Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Dua Musuh, Satu Barisan
“Semua orang akhirnya akan melihat siapa yang berdiri di sisi Arka.”
Amara mengucapkan kalimat itu cukup keras agar tiga sosialita di dekatnya mendengar. Ia berdiri di ruang utama sebuah pameran privat di Pondok Indah, mengenakan gaun krem dan senyum yang sudah dilatih untuk kamera.
Di sampingnya, Tiara Sundari mengangkat gelas tanpa ikut tersenyum. “Kalau maksudmu pernikahan, bukankah seharusnya ada tanggal lebih dulu?”
Amara menahan kekesalan. “Keluarga sedang memilih waktu terbaik.”
“Tentu.”
Tiara adalah teman lama keluarga Adiwijaya, perempuan yang mengenal Arka sejak sebelum Amara masuk ke lingkaran mereka. Ia juga istri Hadi Prawira, seorang pengusaha yang lebih sering berada di luar kota daripada mendampinginya ke acara sosial. Pernikahan itu tidak mencegah Tiara memperlakukan setiap ruangan sebagai panggung yang harus berpusat padanya.
“Arka memang tidak suka urusan pribadi dibicarakan media,” lanjut Amara. “Tapi Ibu Ratna sudah lama menyukai saya.”
Beberapa tamu mengangguk sopan. Tiara hanya memandang lukisan di depan mereka, seolah sedang menilai apakah kebohongan Amara cukup indah untuk dipajang.
Pintu galeri terbuka sekali lagi.
Anindya masuk bersama Sisi.
Beberapa menit sebelumnya, Sisi sudah memperingatkan bahwa Amara berada di ruang utama dan sedang memperkenalkan diri sebagai calon anggota keluarga Adiwijaya. Anindya bisa memakai pintu staf, menyelesaikan urusan sponsor di kantor kurator, lalu pergi tanpa bertemu siapa pun.
Ia memilih pintu utama.
“Nama lengkap Anda tercetak di daftar tamu,” kata Sisi sebelum mereka masuk. “Tidak ada cara bagi Amara untuk berpura-pura tidak mengenali Anda.”
“Bagus. Saya tidak datang sebagai orang lain.”
Yang ia lindungi bukan keberadaannya, melainkan batas antara pekerjaan yang diketahui publik dan kekuasaan Klub Enggar yang belum waktunya dibuka. Menghindari Amara hanya akan membuat batas itu terlihat seperti ketakutan.
Ia hadir sebagai perwakilan mitra Klub Enggar yang mendanai program restorasi karya perempuan muda. Namanya tidak disembunyikan. Para tamu yang mengikuti berita penerbangan mengenalnya sebagai kopilot Adiwijaya yang terluka dalam operasi Merapi. Yang tidak mereka ketahui adalah alasan kurator utama sendiri turun menyambutnya.
Amara langsung melihat detail itu.
“Jadi benar,” bisiknya.
“Apa?” tanya Tiara.
“Dia bukan cuma hadir di malam amal. Dia punya hubungan dengan Klub Enggar.”
Tiara mengikuti arah pandangnya. “Anindya? Mantan istri siri Arka yang kamu ceritakan?”
“Jangan menyebutnya seperti dia penting.”
“Kalau tidak penting, kenapa kamu menggenggam tasmu seperti itu?”
Amara melonggarkan jarinya.
Anindya telah melihat mereka, tetapi tidak mengubah langkah. Setelah menyelesaikan pembicaraan singkat dengan kurator, ia berhenti di depan instalasi tekstil berwarna merah tanah. Karya itu dibuat dari potongan kain milik para ibu yang kehilangan rumah akibat bencana.
Amara mendekat lebih dulu.
“Kak Anindya. Dunia rupanya sempit sekali.”
Sapaan kak terdengar manis bagi orang lain. Anindya tahu ada pisau di baliknya.
“Selamat sore, Amara.”
“Kamu sekarang sering sekali datang ke acara Klub Enggar. Jadwal terbangmu tidak sibuk?”
“Jadwal saya memenuhi batas tugas dan istirahat.”
“Oh, tentu. Saya hanya heran seorang kopilot bisa menjadi tamu penting di begitu banyak tempat.”
Tiara maju setengah langkah. “Kita belum berkenalan. Tiara Sundari.”
“Anindya.”
“Saya tahu.” Mata Tiara bergerak dari gaun Anindya ke Sisi. “Yang belum saya tahu, Anda datang dari keluarga mana. Lingkaran Jakarta biasanya tidak berubah secepat ini.”
“Mungkin karena Anda terlalu sibuk melihat nama keluarga, bukan pekerjaannya.”
Tiara tertawa pendek. “Jawaban yang rapi.”
“Pertanyaannya mudah.”
Dua tamu di dekat mereka menoleh. Amara segera menyelipkan senyum.
“Tiara hanya penasaran. Tidak semua orang bisa mendapatkan perlakuan khusus dari Klub Enggar.”
“Saya datang untuk program restorasi.”
“Dengan wewenang apa?”
“Wewenang yang sudah diperiksa oleh penyelenggara.”
Amara menunggu penjelasan lebih panjang, tetapi Anindya tidak memberikannya.
Tiara lalu menatap instalasi tekstil. “Karya seperti ini sekarang mudah sekali disebut seni. Tumpukan kain lama, lalu diberi cerita tentang perempuan.”
Tangannya terangkat hendak menyentuh salah satu bagian yang tergantung.
“Jangan disentuh,” kata Anindya.
Tiara menahan tangannya di udara.
Anindya menunjuk tanda kecil di lantai. “Seratnya belum diberi lapisan pelindung. Minyak dari kulit bisa merusak pewarna alam.”
Amara mendengus. “Kamu bicara seperti kurator.”
“Saya membaca katalog sebelum datang.”
Beberapa tamu menahan senyum. Di dinding sebelah, petunjuk untuk tidak menyentuh karya tercetak jelas.
Amara mencoba merebut kendali. “Tiara hanya ingin melihat detail. Tidak perlu menggurui. Lagipula, kakakku memang suka mencari perhatian lewat aturan.”
Anindya menoleh kepadanya. “Aturan melindungi sesuatu yang tidak bisa diganti. Bukankah bulan lalu kamu juga sudah meminta maaf setelah memegang koleksi keramik di acara lelang?”
Wajah Amara membeku.
Peristiwa itu sempat muncul di unggahan penyelenggara sebelum dihapus. Amara mengira tak seorang pun akan mengingatnya.
“Saya yakin kali ini kamu tidak ingin membuat panitia menulis permintaan maaf kedua,” lanjut Anindya tenang.
Kurator yang baru mendekat mendengar bagian terakhir. “Terima kasih sudah mengingatkan. Karya ini memang sangat rapuh.”
Ia lalu beralih kepada Anindya dan meminta pendapat tentang penempatan cahaya. Percakapan berpindah ke teknik konservasi, meninggalkan Amara tanpa ruang untuk membalas selain tersenyum di depan para tamu.
Tiara tidak ikut campur. Ia mengamati Anindya menjelaskan sudut cahaya tanpa berusaha menonjolkan diri. Perempuan itu tidak menang dengan suara keras. Ia membuat lawan terlihat bodoh memakai fakta yang sudah tersedia.
“Kamu benar,” ujar Tiara setelah mereka menjauh. “Dia tidak sederhana.”
“Dia hanya pandai berpura-pura.”
“Itu tetap kemampuan.”
Menjelang pameran berakhir, Sisi menemui Anindya di koridor menuju ruang administrasi.
“Dua orang suruhan Amara bertanya kepada staf tentang status Anda di Klub Enggar,” lapornya. “Mereka juga mencoba meminta daftar undangan malam amal.”
“Ada yang memberi?”
“Tidak. Data tamu dan sponsor tetap terkunci. Saya sudah mengubah akses berkas internal menjadi persetujuan dua tingkat.”
Anindya mengangguk. “Jangan hentikan pertanyaan mereka terlalu terang-terangan. Catat siapa yang datang, apa yang diminta, dan jalur mana yang mereka pakai.”
“Kita biarkan mereka merasa sedang maju?”
“Selama yang mereka temukan hanya pintu yang kita pilih.”
Di ruang utama, Amara memandangi punggung Anindya hingga menghilang di balik pintu staf. Malu karena teguran tadi telah berubah menjadi keyakinan yang lebih gelap. Perempuan yang pernah ia anggap bisa dibuang itu kini dilindungi kurator, staf klub, dan aturan yang tak bisa ia tembus.
Tiara berdiri di sebelahnya. “Kalau ingin menjatuhkannya, jangan menyerang di bidang yang dia kuasai.”
Amara menoleh. “Kamu mau membantu?”
“Saya tidak suka orang baru mengambil pusat perhatian tanpa menjelaskan dari mana kekuasaannya berasal.”
Itu bukan persahabatan. Hanya dua kepentingan yang kebetulan menghadap sasaran sama.
Amara kembali menatap pintu staf dan berkata pelan, “Cari tahu apa yang dia sembunyikan. Semuanya.”