Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 — Anak Angkat yang Rakus
Macan belang itu jatuh tanpa sempat meraung.
Pisau kayu latihan menancap di tanah satu jari dari matanya.
Tri berdiri di atas dahan rendah, lutut menekuk, napasnya rata. Di bawah sana, Bestia kecil kelas hutan pinggir itu masih berkedut. Bukan Bestia Bintang sungguhan seperti yang hampir memakannya dua bulan lalu, hanya hewan mutan lokal yang dipakai Sekolah 3212 untuk ujian berburu.
Tapi cakarnya tetap bisa membelah perut murid B.
Tri melompat turun.
Punggungnya masih sesekali nyeri bila mendarat terlalu keras. Pak Ilyas bilang tubuhnya sudah pulih. Kapsul Pemulihan memang menutup luka. Tetapi tubuh punya cara sendiri untuk mengingat hampir mati.
Ia menekan lutut macan dengan kaki, menarik pisau asli dari pinggang, dan menusuk tepat di bawah tulang rahang.
Selesai.
Gelang ujian di pergelangan kanannya berbunyi.
Target sah.
Nilai sementara: peringkat 1.
Tri menatap angka itu, lalu menatap bangkai di bawah kaki.
“Bisa dimakan?”
Gelang ujian tidak menjawab.
“Berarti harus tanya Bu Wening.”
Semak di belakangnya bergerak.
Tri tidak menoleh.
“Keluar sebelum gue lempar pisau kedua.”
Tiga anak keluar dari balik batang pohon. Seragam mereka lebih bersih daripada milik Tri. Sepatu mereka baru. Yang berdiri paling depan bertubuh gemuk padat, wajahnya bulat, dagunya diangkat tinggi seolah-olah udara hutan ini milik keluarganya.
Dodo.
Anak kelas A.
Rumahnya tidak jauh dari kompleks Gunawan dulu, dan sejak kecil ia terkenal sebagai anak yang jika menang berisik, jika kalah lebih berisik.
Dodo melihat bangkai macan, lalu angka di gelang Tri.
Matanya menyipit.
“Lo kelas B, kan?”
“Tidak kelihatan dari tambalan celana?”
Dua pengikut Dodo tertawa kecil, lalu berhenti setelah Dodo menoleh.
“Serahkan target itu,” kata Dodo. “Kelas A butuh nilai latihan lebih tinggi.”
Tri membersihkan pisau pada daun lebar. “Kelas A butuh belajar berburu sendiri.”
Wajah Dodo memerah. “Lo tahu gue siapa?”
“Dodo.”
“Bukan itu maksud gue.”
“Si Babi?”
Salah satu pengikut tersedak.
Dodo maju satu langkah. “Panggil sekali lagi.”
Tri memasukkan pisau ke sarungnya. “Babi.”
Dodo menerjang.
Untuk ukuran anak empat belas tahun, tubuhnya kuat. Tingkat A bukan hiasan. Langkah pertamanya cepat, pukulannya berat. Kalau kena langsung, Tri mungkin kembali melihat tagihan medis.
Jadi Tri tidak menerima pukulan.
Ia mundur setengah langkah, membiarkan tinju Dodo lewat di depan hidung, lalu menendang tanah basah di bawah kaki kanan lawan. Dodo terpeleset sedikit. Sedikit saja cukup. Tri memukul titik di bawah rusuk dengan siku, menahan pergelangan tangan lawan, lalu memutar tubuh.
BUM.
Dodo jatuh telentang.
Udara keluar dari mulutnya.
Tri duduk di atas dadanya dan menempelkan pisau kayu latihan ke tenggorokan.
“Target gue,” katanya.
Dodo menatapnya, mata membesar. “Lo... kelas B?”
“Iya.”
“Bohong.”
Tri menekan pisau kayu sedikit. “Mau lapor gelang ujian bahwa lo kalah dari kebohongan?”
Dodo menelan ludah.
Dua pengikutnya tidak bergerak.
Tri bangkit, mengikat kaki macan dengan tali, lalu menyeretnya pergi. Setelah lima langkah, ia berhenti dan menoleh.
“Kalau mau nilai, bawa dua target lain. Kalau mau ikut makan, bawa garam.”
Dodo masih terbaring. “Siapa yang mau ikut lo makan?”
Perutnya berbunyi.
Hutan mendadak sangat sunyi.
Tri melihat ke arah perut Dodo.
Dodo melihat ke langit.
Sejak hari itu, Dodo tidak pernah mengaku menjadi pengikut Tri.
Ia hanya kebetulan muncul di dekat Tri saat pembagian makan, kebetulan membawa garam, kebetulan menyuruh pengikutnya menjauh jika ada yang ingin merebut target kelas B.
Tri tidak keberatan.
Orang yang bisa dipakai tanpa dibayar adalah jenis sumber daya yang langka.
Liburan dua bulan setelah ujian berburu tidak membuat Tri lebih santai.
Ia duduk bersila di ruang tamu rumah Dodo, membuka perut Mecha pajangan setinggi dua meter yang berdiri di tengah ruangan. Mecha itu bukan alat tempur. Hanya mainan mahal keluarga kaya, dibuat untuk bergerak mengikuti musik dan menyambut tamu.
Masalahnya, sambungan lutut kanan macet.
Masalah lain, pemilik rumah terlalu malu memanggil bengkel resmi karena Dodo pernah menendang panel kendali saat kalah main simulasi.
Tri menatap kabel yang hangus, lalu menatap Dodo.
“Berapa kali lo tendang?”
“Sekali.”
Tri mengangkat potongan panel yang penyok tiga tempat.
Dodo batuk. “Sekali panjang.”
Tri menutup panel kembali. “Enam ribu kredit.”
“Enam ribu? Ini cuma Mecha pajangan!”
“Kalau cuma pajangan, biarkan pincang.”
Dodo memegang dadanya seperti orang ditikam. “Lo merampok teman satu planet?”
“Diskon teman satu planet sudah termasuk. Harga normal delapan ribu.”
“Lo tidak punya hati.”
“Punya utang.”
Kalimat itu mengakhiri tawar-menawar.
Malam itu, saldo Tri bertambah 6.200 kredit setelah Dodo diam-diam meminta dua perbaikan tambahan: sendi bahu dan sensor sambutan yang selalu memanggil ayahnya “Nyonya”.
Tri mengirim 5.000 ke Pak Ilyas untuk memotong utang.
Sisa 1.200 ia gunakan untuk membeli bahan murah, tiga bungkus daging kering untuk Bu Wening, dan satu porsi nasi besar yang ia makan di gang belakang pasar tanpa merasa bersalah.
Ia tetap lapar.
Itulah masalahnya.
Sejak keluar dari Kapsul Pemulihan, tubuhnya seperti lubang mesin pemadat. Bu Wening sudah menggandakan porsi. Pak Ilyas menambah susu protein murah. Dodo sesekali menyelundupkan roti daging dan berpura-pura tidak peduli.
Tetapi setiap latihan berat membuat perut Tri kosong lagi.
Ia mengira itu sekadar efek tumbuh tinggi.
Sampai hari pertama semester baru.
Pintu hanggar latihan B terbuka.
Untuk pertama kalinya, Tri berdiri di depan Mecha tempur sungguhan milik sekolah.
Tingkat B.
Catnya tergores. Bahu kiri pernah diganti dengan warna berbeda. Lutut kanan berderit sebelum bergerak. Tetapi bagi Tri, benda itu lebih indah daripada semua Mecha pajangan keluarga Dodo.
Ini mesin yang bisa bertarung.
Ini mesin yang bisa membunuh.
Ini mesin yang bisa menjawab banyak pertanyaan yang selama tujuh tahun hanya bisa ia gambar di kertas bekas.
Instruktur ujian, pria kurus bermata cekung, menunjuk kokpit. “Masuk. Uji dasar. Berdiri, jalan sepuluh langkah, angkat beban lima puluh kilo, kembali.”
Pak Ilyas berdiri di belakangnya, tangan bersilang. “Jangan sok pintar.”
Tri mengangguk. “Saya cuma berdiri.”
“Itu juga jangan sok.”
Tri naik ke kokpit.
Kursi keras memeluk punggungnya. Kabel antarmuka menempel di lengan, leher, dan pelipis. Saat sistem menyala, dunia berubah.
Data masuk.
Berat kaki.
Tekanan sendi.
Sudut lutut.
Keseimbangan pusat massa.
Suara mesin inti.
Semua seperti bahasa yang pernah ia tahu sejak lama, hanya ditulis dengan alfabet berbeda.
Tri menggerakkan jari.
Di luar, Mecha mengangkat tangan kanan.
Instruktur ujian berhenti menulis.
Pak Ilyas mengangkat kepala.
Tri mencoba berdiri.
Tubuh Mecha naik setengah.
Lalu perutnya melilit.
Bukan sakit biasa.
Kosong.
Seperti seseorang menarik kabel listrik dari otaknya.
Data yang tadi jernih pecah menjadi ribuan jarum. Lampu peringatan merah menyala. Napas Tri tersendat. Tangan aslinya gemetar di dalam sarung kendali.
Mecha jatuh berlutut.
Di luar, seseorang berteriak.
Tri hanya sempat berpikir satu hal.
Jangan jatuh ke depan. Mahal.
Ia memutar pusat massa terakhir ke samping, membuat Mecha roboh di bantalan latihan, lalu seluruh kokpit menjadi gelap.
Saat bangun, mulutnya penuh rasa gula.
Bu Wening duduk di tepi kokpit yang terbuka, memegang botol nutrisi kosong kedua.
Pak Ilyas berdiri di bawah, wajahnya buruk sekali.
Dodo mengintip dari balik kaki Mecha dan segera pura-pura melihat lantai.
“Saya pingsan?” tanya Tri.
“Kau kelaparan,” kata Bu Wening.
Tri berkedip. “Saya makan pagi.”
Pak Ilyas menunjuk tiga kotak makan kosong di lantai. “Itu baru membuatmu membuka mata.”
Tri menatap kotak-kotak itu.
Sayang.
Ia tidak ingat rasanya.
Setelah setengah jam dipaksa makan sampai Dodo tampak ingin muntah hanya dengan melihatnya, Tri kembali duduk di kokpit.
Instruktur ujian ragu. “Cukup untuk hari ini.”
Pak Ilyas tidak menjawab. Ia menatap Tri.
Tri memasang kabel antarmuka lagi. “Saya sudah kenyang, Pak.”
“Kalau roboh lagi, saya jual semua alatmu.”
“Saya tidak akan roboh.”
Sistem menyala.
Data masuk.
Kali ini tidak pecah.
Tri menarik napas, lalu berdiri.
Mecha B yang tua itu bangkit mulus.
Satu langkah.
Dua.
Sepuluh.
Ia berhenti tepat di garis putih, mengangkat beban lima puluh kilo, memutar pergelangan mekanik satu putaran kecil untuk menguji kelenturan, lalu menaruh beban kembali tanpa bunyi keras.
Instruktur ujian menatap panel data.
Pak Ilyas juga.
Angka sinkronisasi dasar masih naik, turun, lalu naik lagi, seperti mesin tua yang tiba-tiba menemukan bahan bakar terbaik.
Tri membuka mata di dalam kokpit.
Di luar kaca pelindung, wajah Pak Ilyas tampak lebih serius daripada saat menagih utang.
“Anak ini,” gumamnya, menatap data panel, “gerak tangannya... tidak seperti pertama kali.”