Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Batu Roh yang Membisu
Matahari mulai condong ke ufuk barat, memancarkan semburat jingga yang menyinari pelataran puncak Gunung Daun Angin. Dari ribuan peserta yang memulai pendakian di kaki gunung, kurang dari dua ratus orang yang berhasil menapakkan kaki di alun-alun sekte. Sisanya menyerah, pingsan, atau harus digotong turun oleh para penjaga.
Awan berdiri di barisan paling belakang. Ia menolak untuk duduk meski betisnya terasa seperti diremukkan. Ia memanfaatkan setiap tarikan napas untuk memulihkan asam laktat yang menumpuk di ototnya, mempraktikkan ritme pernapasan yang selalu ia gunakan sehabis mengayunkan pedang sepuluh ribu kali.
Di depannya, para tuan muda dari berbagai klan sibuk merapikan jubah sutra mereka dan memakan berbagai pil pemulih stamina.
Pemuda arogan berkipas lipat yang sebelumnya mengejek Awan—bernama Zhao Meng—menatap Awan dengan raut wajah tidak senang. Ia merasa terhina karena seorang gembel berpakaian linen compang-camping berhasil menyelesaikan ujian yang sama dengannya, tanpa setetes pun Qi Spiritual.
"Kalian yang berdiri di sini telah membuktikan bahwa kalian memiliki tekad yang cukup," suara Penatua Kuang bergema, seketika membungkam bisik-bisik di pelataran.
Ia melangkah maju. Dengan lambaian tangannya, udara berdesir dan sebuah pilar batu hitam pekat setinggi dua meter muncul dari dalam cincin penyimpanannya, mendarat dengan suara debuman keras di tengah alun-alun.
"Namun, tekad saja tidak cukup untuk melangkah di jalan keabadian. Tahap kedua adalah Ujian Fondasi Roh! Letakkan tangan kalian di Batu Pengukur ini. Batu ini akan menilai lebar meridian dan afinitas elemen kalian," jelas Penatua Kuang. "Hasilnya akan menentukan apakah kalian layak menjadi Murid Luar, atau memiliki bakat langka untuk langsung diangkat menjadi Murid Dalam."
Antrean pun dimulai. Jantung para kandidat berdebar kencang. Ini adalah penentuan nasib yang sesungguhnya.
"Wang Lei... Meridian Kelas Tiga. Afinitas Tanah. Lulus! Masuk ke barisan Murid Luar."
"Lin Xia... Meridian Kelas Dua. Afinitas Air. Lulus! Masuk ke barisan Murid Luar."
Satu per satu kandidat maju. Batu hitam itu akan memancarkan cahaya redup dengan warna yang berbeda-beda, menunjukkan tingkat bakat mereka. Semakin terang cahayanya, semakin lebar meridiannya.
Tiba giliran Zhao Meng. Sambil mengibaskan kipasnya dengan gaya angkuh, ia menempelkan telapak tangannya ke pilar batu.
WUNG!
Batu hitam itu seketika memancarkan cahaya hijau yang sangat menyilaukan, membuat beberapa orang harus menyipitkan mata. Garis-garis energi merambat naik hingga ke pertengahan pilar.
Mata Penatua Kuang sedikit melebar, mengangguk puas. "Zhao Meng... Meridian Kelas Lima! Afinitas Angin Tingkat Tinggi! Sangat bagus! Kau langsung diterima sebagai Murid Dalam!"
Kerumunan seketika meledak dalam kekaguman dan rasa iri. Meridian Kelas Lima adalah bakat yang hanya muncul satu kali dalam beberapa tahun di wilayah pinggiran ini. Zhao Meng tersenyum bangga, menatap remeh ke arah barisan belakang sebelum berjalan menuju area khusus Murid Dalam.
Akhirnya, tibalah giliran peserta terakhir.
Semua mata kini tertuju pada pemuda berpakaian linen kasar yang sepatunya masih meninggalkan bercak darah. Awan melangkah maju dengan tenang. Wajahnya tidak menunjukkan rasa gugup, meski ia tahu persis apa yang ada di dalam tubuhnya.
"Cepatlah, jangan buang waktu Penatua," dengus seorang penguji dari kalangan murid senior yang berdiri di dekat batu.
Awan tidak menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya yang dipenuhi kapalan tebal dan bekas luka sayatan, lalu menempelkannya ke permukaan batu yang dingin.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hening. Batu hitam itu sama sekali tidak bereaksi. Tidak ada cahaya sekecil apa pun, apalagi warna elemen. Batu itu tampak seperti bongkahan batu bata biasa yang mati.
Murid senior yang bertugas mengawasi mengerutkan kening. Ia memukul batu itu pelan, mengira ada kerusakan. Namun batu itu baik-baik saja.
"Tidak ada reaksi..." murid senior itu menatap Awan dengan jijik. "Meridian yang tersumbat total. Tubuh fana murni tanpa setitik pun afinitas spiritual! Bagaimana kau bisa lolos ujian pertama?!"
Ledakan tawa seketika pecah dari barisan para kandidat.
"Hahaha! Sudah kuduga! Dia cuma kuli panggul yang kebetulan punya tenaga lebih!" teriak salah seorang pengikut Zhao Meng.
"Percuma memanjat Tangga Seribu Beban sampai kakinya hancur, pada akhirnya sampah tetaplah sampah!"
"Pergilah," usir murid senior itu, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Sekte Daun Angin bukan tempat penitipan orang cacat. Kau tidak lulus."
Awan tidak bergeser dari tempatnya. Tangannya perlahan turun dari batu hitam itu, lalu menatap lurus ke arah Penatua Kuang yang berdiri di atas undakan.
"Penatua Kuang yang terhormat," suara Awan terdengar tenang, cukup keras untuk memotong suara tawa di alun-alun. "Saat di kaki gunung, Anda mengatakan: Hanya mereka yang bisa mencapai puncak sebelum matahari terbenam yang berhak menjadi murid pelayan dan murid luar. Tidak ada pengecualian tentang wajib lulus Ujian Fondasi Roh."
Murid senior itu melotot marah. "Bocah kurang ajar! Beraninya kau membantah!" Ia mengangkat tangannya, bersiap menampar Awan dengan Qi-nya.
"Tahan," sebuah suara berat menghentikan gerakan murid senior itu. Penatua Kuang melangkah turun perlahan, matanya yang tajam menatap Awan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ada keheningan panjang yang menegangkan. Penatua Kuang menatap mata Awan, mencari celah ketakutan atau keputusasaan. Namun yang ia temukan hanyalah jurang ketenangan yang dalam; ketenangan milik seseorang yang sudah menerima penderitaannya sendiri.
"Bocah," kata Penatua Kuang pelan. "Hukum dunia kultivasi tidak pernah adil. Tanpa meridian yang terbuka, kau tidak akan bisa menyerap Qi. Kau tidak akan bisa berlatih satu pun teknik sekte kami. Umurmu akan berhenti di seratus tahun, dan kau akan menua sementara teman-temanmu tetap muda. Mengapa kau memaksakan diri?"
"Karena saya belum mencoba menembus batas saya," jawab Awan lugas. "Jika pintunya tertutup, saya akan menggunakan tangan kosong untuk mendobraknya."
Penatua Kuang tertegun sejenak. Sudah ratusan tahun ia hidup, dan belum pernah ia melihat seorang fana dengan ambisi segila ini.
"Kau benar. Aku memang mengatakan siapa pun yang mencapai puncak akan diterima," Penatua Kuang membalikkan badannya. "Namun, Sekte Daun Angin tidak akan membuang sumber daya sedikit pun untuk orang tanpa bakat. Aku menerimamu sebagai Murid Pelayan."
Murid Pelayan. Kasta paling rendah di sekte. Mereka tidak diberikan jatah Pil Spiritual, tidak diajarkan teknik sekte, dan tugas harian mereka hanyalah memotong kayu, menimba air, dan membersihkan kotoran binatang spiritual. Mereka tak lebih dari budak sekte.
"Tugasmu mulai besok adalah membelah sepuluh ribu batang kayu bakar di Dapur Selatan setiap harinya. Jika kau gagal, kau tidak mendapat makan. Apakah kau bersedia menerimanya?" tanya Penatua Kuang tanpa menoleh.
Alih-alih merasa terhina, seulas senyum tipis—untuk pertama kalinya—terukir di sudut bibir Awan.
Membelah sepuluh ribu batang kayu bakar?
Itu bukanlah hukuman. Bagi Awan, itu hanyalah sesi latihan pedang dengan target yang berbeda.
Awan menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk dalam.
"Murid Awan, menerima perintah Penatua."