NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Hirarki Baru Dan Pembersihan Sisa-Sisa

Suara teriakan Takashi Komuro membentur dinding beton basement, lalu menghilang begitu saja dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada satu pun orang yang menyahutnya.

Di tengah ruangan yang dingin dan beraroma tembaga itu, Thomas menatap Saeko Busujima yang masih bersujud kaku di depannya. Dahinya menempel di atas lantai beton, tepat di depan sepatu bot taktis milik Thomas. Katana pusaka Meito: Muramasa tergeletak di antara mereka, bersinar dingin di bawah pendaran lampu darurat.

Thomas melangkah satu tapak maju. Ujung sepatu botnya menyentuh jemari Saeko.

"Kau paham posisi tempatmu berdiri, Busujima?" suara Thomas terdengar berat, datar, dan memancarkan dominasi mutlak. "Di balik dinding benteng ini, tidak ada yang namanya kesetaraan. Tidak ada nilai kemanusiaan. Yang ada hanyalah pemilik dan alat."

Saeko tidak mengangkat kepalanya sedikit pun. Suaranya tetap stabil tanpa getaran ketakutan.

"Hamba paham, Tuan," jawab Saeko tegas. "Alat yang tidak berguna pantas dihancurkan, dan hamba siap membuktikan bahwa hamba adalah alat yang berguna untuk Tuan."

Thomas tersenyum dingin. Keputusan Saeko untuk menyerahkan diri secara total adalah bentuk kecerdasan pragmatis yang sangat ia hargai di dunia baru ini. Berbeda dengan Takashi atau Shido yang membawa ego dunia lama mereka hingga ke liang kubur, Saeko tahu kapan harus membengkokkan lutut agar tidak patah ditiup badai kiamat.

Thomas membungkuk sedikit, menjepit gagang Katana Muramasa dengan tangan kanannya, lalu menariknya keluar dari sarungnya: SZZZT!

Bilah baja lipat kuno itu memantulkan kilatan cahaya kebiruan yang sangat tajam. Sebuah senjata kelas atas yang dipelihara dengan sempurna.

"Senjata yang bagus," gumam Thomas. Ia mengendalikan pikirannya, memicu aliran energi dari inti tubuhnya.

SZZZT... KRAAAK!

Lapisan exoskeleton chitin hitam keemasan merayap cepat menyelimuti lengan kanan Thomas. Tanpa ragu, Thomas menggesekkan bilah Muramasa yang tajam itu lurus ke atas cangkang chitin di lengan telanjangnya dengan sekuat tenaga!

CLANG!

Percikan api membuncah di udara! Bilah pedang legendaris itu memantul keras tanpa meninggalkan bekas goresan sedikit pun di atas cangkang chitin Udang Mantis milik Thomas.

Saya Takagi menahan napasnya, matanya membelalak lebar melihat ketahanan fisik Thomas yang sudah di luar nalar manusia. Bahkan pedang pusaka terkuat tak sanggup menggores kulitnya.

"Pedang ini tajam untuk memotong daging manusia dan zombie," ujar Thomas sembari menyarungkan kembali pedang tersebut dan melemparkannya tepat ke samping tubuh Saeko. "Ambil pedangmu. Berdiri."

"Terima kasih, Tuan," jawab Saeko patuh. Ia mengambil pedangnya, lalu berdiri tegak dengan pandangan mata yang tertuju lurus ke tanah, menunggu perintah selanjutnya.

Thomas membalikkan badannya, menatap tiga orang tersisa yang tergeletak lemas di lantai: Takashi Komuro yang terluka parah, Kohta Hirano yang gemetar ketakutan, serta Saya Takagi yang tersungkur menangis. Di sudut lain, Rei Miyamoto terkulai pingsan dengan napas yang makin lemah.

"Lalu... bagaimana dengan kecoak-kecoak ini, Tuan?" tanya Saeko dengan suara tenang, seolah-olah ia sedang menanyakan hal biasa.

Takashi menengadah dengan susah payah, matanya dipenuhi rasa tak percaya dan dikhianati. "S-Saeko... kau benar-benar... akan membunuh kami...?"

Saeko tidak memandang Takashi. Wajahnya tetap datar, menunggu keputusan dari pria yang kini menjadi tuannya.

Thomas berjalan mendekati Saya Takagi. Ia mencengkeram dagu gadis berambut merah muda itu dengan satu tangan, memaksa Saya menatap lurus ke dalam matanya yang dingin tanpa emosi.

"Tempat ini tidak menampung sampah," bisik Thomas. "Kalian membobol rumahku. Hukuman untuk infiltrasi adalah kematian."

"A-ampun... tolong..." cicit Saya dengan derai air mata yang membasahi pipinya. "Aku... aku bisa berguna! Aku pintar, aku bisa membantu sistem komputer atau apa saja! Tolong jangan bunuh aku!"

Thomas melepaskan cengkeramannya, membuat Saya tersungkur kembali ke lantai. Ia melirik ke arah Kohta Hirano yang menunduk pasrah, lalu ke arah Takashi yang memandanginya dengan dendam yang membara namun tak berdaya.

"Membunuh kalian bertiga dengan tanganku sendiri hanya akan membuang-buang waktu dan mengotori ubin basement-ku," ujar Thomas datar.

Ia menoleh ke arah Saeko.

"Busujima."

"Hamba, Tuan," jawab Saeko cepat.

"Giring mereka bertiga dan gadis pingsan itu keluar melalui gerbang utama," perintah Thomas dingin. "Lucuti seluruh pakaian tebal, senjata rakitan, dan barang-barang mereka. Lempar mereka ke lereng luar perimeter benteng dalam keadaan telanjang dada dan tanpa alas kaki."

Kata-kata Thomas bagaikan vonis mati yang jauh lebih menyiksa daripada dieksekusi secara langsung. Di luar sana, malam pegunungan berada pada suhu di bawah nol derajat, dipenuhi oleh racun kabut dan kerumunan zombie yang berkeliaran mencari mangsa. Tanpa senjata, pakaian hangat, atau makanan, melemparkan mereka ke luar sama saja menyerahkan mereka ke mulut neraka secara perlahan.

"TIDAK! KAU DASAR KAU SETAN, THOMAS!" teriak Takashi histeris, berusaha bangkit namun langsung dihantam oleh tendangan kaki Saeko tepat di dadanya: BANG!

Takashi terlempar menghantam pilar, batuk darah kental.

"Jaga sikapmu di depan Tuan," ujar Saeko dingin tanpa ragu sedikit pun.

"Laksanakan perintahku, Busujima," kata Thomas sembari berbalik melangkah menuju tangga atas. "Setelah membersihkan sampah-sampah ini, bersihkan dirimu dan temui aku di ruang kontrol utama. Tugas pertamamu sebagai pelayan dimulai malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!