Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Polisi yang Tersenyum
Aku benci polisi yang tersenyum.
Serius.
Kalau mereka berteriak, aku masih tahu harus bagaimana.
Kalau mereka berlari, aku tinggal ikut berlari.
Kalau mereka meniup peluit...
Ya, itu memang menyebalkan.
Tapi polisi yang tersenyum?
Nah.
Itu jauh lebih menakutkan.
Karena biasanya mereka sudah tahu sesuatu yang kita tidak tahu.
Kedua polisi itu berhenti tepat di depanku.
Seorang pria sekitar empat puluh tahun dengan kumis tipis berdiri paling depan. Seragamnya rapi. Topinya bahkan terlihat terlalu bersih untuk seseorang yang bekerja di jalanan Paris.
Di sampingnya ada polisi yang lebih muda. Wajahnya masih terlihat seperti baru lulus akademi. Ia sibuk memperhatikan kami dari ujung kepala sampai kaki.
Aku tersenyum canggung.
"Bonjour, Monsieur."
Polisi berkumis itu membalas anggukan kecil.
"Bonjour."
Lalu ia melihat tumpukan koran di pelukanku.
"Kau penjual koran?"
"Kalau saya bilang astronot, Bapak pasti tidak percaya."
Léo langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan..."
bisiknya.
"Dia mulai lagi."
Polisi muda hampir tertawa.
Namun pria berkumis itu tetap memasang wajah datar.
"Kau lucu."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Sayang sekali."
Aku menghela napas dramatis.
"Aku sudah hampir bangga."
Polisi itu mengembuskan napas pelan.
Untuk sesaat...
Sudut bibirnya seperti ingin tersenyum.
"Petugas kebersihan tadi bilang..."
katanya sambil menunjuk ke arah seberang jalan,
"...kaulah yang menemukan tas itu."
Aku mengangguk.
"Bukan menemukan."
"Lalu?"
"Lebih tepatnya..."
Aku melirik Léo.
"...tas itu menemukan kami."
Léo berbisik pelan.
"Kalimatmu semakin aneh."
"Aku sedang berusaha terdengar puitis."
"Yang terdengar justru lapar."
Aku mengabaikannya.
Polisi berkumis itu menatapku beberapa detik.
Tatapannya tajam.
Seolah sedang mencoba membaca pikiranku.
"Kenapa tidak langsung mengembalikannya sendiri?"
Nah.
Pertanyaan ini.
Aku sudah menduganya.
Aku memasukkan kedua tangan ke saku jaket.
"Karena..."
Aku menatap matanya.
"...orang seperti saya sering kali dianggap bersalah lebih dulu."
Hening.
Suara lalu lintas di belakang kami terasa menjauh.
Polisi muda menoleh kepada seniornya.
Sementara pria berkumis itu tetap diam.
Lama sekali.
Kemudian...
Ia mengangguk pelan.
"Jawaban yang jujur."
Aku mengangkat bahu.
"Aku terlalu miskin untuk membeli kebohongan yang bagus."
Léo terkekeh.
Bahkan polisi muda itu akhirnya ikut tertawa.
Hanya pria berkumis itu yang masih berusaha mempertahankan wajah seriusnya.
Meski...
Aku melihatnya.
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Namamu?"
"Maël."
"Nama belakang?"
Aku terdiam.
Beberapa detik.
"Lupa."
Léo menoleh cepat.
Aku tidak bercanda.
Aku memang lupa.
Atau lebih tepatnya...
Aku tidak pernah tahu.
Pria berkumis itu tidak langsung menulis apa pun.
Ia hanya memandangku dengan ekspresi yang berubah.
Bukan curiga.
Melainkan...
Entah.
Sulit dijelaskan.
"Orang tuamu?"
Aku menggeleng.
"Tidak tahu."
"Rumah?"
Aku menunjuk ke arah jembatan.
"Kalau cuaca bagus, di sana."
"Kalau hujan?"
"Pindah ke jembatan sebelah."
Polisi muda menunduk.
Entah kenapa, ia tampak tidak tega.
── Maël kepada kalian ──
Kalian sadar?
Pertanyaan paling sederhana kadang yang paling sulit dijawab.
"Rumahmu di mana?"
Aku selalu bingung menjawabnya.
Karena rumah bukan cuma soal alamat.
Rumah adalah tempat seseorang menunggu kepulanganmu.
Dan...
Sudah lama tidak ada yang menungguku.
── Kembali ke cerita ──
Pria berkumis itu menutup buku catatannya.
"Namaku Adrien Moreau."
Ia mengulurkan tangan.
Aku membeku.
Seorang polisi...
Mengulurkan tangan kepadaku?
Léo menyikut pinggangku.
"Maël."
"Hm?"
"Itu tangan."
"Aku tahu."
"Salam."
"Oh."
Aku buru-buru menjabat tangannya.
Tangannya hangat.
Berbanding terbalik dengan udara pagi itu.
"Terima kasih."
katanya singkat.
Aku mengernyit.
"Hanya itu?"
Adrien mengangguk.
"Hanya itu."
"Tidak ditangkap?"
"Tidak."
"Diinterogasi?"
"Tidak."
"Diceramahi?"
"Tidak."
Aku menoleh kepada Léo.
"Léo."
"Apa?"
"Kurasa kita salah kota."
Léo tertawa sampai hampir menjatuhkan koranku.
Adrien akhirnya tersenyum tipis.
Benar-benar tersenyum kali ini.
"Jangan salah paham."
katanya.
"Bukan karena aku mempercayaimu."
Aku mengangkat alis.
"Lalu?"
"Aku hanya menghargai orang yang masih memilih melakukan hal benar..."
Ia berhenti sejenak.
"...meski hidupnya sendiri tidak pernah diperlakukan dengan benar."
Kalimat itu...
Entah kenapa...
Terasa lebih berat daripada tas berisi lima belas koran di pundakku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Untuk pertama kalinya pagi itu...
Aku kehabisan kata-kata.
Tepat saat Adrien hendak pergi, suara perempuan pemilik tas memanggil dari seberang jalan.
"Monsieur l'agent!"
Adrien menoleh.
Perempuan itu berlari kecil menghampiri kami.
Di tangannya ada sebuah amplop putih.
Ia berhenti tepat di depanku.
Lalu mengulurkannya.
"Ini..."
katanya dengan senyum tulus.
"...untukmu."
Aku dan Léo saling berpandangan.
Aku belum tahu...
Bahwa amplop kecil itu akan menjadi awal dari sebuah rahasia yang sama sekali tidak berkaitan dengan uang.
── Maël kepada kalian ──
Kalau seseorang asing tiba-tiba memberi kalian amplop...
Apa yang akan kalian lakukan?
Membukanya?
Menolaknya?
Atau...
Kabur?
Kalau aku?
Yah...
Kalian akan tahu jawabannya di bab berikutnya.