Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Laporan Palsu
"Berhenti!"
Teriakan Jarot memantul di dinding gerbang.
Bima tidak lari. Ia justru memasukkan kedua tangan ke saku celana dan menunggu rombongan itu mendekat.
Di samping Jarot berjalan seorang polisi perempuan dengan seragam rapi dan pangkat Inspektur Polisi Dua di bahunya. Rambutnya diikat tanpa sehelai pun terlepas. Tiga anggota polisi mengikuti beberapa langkah di belakang.
Tatapan perwira itu bergerak dari Bima ke Anindya, lalu berhenti pada Doni yang tampak ingin menghilang di balik pohon.
"Bima Prawira?" tanyanya.
"Kalau yang dicari pria tampan berkemeja putih, benar."
Salah satu anggota polisi mengerutkan dahi. Jarot langsung menyela.
"Lihat, Bu Iptu? Dia memang kurang ajar. Dari tadi saya bilang orang ini berbahaya."
Polisi perempuan itu tidak ikut terpancing. "Saya Iptu Kirana Wirasena dari Polsek Danau Utara. Kami menerima laporan tentang beberapa kehilangan barang milik petugas dan penghuni kompleks. Nama Anda disebut sebagai orang yang memiliki akses dan perilaku mencurigakan."
Anindya maju setengah langkah. "Laporan dari siapa?"
"Saya pelapornya," jawab Jarot cepat. "Sebagai koordinator, saya bertanggung jawab melindungi penghuni. Sejak dia masuk kerja, barang mulai hilang."
Kirana membuka catatan di ponsel dinas. "Laporan awal menyebut uang tunai milik petugas, satu jam tangan, dan sebuah kalung emas. Kehilangan terjadi pada waktu berbeda selama dua minggu. Apakah setiap kejadian sudah ditulis dalam buku insiden?"
Jarot berkedip. "Sebagian, Bu Iptu. Penghuni nggak mau repot bikin laporan."
"Nama pemilik dan waktu terakhir melihat barang?"
"Ada di daftar yang saya kirim."
"Daftarnya tidak lengkap. Besok Anda wajib menghadirkan pemilik barang untuk keterangan. Penemuan barang tanpa pemilik yang bisa mengidentifikasi tidak otomatis membuktikan pencurian."
Nada Kirana tetap datar, tetapi keringat mulai muncul di pelipis Jarot.
Bima memperhatikan tanpa komentar. Laporan palsu itu dibangun dari barang-barang yang sulit dilacak: uang tunai tanpa nomor seri, jam tangan generik, dan hanya satu benda yang mungkin bisa diklaim dengan yakin. Jarot tidak sedang mencari kebenaran. Ia sedang menyiapkan satu penemuan dramatis.
Doni tak tahan. "Itu bohong!"
"Diam!" bentak Jarot. "Kamu bawahannya, pasti membela."
"Saya bukan bawahannya. Kami satu tim."
Kirana mengangkat tangan. Semua suara berhenti.
"Saya akan mendengar satu per satu. Pak Bima, apakah benar Anda baru diberhentikan setelah terlibat perkelahian dengan koordinator?"
"Saya ditampar lebih dulu, kemudian diserang dari belakang. Ada saksi dan foto catatan shift yang dirusak. Soal pemberhentian belum melalui pengelola atau perusahaan penyedia tenaga kerja."
Bima menunjukkan foto halaman jadwal. Kirana memeriksanya tanpa mengambil ponsel.
"Itu perkara terpisah. Malam ini kami datang karena laporan kehilangan."
"Barang apa yang hilang?"
Jarot hendak menjawab, tetapi Kirana menatapnya lebih dulu. "Pelapor sudah menyerahkan daftar awal. Rinciannya akan kami cocokkan bila ditemukan barang terkait."
Bima melihat sekilas wajah Jarot. Ada kegembiraan kecil yang terlalu cepat muncul di sana.
Jadi memang ada sesuatu yang sudah disiapkan.
"Anda punya surat penggeledahan?" tanya Bima.
Kirana menjawab tenang. "Belum. Saya meminta persetujuan Anda untuk pemeriksaan kamar asrama bersama saksi. Anda berhak menolak. Jika menolak, kami akan menindaklanjuti permohonan sesuai prosedur berdasarkan laporan dan bukti awal yang ada."
Jawaban itu profesional. Tidak ada ancaman kosong atau upaya memakai jabatan untuk menakut-nakuti.
Bima sedikit mengubah penilaiannya terhadap perempuan tersebut.
"Kalau saya setuju, semua penghuni kamar hadir sebagai saksi. Proses direkam. Barang yang ditemukan tidak disentuh sebelum difoto posisinya."
"Disetujui," kata Kirana.
Jarot terlihat gelisah. "Bu Iptu, buat apa banyak syarat? Kamarnya milik perusahaan. Kita tinggal masuk."
Kirana menoleh kepadanya. "Karena saya tidak bekerja berdasarkan keinginan Anda, Pak Jarot."
Doni menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
Anindya mendekati Bima. "Kamu yakin? Kalau ada orang yang masuk lebih dulu..."
"Justru karena itu kita lihat bersama."
"Aku ikut."
"Kak Anin bisa menunggu di lobi."
"Tidak. Semalam kamu mendampingiku sampai urusan polisi selesai. Malam ini giliranku."
Bima menatapnya sesaat, lalu mengangguk.
Kirana menangkap pertukaran itu. "Ibu saksi kejadian perampokan semalam?"
"Anindya Kusuma," jawab Anindya. "Bima menyelamatkan saya dari dua pria bersenjata. Laporannya dibuat di Polsek Anda."
Salah satu anggota polisi berbisik kepada Kirana. Perwira itu tampaknya mengenali laporan yang dimaksud.
"Kemampuan bertarung bukan bukti seseorang tidak mencuri," kata Kirana.
"Benar," jawab Bima. "Tapi laporan orang yang baru kehilangan gigi setelah menyerang saya juga bukan bukti saya mencuri."
Wajah Jarot memerah. "Kurang ajar!"
Ia maju, tetapi berhenti ketika Bima hanya memiringkan kepala.
Bima mendekat seolah hendak melewatinya. Saat bahu mereka sejajar, ia berbisik cukup pelan agar hanya Jarot yang mendengar.
"Begitu polisi pulang, kau kucari."
Tubuh Jarot menegang.
"Kenapa pucat?" tanya Bima dengan suara normal. "Saya cuma lewat."
"Dia mengancam saya!" Jarot menunjuk dengan tangan gemetar. "Bu Iptu, dia barusan mengancam!"
Kirana menatap Bima. "Apa yang Anda katakan?"
"Saya bilang setelah urusan polisi selesai, saya akan mencari dia untuk membicarakan gaji dan surat pemberhentian."
Itu tidak sepenuhnya bohong. Hanya intonasinya yang tidak ikut dilaporkan.
"Semua pihak jaga jarak," tegas Kirana. "Tidak ada kontak fisik, tidak ada ancaman, dan tidak ada yang masuk kamar sebelum saya."
"Siap, Bu Iptu," jawab Bima.
Kirana meliriknya tajam. "Sekarang baru ingat cara bicara kepada petugas?"
"Sejak awal ingat. Saya hanya ingin memastikan Bu Iptu tidak terlalu tegang."
Anggota polisi yang tadi mengerutkan dahi maju satu langkah. "Jaga ucapan Anda."
"Cukup," kata Kirana. Namun ada kilatan jengkel bercampur penasaran di matanya. Orang yang merasa bersalah biasanya mencari alasan untuk menunda. Bima justru menetapkan tata cara pemeriksaan dan berjalan lebih dulu.
Rombongan memasuki kompleks.
Kirana memerintahkan satu anggota merekam perjalanan sejak gerbang. Anggota kedua diminta mencatat nama setiap orang yang akan masuk asrama, sedangkan anggota ketiga menjaga pintu agar tidak ada yang keluar-masuk selama pemeriksaan.
"Pak Jarot, Anda sebagai pelapor tidak boleh menyentuh lemari, kasur, atau barang apa pun," katanya. "Anda hanya menunjukkan area yang menurut Anda relevan."
"Baik, Bu Iptu."
Jawaban Jarot cepat, tetapi rahangnya mengeras. Ia membawa polisi untuk memberi bobot pada permainannya. Kini prosedur yang sama justru mempersempit ruangnya bergerak.
Doni bergegas ke asrama untuk memanggil empat penghuni kamar lainnya, tetapi Kirana menyuruhnya tetap dalam pandangan petugas agar tidak ada kesempatan mengubah keadaan di dalam.
Jarak dari gerbang ke bekas garasi hanya dua ratus meter. Malam itu terasa lebih panjang. Jarot berjalan di dekat polisi, sesekali menyentuh saku celananya. Anindya tetap di sisi Bima.
"Kalau mereka menemukan sesuatu?" bisiknya.
"Berarti kita akan tahu seberapa jauh Jarot berani bermain."
"Kamu terlalu tenang."
Bima memandang pintu asrama yang mulai terlihat.
"Orang yang menanam bukti selalu merasa sudah menang sebelum bukti itu ditemukan."
Di belakang mereka, Jarot tersenyum.
Ia memang sudah merasa menang.