NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: "Kamu Nggak di Rumah?"

Laras berkedip dua kali.

"Pesan yang mana?"

Tatapan Arkan langsung menjadi lebih dingin. "Aku cuma kirim satu pesan."

Laras mengambil ponselnya dari meja, membuka percakapan mereka, lalu menunjukkan layar.

"Yang ini? Cuaca jelek, divert Solo dulu?"

"Iya."

"Aku kira kamu salah kirim."

Arkan terdiam.

"Salah kirim ke siapa?"

"Harusnya ke grup kru atau operasi." Laras menjawab jujur. "Kita belum pernah saling lapor setiap penerbangan. Tiba-tiba kamu kasih pembaruan divert tanpa pertanyaan apa pun. Aku pikir kamu baru sadar setelah pesan terkirim, jadi aku nggak mau bikin kamu malu dengan bertanya."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Arkan kehabisan kalimat.

Ia sudah menimbang kemungkinan Laras sibuk, tidur, marah, atau sengaja mengabaikannya. Ternyata perempuan itu hanya mengira suaminya salah menekan nama kontak.

"Itu memang untuk kamu," katanya akhirnya.

"Oh."

"Kalau aku salah kirim, aku bisa hapus."

"Baik. Lain kali aku balas."

Jawaban Laras terdengar patuh, tetapi matanya mulai menyimpan tawa. Arkan tidak menyukai kenyataan bahwa ia tampak begitu mudah dibaca.

"Kemarin kamu di rumah seharian?" tanyanya.

"Nggak."

"Kamu nggak di rumah?"

"Ada recurrent training di kantor dari pagi sampai sore. ICAO English sama simulasi koordinasi waktu cuaca buruk." Laras mengambil susu dan meneguknya. "Aku baru pulang sekitar jam sembilan."

"Sampai malam?"

"Setelah kelas ada evaluasi. Kenapa?"

Arkan teringat nama Bagas, rumah makan, dan gagasan bodoh untuk menyuruh Reno memeriksa mobil Laras.

"Nggak ada apa-apa."

"Sup semalam juga aku pesan lewat GoFood," lanjut Laras. "Aku pesan dua porsi, terus kupindah ke wadah. Nasinya memang sudah ada di rice cooker."

Ia membuka riwayat pesanan untuk mencari nama rumah makan, lalu menyodorkan layar karena ingin merekomendasikan supnya. Arkan hanya perlu satu pandangan untuk melihat waktu transaksi pukul 21.08 dan alamat pengantaran rumah mereka.

Laras benar-benar tidak berada di rumah seharian.

Ia juga tidak sedang makan dengan Bagas.

Sesuatu di dada Arkan mengendur. Perubahan itu begitu cepat hingga ia sendiri kesal menyadarinya.

"Hari ini kamu ada jadwal?" tanyanya.

"Libur. Kamu harus istirahat, kan?"

"Iya."

"Tidur lagi saja."

Arkan melihat isi kulkas yang tinggal telur, dua botol air, setengah buah lemon, dan kotak makanan sisa.

"Kita masak di rumah."

"Dengan apa?"

"Belanja dulu."

Laras menatapnya curiga. "Sekarang?"

"Setelah sarapan."

Dua jam kemudian, mereka mendorong satu troli di lorong bahan makanan AEON BSD. Arkan sudah tidur singkat, mandi, lalu keluar rumah dengan energi yang menurut Laras tidak masuk akal untuk seseorang yang pulang pukul tiga pagi.

Arkan memilih udang dengan memeriksa warna dan teksturnya. Ia mengambil daging, bawang, jamur, susu, serta sayuran yang Laras tidak pernah beli sendiri. Setiap benda masuk ke troli berdasarkan rencana yang hanya ada di kepalanya.

Laras mengikuti dari belakang sambil memasukkan biskuit cokelat.

Arkan mengambilnya dan membaca kadar gula.

"Taruh kembali," kata Laras.

"Aku cuma lihat."

"Wajahmu seperti mau menolak izin terbangnya."

Arkan meletakkan biskuit itu di troli. "Ambil satu saja."

Laras menambahkan keripik kentang.

"Itu beda kategori."

"Tetap satu jenis makanan yang nggak perlu."

"Kalau nggak perlu, kenapa dijual?"

Arkan menatapnya beberapa detik, lalu terus mendorong troli. Laras tersenyum menang dan diam-diam menambahkan permen kopi ketika ia berbalik mengambil paprika.

Mereka berdebat soal merek mentega, jumlah mi instan yang wajar untuk disimpan, dan apakah es krim bisa disebut kebutuhan rumah tangga. Hal-hal kecil yang tidak ada dalam kesepakatan pernikahan mereka justru mulai memenuhi troli.

Di dekat rak minuman, Arkan memasukkan sekotak susu dengan merek yang diminum Laras pagi tadi.

Laras melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya merapatkan jemari pada pegangan troli untuk menahan rasa hangat yang merambat hingga ujung jari.

Arkan kemudian mengambil jahe, madu, dan beberapa kemasan roti gandum.

"Ini semua untuk apa?" tanya Laras.

"Kamu sering pulang malam. Harus ada makanan yang cepat disiapkan."

"Mi instan juga cepat."

"Bukan itu maksudku."

Ia menambahkan dua wadah makanan kaca agar mereka bisa menyimpan lauk terpisah. Laras diam-diam membayangkan kulkas yang tadinya nyaris kosong akan berisi masakan buatan mereka, lengkap dengan catatan tanggal dan pembagian porsi untuk jadwal yang tidak pernah sama.

Dulu, kebahagiaan yang berkaitan dengan Arkan selalu hidup di tempat aman di dalam kepalanya: satu tatapan di koridor sekolah, satu suara dari rekaman penerbangan, atau satu nama yang ditulis di buku harian. Kini kebahagiaan itu berbentuk susu, jahe, dan roti yang dilemparkan ke dalam troli.

Saat tangan mereka bertemu di pegangan, dua cincin perak terlihat berdampingan. Laras cepat-cepat mengalihkan pandangan sebelum momen sederhana itu membuatnya berharap terlalu jauh.

Di antrean kasir, seorang laki-laki dengan kaus polo Angkasa Nusantara berdiri dua orang di depan mereka. Ia menoleh karena mendengar suara Arkan, lalu ekspresinya berubah kaget.

"Kapten Wibisana?"

"Rian," jawab Arkan.

Rian, kopilot yang beberapa kali bertemu Arkan dalam briefing, memandang troli penuh bahan makanan. Lalu matanya beralih kepada Laras yang berdiri di sisi Arkan sambil memegang dua kotak es krim.

"Kenalkan, istriku, Laras," kata Arkan tanpa ragu.

Kata itu meluncur begitu alami, tetapi Laras tetap merasa detak jantungnya tersandung.

Rian tampak seolah baru diingatkan tentang sesuatu yang berbahaya.

"Istri?" ulangnya.

"Iya."

"Selamat, Kapten. Mbak Laras." Rian cepat-cepat mengulurkan tangan dengan sopan, lalu menariknya kembali setelah salam singkat. "Saya baru dengar kabarnya."

Malam sebelumnya, Tiara mengirim pesan kepadanya. Perempuan itu berkata punya kenalan lama di AirNav bernama Laras, masih sendiri, cantik, dan mungkin cocok dikenalkan kepada pilot. Rian tidak menanggapi serius, tetapi sempat meminta foto karena Tiara terus memancing.

Foto yang dikirim adalah perempuan yang kini berdiri di samping Arkan.

Rian merasakan punggungnya dingin.

Tiara hampir membuatnya mendekati istri Kapten Wibisana.

"Kalian sedang libur?" tanyanya untuk menutupi keterkejutan.

"Iya," jawab Laras. "Mau masak di rumah."

Rian mengangguk terlalu sering. "Bagus. Saya duluan, Kapten. Mbak."

Ia membayar belanjaannya lalu pergi tanpa menunggu struk disusun. Begitu berada jauh dari antrean, ia membuka pesan Tiara dan menghapus foto Laras. Ia tidak tahu permainan apa yang sedang dilakukan pramugari itu, tetapi ia tidak berniat menjadi bagian darinya.

Arkan menatap punggung Rian. "Kenapa dia seperti dikejar orang?"

"Mungkin dipanggil standby."

Mereka membayar belanjaan dan pulang menjelang siang. Laras membawa kantong berisi makanan ringan, sedangkan Arkan mengambil semua kantong berat meski Laras sudah menawarkan bantuan.

Begitu pintu rumah tertutup, Laras meletakkan es krim di meja dan menoleh.

"Tadi kamu bilang istriku."

"Memangnya salah?"

"Nggak. Cuma terdengar..."

"Apa?"

Laras kehilangan kata ketika Arkan tiba-tiba mendekat. Laki-laki itu mengangkat tangan, lalu menjepit pelan pipinya di antara ibu jari dan telunjuk.

Jantung Laras seakan melewatkan satu ketukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!