Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Pertama Mulai Menyebar
Bab 2
Hari-hari berlalu dengan perubahan yang semakin terasa setiap harinya. Kehadiran Vanessa perlahan lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga ini. Di mana pun aku melihat wajahnya selalu ada di sana tersenyum manis berbicara dengan suara lembut yang selalu membuat orang lain merasa nyaman mendengarkannya. Semua orang semakin terbiasa dengan keberadaannya seolah olah dia memang anak kandung yang lahir di rumah ini sejak dulu sementara aku yang sebenarnya anak kandung perlahan lahan mulai terasa seperti tamu yang tidak diundang.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjadi diriku sendiri dan berharap bahwa lama kelamaan mereka semua akan menyadari siapa yang sebenarnya tulus dan siapa yang hanya berpura pura. Namun setiap kali aku mencoba mendekat atau berbicara hal hal yang tidak disukai Vanessa seketika berubah menjadi sesuatu yang salah yang datang dari diriku saja. Ia memiliki cara yang sangat halus untuk memutarbalikkan keadaan sehingga seolah olah setiap kesalahan yang terjadi selalu bermula dari aku dan setiap kebaikan yang terjadi selalu datang dari dirinya.
Suatu pagi Ibu pergi ke pasar membeli beberapa barang kebutuhan dan berpesan kepada kami berdua untuk menjaga rumah dengan baik dan tidak bertengkar satu sama lain. Sebelum berangkat Ibu juga menaruh sebuah kalung emas yang sangat berharga di atas meja rias kamar utama karena kalung itu sempat lepas dari lehernya saat ia berganti pakaian. Kalung itu adalah pemberian pertama yang pernah diberikan Ayah kepada Ibu saat mereka baru saja menikah dan nilainya tidak tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Ibu berpesan agar salah satu dari kami menyimpannya kembali ke dalam kotak perhiasan sebelum ia pulang dan Vanessa dengan sigap langsung menjawab dengan suara yang penuh kesetiaan bahwa ia yang akan melakukannya dengan sangat hati hati.
Beberapa jam kemudian saat Ibu pulang ke rumah hal yang tidak terduga terjadi. Kalung emas itu tidak ada di dalam kotak perhiasan di mana Vanessa berjanji akan menyimpannya. Ibu mencarinya ke mana mana dengan wajah yang mulai tampak cemas dan bingung sementara Vanessa berdiri di sudut ruangan dengan mata yang berkaca kaca seolah olah ia sedang menahan rasa sedih yang luar biasa. Saat ditanya di mana kalung itu Vanessa langsung menunduk dalam dan berkata dengan suara yang bergetar bahwa ia melihat aku masuk ke kamar utama pagi tadi dan tinggal sendirian di sana cukup lama sebelum keluar dengan tergesa gesa seolah olah takut ketahuan.
Aku terkejut setengah mati mendengar tuduhan itu dan segera membela diri dengan sekuat tenaga. Aku berkata bahwa memang benar aku sempat masuk ke kamar utama hanya untuk mengambil buku yang tertinggal di sana dan aku tidak menyentuh satu benda pun di atas meja rias itu. Aku juga berkata bahwa justru aku melihat Vanessa sendiri yang masuk ke kamar itu setelah aku pergi dan menutup pintu dengan sangat rapat seolah olah ia tidak ingin ada orang yang melihat apa yang sedang dilakukannya di dalam sana. Namun kata kataku seketika itu juga dianggap sebagai alasan yang dibuat buat untuk menutupi kesalahanku sendiri.
Ayah yang baru saja pulang bekerja ikut datang ke kamar utama dan setelah mendengar penjelasan Vanessa yang penuh air mata serta penjelasanku yang tergesa gesa ia langsung menatapku dengan wajah yang sangat serius dan kecewa. Ia berkata bahwa Vanessa tidak memiliki alasan apa pun untuk berbohong karena semua hal yang ada di rumah ini juga sudah menjadi miliknya dan ia tidak perlu mengambil apa pun secara diam diam. Sebaliknya Ayah berkata bahwa mungkin saja aku merasa cemburu dan ingin memiliki sesuatu yang sangat berharga yang selama ini hanya milik Ibu. Mendengar kata kata itu hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum yang tajam bagaimana mungkin Ayah bisa berpikir bahwa aku yang selama ini diberi segalanya tiba tiba menjadi orang yang mengambil barang milik ibuku sendiri?
Aku berusaha menjelaskan lebih lanjut namun setiap kali aku berbicara Vanessa akan mengeluarkan suara isak tangis yang semakin keras seolah olah ia merasa sangat bersalah karena telah memberitahu kebenaran dan seolah olah aku sedang memarahinya karena ia berani jujur. Hal itu membuat Ayah dan Ibu semakin merasa kasihan kepadanya dan semakin merasa bahwa aku adalah anak yang tidak tahu berterima kasih dan tidak bisa menerima kehadiran saudara baruku dengan baik. Mereka tidak membiarkanku membuktikan apa pun tidak membiarkanku mencari kebenaran lebih lanjut dan bahkan tidak mau mendengarkan sampai kalimat terakhir dari setiap kata yang keluar dari mulutku.
Siang itu juga kalung itu ternyata ditemukan di dalam laci meja belajar di kamarku sendiri. Vanessa yang dengan sengaja menawarkan diri untuk membantu mencari barang itu yang menemukannya di sana dengan wajah yang seolah olah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia bahkan berkata mungkin saja kalung itu terjatuh dan terbawa ke kamarku tanpa sengaja supaya aku tidak terlalu dimarahi oleh Ayah dan Ibu. Kata kata itu justru membuatnya terlihat semakin baik dan mulia sementara aku terlihat semakin bersalah seolah olah ia sedang berusaha menutupi kejahatanku dengan kebaikannya yang besar.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kalung itu bisa sampai ke dalam laciku tidak ada yang bertanya siapa yang terakhir berada di kamar itu tidak ada yang bertanya mengapa aku harus menyembunyikan sesuatu yang bisa aku minta dengan baik hati jika memang aku menginginkannya. Semua pertanyaan yang seharusnya mereka tanyakan pada diri sendiri tidak pernah muncul karena hati mereka sudah tertutup oleh rasa percaya yang buta kepada gadis yang baru saja mereka kenal beberapa bulan ini sementara rasa percaya kepada anak kandung yang telah mereka besarkan selama bertahun tahun perlahan lahan mulai hilang seolah olah tidak pernah ada sama sekali.
Malam itu saat semua orang sedang duduk bersama di ruang makan menikmati hidangan yang disiapkan untuk makan malam aku tidak dipanggil untuk ikut makan bersama mereka. Tidak ada yang datang memanggilku tidak ada yang menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Aku duduk sendirian di tepi tempat tidurku dengan perasaan yang hancur berkeping kepingan sambil memegang buku catatan kecil yang baru saja aku beli dari uang sakuku. Aku menyadari bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan mereka selama hati mereka sudah tertutup rapat oleh pengaruh kebohongan Vanessa. Aku harus menyimpan setiap kejadian setiap kata setiap waktu di mana hal hal buruk itu terjadi supaya suatu hari nanti saat waktunya tiba aku bisa menunjukkan semuanya sekaligus tanpa perlu diperdebatkan lagi.
Aku mulai menulis di halaman pertama buku catatan itu dengan tangan yang sedikit gemetar namun tekad yang semakin kuat dari sebelumnya. Aku menuliskan tanggal kejadian itu waktu di mana Ibu berangkat ke pasar pesan yang disampaikan kalung emas yang ditinggalkan siapa yang berjanji menyimpannya siapa yang terakhir berada di kamar utama sebelum kalung itu hilang dan di mana kalung itu akhirnya ditemukan serta siapa yang menemukannya. Aku menuliskan setiap hal sekecil apa pun yang terasa aneh atau tidak wajar karena aku tahu bahwa hal hal kecil yang sering diabaikan itulah yang nantinya akan menjadi bukti terbesar dari segala sesuatu yang sedang direncanakan secara tersembunyi.
Beberapa hari setelah kejadian itu suasana di rumah berubah sepenuhnya. Setiap kali ada sesuatu yang hilang atau rusak di dalam rumah semua mata langsung tertuju kepadaku seolah olah aku adalah orang yang pasti melakukannya tanpa perlu diselidiki lebih dulu. Jika ada piring yang pecah di dapur maka aku yang diduga melakukannya. Jika ada bunga yang dipatahkan di taman maka aku yang diduga melakukannya. Jika ada pesan yang tertulis di dinding yang menyinggung perasaan seseorang maka aku yang diduga melakukannya. Dan setiap kali tuduhan itu datang Vanessa selalu ada di sana dengan wajah yang lembut berkata mungkin saja Maya tidak bermaksud begitu mungkin saja dia hanya tidak sengaja seolah olah dia adalah satu satunya orang yang membelaku padahal justru kata kata itulah yang semakin memperkuat keyakinan mereka bahwa aku memang orang yang bersalah dan Vanessa adalah orang yang baik hati yang selalu memaafkan kesalahanku.
Aku menyadari bahwa ini adalah pola yang terus berulang dengan cara yang sama persis setiap waktunya. Vanessa melakukan sesuatu yang buruk lalu ia membuat seolah olah aku yang melakukannya lalu ia tampil sebagai orang yang baik yang memaafkan sehingga ia terlihat semakin mulia sementara aku terlihat semakin buruk di mata mereka semua. Ia tidak pernah berteriak tidak pernah memarahi tidak pernah menuduh secara langsung namun setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dan jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pukulan yang keras.
Suatu sore Kakak Arka yang dulunya adalah kakak yang paling dekat denganku datang menghampiriku saat aku sedang duduk sendirian di beranda belakang. Ia berdiri agak jauh dariku seolah olah takut terkena sesuatu yang buruk jika berdiri terlalu dekat. Ia berkata dengan suara yang terdengar berat dan penuh kekecewaan mengapa kau selalu saja membuat masalah Maya? Vanessa sudah begitu baik kepadamu ia selalu membelamu di depan Ayah dan Ibu setiap kali kau dituduh namun kau tidak pernah berhenti menyakitinya. Ia tidak memiliki siapa pun di dunia ini selain kami mengapa kau tidak bisa membiarkannya hidup tenang bersama kami?
Kata kata Kakak Arka terasa lebih menyakitkan daripada semua tuduhan yang pernah diucapkan oleh siapa pun lainnya. Aku menatap matanya yang dulunya penuh tawa dan kehangatan kini penuh dengan kekecewaan yang ditujukan kepadaku. Aku ingin berteriak aku ingin berkata bahwa Vanessa lah yang terus menciptakan masalah itu semua bukan aku aku yang tidak pernah berhenti menyakiti dia tapi dia yang tidak pernah berhenti menyakitiku. Namun aku menahan kata kata itu di dalam tenggorokanku karena aku tahu bahwa Kakak Arka belum siap mendengarkan kebenaran itu. Hati nya sudah diisi oleh kata kata manis Vanessa sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk mendengarkan penjelasanku. Aku hanya menatapnya dengan mata yang menahan air mata dan berkata pelan Kakak Arka percayalah suatu hari nanti kau akan tahu siapa yang sebenarnya menyakiti siapa.
Kakak Arka menghela napas panjang seolah olah ia sudah lelah berdebat denganku lalu berbalik dan pergi meninggalkanku sendirian di tempat yang sama persis seperti yang selalu terjadi setiap saat. Saat ia pergi aku segera mengeluarkan buku catatanku dan menuliskan percakapan itu serta tatapan yang diberikan kakakku sendiri kepadaku. Setiap hal yang terjadi semakin memperkuat tekadku untuk tidak menyerah. Semakin banyak mereka menjauh semakin rajin aku mencatat semakin banyak mereka membenci semakin sabar aku menunggu. Karena aku tahu bahwa semakin lama ia berpura pura semakin banyak kesalahan yang akan ia buat pada akhirnya dan tidak ada satu pun kebohongan yang bisa tersembunyi selamanya di bawah sinar matahari.
Vanessa pasti menyadari bahwa ia semakin mendekati tujuannya namun ia belum menyadari bahwa ia juga semakin mendekati hari di mana semua topeng yang ia pakai akan jatuh ke tanah dengan sendirinya. Hari itu belum tiba tapi hari itu pasti akan datang dan saat hari itu tiba aku akan berdiri di hadapan mereka semua dengan buku catatan ini di tanganku dan tidak ada satu kebohongan pun yang bisa bertahan di hadapan kebenaran yang telah tertulis satu per satu dengan darah dan air mata kesabaran ini.
Bersambung...