NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Lamaran Ulang

Pagi datang terlalu cepat.

Nadia hampir tidak tidur. Di kamar kecil rumah kontrakan Sari, ia berbaring di samping kakaknya sambil mendengar suara kipas angin berputar pelan. Anak Sari, Rani, tidur di kasur lantai dengan mulut sedikit terbuka. Di luar, suami Sari belum pulang dari giliran malam di gudang.

Rumah itu sempit, tapi napas Nadia terasa lebih lega daripada di rumah Pak Darto.

Sari bangun sebelum azan subuh selesai. Ia duduk, menatap Nadia yang juga sudah membuka mata.

"Kamu benar-benar tidak tidur?"

"Tidur sedikit."

"Sedikit itu berapa?"

"Mungkin lima menit."

Sari menghela napas. "Kamu keras kepala dari kecil."

Nadia tersenyum tipis.

"Kalau dari kecil aku benar-benar keras kepala, mungkin hidupku tidak akan seperti kemarin."

Sari terdiam.

Rasa bersalah melintas di wajahnya. Nadia tahu kakaknya memikirkan masa lalu. Saat Nadia dikirim ke panti, Sari masih remaja. Ia menangis, memohon, tapi tidak punya kekuatan melawan Eyang Marni dan orang dewasa lain.

"Mbak," kata Nadia, "jangan pasang wajah begitu. Aku tidak menyalahkanmu."

"Tapi aku tidak bisa melindungimu."

"Kamu satu-satunya yang mencoba."

Mata Sari memerah.

Nadia memegang tangannya.

"Hari ini aku butuh Mbak tetap berdiri di sampingku. Jangan menangis dulu."

Sari mengangguk cepat, menghapus air mata dengan punggung tangan.

Sekitar pukul delapan, mereka kembali ke rumah Pak Darto.

Dari ujung gang saja, Nadia sudah melihat beberapa tetangga berdiri di depan rumah. Ada yang membeli sayur dari tukang keliling, ada yang menyapu halaman terlalu lama. Semua mata menoleh ketika Nadia turun dari motor ojek bersama Sari.

Bisik-bisik langsung bergerak.

"Itu Nadia."

"Katanya mau dilamar adik Pak Hendra."

"Yang sakit itu?"

"Tapi lebih baik daripada Arman, kan? Arman sudah ketahuan begitu."

Nadia berjalan tanpa menunduk.

Di kehidupan lalu, setiap bisik-bisik membuatnya ingin menghilang. Sekarang ia membiarkan semua orang melihat wajahnya. Kalau mereka ingin cerita, biarkan mereka punya cerita lengkap: Nadia tidak hancur.

Di ruang tengah, suasana sudah menunggu.

Eyang Marni duduk di kursi kayu dengan wajah kaku. Pak Darto di sampingnya, tampak belum mandi. Bu Ratna menyajikan teh sambil terus melirik pintu. Bella duduk di dekat ibunya, mengenakan gamis paling lembut yang ia punya, wajah dibuat pucat seperti habis menangis semalaman.

Arman belum ada.

Bagus.

Nadia ingin melihat apakah laki-laki itu berani datang.

Tak lama kemudian, dua mobil berhenti di depan rumah. Pak Hendra turun bersama Raka. Di belakang mereka ada seorang pria paruh baya yang Nadia kenali sebagai Pak Mahmud, ketua RT, serta seorang perempuan berhijab rapi yang tampaknya kerabat senior keluarga Wiratmaja.

Raka mengenakan kemeja putih sederhana. Wajahnya masih pucat, tapi rambutnya rapi. Ia membawa map cokelat.

Ketika masuk, ia menatap Nadia lebih dulu.

"Pagi."

"Pagi, Mas Raka."

Ruang tengah mendadak hening.

Bu Lilis yang baru masuk di belakang suaminya langsung menatap Nadia tajam. Arman muncul setelahnya, wajahnya kusut seperti orang yang semalaman bertengkar dengan cermin.

Bella melihat Arman, matanya langsung basah.

"Mas..."

Arman mendekatinya, tapi langkahnya berhenti ketika melihat Raka berdiri di dekat Nadia.

Pak Mahmud berdeham.

"Baik. Saya datang sebagai saksi lingkungan, bukan untuk mencampuri rumah tangga orang. Tapi karena tadi malam banyak tetangga mendengar dan melihat sebagian kejadian, lebih baik pagi ini semua jelas."

Eyang Marni tidak suka.

"Pak RT, ini urusan keluarga."

Pak Mahmud mengangguk sopan.

"Betul, Bu. Tapi kalau urusan keluarga sudah terdengar satu RT, biasanya lebih baik diselesaikan terang daripada jadi fitnah."

Nadia hampir tersenyum.

Kalimat itu halus, tapi tepat.

Pak Hendra duduk setelah dipersilakan. Ia tidak bertele-tele.

"Pertama, saya mewakili keluarga Wiratmaja meminta maaf kepada Nadia dan keluarga Pak Darto. Arman telah melakukan kesalahan besar terhadap Nadia di malam lamaran."

Bu Lilis menunduk kaku.

Arman menatap lantai.

Bella menggigit bibir.

Pak Hendra melanjutkan, "Kedua, Arman menyatakan ingin menikahi Bella. Karena kejadian tadi malam sudah diketahui banyak orang, keluarga kami akan membicarakan akad mereka secara terpisah. Tapi itu tidak menghapus kewajiban kami kepada Nadia."

Pak Mahmud mencatat sesuatu di buku kecil.

Eyang Marni tiba-tiba tersenyum.

"Nah, bagus. Kalau begitu semua beres. Bella menikah dengan Arman. Nadia dengan Raka. Kita tinggal atur tanggal."

"Belum," kata Nadia.

Eyang Marni menatapnya. "Apa lagi?"

Nadia duduk tegak.

"Sebelum bicara tanggal, saya mau urusan semalam ditulis jelas."

Bu Lilis langsung tidak terima.

"Ditulis? Untuk apa? Kamu mau menyimpan aib keluarga kami?"

"Bukan aib keluarga Ibu. Aib Arman dan Bella."

Arman mengangkat kepala.

"Nadia, jangan keterlaluan."

Raka menoleh kepadanya.

"Kamu yang keterlaluan sejak semalam."

Arman langsung diam lagi.

Nadia membuka tas, mengeluarkan buku tulis dan pulpen.

"Saya ingin ada kesepakatan: pertama, keluarga Wiratmaja dan keluarga Pak Darto tidak boleh menyebarkan cerita bahwa saya ditinggal karena kurang baik, kurang patuh, atau punya kekurangan. Kedua, uang lamaran dan seserahan yang ditujukan kepada saya menjadi hak saya. Ketiga, Bella dan Arman tidak boleh memakai nama saya untuk membenarkan perbuatan mereka."

Bu Ratna tersenyum pahit.

"Nak, kamu terlalu curiga kepada keluarga sendiri."

"Saya belajar dari keluarga sendiri."

Pak Darto menghela napas.

"Nadia, kesepakatan tertulis itu..."

"Perlu, Pak." Sari menyela. "Kalau tidak tertulis, nanti semua orang bisa memutar cerita."

Bella menangis pelan.

"Mbak Sari, aku tidak akan memutar cerita."

Sari menatapnya.

"Semalam kamu bilang tidak sengaja. Itu saja sudah memutar cerita."

Bella terdiam.

Pak Hendra mengangguk.

"Saya setuju."

Bu Lilis menoleh tajam.

"Pak!"

"Lilis, kalau kita benar, tidak perlu takut pada tulisan."

Nadia menatap Pak Hendra. Di kehidupan lalu, ia lebih banyak melihat pria itu sebagai ayah mertua yang diam setiap kali Arman menyakitinya. Namun pagi ini ia melihat sisi lain: seorang kepala keluarga yang masih punya rasa malu.

Sayangnya rasa malu itu sering terlambat.

Raka meletakkan map cokelat di atas meja.

"Saya juga membawa sesuatu."

Semua mata beralih.

Ia membuka map dan mengeluarkan fotokopi KTP, kartu keluarga, serta surat keterangan belum menikah.

Bu Lilis kaget.

"Raka, kamu sudah menyiapkan itu?"

"Sejak subuh."

"Kamu benar-benar serius?"

Raka tidak menjawab ibunya. Ia menatap Nadia.

"Kalau Nadia tetap setuju, saya ingin melamar secara benar. Tidak harus akad hari ini, tapi saya ingin semua dokumen siap agar tidak ada yang bilang saya hanya bicara."

Jantung Nadia bergerak pelan.

Ia tahu Raka orang baik. Tapi tetap saja, melihat seseorang menyiapkan bukti nyata untuk melindunginya membuat sesuatu di dadanya terasa asing.

Ia tidak perlu memohon.

Ia tidak perlu meyakinkan bahwa dirinya layak.

Raka datang dengan dokumen.

Datang dengan saksi.

Datang dengan kalimat yang tidak membuatnya kecil.

"Saya setuju," kata Nadia.

Arman mendengus.

"Cepat sekali. Semalam baru dilempar teh, pagi ini sudah setuju menikah dengan pamanku."

Nadia menatapnya.

"Kamu lebih cepat. Semalam baru dilamar untukku, malam itu juga sudah memeluk Bella di kamar."

Pak Mahmud batuk pura-pura.

Bu Ratna menutup mata.

Raka memandang Arman dengan dingin.

"Kalau kamu masih ingin duduk di sini, jaga mulut."

Arman mengepalkan tangan, tapi Pak Hendra menatapnya tajam.

"Cukup."

Perempuan kerabat keluarga Wiratmaja yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

"Saya Tante Mira, kakak sepupu Pak Hendra. Saya mau tanya langsung kepada Nadia. Nak, kamu menerima Raka karena marah, atau karena benar-benar mau?"

Pertanyaan itu tidak menyudutkan. Nadanya lembut.

Nadia menjawab jujur.

"Saya marah. Saya tidak akan pura-pura tidak marah. Tapi saya tidak menerima Mas Raka hanya karena marah."

Tante Mira mengangguk.

"Kenapa?"

Nadia menatap Raka sebentar.

"Karena sejak semalam, dia satu-satunya orang dari keluarga Wiratmaja yang tidak memintaku diam demi nama baik orang lain."

Raka menunduk sedikit.

Tante Mira tersenyum tipis.

"Jawaban yang cukup."

Eyang Marni mulai tidak sabar.

"Kalau begitu, uang seserahan..."

Nadia langsung menatapnya.

"Masuk ke rekening saya."

"Rekening?" Eyang Marni terbelalak. "Perempuan belum menikah punya rekening untuk apa?"

"Untuk memastikan uang saya tidak hilang di lemari Eyang."

Sari tersedak.

Pak Darto memejamkan mata.

Bu Ratna cepat berkata, "Nadia belum biasa mengurus uang sebanyak itu. Lebih baik disimpan keluarga dulu."

"Saya biasa mengurus hidup saya sendiri sejak kecil di panti."

Kalimat itu membuat ruang tengah kembali diam.

Pak Hendra berkata, "Baik. Setelah pertemuan ini, saya minta Raka mengantar Nadia membuka rekening kalau belum ada."

Raka mengangguk.

Bu Lilis tampak makin tidak suka.

Nadia melihat itu dan tahu, jalan di keluarga Wiratmaja tidak akan mudah. Tapi sulit bukan berarti salah. Neraka yang sudah ia kenal bernama Arman. Jalan baru bersama Raka setidaknya punya cahaya di ujungnya.

Pak Mahmud menulis kesepakatan singkat. Semua pihak diminta membaca. Pak Hendra menandatangani. Pak Darto gemetar saat memegang pulpen, tapi akhirnya menandatangani juga. Eyang Marni menolak, sampai Pak Mahmud berkata tanpa tanda tangan pun saksi sudah cukup.

Nadia menandatangani paling akhir.

Ketika pulpen menyentuh kertas, ia merasa seperti menandatangani surat keluar dari kehidupan lama.

Raka berdiri.

"Kalau semua setuju, saya ingin mengantar Nadia membuka rekening sekarang."

Bu Ratna langsung berkata, "Sekarang? Tidak perlu terburu-buru."

Nadia memasukkan salinan kesepakatan ke tas.

"Justru harus buru-buru. Uang yang terlalu lama berada di ruangan ini biasanya berubah pemilik."

Eyang Marni memukul tongkat.

"Dasar mulut tajam!"

Nadia berdiri.

"Terima kasih. Aku mengasahnya semalaman."

Untuk pertama kalinya, Tante Mira tertawa.

Raka menahan senyum, lalu berjalan ke pintu.

Nadia mengikutinya.

Di belakang, Bella menatap punggung Nadia dengan mata gelap.

Arman juga menatap.

Tapi yang membuat Arman gelisah bukan kemarahan.

Melainkan cara Nadia berjalan di samping Raka.

Seolah ia sama sekali tidak kehilangan apa pun.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!