Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Teratai Darah Purba dan Taktik Sang Nelayan
Hutan purba itu terasa seperti labirin hidup yang bernapas dengan racun. Semakin jauh Ye Xuan melangkah, kabut kelabu yang menyelimuti udara semakin pekat, membatasi pandangannya hanya sejauh dua puluh meter.
Tiga hari telah berlalu sejak Ye Xuan membunuh Beruang Penghancur Bumi Purba.
Selama waktu itu, ia tidak mengalami lompatan kultivasi yang ajaib. Ia terus beradaptasi dengan gravitasi lima kali lipat dan menahan diri dari godaan untuk menghisap setiap monster yang ia temui. Ia bertahan hidup seperti pemburu sejati: menghemat Qi, bergerak dari bayangan ke bayangan, dan hanya membunuh binatang buas tingkat rendah yang mencoba menyergapnya.
Pakaian putihnya kini kotor oleh lumpur dan noda darah hitam. Keangkuhannya sebagai jenius terkuat di Sekte Awan Azure perlahan terkikis, digantikan oleh kewaspadaan dan ketajaman insting bertahan hidup.
"Napasmu sudah mulai berbaur dengan ritme alam ini, Bocah," puji Master Naga. "Di dunia luar, kau adalah predator yang mengaum. Di sini, auman hanya akan mengundang naga yang lebih besar untuk memangsamu. Kesabaran adalah kuncinya."
Ye Xuan mengangguk pelan. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu meminum seteguk air dari sumber mata air bawah tanah yang sempat ia temukan.
Tiba-tiba, langkah kakinya terhenti.
BOOM! KRAAAK!
Sayup-sayup dari arah timur, terdengar suara ledakan Qi dan raungan binatang buas yang membuat dedaunan ungu di sekitarnya berguguran. Fluktuasi energi yang bercampur dengan bau anyir darah yang tajam terbawa oleh angin.
"Bau darah ini... bukan hanya darah monster. Ada teknik kultivator," gumam Ye Xuan.
Ia segera meredam seluruh fluktuasi Qi Emasnya. Mengandalkan kekuatan fisik murni, Ye Xuan melompat ke atas akar pohon raksasa, memanjat dengan lincah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, dan bergerak mendekati sumber keributan seperti seekor macan tutul hitam.
Sekitar satu mil dari posisinya, di balik rimbunnya semak berduri raksasa, terdapat sebuah rawa dengan air berwarna hitam kental.
Di tengah rawa tersebut, berdiri sebuah batu besar tempat sekuntum bunga teratai mekar dengan indahnya. Bunga itu berwarna merah sebening kristal, memancarkan cahaya darah yang murni dan menembus kabut kelabu di sekitarnya. Hawa segar yang menguar darinya seketika membuat dada Ye Xuan yang sesak menjadi lega.
"Teratai Darah Purba!" Seruan Master Naga bergema di benak Ye Xuan, nadanya penuh dengan hasrat. "Itu adalah tanaman spiritual berusia seribu tahun! Bunga itu tumbuh dengan menyerap esensi kehidupan murni, tanpa terkontaminasi miasma. Jika kau memakannya, kau tidak perlu memurnikannya selama berjam-jam. Energi murninya bisa mencuci tulang emasmu dan mendorongmu langsung ke Pembentukan Fondasi Menengah!"
Mata Ye Xuan berbinar tajam. Namun, sebelum ia membuat pergerakan, ia menatap ke arah pertarungan sengit di tepi rawa.
Bunga itu tidak tidak dijaga. Seekor monster berbentuk katak raksasa dengan kulit berbonggol besi—Katak Besi Beracun (Binatang Iblis Tingkat 3 Menengah)—sedang mengamuk. Lidahnya yang dipenuhi lendir asam melesat seperti cambuk baja, menghancurkan pepohonan dan batu di sekitarnya.
Di sekeliling katak itu, empat kultivator berjubah merah tua dengan lambang kelabang hitam di dada mereka sedang bertarung mati-matian. Mereka adalah murid dari Lembah Iblis Berdarah.
Pemimpin kelompok itu adalah pemuda berwajah pucat yang sempat mengejek Sekte Awan Azure di luar portal. Fluktuasi Qi-nya sangat padat, berada di Pembentukan Fondasi Menengah Puncak. Ketiga bawahannya berada di tahap Pembentukan Fondasi Awal.
"Tahan formasi! Jangan biarkan katak sialan ini kembali ke rawa!" teriak pemuda pucat itu, tangannya membentuk segel yang rumit. "Gunakan Jaring Darah Korosif! Kita harus melemahkan kulit besinya!"
Ketiga bawahannya serentak menggigit ujung jari mereka dan memuntahkan esensi darah. Qi darah itu menyatu di udara, membentuk sebuah jaring jala berwarna merah pekat yang langsung menutupi tubuh katak raksasa tersebut.
HISSSS!
Lendir beracun sang katak bertemu dengan jaring darah, menciptakan asap putih yang berbau busuk. Katak itu meraung kesakitan saat kulit besinya perlahan melepuh, namun monster purba ini tidak menyerah. Ia melompat tinggi dan menimpa salah satu murid tingkat awal.
CRASH!
"AAARRRGGHH!"
Murid itu tidak sempat menghindar karena kakinya terjebak lumpur rawa dan gravitasi yang berat. Tubuhnya langsung hancur menjadi bubur darah di bawah tumpukan daging seberat belasan ton.
"Sialan!" Pemuda pucat itu mengutuk. Ia mencabut sebuah pedang bergerigi yang berlumuran racun hitam. "Kakak Senior memerintahkan kita mengamankan Teratai Darah ini! Jika kita gagal, kita akan dijadikan bahan Pil Mayat!"
Dari atas dahan pohon yang tersembunyi, Ye Xuan memperhatikan dengan tenang.
Jika ini terjadi di dunia luar, Ye Xuan mungkin akan melompat turun, menghancurkan katak itu dengan satu ayunan tombak, membunuh ketiga murid iblis, dan merampas bunganya. Tapi di sini, gravitasi membatasi kelincahannya. Katak itu berada di tingkat Menengah dan memiliki kulit zirah yang bahkan lebih keras dari beruang sebelumnya. Ditambah lagi dengan pemuda pucat yang pandai menggunakan racun.
Berhadapan langsung dengan mereka semua sama saja dengan bunuh diri.
"Dua burung dara berselisih, nelayan yang mendapat untung," bisik Ye Xuan sambil tersenyum dingin. Ia menunggu dengan sabar, menekan napas dan detak jantungnya hingga menyatu dengan pepohonan.
Pertarungan di bawah semakin brutal. Setelah kehilangan satu rekan, murid-murid Iblis Berdarah itu mulai bertarung dengan keputusasaan yang gila. Pemuda pucat itu menggunakan teknik rahasia sektenya, mengorbankan sebagian darahnya sendiri untuk meningkatkan kecepatan.
Ia menyusup di bawah serangan lidah asam sang katak dan menusukkan pedang bergeriginya tepat ke mata monster tersebut!
CROTT!
Darah hitam menyembur keluar. Katak Besi itu menjerit histeris. Dalam amukan kematiannya, lidah katak itu menyapu brutal, menghantam dua murid Iblis Berdarah lainnya hingga tulang rusuk mereka remuk dan terlempar ke dalam rawa beracun, mati seketika.
Hanya pemuda pucat itu yang tersisa. Ia memutar pedangnya di dalam tengkorak katak, menyuntikkan racun mematikan langsung ke otaknya. Monster raksasa itu bergetar hebat, lalu akhirnya ambruk ke tanah dengan suara dentuman keras, tak bernyawa.
Pemuda pucat itu jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya semakin pucat layaknya mayat. Energi Qi-nya terkuras hingga tersisa kurang dari dua puluh persen, dan tangan kanannya melepuh terkena cipratan asam.
"Hah... hah... akhirnya..." Pemuda itu tertawa parau. Ia memandang ke arah batu di tengah rawa tempat Teratai Darah Purba itu berada. Matanya memancarkan keserakahan. "Dengan bunga ini... aku bisa menyembuhkan lukaku dan menembus Pembentukan Fondasi Akhir. Kematian tiga sampah tadi sepadan..."
Ia berdiri terhuyung-huyung, melangkah perlahan menuju rawa.
Namun, tepat di saat pertahanannya berada di titik paling lengah, sebuah suara desir pelan menembus kabut kelabu dari atas.
Bukan serangan Qi yang mewah, melainkan sebuah batu sebesar kepalan tangan yang dilemparkan dengan kekuatan seratus ribu kati!
SWUSSH!
Batu itu melesat membelah udara dengan kecepatan sonik, lurus menuju kepala pemuda pucat tersebut.
Insting kultivator Pembentukan Fondasi Menengah menyelamatkannya di detik terakhir. Ia memiringkan kepalanya dengan panik, menghindari pukulan fatal, namun batu itu menyambar bahu kirinya.
KRAAK!
"AARGH!" Tulang selangka pemuda itu hancur berkeping-keping. Ia terpelanting dan jatuh tersungkur di tepi rawa, memuntahkan seteguk darah.
"S-siapa di sana?! Keluar, Keparat!" raungnya panik, mengayunkan pedang bergeriginya secara membabi buta ke arah pepohonan.
Dari balik kabut kelabu, sesosok pemuda berjubah putih kotor melangkah keluar dengan tenang. Di tangannya, ia memegang Tombak Besi Hitam yang berlumuran darah monster.
"Kerja bagus," ucap Ye Xuan dengan senyum mengejek. "Sebagai hadiah karena telah mengalahkan katak raksasa itu, aku akan mengizinkanmu melihat siapa yang merampas hartamu."
"K-kau... Murid Awan Azure itu?!" Pemuda pucat itu terbelalak ngeri. Ia langsung mengenali Ye Xuan. Namun, yang membuatnya lebih syok adalah fakta bahwa Ye Xuan tampak sama sekali tidak kelelahan oleh lingkungan purba ini!
"Kau ingin mencuri rampasanku?! Jangan mimpi! Aku adalah elit Lembah Iblis Berdarah!" Pemuda itu memaksakan sisa Qi-nya, berniat meledakkan racun dari pedangnya.
Namun, Ye Xuan tidak berniat bertarung lama.
BZZT!
Percikan petir emas menyala di kaki Ye Xuan. Langkah Guntur Sembilan Bayangan!
Mengabaikan pemuda pucat itu sepenuhnya, sosok Ye Xuan memudar. Dalam sekejap mata, ia melewati sang pemuda dan muncul tepat di atas batu di tengah rawa. Tangan kanannya bergerak secepat kilat, mencabut Teratai Darah Purba itu beserta akarnya, dan langsung memasukkannya ke dalam Cincin Penyimpanan.
"TIDAAAAAK!!" Pemuda pucat itu meraung putus asa melihat bunga yang ia bayar dengan nyawa tiga rekannya dirampas begitu saja.
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu melemparkan pedang bergeriginya ke arah punggung Ye Xuan dengan seluruh sisa tenaga hidupnya.
Ye Xuan, yang masih berdiri di atas batu rawa, tidak menoleh. Ia hanya memutar Tombak Besi Hitamnya ke belakang tubuhnya.
TRANG!
Pedang itu menghantam gagang tombak Ye Xuan dan langsung terpental. Ye Xuan menggunakan momentum dari benturan itu untuk melompat kembali ke arah daratan yang berlawanan, menjauh dari tepi rawa tempat pemuda pucat itu berada.
"Terima kasih atas bunganya," suara Ye Xuan bergema dari balik kabut yang perlahan menelan sosoknya. "Sampai jumpa di neraka."
Pemuda pucat itu mencoba mengejar, namun luka di bahunya dan sisa racun dari katak yang masuk ke dalam nadinya akhirnya bereaksi. Ia jatuh tersungkur di lumpur, menatap ke arah hilangnya Ye Xuan dengan mata merah penuh kebencian dan keputusasaan, perlahan mati kehabisan darah di tengah rawa yang sunyi.
Di kejauhan, setelah berlari sejauh beberapa mil menggunakan tubuh fisiknya, Ye Xuan akhirnya berhenti di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tebing batu. Ia memeriksa sekeliling, lalu duduk dan mengeluarkan Teratai Darah Purba dari cincinnya.
Bunga itu memancarkan aroma manis yang menggiurkan. Pusaran naga di dalam perutnya bergejolak penuh antisipasi.
"Dengan ini... Pembentukan Fondasi Menengah bukan lagi sekadar angan-angan," gumam Ye Xuan, matanya memancarkan tekad yang membara.