NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Jebakan untuk Herman

Dokter menjahit luka Arya di kamar hotel.

Jarum masuk dan keluar dari kulit tanpa banyak suara. Bau antiseptik memenuhi ruangan. Di kursi dekat jendela, Nayla duduk dengan tangan terlipat, wajahnya jauh lebih tegang daripada orang yang sedang dijahit.

"Kalau sakit, bilang," kata dokter.

Arya menatap layar laptop di meja. "Lanjutkan."

Nayla mendesis. "Dia bukan sedang memperbaiki jasmu."

"Saya tahu."

"Maka berhenti menatap laptop."

Arya akhirnya mengangkat wajah.

Alice muncul di layar video. Rambut pirangnya diikat rapi, blazer putihnya tampak terlalu bersih untuk jam dua pagi, dan senyumnya seperti orang yang baru menemukan permainan mahal.

"Nayla Wicaksana, ya?" katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih dengan aksen tipis. "Aku senang akhirnya melihat perempuan yang membuat Arya berdarah."

Nayla menatap layar. "Saya tidak membuat dia berdarah."

"Tentu. Laki-laki biasanya berdarah sendiri ketika merasa harus terlihat hebat."

Pak Satria berdiri di sudut, menunduk menyembunyikan senyum.

Arya berkata, "Alice."

"Baik, baik. Bisnis."

Ia menggeser dokumen digital. Peta danau di utara Kota Selatan muncul, lengkap dengan foto drone, rencana akses jalan, dan potensi resort logistik yang tampak sangat menggoda.

"Ini umpan. Lahan Danau Sagara. Secara permukaan, proyek ini terlihat seperti kesempatan emas. Herman sedang butuh proyek baru untuk menutup lubang kas setelah pembayaran ke Rahmat, tekanan bank, dan biaya menjaga tanah Wicaksana."

Nayla mengerutkan kening. "Tapi kamu bilang lahan itu bermasalah."

"Sangat bermasalah," jawab Alice ringan. "Izin lingkungan belum keluar, akses jalan hanya rencana, dan bagian utara tanah masih sengketa adat. Semua informasi itu publik. Kami tidak menyembunyikannya. Kami hanya menaruh angka keuntungan di halaman pertama dan risiko di halaman yang seharusnya dibaca orang waras."

Arya menambahkan, "Herman bukan orang waras saat melihat keuntungan cepat."

Dokter menarik benang terakhir. Arya menahan napas sedikit. Nayla langsung melihat gerakan kecil itu.

"Sakit, kan?"

"Sedikit."

"Kamu dan kata sedikit punya hubungan yang sangat buruk."

Alice tertawa dari layar. "Aku mulai menyukainya."

Nayla menatap tajam. "Jangan terlalu cepat."

Pak Satria batuk.

Setelah luka ditutup perban, Arya berdiri perlahan. Gerakan itu membuat sisi kiri tubuhnya tertarik. Ia berhenti setengah detik sebelum duduk kembali.

Nayla melihat, tetapi tidak mengomentari. Kali ini ia belajar bahwa mengomel tidak selalu membuat lelaki keras kepala lebih patuh.

Pagi berikutnya, presentasi proyek Danau Sagara disampaikan bukan oleh Arya, melainkan oleh konsultan lokal yang disewa Alice melalui jalur bersih. Tempatnya di ruang rapat hotel bisnis lain, jauh dari lokasi Arya menginap.

Herman Santoso datang dengan Tegar dan dua direktur keuangan.

Wajah Herman tampak kurang tidur, tetapi matanya langsung hidup ketika melihat angka di layar.

Proyeksi penjualan vila tepi danau.

Hak eksklusif akses logistik wisata.

Potensi pinjaman bank dengan jaminan proyek.

Nilai pengembangan: Rp 150 miliar.

"Kenapa proyek ini ditawarkan kepada kami?" tanya Herman.

Konsultan itu tersenyum profesional. "Pemilik awal mencari mitra lokal yang paham Kota Selatan. Nama PT Pelayaran Jaya masih cukup kuat."

Masih cukup kuat.

Kalimat itu seperti sengaja menyentuh ego Herman.

Tegar berbisik, "Bapak, kalau ini kita ambil, kerugian soal tanah Wicaksana bisa ditutup."

Herman tidak menjawab. Ia sedang menghitung di dalam kepala.

Di suite hotel, Arya menonton rekaman rapat secara tertunda beberapa menit melalui jalur Alice. Ia tidak bergerak banyak. Di meja ada obat pereda nyeri yang belum disentuh.

Nayla mengambil obat itu dan menaruhnya di depan Arya.

"Minum."

"Nanti."

"Sekarang."

Arya menatapnya.

Nayla menatap balik.

Pak Satria dengan bijak menyerahkan segelas air.

Arya meminum obat itu.

Alice di layar kecil berkata, "Aku harus merekam momen ini. Ada seseorang yang bisa memerintah Arya minum obat."

"Alice."

"Aku diam."

Di ruang rapat, Herman akhirnya bicara.

"Kami bisa mengambil proyek ini. Tapi kami butuh waktu due diligence."

Konsultan mengangguk. "Tentu. Namun ada dua pihak lain yang berminat. Jika PT Pelayaran Jaya ingin prioritas, deposit komitmen harus masuk hari ini."

Tegar langsung tegang. "Berapa?"

"Tiga puluh miliar."

Salah satu direktur keuangan Herman berbisik, "Pak, kas kita..."

Herman mengangkat tangan.

Tiga puluh miliar adalah angka besar, tetapi bukan angka mustahil. Justru cukup besar untuk terasa serius, cukup kecil untuk membuat orang serakah takut kehilangan kesempatan.

Alice tahu itu.

Arya tahu itu.

Herman juga tahu bahwa reputasinya baru saja diguncang setelah Rahmat ditangkap. Ia perlu kemenangan baru sebelum bank dan vendor mencium darah.

"Siapkan deposit," katanya.

Direktur keuangannya pucat. "Pak Herman..."

"Saya bilang siapkan."

Di suite, Nayla menatap layar. "Dia masuk."

Arya mengangguk. "Belum jatuh. Baru melangkah."

Alice berkata, "Aku kirim halaman risiko kepada tim legal mereka sekarang. Dengan font normal, bahasa jelas, dan lampiran resmi. Kalau mereka tetap menandatangani, itu bukan jebakan. Itu kebodohan yang diberi kesempatan berpakaian rapi."

Menjelang sore, Herman menandatangani letter of intent dan menyetor deposit dengan dana pinjaman jangka pendek. Untuk menutup kekurangan, ia menjaminkan sebagian aset bergerak PT Pelayaran Jaya dan menarik kas dari proyek pelabuhan.

Termasuk dana yang selama ini dipakai untuk menjaga orang-orang di tanah Wicaksana.

Itulah titik yang ditunggu Arya.

"Pak Satria, kirim surat hukum Wicaksana sekarang. Tuntutan pengosongan lahan, bukti pemalsuan lampiran, rekaman hubungan dengan Geng Macan Hitam, dan permintaan blokir aktivitas proyek."

"Siap, Tuan Muda."

"Dan minta dokter menyiapkan surat medis untuk laporan kepolisian Rahmat," tambah Nayla tiba-tiba. "Kalau Herman mencoba mengubah cerita menjadi perkelahian biasa, luka Arya harus tercatat resmi."

Arya menoleh. "Kamu sekarang memikirkan bukti."

"Aku cepat belajar dari orang menyebalkan."

Pak Satria mengangguk puas. "Catatan yang tepat, Nona."

"Alice."

"Aku sudah menghubungi bank kreditur mereka," jawab Alice. "Bukan untuk menekan. Hanya memberi tahu bahwa debitur mereka baru saja membuat komitmen baru pada proyek berisiko tinggi setelah pemimpin geng bayarannya ditangkap."

Nayla menatapnya. "Kamu menakutkan."

Alice tersenyum manis. "Terima kasih."

Malam itu, layar kantor pusat PT Pelayaran Jaya berubah merah.

Bank meminta klarifikasi.

Vendor menahan pengiriman.

Notaris yang dulu membantu lampiran palsu tiba-tiba meminta semua komunikasi lewat pengacara.

Satu bank daerah bahkan mengirim surat permintaan tambahan jaminan sebelum pukul delapan malam. Surat itu pendek, tetapi bagi perusahaan yang sedang kekurangan kas, setiap kalimatnya seperti pintu yang dikunci dari luar.

Kabar Rahmat ditangkap menyebar lebih cepat daripada yang Herman perkirakan. Orang-orang yang dulu bersedia datang saat ia menelepon kini tidak mengangkat panggilan.

Herman berdiri di ruang kerjanya, menatap laporan kas.

Angka minus bukan sekadar angka.

Itu lubang.

Lubang bernama Rp 150 miliar.

Tegar masuk terburu-buru. "Bapak! Ada masalah. Bank menahan fasilitas kredit. Vendor pelabuhan minta pembayaran tunai. Orang-orang di lahan timur juga pergi."

Herman menoleh perlahan.

Pada saat itu, pintu kantor terbuka.

Arya berdiri di sana bersama Pak Satria dan Nayla.

Wajahnya sedikit pucat karena luka, tetapi tatapannya tenang.

"Herman Santoso," kata Arya. "Tanah Keluarga Wicaksana, waktunya dikembalikan."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!