"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1 — Jantung di Telapak Tangan
"Kita putus."
Tiara mengucapkannya sambil mendorong kotak cincin murah itu kembali ke arah Surya.
Kotak beludru biru tersebut meluncur di atas meja McDonald's, menabrak gelas cola, lalu berhenti tepat di samping tangan Surya. Di balik kaca restoran, lalu lintas malam Surabaya bergerak seperti biasa. Di meja mereka, lima tahun hubungan berakhir dalam tiga kata.
Surya menatap kotak itu. "Karena Kevin?"
Tiara menarik napas pendek. Blusnya baru. Jam di pergelangan tangannya juga baru. Selama lima tahun bersamanya, Tiara tak pernah mampu membeli barang semahal itu dari gaji seorang perawat.
"Jangan bikin ini lebih susah, Surya." Suaranya direndahkan, seolah takut orang lain mendengar. "Aku butuh masa depan. Bukan janji dari dokter muda yang bahkan belum punya SIP."
"Lima tahun lalu, waktu gue masuk FK, lo bilang bakal nunggu."
"Lima tahun lalu aku belum tahu hidup sesulit ini."
Sebuah tangan berjam tangan emas jatuh di bahu Tiara.
"Dia masih maksa?"
Kevin Hartono berdiri di samping meja dengan senyum tipis. Dua pria berbadan besar menunggu beberapa langkah di belakangnya. Kunci mobil sport diputar-putar di telunjuknya, sengaja cukup tinggi agar logo pada gantungannya terlihat.
Tiara langsung mengubah nada suaranya. "Enggak, Kevin. Aku sudah selesai."
Selesai.
Surya mengangkat pandangan. "Lo tahu dia masih pacar gue waktu kalian mulai?"
Kevin tertawa. "Pacar? Kalau cuma bisa ngajak makan paket hemat, itu namanya teman antre."
Beberapa pengunjung menoleh. Tiara menggigit bibir, tetapi tidak membela Surya.
Kevin mengambil kotak cincin tadi, membukanya, lalu bersiul. "Perak? Serius?"
Dia menjatuhkannya ke lantai.
"Ambil. Siapa tahu bisa lo jual buat ongkos pulang."
Rahang Surya mengeras. Uang untuk cincin itu dikumpulkannya dari jaga malam dan makan mi instan selama dua bulan. Namun yang membuat dadanya terasa kosong bukanlah cincin di lantai.
Yang paling menyakitkan adalah tatapan Tiara. Di matanya, Surya sudah kehilangan seluruh harga diri.
Surya berdiri.
Kevin mendorong dadanya. "Duduk kalau diajak ngomong."
Surya menepis tangan itu. Salah satu pengawal bergerak, tetapi Kevin lebih dulu melayangkan tamparan.
Plak!
Kepala Surya terlempar ke samping. Rasa logam memenuhi mulutnya.
"Itu supaya lo ngerti posisi," kata Kevin.
Tiara berdiri di samping lelaki itu. Diam.
Lima tahun. Ratusan kilometer perjalanan pulang-pergi. Uang kuliah yang selalu kurang. Ayah yang meninggal sebelum sempat melihatnya memakai jas putih. Ibunya yang masih bekerja di pabrik bata agar anak-anaknya bisa makan.
Semuanya mendesak naik ke tenggorokan Surya.
Lalu sebuah suara dingin berbunyi langsung di dalam kepalanya.
『Titik terendah kehidupan terdeteksi.』
Surya membeku.
『Kecocokan Inang: 99,7 persen. Sistem Dokter Ilahi Super sedang diikat.』
Apa-apaan?
Kevin menyeringai melihat ekspresinya. "Kenapa? Mau nangis?"
Cahaya kebiruan yang tak bisa dilihat orang lain memenuhi pandangan Surya. Deretan informasi medis mengalir begitu cepat: anatomi toraks, transplantasi jantung, reseksi hati, reduksi fraktur, jalur pembuluh darah, sudut sayatan, kekuatan tekanan jari.
Pengetahuan itu tidak terasa seperti hafalan.
Ia merasa telah memegang ribuan jantung, berdiri puluhan ribu jam di meja operasi, dan menghadapi komplikasi yang bahkan belum pernah dilihatnya selama koas.
『Pengikatan berhasil. Selamat datang, Inang.』
『Paket Pemula diterima: pengalaman transplantasi jantung tingkat dunia, transplantasi hati tingkat dunia, dan reposisi ortopedi tingkat dunia.』
Di belakang Kevin, sebuah baki jatuh.
Brak!
Seorang lelaki tua ambruk dari kursinya. Tubuhnya menghantam lantai, tangannya mencengkeram dada, lalu lemas.
Jeritan memecah restoran.
Surya bergerak sebelum siapa pun sempat memanggil namanya.
"Pak! Bisa dengar saya?"
Tak ada respons. Tak ada napas normal. Nadi karotis tak teraba.
"Telepon PSC 119! Minta AED!" Surya menunjuk seorang pengunjung. "Mas, beri ruang. Jangan kerumuni pasien."
Dia menumpuk kedua tangan di tengah dada lelaki tua itu dan mulai melakukan resusitasi jantung paru.
Satu, dua, tiga.
Tubuh pasien berguncang di bawah setiap kompresi.
Seorang pegawai membawa AED. Surya memasang pad, memastikan tak ada yang menyentuh tubuh pasien, lalu menekan tombol analisis.
"Irama tidak dapat diberi kejutan," bunyi mesin.
Surya melanjutkan kompresi.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Keringat mengalir dari pelipisnya. Pergelangan tangannya mulai nyeri. Bibir lelaki tua itu semakin kebiruan.
"Sudah, Dok," kata seseorang dengan suara gemetar. "Ambulans sebentar lagi datang."
Surya tidak berhenti.
Pada menit kedua puluh, sesuatu terasa salah.
Dada kiri pasien tidak mengembang seimbang. Di bawah kulit, warna kebiruan menyebar. Ketika tangannya bergeser sesaat, ujung jarinya menangkap sensasi cairan dan tekanan yang tidak wajar di rongga dada.
Pandangan Surya dipenuhi jalur anatomi yang terasa seterang peta.
Perdarahan intratoraks masif.
Jantungnya berhenti saat darah terus menggenangi rongga dada dan menekan organ di dalamnya. Kompresi dari luar tak akan cukup.
Kalau dia menunggu ambulans, lelaki tua itu mati.
Kalau dia bertindak, semua orang akan menganggapnya gila.
Surya berdiri dan berlari ke meja kasir.
"Dapur di mana?"
"D-Dok?"
"Dapur!"
Dia menerobos pintu ayun, menyambar pisau daging paling berat dari rak, lalu kembali ke ruang makan.
Orang-orang mundur serempak.
"Surya!" Tiara menjerit. "Lo mau ngapain?"
Surya berlutut di sisi pasien. Dia membersihkan bilah seadanya dengan antiseptik dari kotak P3K, lalu membuka baju pasien.
"Saya akan membuka dadanya."
Restoran mendadak sunyi.
Kevin tertawa tak percaya. "Lo sudah gila. Kalau kakek itu mati, habis hidup lo."
"Kalau saya tidak melakukannya, beliau mati sekarang."
Surya meminta dua pegawai menahan tubuh pasien. Tangannya tenang, tetapi suara di sekelilingnya berubah menjadi dengung jauh.
Dia melihat bukan lagi meja, kursi, atau puluhan kamera ponsel.
Dia melihat lapisan kulit. Otot. Tulang rusuk. Rongga dada. Titik masuk tercepat.
Tiara menangkap lengannya. "Jangan! Kamu cuma dokter muda!"
Satu detik keterlambatan bisa menjadi batas antara hidup dan mati.
Surya mengibaskan tangan Tiara. Ketika perempuan itu tetap menariknya, dia mendorongnya dengan kaki hingga terjatuh menjauh dari pasien.
"Jangan sentuh tangan dokter saat pasien sedang sekarat."
Lalu bilah itu turun.
Krak!
Suara tulang yang terbuka membuat beberapa orang menjerit. Seseorang menjatuhkan ponselnya. Darah membasahi seragam putih Surya dan mengalir ke lantai.
Dia tidak berkedip.
Sayatan diperlebar. Rongga dada terbuka. Darah gelap menggenang di dalamnya.
"Ya Tuhan... dia benar-benar membelah dada orang," bisik seorang pengunjung.
Surya memasukkan tangannya.
Hangat. Licin. Berdenyut lemah, lalu diam.
Ujung jarinya menemukan sumber perdarahan di jaringan paru yang robek. Dia menekannya kuat-kuat, lalu tangan satunya meraih jantung pasien.
Remas.
Lepas.
Remas.
Lepas.
Dia memijat jantung itu langsung dengan telapak tangannya.
"Ayo, Pak," desisnya. "Jangan mati di tangan saya."
Sirene terdengar dari kejauhan.
Jantung di telapak tangannya bergerak.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Monitor AED yang masih terpasang mengeluarkan bunyi panjang, kemudian garis di layarnya membentuk gelombang.
Tit... tit... tit...
Seseorang menangis. Seorang pegawai menutup mulut dengan kedua tangan. Kamera-kamera yang tadi gemetar kini mengarah lurus kepada Surya—kepada jas putihnya yang merah, pisau di lantai, dan jantung yang kembali berdetak di antara jemarinya.
Pintu restoran terbuka keras.
Tim ambulans masuk bersama seorang dokter berbahu lebar.
"Siapa yang melakukan torakotomi?" bentaknya.
"Saya." Surya tidak melepaskan tekanannya. "Perdarahan paru kiri. Titiknya sudah saya tahan. Sirkulasi kembali dua puluh detik lalu. Siapkan transfusi masif dan bawa langsung ke OK."
Dokter itu—dr. Hendra Susanto, Kepala IGD tempat Surya menjalani koas—menatap rongga dada pasien, posisi tangan Surya, lalu monitor.
Tak ada waktu untuk bertanya.
"Ikuti instruksinya!" perintah Pak Hendra. "Klem sementara. Angkat pasien dengan tangan dokter tetap di tempat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Surya tak sendirian.
Perjalanan menuju RSUD Dr. Soetomo berlangsung dengan tangannya tetap menahan perdarahan. Begitu pintu OK menelan brankar, tenaga Surya akhirnya habis. Dia bersandar ke dinding koridor, melihat darah mengering sampai ke siku.
Ponselnya bergetar tanpa henti.
Video dari restoran telah lebih dulu tersebar.
Potongan berdurasi dua belas detik menampilkan Surya mengangkat pisau, Tiara jatuh, lalu bilah turun ke dada lelaki tua itu. Bagian saat jantung kembali berdetak tidak ada.
Judulnya sudah muncul di puluhan akun:
DOKTER MUDA BACOK KAKEK DI MCDONALD'S.
PEMBUNUH BERJAS PUTIH?
Komentar bertambah ratusan setiap kali layar diperbarui.
Pembunuh.
Psikopat.
Cabut izin praktiknya.
Surya bahkan belum memiliki izin praktik penuh untuk dicabut.
Pintu OK terbuka. Pak Hendra keluar, masker masih menggantung di leher. Wajahnya keras dan sulit dibaca.
"Pasien hidup," katanya.
Surya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Namun Pak Hendra belum selesai.
"Direktur sudah lihat videonya." Dia menatap noda darah pada jas Surya. "Surya, ikut saya ke kantor. Sekarang."