NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa

Abu dan kerikil tajam meledak tepat di depan wajah pria berjubah biru itu.

Pria tersebut refleks mengangkat lengan untuk melindungi matanya, membatalkan cabutan pedangnya. Dalam sepersekian detik itu, Lin Tian sudah berada di dalam jangkauan serangnya. Pedang beracun berbilah hijau diayunkan horizontal, menargetkan urat nadi di leher.

Ting!

Bukan daging yang robek, melainkan suara logam beradu. Pria itu ternyata mengenakan pelindung leher rahasia di balik kerah jubahnya. Mata Lin Tian menyipit. Sekte Pedang Perak memang tidak mengirim sampah untuk memburunya.

"Mati saja, bocah cacat!" teriak salah satu dari dua pria di belakang, langsung menghunus pedang dan menusuk ke arah perut Lin Tian.

Lin Tian tidak mundur. Ia memutar pinggangnya, membiarkan ujung pedang musuh mengiris pinggang kirinya. Darah segar langsung merembes, tetapi rasa sakit itu justru memicu qi liar di dantiannya. Energi panas yang membakar perutnya tiba-tiba mengalir deras ke lengan kanannya.

Ia menghantamkan gagang pedangnya tepat ke rahang pria berjubah biru yang masih buta sementara. Suara tulang retak terdengar nyaring. Pria itu terhuyung, dan Lin Tian langsung menginjak lututnya hingga patah ke belakang.

"Dia gila! Bunuh dari jarak jauh!" perintah pria ketiga, melemparkan tiga belati perak yang memancarkan cahaya redup.

Lin Tian berguling ke samping, menghindari dua belati, tetapi belati ketiga menancap di bahu kanannya. Hawa dingin langsung menjalar, mencoba membekukan aliran darahnya. Racun pembeku darah. Senjata khas pembunuh bayaran, bukan senjata murid sekte ortodoks.

Lin Tian mencabut belati itu dengan satu tarikan kasar, mengabaikan daging yang ikut terkelupas. Ia melemparkan belati berdarah itu kembali ke arah pria ketiga. Pria itu menangkis dengan mudah, tetapi itu hanya pengalihan.

Tubuh Lin Tian sudah melompat dari dahan pohon rendah, menukik ke bawah dengan pedang beracun mengarah ke dada pria ketiga. Qi liar meledak dari telapak kakinya, menghancurkan dahan pohon dan menambah kecepatan jatuhnya.

Pria ketiga membelalak, tidak menyangka bocah dengan meridian yang baru terbuka bisa bergerak secepat ini. Ia menyilangkan pedangnya untuk menangkis.

Krak!

Pedang perak itu patah menjadi dua di bawah beratnya qi hitam yang tidak murni namun sangat destruktif. Bilah hijau pedang Lin Tian terus meluncur, membelah dada pria itu dari bahu kiri hingga pinggang kanan.

Darah muncrat ke wajah Lin Tian. Hangat dan amis.

Pria kedua yang melihat rekannya tewas dalam sekejap, kehilangan nyali. Ia berbalik dan berlari ke arah jalur setapak, mengeluarkan sebuah peluit giok dari sakunya.

Lin Tian tidak membiarkannya meniup peluit itu. Ia menendang mayat di depannya, membuat tubuh tanpa nyawa itu terbang dan menabrak pria yang sedang lari. Keduanya terjatuh berjatuhan.

Sebelum pria kedua sempat bangkit, sepatu Lin Tian sudah menginjak tangannya yang memegang peluit, menghancurkan tulang-tulang jarinya hingga pipih. Pria itu menjerit, memuntahkan darah karena tekanan qi yang menekan dadanya.

Lin Tian berjongkok, menekan ujung pedang beracunnya ke dagu pria itu. Matanya yang hitam dan dingin menatap lurus ke dalam mata musuhnya yang dipenuhi ketakutan.

"Siapa yang memberi kalian kompas pelacak ini?" tanya Lin Tian. Suaranya datar, tanpa gelombang emosi.

"K-kami hanya melaksanakan perintah Tetua! Kami disewa oleh utusan Istana Langit Hitam! Tolong, ampuni aku, aku masih punya keluarga!"

Lin Tian menatap pria itu. Keluarga. Kata itu dulu berarti segalanya baginya. Sekarang, kata itu hanya mengingatkannya pada tumpukan abu di halaman rumahnya yang hangus.

"Keluargamu tidak akan mencarimu di neraka," bisik Lin Tian.

Ia mendorong pedangnya. Ujung bilah hijau itu menembus rahang bawah, langsung menembus otak. Pria itu kejang sesaat sebelum akhirnya terdiam selamanya.

Lin Tian menarik pedangnya, lalu berjalan tertatih-tatih menuju pria pertama yang rahangnya hancur dan lututnya patah. Pria itu sudah pingsan karena rasa sakit. Lin Tian tidak membangunkannya. Satu tebasan bersih di leher, dan hutan kembali sunyi.

Tubuh Lin Tian akhirnya menyerah. Ia jatuh berlutut, memuntahkan darah hitam yang bercampur dengan sisa-sisa racun dari belati tadi. Dantiannya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum panas. Qi liar yang ia paksa keluar tadi telah merobek beberapa meridian kecil di lengannya.

Ia merobek pakaian salah satu mayat, menggunakan kain itu untuk mengikat luka di pinggang dan bahunya. Setelah itu, ia mulai menggeledah tubuh ketiga pemburu tersebut.

Dari pinggang pria pertama, ia menemukan sebuah kantong kulit kecil. Di dalamnya terdapat tiga batu roh tingkat rendah yang memancarkan cahaya putih redup, dan sebuah botol giok berisi tiga pil berwarna merah. Pil Pemadam Api. Obat dasar untuk menenangkan qi yang mengamuk di dantian.

Lin Tian langsung menelan satu pil. Rasa dingin yang menenangkan langsung menjalar dari tenggorokan ke perutnya, memadamkan api di dantiannya untuk sementara. Napasnya yang tadi memburu perlahan menjadi lebih stabil.

Selain batu roh dan pil, ia juga menemukan sebuah lempengan besi hitam berukir awan perak. Di balik lempengan itu, terukir karakter-karakter kecil yang membuatnya mengerutkan kening.

Token Ujian Seleksi Sekte Pedang Perak. Wilayah Utara. Berlaku untuk pembawa dan satu pelayan.

Lin Tian menatap token itu dalam-dalam. Ujian Seleksi Sekte. Acara yang diadakan setiap tiga tahun sekali untuk merekrut murid baru dari berbagai kota. Keluarga Lin Tian dulu adalah keluarga pedagang biasa, tidak pernah bermimpi memasukkan anak mereka ke sekte kultivasi. Tetapi sekarang, token ini adalah satu-satunya jalan keluarnya.

Istana Langit Hitam memiliki jaringan mata-mata di seluruh kota dan desa. Bersembunyi di hutan hanya akan membuatnya mati kelaparan atau dibunuh oleh pemburu bayaran level rendah. Satu-satunya tempat yang aman dari jangkauan langsung organisasi pembunuh adalah di dalam sekte besar yang memiliki formasi pelindung dan aturan ketat.

Jika ia bisa lolos ujian dan menjadi murid internal, ia bisa mengakses teknik sirkulasi qi yang tepat, sumber daya kultivasi, dan yang terpenting, waktu untuk tumbuh kuat.

Tetapi ada satu masalah besar. Sekte Pedang Perak adalah salah satu sekte yang berafiliasi dengan aliansi sekte besar. Dan dari pengakuan pria tadi, mereka sudah menerima suap dari Istana Langit Hitam. Berjalan masuk ke markas mereka sama saja dengan menyerahkan leher ke atas talenan.

Lin Tian memasukkan token, batu roh, dan pil ke dalam pakaiannya. Ia berdiri, menatap kompas perunggu yang tergeletak di tanah. Jarum kompas itu kini tidak lagi berputar. Jarum itu menunjuk lurus ke arah utara, bergetar pelan seolah mendeteksi sesuatu yang lain.

Tiba-tiba, permukaan kompas itu retak. Sebuah proyeksi cahaya tipis muncul di atasnya, menampilkan peta topografi hutan ini dengan tiga titik merah yang berkedip. Titik merah itu adalah penanda kehidupan dari ketiga pria yang baru saja ia bunuh.

Namun, saat ketiga titik itu meredup dan mati, sebuah titik hitam besar tiba-tiba muncul di tepi peta, berjarak hanya sekitar lima mil dari lokasinya sekarang. Titik hitam itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, melahap jarak dalam hitungan detik.

Aura spiritual yang berat tiba-tiba menekan dari arah utara, membuat dedaunan di sekitar Lin Tian rontok seketika. Tekanan itu jauh lebih kuat dari Zhao Yan, dan jauh lebih dingin.

Lin Tian mencengkeram pedangnya, menatap ke arah kegelapan hutan di utara. Ia bahkan belum mencapai tahap Pengumpulan Qi tingkat dua, namun sudah ada yang datang untuk menuntut nyawanya.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!