia kecup di balik bayangan Taman Mawar.
Kemarahan yang tertahan selama tujuh tahun membakar dada Adrian. Bagaimanakah wanita ini... wanita yang telah mengkhianatinya, wanita yang meninggalkannya demi pria lain... bisa kembali ke tempat ini dengan tenang dan menyapa dirinya seolah-olah mereka tidak pernah saling menghancurkan?
"Mengapa kau ada di sini?" tanya Adrian, suaranya merendah, berbahaya bagai geraman serigala yang terluka. "Siapa yang memberimu izin untuk menginjakkan kaki di istana ini lagi, Alena?"
Sebelum Alena sempat menjawab, sebuah suara kecil yang polos tiba-tiba memecah ketegangan yang membakar di antara mereka.
"Ibu... pangeran ini galak sekali. Apakah dia akan memukul kita?"
Adrian membeku seketika.
Tatapannya yang tajam perlahan bergeser dari wajah Alena turun ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak pintu aula dibuka, Pangeran Aveloria itu menyadari kehadiran seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang berdiri rapat di samping Alena, menggenggam gaun ibunya dengan jemari mungilnya yang gemetar.
Darah di dalam nadi Adrian serasa berhenti mengalir seketika.