Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa! Pengabdian?
Jenderal Bayu tampak mengangguk pelan, lalu menatap Mama Vivian dengan binar ketertarikan. Sebagai seorang jenderal senior, ia tahu persis bagaimana memanfaatkan relasi dengan kaum elite seperti Mama Vivian.
"Nyonya Vivian, niat anda sungguh mulia. Jarang sekali ada orang tua dari kalangan terpandang yang mau membiarkan anaknya keluar dari zona nyaman... dan kebetulan sekali, kami baru saja memperbarui kerja sama dengan beberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit Ganendra, untuk program kesehatan di daerah perbatasan luar," ucap Jenderal Bayu.
Mendengar hal itu, Mama Vivian menaikkan sebelah alisnya, "Program kesehatan?" tanya Mama Vivian.
"Iya, semacam pengabdian. Nanti akan ditempatkan di distrik terpencil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Di sana, kami memiliki pos komando taktis militer sekaligus pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Tempat yang sempurna untuk menempa mental putri Nyonya Vivian," ucap Jenderal Bayu tersenyum penuh arti.
Jenderal Bayu mendekat satu langkah lalu merendahkan suaranya, "Dan jika tujuan Nyonya Vivian adalah mencari menantu seorang perwira... di sana ada perwira andalan saya. Dia adalah seorang Kapten infanteri yang sangat berwibawa, tampan, cerdas dan memiliki karier yang sangat cemerlang, dia adalah komandan kompi di sana," bisik Jenderal Bayu.
Mata Mama Vivian seketika berbinar, "Jenderal...," Belum sempat Mama Vivian menyelesaikan perkataannya, Jenderal Bayu kembali bersuara.
"Saya jamin anda tidak akan pernah menyesal jika berhasil mendekatkan putri anda dengannya, dia adalah aset berharga militer saat ini," ucap Jenderal Bayu.
"Lalu, bagaimana dengan prosedurnya, Jenderal? Apakah pendaftarannya sulit?" tanya Mama Vivian yang mulai menyusun rencana di kepalanya.
"Sama sekali tidak sulit, apalagi rumah sakit Ganendra sebenarnya sudah membuka pendaftaran sejak minggu lalu. Kuotanya terbatas dan akan berangkat dalam waktu dua minggu ke depan, Ibu Vivian cukup memberikan nama putri anda dan saya yang akan memastikan namanya berada di urutan paling atas daftar keberangkatan," ucap Jenderal Bayu.
"Sempurna, saya percayakan hal ini kepada anda, Jenderal," ucap Mama Vivian dengan senyum kepuasan yang mengembang di bibirnya.
"Tentu saja, saya tidak akan mengecewakan Nyonya Vivian," balas Jenderal Bayu.
.
Lima hari berlalu. Bagi Hazel, satu minggu yang ia lalui terasa bagai satu dekade. Ponselnya baru dikembalikan pada malam ketujuh, itu pun setelah Mama Vivian memastikan bahwa Hazel sudah patuh.
Pagi ini, saat Hazel melangkah memasuki lobi rumah sakit tempatnya bekerja, ia merasa seperti seorang narapidana yang baru saja mendapatkan remisi. Aroma karbol, desis mesin pendingin ruangan, hingga langkah terburu-buru para staf medis yang biasanya memuakkan, hari ini terasa seperti udara segar yang begitu ia rindukan.
"Dokter Hazel! Saya kira Dokter masih cuti," ucap Suster Dila.
"Masih ada pasien yang harus saya kontrol, jadi saya tidak mungkin cuti lama-lama, Suster. Bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya Hazel dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sudah jauh lebih stabil, Dok. Sudah dua hari dipindahkan ke ruang perawatan biasa," jawab Suster Dila dan diangguki Hazel.
Siang harinya, Hazel melangkah menyusuri koridor bangsal mawar dengan langkah yang tenang dan senyum ramahnya. Di balik senyum ramah yang ia suguhkan kepada setiap pasien, ada rasa lelah mental yang luar biasa. Namun, setiap kali bertemu pasien, ia harus menghapus lelah itu.
"Dokter Hazel!" panggil seorang pria paruh baya dan wajahnya langsung cerah begitu melihat Hazel masuk.
"Iya, Pak?" tanya Hazel.
"Terima kasih banyak, Dok. Suster bilang, kalau malam itu Dokter menunda kepulangan Dokter untuk mengoperasi saya, kalau tidak ada Dokter, saya mungkin sudah tidak ada di dunia ini," ucap pria tersebut.
Hazel mendekat dan memeriksa denyut nadi pria itu lalu tersenyum lembut, "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Yang terpenting sekarang keadaan Bapak sudah pulih," ucap Hazel.
Ucapan tulus dari pasien tersebut setidaknya menjadi setetes embun di gurun pasir bagi batin Hazel yang gersang. Di tengah himpitan peraturan Ibunya yang sangat melelahkan, mengetahui bahwa keberadaannya masih berguna untuk nyawa seseorang adalah satu-satunya alasan Hazel bertahan.
Setelah itu, Hazel kembali beraktifitas seperti biasanya, namun baru saja ia menyelesaikan laporan visitasi terakhirnya, tiba-tiba pintu ruang praktiknya diketuk. Bukan perawat yang masuk, melainkan Dokter Julian, direktur utama rumah sakit, pemilik rumah sakit Ganendra sekaligus paman Hazel dari pihak Ibunya. Pria paruh baya itu masuk dengan wajah tegang, membawa sebuah map tebal berlogo resmi tentara angkatan darat dan kementerian kesehatan.
"Dokter Hazel, bisa kita bicara sebentar?" ucap Dokter Julian, suaranya sarat akan rasa sungkan yang amat sangat.
Hazel menegakkan punggungnya dan mendadak firasat buruk menyergap dadanya, "Ada apa, Dokter Julian? Apa ada masalah dengan pasien?" tanya Hazel.
Dokter Julian menghela napas panjang lalu meletakkan map tebal itu di hadapan Hazel, "Ini mengenai surat tugasmu. Minggu depan, kamu dijadwalkan berangkat ke wilayah perbatasan utara. Kamu terpilih sebagai perwakilan Dokter dari rumah sakit ini untuk mengikuti program pengabdian kesehatan selama enam bulan," ucap Dokter Julian.
Mendengar perkataan Dokter Julian, mata Hazel membelalak dan jantungnya mencelos seketika. "Apa! Pengabdian? Dokter, saya tidak pernah mendaftar program itu! Bagaimana bisa saya berangkat ke sana?" tanya Hazel.
Dokter Julian membuang muka, tidak berani menatap langsung mata keponakannya yang mulai berkaca-kaca. "Paman tahu, Hazel. Tapi... Ibumu yang mengurus semuanya. Entah apa yang sudah dia rencanakan, dia meminta seluruh berkasmu diproses dengan cepat dan pihak militer juga sudah memberikan kuota untukmu," ucap Dokter Julian.
Hazel mencengkeram tepi meja kerjanya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Napasnya memburu seketika, rasanya seperti baru saja terlempar dari tebing yang tinggi.
"Mama... keterlaluan," gumam Hazel dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah.
"Aku ini manusia, Paman! Bukan boneka yang bisa dia lempar ke mana pun dia suka! Aku tidak mau pergi! Hidup di kota dengan fasilitas lengkap saja terkadang membuatku lelah, bagaimana bisa aku bertahan di daerah konflik yang terpencil seperti itu!" tolak Hazel.
"Hazel, dengarkan Paman," Dokter Julian memegang pundak Hazel dengan iba.
"Kamu tahu persis bagaimana Ibumu, kekuasaan dan kekuatannya terlalu besar. Jika kamu menolak, dia bisa saja mencabut izin praktikmu di seluruh rumah sakit negeri ini. Paman tidak bisa berbuat apa-apa karena surat perintah dari markas besar militer sudah turun dan keberangkatanmu tinggal satu minggu lagi. Paman harap kamu bisa memikirkannya, Paman pergi dulu," ucap Dokter Julian.
Setelah Dokter Julian pergi, keheningan pun mulai menyergap dan terasa begitu mencekik bagi Hazel dan jauh lebih mengerikan daripada riuh rendah ruang IGD. Hazel menatap map tebal berlogo militer di atas mejanya dengan tangan yang sudah terasa kaku, lalu ia membuka lembar demi lembar berkas tersebut dan di sana, di kolom tanda tangan pemohon, tertera tanda tangan atas namanya yang telah dipalsukan dengan sangat rapi.
"Mama benar-benar keterlaluan," gumam Hazel, air mata frustrasi yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh dan membasahi lembar kertas formal yang menentukan nasibnya enam bulan ke depan.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak