Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat ketika mobil sedan putih Anindiya akhirnya keluar dari kompleks rumah sakit.
Sejak siang tadi, Anindiya dan Rina dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi yang mengiringi mobil pengantin Siska. Setelah seluruh prosedur pemeriksaan yang melelahkan itu selesai, keduanya memilih untuk langsung kembali ke sanggar.
Perjalanan pulang malam itu terasa amat hening.
Sangat berbeda dari biasanya.
Biasanya, kabin mobil itu akan dipenuhi celoteh riang mereka—membahas konsep riasan pelanggan, gosip seputar tren kecantikan, atau sekadar lelucon ringan. Namun kali ini, tak seorang pun berani membuka suara. Hanya raungan halus mesin mobil yang membelah jalanan malam Kota A.
Anindiya meremas kemudi dengan kedua tangannya yang agak bergetar. Tatapannya lurus menembus kaca depan, namun pikirannya melayang jauh.
Wajah Siska sebelum berangkat menuju gedung resepsi terus berputar di benaknya seperti pita kaset yang rusak.
Siska yang tersenyum lebar. Siska yang tertawa renyah. Siska yang berulang kali memeluknya seraya mengucapkan terima kasih...
Lalu, dalam hitungan detik... semua kebahagiaan itu musnah dihantam truk rem blong.
Saat mobil terhenti di lampu merah, Anindiya memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan mengerikan itu kembali muncul tanpa bisa ditahan: suara hantaman besi yang memekakkan telinga, jeritan histeris, ceceran kaca yang memantulkan cahaya matahari, dan sedan hitam yang terguling tak berbentuk.
Anindiya mendadak tersentak, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Mbak Anin..." panggil Rina pelan, memecah keheningan.
Anindiya menoleh canggung. "Iya, Rin?"
"Mbak... nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa kok," sahut Anindiya mencoba tersenyum, walau garis wajahnya nampak amat lelah.
"Tapi dari tadi Mbak diam terus. Raut wajah Mbak pucat banget."
"Cuma capek aja, Rin," bisik Anindiya pelan.
Rina tahu betul itu bukan sekadar lelah fisik. Ia sendiri pun sampai detik ini masih gemetar tiap kali mengingat jasad Siska yang ditutupi kain putih di jalan raya tadi siang.
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya membelok masuk ke halaman Anindiya Bridal.
Anindiya mematikan mesin. Mereka turun dari mobil tanpa banyak bicara. Begitu selot kunci diputar dan pintu sanggar didorong terbuka, atmosfer ruangan yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini justru mendadak berubah drastis.
Entah kenapa... ruangan sanggar malam ini terasa begitu dingin, hampa, dan asing.
Rina menyalakan sakelar lampu. Cahaya putih terang benderang seketika memenuhi ruangan.
Di sudut paling depan dekat jendela, manekin kayu itu masih berdiri tegak. Mengenakan gaun pengantin putih gading yang baru saja dievakuasi dari lokasi kecelakaan.
Gaun itu tampak begitu bersih. Rapi. Anggun. Tidak berubah sedikit pun.
Pandangan mata Anindiya seketika terkunci ke arah gaun itu. Langkah kakinya bergerak pelan, seolah ada daya tarik gaib yang menuntunnya mendekat. Ia berdiri mematung di depan manekin.
Memori di lokasi kecelakaan kembali berkelebat secara brutal: mobil yang ringsek terlipat, kaca pecah berhamburan, ceceran darah di aspal, serta tangis histeris keluarga korban.
Namun gaun ini...
Tetap utuh. Tetap bersih. Seolah-olah tak pernah mengalami benturan hebat yang menewaskan pemakainya.
Tanpa sadar, jemari Anindiya terulur mengusap bagian dada gaun itu. Kainnya masih terasa begitu lembut dan halus. Tidak ada bagian yang sobek, tidak ada noda oli, bahkan tak ada setetes darah pun yang menempel.
"Aneh..." gumam Anindiya lirih.
Rina yang berjalan mendekat dari belakang ikut memperhatikan gaun tersebut. "Mbak Anin..."
"Hm?"
"Gaunnya... sudah Mbak laundry atau bersihkan tadi?" tanya Rina dengan suara agak bergetar.
Anindiya menggeleng pelan. "Belum. Tadi kan langsung kita bawa masuk dari bagasi mobil."
"Lho..." Rina menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia melangkah makin rapat ke samping Anindiya, meneliti tiap senti kain gaun itu dengan mata membelalak. "Padahal tadi... mobilnya hancur parah banget kan, Mbak?"
Kalimat Rina menggantung di udara. Meringkus logika mereka berdua. Bagaimana mungkin gaun yang dipakai di dalam mobil yang terlipat bisa kembali ke sanggar dalam kondisi semulus gaun baru turun dari rak pajangan?
Anindiya mencoba memaksa otaknya berpikir rasional. "Mungkin... mungkin tadi kainnya terlipat dan terlindungi bagian dalam kabin, jadi nggak kena ceceran apa-apa."
Rina tidak menjawab. Di dalam hatinya, penjelasan itu terasa amat dipaksakan dan tak masuk akal. Namun melihat wajah Anindiya yang sudah begitu kuyu, Rina memilih untuk bungkam. Diskusi ini hanya akan membuat ketakutan mereka makin menjadi-jadi.
"Ya sudah deh, Mbak... Ayo kita beresin alat riasnya dulu. Biar besok tinggal istirahat," ajak Rina mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Rin."
Mereka mulai mengembalikan koper kosmetik dan alat hairstyling ke lemari penyimpanan. Pekerjaan yang biasanya selesai dalam lima belas menit itu terasa begitu menyiksa dan melelahkan malam ini.
Saat semua perlengkapan rapi, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Rina menyampirkan tas selempangnya. "Mbak Anin, aku pamit pulang dulu ya."
"Iya, Rin. Hati-hati di jalan ya."
Rina menatap Anindiya prihatin. "Mbak juga... jangan terlalu dipikirkan terus kejadian tadi. Ini bukan salah Mbak."
Anindiya mengangguk tipis. "Iya."
Rina melemparkan senyum menguatkan sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu deru motor Rina menghilang di kejauhan, keheningan yang amat pekat seketika menyelimuti seluruh ruangan sanggar.
Anindiya berdiri sendirian di tengah ruangan. Ia membuang napas berat. Tatapannya secara otomatis kembali tertambat pada gaun di sudut dekat jendela. Tiap kali melihat gaun itu, senyum bahagia Siska selalu berkelebat di ingatannya.
"Maafkan aku ya, Siska..." bisik Anindiya lirih pada gaun itu. "Aku bener-bener nggak nyangka hari bahagiamu bakal berakhir begini."
Rasa bersalah yang tak beralasan menggerogoti dadanya. Ia tahu betul kecelakaan itu murni musibah rem blong, namun kenyataan bahwa dialah yang menyewakan gaun itu membuat hatinya tetap teriris.
Anindiya mematikan sebagian besar sakelar lampu bawah. Kini hanya lampu kecil di area kerja dan ruang koleksi yang menyala redup. Setelah memastikan seluruh pintu dan jendela terkunci rapat, Anindiya melangkah naik ke kamarnya di lantai dua.
Ia membersihkan diri di kamar mandi, lalu berganti mengenakan piyama tidur yang longgar. Malam itu, perutnya terasa mual dan tidak berselera makan sedikit pun. Ia hanya menyeduh segelas teh chamomile hangat, lalu duduk melamun di tepi tempat tidur.
Ponselnya bergetar berkali-kali. Beberapa pesan dari pelanggan masuk—sebagian menanyakan slot booking, sebagian lagi mengirimkan ucapan belasungkawa setelah kabar kecelakaan tragis Siska beredar di grup MUA lokal.
Anindiya membalas singkat seperlunya, lalu menonaktifkan layar ponselnya. Pikirannya terlalu penuh.
Ia melangkah mendekati jendela kamar, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Angin malam bertiup pelan dari luar, menggetarkan tirai tipis kamarnya.
"Semoga Pak Rahmi dan Bu Rahmi diberi ketabahan..." gumamnya berdoa pelan.
Rasa lelah yang luar biasa akhirnya mulai merayapi fisiknya. Anindiya mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur remang-remang di sudut meja. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, menarik selimut hingga ke dada, dan memejamkan mata.
Dalam hitungan menit, napas Anindiya mulai terdengar teratur dan dalam. Ia tertidur pulas akibat kelelahan mental yang hebat.
Suasana kamar tidur itu kembali tenggelam dalam keheningan yang janggal. Hanya detak jam dinding yang terdengar nyaring.
Tik... Tik... Tik...
Entah berapa jam telah berlalu. Tengah malam telah lewat.
Tiba-tiba...
Sret.
Aroma wangi bunga melati yang sangat tajam dan dingin perlahan-lahan merembes masuk, memenuhi seluruh sudut kamar tidur Anindiya. Wanginya begitu pekat, seolah ada berpuluh-puluh bunga melati busuk yang ditaruh tepat di atas tempat tidurnya.
Padahal seluruh jendela kaca lantai dua terkunci rapat.
Tirai kamar yang semula terkulai diam mendadak berayun pelan, seakan-akan ada sosok tak kasat mata yang baru saja berjalan melintasinya.
Di sudut kamar yang agak remang... berdiri sebuah cermin rias berukuran besar.
Pantulan cermin itu awalnya hanya memperlihatkan Anindiya yang sedang terlelap miring di atas tempat tidur.
Namun...
Perlahan-lahan, tepat di samping cermin rias tersebut... udara di sekitarnya tampak bergoyang keperakan.
Sesosok wanita muda mendadak muncul dan berdiri mematung di sana.
Sosok itu berdiri tanpa suara sedikit pun. Tubuhnya dibalut gaun pengantin berwarna putih yang sudah sangat kusam, robek, dan bernoda kehitaman dimakan zaman. Rambut hitamnya yang sangat panjang dan basah terurai berantakan, menutupi separuh wajah pucat pasinya.
Kedua tangannya terkulai kaku di sisi tubuh.
Tatapannya yang kelam terkunci lurus pada Anindiya yang masih tertidur pulas di kasur. Sosok itu tidak bergerak. Tidak bernapas. Hanya berdiri menatap dingin wanita yang telah membawa gaunnya keluar dari butik tua di kota lama.
Pekatnya aroma melati makin menusuk hidung, membuat hawa kamar mendadak merosot drastis menjadi sangat dingin membekukan.
Tik... Tik... Tik...
Beberapa detik kemudian...
Pantulan di dalam cermin besar itu berubah secara mengerikan.
Di dalam cermin, bayangan sosok perempuan bergaun kusam itu nampak jauh lebih jelas dan nyata ketimbang wujud aslinya di luar cermin. Dan perlahan-lahan... sudut bibir pucat milik sosok di dalam cermin itu terangkat naik.
Membentuk sebuah senyuman tipis yang amat lebar, dingin, yang mengerikan.
Anindiya masih tertidur lelap dalam buaian mimpinya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hanya berjarak beberapa langkah dari kasurnya...
Ada sepasang mata yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya dengan penuh dahaga.
Dan malam itu... untuk pertama kalinya...
Entitas gaib yang selama ini hanya memperlihatkan eksistensinya lewat wewangian melati dan bayangan sepintas... kini telah meneror kamar pribadi Anindiya.
Awal dari teror nyata yang sesungguhnya.