Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Elora melirik langit yang semakin gelap, lalu tanpa berpikir panjang, melepas jaket sekolahnya dan menyodorkannya ke arah Rean.
"Pakai ini dulu. Nanti kamu kedinginan."
Rean menatap jaket itu, lalu menatap Elora, kebingungan. "Tapi nanti kamu yang kedinginan."
"Aku nggak apa-apa, aku bawa payung," Elora tersenyum, memaksakan jaket itu ke tangan Rean. "Anggap saja aku pinjamkan. Kembalikan besok juga nggak apa-apa."
Karena tidak enak menolak, Rean akhirnya menerima jaket itu, mengenakannya dengan canggung.
Ukurannya sedikit kebesaran, lengan jaket menutupi sebagian telapak tangannya, membuat penampilannya semakin terlihat mungil dari biasanya.
Elora menahan diri untuk tidak berteriak gemas di tempat.
"Kenapa?" tanya Rean polos, menyadari tatapan aneh Elora.
"Nggak apa-apa," Elora buru-buru memalingkan wajah, pipinya sedikit merona. "Cuma... jaketnya kebesaran buat kamu, hihi."
"Oh." Rean mengangguk, menerima penjelasan itu apa adanya, tanpa curiga sedikit pun bahwa alasan sebenarnya jauh berbeda.
Mereka berdiri berdampingan di teras, menunggu hujan sedikit mereda sambil sesekali berbincang ringan — tentang pelajaran, tentang kesan pertama Rean terhadap sekolah, tentang hal-hal sederhana yang tidak pernah terasa canggung meski mereka baru saling kenal hari itu.
Ketika mobil jemputan Rean akhirnya tiba, ia berpamitan sambil membungkuk sopan.
"Terima kasih untuk jaketnya. Aku kembalikan besok."
"Nggak usah buru-buru," jawab Elora, melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan."
Rean berlari kecil menuju mobil, masih mengenakan jaket krem kebesaran itu. Elora berdiri di teras, memperhatikan mobil itu menjauh sambil memeluk payungnya sendiri, senyum kecil masih tersisa di wajahnya.
Ia belum tahu harus menyebut perasaan apa yang mulai tumbuh di dadanya sejak hari ini. Yang ia tahu hanyalah, entah kenapa, jaketnya terasa lebih ringan sejak ia memberikannya pada anak berwajah baby face itu.
Kieran duduk sendirian di ruang OSIS setelah jam sekolah usai, menatap laporan kegiatan klub yang menumpuk di mejanya. Sebagai wakil ketua OSIS, tugasnya tidak pernah sedikit, tapi hari ini pikirannya terus melayang ke hal lain.
Ke sebuah nama yang belakangan ini terlalu sering muncul dalam percakapan teman-temannya.
Rean Vale.
Ia tidak benar-benar mengerti kenapa nama itu mengganggunya. Anak itu tidak melakukan apa pun yang salah — tidak sombong, tidak berusaha menarik perhatian, bahkan cenderung canggung dan pendiam. Namun entah kenapa, ke mana pun Kieran pergi akhir-akhir ini, nama itu terus muncul.
"Anak baru itu lucu banget deh."
"Katanya dia dari Keluarga Vale, calon pewaris Vale Group."
"Elora kelihatan deket sama dia, ya?"
Kieran menghentikan lamunannya sendiri, mengerutkan kening. Kenapa ia harus memikirkan komentar terakhir itu?
"Kieran?"
Suara itu membuyarkan pikirannya. Sophia Hart berdiri di ambang pintu ruang OSIS, membawa map berisi dokumen.
"Kamu melamun," katanya sambil meletakkan map di meja. "Nggak seperti biasanya."
"Nggak apa-apa," jawab Kieran cepat, kembali fokus pada laporan di depannya. "Cuma capek."
Sophia menatapnya sejenak, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak memaksa. Sebagai sahabat masa kecil yang sudah mengenal Kieran sejak lama, ia tahu persis kapan harus bertanya dan kapan harus membiarkan.
"Kalau ada yang mengganggu pikiranmu," katanya sebelum keluar ruangan, "jangan dipendam sendiri."
Kieran tidak menjawab, hanya mengangguk singkat. Ia kembali menatap kertas di depannya, namun pikirannya sudah kadung tidak fokus.
Ia menghela napas, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang belum sepenuhnya ia mengerti sendiri.
Ini bukan apa-apa, yakinnya dalam hati. Hanya perasaan sesaat.
Ia belum tahu bahwa perasaan "sesaat" itu akan tumbuh jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
"Kamu belum ikut klub apa pun, kan?" tanya Ethan keesokan harinya, sambil menyeret Rean menuju papan pengumuman besar di dekat gedung serbaguna.
Papan itu dipenuhi poster berbagai klub — klub sains, klub musik, klub fotografi, klub debat, tim basket, tim renang, hingga klub memasak.
"Aku belum tahu mau pilih yang mana," jawab Rean, matanya membaca satu per satu poster dengan penuh rasa ingin tahu. Semua terlihat menarik baginya — bahkan hal sesederhana klub taman pun terasa seperti petualangan baru.
"Kalau kamu suka baca, coba klub sastra," saran Lucas yang ikut bergabung, menyesuaikan kacamatanya. "Kebetulan aku anggotanya."
"Atau klub fotografi," timpal Ethan. "Seru, kok, sering keliling sekolah motret momen-momen random."