NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Rambut yang Diam-Diam Diambil

Karina tidak langsung menjawab.

Ia melirik pintu kamar anak-anak yang baru ditutup, lalu kembali memandang Sebastian. "Sekarang?"

"Sekarang."

Nada itu tidak memberi kesan bahwa percakapan dapat ditunda sampai pagi.

Sebastian berbalik menuju tangga. Karina mengikutinya setelah memastikan gagang pintu kamar tidak terkunci dari dalam. Mereka turun satu lantai dan memasuki koridor kanan yang tadi sore hanya dilihatnya dari aula.

Ruang kerja Sebastian berada di ujung. Dindingnya dipenuhi rak buku dan lemari arsip. Sebuah meja kayu lebar menghadap jendela, tetapi Sebastian tidak duduk di belakangnya. Ia memilih dua kursi di dekat sofa, posisi yang tampak lebih santai dan justru membuat Karina semakin waspada.

"Duduk."

Karina duduk dengan punggung tegak. Pintu dibiarkan setengah terbuka. Setidaknya itu berarti Sebastian tidak berniat membuat percakapan terlihat seperti rahasia yang memalukan.

Lelaki itu menuang air dari teko kaca. "Anak-anak tidur?"

"Sudah. Lucas masih kaget, tapi tangannya tidak luka."

"Saya sudah minta semua petugas yang berhubungan dengan mereka diperiksa ulang."

Karina menerima gelas yang disodorkan. "Terima kasih soal Bi Surti."

"Dia melanggar batas."

Jawaban pendek, seolah memecat seseorang yang telah bekerja bertahun-tahun bukan keputusan emosional, hanya hasil paling logis dari aturan yang dilanggar.

Sebastian menyandarkan tubuh. "Ceritakan lagi apa yang terjadi sejak kamu berada di Cibungur."

Karina tidak langsung minum. "Bagian yang mana?"

"Semuanya. Mulai dari kondisi Nathan dan Lucas."

Ia sudah menceritakan sebagian melalui telepon. Sebastian juga melihat luka, rumah, dan sikap anak-anak sendiri. Permintaan untuk mengulang dari awal terasa kurang seperti keinginan memahami dan lebih seperti cara mencari celah.

Karina meletakkan gelas. "Ketika saya sadar keadaan mereka buruk, Lucas sangat lapar dan Nathan berusaha melindunginya. Makanan hampir tidak ada. Nathan punya luka lama yang belum dirawat dengan benar."

"Kapan kamu menyadarinya?"

"Hari pertama."

"Namun luka Nathan baru kamu bersihkan beberapa hari kemudian."

"Dia tidak mengizinkan saya mendekat. Saya menunggu sampai dia cukup percaya untuk menunjukkan lukanya."

Sebastian tidak bereaksi. "Kenapa dia tidak mengizinkan?"

Pertanyaan itu terdengar tenang, tetapi keduanya tahu jawabannya.

Karina tidak menghindar. "Karena sebelumnya saya yang membuat mereka takut."

Hening berlangsung beberapa detik.

"Kamu mengakuinya dengan mudah," kata Sebastian.

"Mengaku tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi menyangkalnya akan membuat saya mengulangi kebohongan di depan mereka."

"Lalu kamu tiba-tiba memutuskan berhenti?"

Ada ujung tajam pada kata tiba-tiba.

Karina memahami kecurigaannya. Namun memahami tidak berarti ia dapat memberi jawaban sebenarnya. Aku bukan Karina yang kamu kenal bukan kalimat yang bisa diucapkan tanpa membuat hidupnya sendiri menjadi bahan penyelidikan.

"Saya melihat keadaan mereka dan sadar kalau terus begitu, salah satu dari mereka bisa mati," jawabnya. "Saya memilih mengubah apa yang masih bisa diubah."

Mata Sebastian tidak meninggalkan wajahnya. "Sesederhana itu?"

"Keputusannya sederhana. Membuat mereka percaya lagi tidak."

Sebastian mengetukkan ibu jari ke sisi gelas. Hanya sekali.

Ia bertanya tentang Bu Sumiati dan buku Ujang. Tentang Pak Hendi, barang-barang yang ditahan, serta cara Karina memaksa pengembalian tanpa perkelahian. Ia kembali menanyakan urutan Tuti datang, luka yang terlihat, dan alasan Karina tidak langsung mengumumkan cerita tentang terpal di depan warga.

Beberapa pertanyaan sama dengan yang diajukan malam sebelumnya, hanya susunan katanya berbeda.

Karina menjawab tanpa menambah hiasan. Jika ia tidak ingat jam tepatnya, ia mengatakan tidak ingat. Jika sesuatu hanya berasal dari ucapan Tuti, ia menyebutnya sebagai ucapan, bukan fakta.

Semakin lama, semakin jelas bahwa Sebastian sedang membandingkan jawaban.

"Siapa yang mengajarimu membersihkan luka?" tanyanya.

"Luka Nathan tidak dalam. Saya pakai air bersih, kasa, dan obat yang tersedia. Hal dasar seperti itu bisa dipelajari siapa saja."

"Kamu tahu kapan harus berhenti menyentuhnya. Kamu juga tahu Tuti perlu diperiksa lagi meski darahnya sudah berhenti."

"Karena rasa sakit tidak selalu terlihat dari banyaknya darah."

Sebastian memandangnya tanpa komentar. Karina sadar jawabannya terdengar lebih terlatih daripada pengalaman yang seharusnya dimiliki perempuan desa dalam ingatan semua orang. Namun berpura-pura bodoh sekarang justru akan lebih mencurigakan.

"Dan empat lelaki di halaman?" tanyanya lagi. "Sejak kapan kamu bisa menjatuhkan mereka?"

"Mereka mengandalkan jumlah, bukan cara bergerak."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang saya punya. Saya lebih kuat dari yang mereka perkirakan, dan mereka memberi saya cukup banyak celah."

Sebastian menurunkan pandangan ke tangannya. "Kamu tidak takut?"

Karina teringat golok di leher Tuti, tangis Lucas, dan lutut Nathan yang bergetar. "Takut."

"Kamu tidak terlihat takut."

"Saya tidak punya waktu untuk menunjukkannya. Kalau saya ikut panik, siapa yang berdiri di depan anak-anak?"

Pertanyaan itu membuat jari Sebastian berhenti pada gelas.

Selama satu detik, ketenangan di wajahnya retak. Bukan karena takjub kepada Karina, melainkan seperti seseorang baru saja menyentuh luka yang disembunyikannya terlalu dalam. Reaksi itu hilang sebelum Karina sempat memastikan.

Ia menyimpan detail tersebut bersama semua kejanggalan lain.

"Anda sudah menanyakan soal Tuti tadi malam," kata Karina akhirnya.

"Saya ingin memastikan keterangannya tetap sama."

"Keterangan saya atau Tuti?"

"Keduanya."

"Anda selalu memeriksa orang seperti ini?"

"Kalau keselamatan anak-anak terlibat, iya."

Karina menahan keinginan menggosok tengkuk. Lelaki ini bahkan tidak berusaha menyangkal bahwa ia sedang menguji.

"Kalau begitu giliran saya bertanya," katanya.

Alis Sebastian terangkat tipis. "Silakan."

"Kenapa rumah ini bersikap seolah kepulangan kami adalah kejadian besar? Para pegawai takut kepada Anda. Dua pelayan bicara tentang saya seperti mereka menunggu sesuatu yang buruk. Dan asisten Anda menyebut dewan komisaris sebelum kita sempat melepas sepatu."

"Kamu mendengar banyak hal dalam waktu singkat."

"Saya perlu tahu tempat seperti apa yang ditinggali anak-anak. Rumah ini tidak sesederhana kelihatannya."

Sebastian mengambil gelas, tetapi tidak minum. "Rumah mana yang sederhana?"

"Rumah yang penghuninya tidak perlu menghindari jawaban."

Untuk pertama kalinya, bayangan senyum hampir muncul di sudut bibir Sebastian. Bukan karena geli. Lebih seperti ia menemukan lawan bicara bergerak ke arah yang tidak diperkirakan.

"Kamu akan tahu aturan yang perlu diketahui," katanya. "Untuk sekarang, tidak ada seorang pun di rumah ini yang boleh menyakiti Nathan atau Lucas. Kalau ada masalah, laporkan kepada Bi Asih atau langsung kepada saya."

"Dan kalau masalahnya adalah Anda?"

Tatapan mereka bertemu.

"Kalau kamu menilai saya membahayakan mereka," ujar Sebastian, "katakan dengan bukti seperti tadi."

Jawaban itu lebih terbuka daripada yang Karina duga, tetapi bukan jaminan. Ia menyimpan kalimat tersebut untuk diuji nanti.

Sebastian mengulurkan tangan ke arah wajahnya.

Karina menegang.

Gerakannya berhenti sebelum menyentuh kulit. Jari Sebastian justru menangkap ujung rambut yang jatuh di bahu kirinya.

"Ada apa?" tanya Karina.

Ia merasakan tarikan sangat ringan ketika Sebastian memilin sehelai rambut di antara jari. Tatapan lelaki itu turun pada warna dan teksturnya dengan perhatian yang terlalu besar untuk sesuatu yang remeh.

"Rambutmu... berbeda dari yang saya ingat."

Jantung Karina menghantam tulang rusuk.

Kalimat itu tidak seharusnya menakutkan. Rambut bisa tampak lebih kusam setelah berbulan-bulan di desa. Namun cara Sebastian mengucapkannya terdengar seperti ia sedang menempatkan potongan terakhir pada teka-teki yang tidak diketahui Karina.

"Tiga bulan di Cibungur," jawabnya setenang mungkin. "Sering kena matahari, jarang dirawat. Wajar kalau berubah."

"Begitu?"

"Anda ternyata mengingat rambut saya dengan sangat baik."

Karina sengaja mengembalikan tekanan. Sebastian melepaskan rambut itu, atau tampak seolah melepaskannya.

"Saya ingat lebih banyak daripada yang kamu kira," katanya.

Peringatan atau pengakuan, Karina tidak tahu.

Ia mengangkat gelas dan minum untuk menyembunyikan perubahan napas. Di balik ketenangan wajahnya, pikirannya berlari.

Sebastian memperhatikan ucapan, urutan waktu, bahkan rambut. Ini bukan kewaspadaan biasa seorang suami yang lama berpisah. Ia membandingkan Karina sekarang dengan seseorang yang tersimpan sangat rinci dalam ingatannya.

Masalahnya, Karina sekarang memang bukan orang itu.

"Apakah ada pertanyaan lain?" tanyanya.

"Untuk malam ini, cukup."

Sebastian berdiri.

Gerakannya begitu ringan dan langsung hingga Karina baru menyadari ada hal lain yang salah.

Dalam ingatan terputus-putus milik tubuh ini, Sebastian memiliki cedera kaki lama. Pada masa tertentu ia berjalan dengan tongkat, terutama setelah bekerja terlalu lama. Karina sempat melihat bayangan tongkat di dekat mobil dalam beberapa ingatan lama, disertai langkah yang ditahan karena nyeri.

Namun sejak turun di Cibungur, Sebastian tidak pernah menggunakannya.

Tadi ia berdiri berjam-jam, menaiki tangga, dan sekarang bangkit dari kursi tanpa sedikit pun mencari penyangga. Langkahnya menuju meja juga seimbang dan tenang.

Mungkin ingatan tubuh ini keliru. Mungkin kondisinya membaik. Namun ketika digabungkan dengan dokumen yang terlalu cepat, kekuasaan yang tampaknya datang lebih awal, dan kalimat saya ingat lebih banyak daripada yang kamu kira, ketidaksesuaian itu terasa seperti duri.

Karina ikut berdiri. "Kalau begitu saya kembali ke anak-anak."

"Silakan."

Ia berjalan ke pintu. Bulu kuduknya masih terasa dingin, tetapi Karina menolak menoleh terlalu cepat. Ia hanya menggunakan pantulan kaca lemari untuk melihat Sebastian di belakangnya.

Lelaki itu mengangkat tangan ke rambutnya sendiri, seolah sekadar merapikan bagian depan yang jatuh ke dahi. Lalu tangan yang sama turun ke saku celana.

Gerakannya bersih dan singkat.

Karina hanya sempat melihat sesuatu yang sangat tipis di antara dua jarinya sebelum benda itu lenyap.

Ia berhenti setengah langkah.

"Ada apa?" tanya Sebastian.

Karina menoleh. Wajah lelaki itu kembali tenang, nyaris bosan.

"Tidak ada. Selamat malam."

"Selamat malam, Karina."

Karina meninggalkan ruang kerja tanpa mengetahui bahwa sehelai rambut yang tadi melingkar di bahunya kini tersimpan di saku Sebastian.

Di belakangnya, Sebastian memandangi pintu yang menutup. Kecurigaan masih ada di matanya, tetapi malam ini sesuatu yang lebih rumit bergerak di bawahnya.

Harapan yang belum berani ia percayai.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!