Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpacaran!
"Kalau begitu, ayo kita berpacaran," kata Julian.
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibirnya, membuat Sabrina seketika terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Pasokan udara di dalam kabin sedan itu seolah tersedot habis. Otaknya serasa membeku, mencoba mencerna rentetan kejadian yang terjadi dalam hitungan detik.
Julian menerima ungkapan perasaannya? Pria terpandang yang selama ini baru saja mengajaknya berpacaran?
"Kak Julian... serius?" tanya Sabrina. Matanya membelalak bulat, menatap lurus ke dalam iris mata Julian yang teduh, mencari penegasan atau mungkin sisa-sisa gurauan yang bersembunyi di sana.
"Kenapa? Apa aku terlihat kayak orang lagi bercanda?" tanya Julian balik.
Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di atas lingkar kemudi, memiringkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sabrina dengan sunggingan senyum tipis yang begitu hangat di sudut bibirnya.
"Aku... aku tidak tahu," sahut Sabrina jujur, suaranya hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Kamu bilang, kamu suka sama aku, kan? Jadi ya, ayo kita berpacaran," potong Julian santai, menghempaskan semua keraguan dan kekhawatiran soal perbedaan status sosial yang sempat membayangi batin gadis itu.
Julian mengulurkan tangannya, melepaskan cengkeraman ketat jemari Sabrina dari tali tasnya, lalu menggenggam telapak tangan yang dingin itu ke dalam usapan jemarinya yang hangat.
Rasa hangat itu begitu nyata, mengalir perlahan dan seketika meluluhkan seluruh pertahanan serta kecemasan yang menggantung di udara.
"Tapi, Sabrina... aku punya satu permintaan," kata Julian. Suaranya terdengar makin berat, diiringi tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat intens.
"Apa?" tanya Sabrina cepat. Jantungnya yang semula berdesir hangat oleh rasa bahagia, mendadak kembali berdegup kencang oleh sengatan rasa cemas.
"Rahasiakan hubungan kita. Cukup cuma kita berdua yang tahu. Kamu bisa, kan?" kata Julian pelan namun penuh penekanan.
Sebenarnya, di balik nada bicaranya yang tenang dan terkesan diplomatis, Julian masih menyimpan rasa gengsi yang teramat besar jika sampai dunia luar tahu ia berpacaran dengan gadis desa seperti Sabrina.
Pria itu tidak mau reputasinya tercoreng atau menjadi bahan tertawaan teman-teman satu lingkungan sosialnya yang serba mewah.
Lagi pula, di dalam benak Julian yang paling dalam, ia hanya ingin mencoba dulu, ingin merasakan seperti apa rasanya menjalin hubungan dengan gadis polos dari desa.
Sabrina mematung di tempatnya. Senyum hangat yang baru saja merekah di bibirnya seketika perlahan memudar.
Genggaman tangan Julian yang tadinya terasa begitu hangat mendadak berubah menjadi dingin di inderanya.
Permintaan itu menghantam batin Sabrina cukup telak, menyisakan keraguan yang kembali menyelinap di antara rasa bahagianya. Ia tahu ada harga dan jarak yang harus ia tanggung dari keputusan ini, namun tatapan Julian seolah tak memberinya banyak pilihan.
"Kenapa... harus dirahasiakan, Kak?" bisik Sabrina parau, menatap Julian yang kini kembali melemparkan pandangannya ke arah kaca depan mobil.
Julian mengusap punggung tangan Sabrina pelan, mencoba menenangkan.
"Ini demi kebaikan kita bersama, Sabrina. Lingkungan kita rumit, dan aku cuma nggak mau ada orang lain yang campur tangan atau bikin kamu merasa nggak nyaman nantinya. Cukup kita berdua saja, ya?"
Sabrina menelan ludah dengan susah payah. Meskipun ada sudut hatinya yang merasa teriris karena seolah disembunyikan, rasa sukanya yang terlalu besar pada Julian akhirnya membungkam keraguan itu. Gadis itu mengangguk pelan.
"Iya, Kak... aku bisa."
"Bagus, anak pintar," kata Julian seraya mengusap lembut puncak kepala Sabrina. Sentuhan jemarinya yang hangat mengalirkan sensasi asing namun menenangkan di kulit kepalanya.
"Jadi sekarang kita..." Sabrina menggantungkan kalimatnya, tak berani melanjutkan kata-kata yang masih terasa begitu nyata sekaligus semu di dalam benaknya.
"Iya, Sayang. Sekarang kamu pacarku," potong Julian penuh kelembutan.
Pria itu kemudian meraih telapak tangan Sabrina, mengarahkannya ke bibir, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut dan lama.
Seketika itu juga, Sabrina merasa seluruh bulu kuduknya meremang. Gelombang desiran hebat menjalar cepat dari telapak tangannya langsung menuju ke seluruh tubuh.
Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia mendapat perlakuan seromantis dan semanis ini dari seorang pria. Baru pertama kalinya ada laki-laki yang mengecup tangannya dan pria itu adalah Julian, sosok yang selama ini hanya bisa ia kagumi dalam diam.
Di balik keremangan kabin mobil dan syarat persembunyian yang baru saja disepakatinya, rasa bahagia yang membuncah mengalahkan seluruh rasa curiganya.
Sabrina terbuai sepenuhnya oleh usapan hangat dan panggilan manis dari Julian, tanpa menyadari bahwa bagi pria di sampingnya, semua ini mungkin hanyalah awal dari sebuah permainan yang telah diperhitungkan.
"Sekarang, aku antar kamu pulang ya," kata Julian, yang langsung disambut anggukan pelan dari Sabrina.
Setelah melewati kemacetan kota dengan jantung Sabrina yang tak henti-hentinya berdebar liar, akhirnya mobil sedan hitam milik Julian sampai dan berhenti tepat di depan mulut gang kos-kosannya.
Suasana gang yang agak temaram membuat keberadaan mobil mewah itu tampak begitu menyolok.
"Besok pagi aku jemput kamu, oke?" kata Julian seraya menatapnya lembut.
Sabrina mengangguk malu-malu, tak berani menatap iris mata Julian terlalu lama.
"Iya, Kak. Makasih ya..."
Gadis itu kemudian merapikan tasnya dan bersiap hendak memutar gagang pintu untuk turun.
"Kamu lupa sesuatu?"
Pertanyaan santai itu seketika membuat Sabrina urung turun dari mobil. Ia menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke belakang bangku dan memeriksa pangkuannya dengan bingung.
"Tidak, tidak ada..." kata Sabrina polos.
"Kamu lupa..." kata Julian menggantungkan kalimatnya. Pria itu kemudian memiringkan tubuhnya, memajukan pipinya mendekat ke arah Sabrina seraya menunjuk pipi kanannya sendiri dengan telunjuknya.
Mata Sabrina membelalak bulat begitu menyadari maksud dari gestur pria itu. Wajahnya seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga.
Dada gadis itu kembali bergemuruh hebat, berpacu antara rasa gugup, malu, dan debaran manis yang begitu asing baginya.
"Kamu lupa memberikan kecupan untuk pacarmu ini," kata Julian dengan nada menggoda, masih mempertahankan posisi wajahnya yang condong ke arah Sabrina.
Wajah Sabrina yang tadinya sudah merona kini terasa membakar hingga ke ujung telinga. Pasokan udara di sekitarnya seolah mendadak menguap habis.
Dengan jantung yang berdegup liar bagaikan ditabuh genderang perang, Sabrina memberanikan diri. Secara refleks dan dengan malu-malu, secepat kilat Sabrina mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Julian.
Hanya sebuah sentuhan sepersekian detik, namun efeknya bagai sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tanpa menunggu respon Julian, Sabrina langsung membuka pintu mobil, keluar, lalu menutup pintu dengan cepat.
Ia berlalu setengah berlari menyusuri gang sempit menuju kos-kosannya dengan wajah yang merah padam bagai kepiting rebus.
Sabrina sama sekali tidak berani menoleh ke belakang lagi karena rasa malu yang teramat sangat menyelimuti jiwanya.
Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya bagi Sabrina mencium seorang laki-laki sepanjang hidupnya.
Di dalam kabin mobil yang kini sepi, Julian mengusap pipinya yang baru saja disentuh bibir halus Sabrina. Sebuah ukiran senyum puas terbit di bibirnya, menatap punggung gadis desa itu yang kian menghilang di gang.