NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Utang Budi yang Dipaksakan

Bi Asih membuka pintu utama.

Seorang lelaki berusia awal tiga puluhan berdiri di luar dengan kemeja mahal, jam tangan berkilau, dan senyum yang terlalu santai untuk tamu tanpa janji. Petugas keamanan di belakangnya baru saja menutup sambungan telepon.

"Pak Reyhan sudah mengonfirmasi identitas beliau," kata petugas itu kepada Bi Asih. "Beliau keluarga Pak Sebastian dan ingin menunggu soal urusan kantor."

Lelaki tersebut masuk sebelum Bi Asih sempat menawarkan ruang tunggu terpisah.

"Sepertinya saya datang di waktu yang menarik," katanya ketika melihat wajah-wajah tegang di ruang tamu.

Ia mengulurkan tangan kepada Karina. "Vincent. Dari pihak keluarga Wijaya juga. Saya kebetulan lewat dan mau bicara dengan Sebastian soal kerjaan. Ternyata dia belum pulang."

Karina menjabat seperlunya. Dalam ingatan tubuh ini, nama Vincent muncul di beberapa acara keluarga, selalu dekat dengan Herman dan orang-orang cabang resmi. Senyumnya ramah, tetapi matanya menilai ruangan terlalu cepat.

"Sebastian masih di kantor," kata Karina. "Kalau urusannya penting, Pak Reyhan bisa mengatur pertemuan."

"Nggak apa-apa. Saya tunggu sebentar."

Jessica sudah berdiri. Perubahan sikapnya begitu cepat sampai hampir mengesankan.

"Silakan duduk, Ko Vincent," katanya lembut. "Tehnya baru dibuat. Saya ambilkan cangkir bersih."

Beberapa menit lalu ia menyuruh ibunya diam. Sekarang ia merapikan rambut, menggeser bantal sofa untuk Vincent, dan menuang teh dengan kedua tangan.

"Terima kasih," ujar Vincent. Tatapannya singgah pada wajah Jessica sedikit lebih lama daripada perlu. "Kamu keluarga Karina?"

"Sepupu. Jessica Sanjaya. Kami dekat dari kecil."

Karina tidak membantah kebohongan kecil itu. Ia hanya duduk kembali di samping Meilani.

Kevin tampaknya menganggap kedatangan anggota keluarga Wijaya sebagai kesempatan baru.

"Kalau soal modal susah," katanya kepada Karina, "pekerjaan juga boleh. Perusahaan sebesar Wijaya Group pasti punya banyak posisi. Masa nggak ada tempat buat aku?"

Vincent mengangkat cangkir, terlihat menikmati pertunjukan.

"Dua ratus juta memang bukan angka besar untuk beberapa orang," katanya santai. "Kalau Karina mau, mungkin dia bisa menyebutnya bantuan keluarga."

Kevin langsung tersenyum seperti mendapat pembela.

Karina tidak terpancing. "Nilai kecil bagi satu orang tetap bisa menjadi seluruh tabungan orang lain. Masalahnya bukan hanya angka."

"Lalu apa?"

"Tanggung jawab. Tante Mei pernah membantu saya tanpa menjadikan bantuannya alat untuk mengatur hidup saya. Saya berterima kasih kepada beliau. Itu tidak berarti setiap anggota keluarganya otomatis berhak mengambil uang yang bahkan bukan milik saya."

Vincent memutar cangkir pelan. "Keluarga Wijaya bertahan dengan saling memberi jalan."

"Memberi jalan berbeda dengan menuntut pintu dibuka."

Senyum Vincent melebar sedikit. "Sebastian pasti senang punya istri yang pandai membedakan keduanya."

Nada kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi Karina menangkap ujian di bawahnya. Vincent ingin tahu seberapa jauh ia dapat memakai nama Sebastian, seberapa besar kuasa yang benar-benar dimilikinya, dan apakah rumah ini sedang terbelah.

Karina tidak memberinya jawaban tambahan.

Karina menatap Kevin. "Kirim CV ke bagian rekrutmen dan ikut proses resmi."

"Kalau harus proses biasa, buat apa punya saudara di dalam?"

"Supaya Anda tidak mempermalukan saudara dengan meminta pekerjaan tanpa menyebut kemampuan."

"Aku bisa belajar. Posisi manajer juga nggak mungkin langsung sulit kalau ada yang ngajarin."

"Anda bahkan belum tahu bidangnya."

Kevin mendengus. "Pokoknya kerja kantor. Gaji yang pantas."

Meilani menutup wajah sebentar. Ketika menurunkan tangan, air mata sudah memenuhi matanya.

"Cukup," katanya. Suaranya rendah tetapi bergetar. "Mama capek sekali. Kalian bilang mau menemani Mama lihat Rina. Dari rumah ternyata cuma mau minta uang dan kerjaan. Jangan bikin malu lagi."

Jessica meletakkan teko sedikit terlalu keras. "Mama nggak usah ikut campur. Ini buat masa depan kami juga. Kalau kami berhasil, Mama ikut enak."

"Mama sudah jual gelang waktu kamu butuh biaya kuliah," kata Meilani. "Papa kalian juga pinjam uang untuk usaha Kevin yang sebelumnya. Berapa kali lagi Mama harus percaya rencana yang bahkan kalian sendiri nggak serius jalankan?"

Herry menunduk. Kalimat tentang pinjaman lama tampaknya mengenai dirinya juga.

Kevin bangkit setengah. "Jangan buka semua di depan orang!"

"Kalian yang mulai bicara uang di rumah orang," jawab Meilani. Satu air mata jatuh ke pipinya. "Mama cuma ingin kalian berhenti membuat semua kebaikan jadi utang yang harus dibayar orang lain."

Jessica memutar mata. "Mama selalu membesar-besarkan."

"Cukup," kata Karina.

Kali ini suaranya membuat semua orang diam.

Ia menyerahkan tisu kepada Meilani, lalu berdiri menghadap kedua sepupunya.

"Tidak ada pinjaman dua ratus juta. Tidak ada posisi titipan. Dan tidak ada pembicaraan jaringan untuk Jessica. Kalau kalian benar-benar ingin bekerja atau membangun usaha, datang lagi dengan dokumen dan sikap yang menghormati Tante Mei."

"Kamu mengusir keluarga sendiri?" tanya Kevin.

"Saya mengakhiri kunjungan yang kalian pakai untuk menekan ibu kalian dan saya."

Jessica melipat tangan. "Mentang-mentang tinggal di rumah Wijaya."

"Rumah ini tidak mengubah jawaban saya. Silakan pulang."

Bi Asih muncul di ambang pintu seolah sudah menunggu kalimat tersebut. Dua petugas keamanan berdiri cukup jauh, tidak mengancam tetapi jelas siap memastikan tamu pergi.

Herry akhirnya bangkit dan memegang bahu istrinya. "Kita pulang dulu."

Meilani menatap Karina dengan malu. "Maaf, Rina. Tante benar-benar nggak tahu."

"Tante Mei nggak perlu minta maaf." Karina menggenggam tangannya. "Perbuatan anak Tante bukan kesalahan Tante. Kue untuk Nathan dan Lucas tetap saya simpan. Datang lagi kapan pun, tapi kalau Tante mau, datang berdua saja sama Om Herry."

Meilani mengangguk sambil menyeka air mata.

Vincent menyaksikan semuanya dari sofa. Alih-alih merasa tidak nyaman, matanya justru tampak tertarik. Saat Jessica berjalan menuju pintu, pandangannya mengikuti.

"Saya juga sebaiknya kembali ke kantor," katanya. "Sebastian bisa ditemui lain kali."

Di area foyer, Jessica sengaja memperlambat langkah sampai orang tuanya lebih dulu keluar.

"Ko Vincent," panggilnya. "Kalau nanti saya mau tanya soal lowongan atau acara keluarga, boleh minta nomor kontak? Biar nggak merepotkan Karina."

Nada suaranya dibuat ringan dan malu-malu.

Vincent mengeluarkan HP. "Boleh. Masukkan nomor kamu."

Jessica mengetik dengan cepat. Senyumnya kembali cerah, sama sekali tidak menyerupai wajah kesal yang ditunjukkannya kepada Meilani.

Karina berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia tidak punya hak melarang dua orang dewasa bertukar nomor, tetapi ada sesuatu pada cara Vincent menatap Jessica yang membuatnya tidak nyaman. Bukan ketertarikan polos. Lebih seperti seseorang menemukan pintu samping yang mungkin berguna.

Setelah Jessica menyusul keluarganya, Vincent berhenti di ambang pintu.

"Sebastian sekarang jarang di rumah, ya?" tanyanya seolah santai.

"Dia bekerja."

"Istrinya nggak kesepian?"

Tatapan Vincent mengandung sesuatu yang tidak cocok disebut perhatian keluarga.

Dada Karina mengencang.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!