Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sekitar pukul enam pagi, sinar matahari yang menyelinap melalui celah tirai perlahan membangunkan Aurora dari tidur yang gelisah. Kelopak matanya terbuka pelan, lalu seketika tubuhnya menegang saat menyadari ada seseorang yang terbaring tepat di sampingnya.
Napasnya tercekat.
Ingatan semalam berkelebat sedikit demi sedikit, membuat wajahnya memucat. Ia refleks menutup mulut dengan kedua telapak tangan agar isak yang hampir pecah tidak membangunkan pria itu.
Kael masih terlelap dengan napas yang terdengar teratur, sama sekali tidak menyadari gejolak yang sedang menghancurkan hati Aurora.
Air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Potongan-potongan kenangan malam itu terus berputar di benaknya, membuat dadanya terasa sesak. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan itu memenuhi pikirannya.
"Kenapa semua ini harus terjadi...?" bisiknya lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Bagaimana aku harus menghadapi Kakak? Kakak pasti sangat kecewa jika mengetahui apa yang menimpaku."
Aurora memejamkan mata erat, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi.
Dengan tubuh yang masih terasa lemah, ia berusaha bangkit dari tempat tidur. Namun baru saja menopang tubuhnya, rasa nyeri membuatnya meringis pelan.
"Akh..."
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa tidak nyaman itu sambil berusaha tetap berdiri.
Perasaannya semakin kacau. Di satu sisi ia ingin segera meninggalkan ruangan itu sejauh mungkin, tetapi di sisi lain pikirannya dipenuhi penyesalan dan kebingungan. Malam yang seharusnya tak pernah terjadi kini menjadi kenyataan yang harus ia hadapi seorang diri.
Aurora mengusap sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
Pandangannya kemudian jatuh pada pakaian yang tergeletak di lantai. Kain itu sudah tak lagi utuh, membuat dadanya kembali sesak.
Tanpa sadar, matanya kembali beralih ke arah Kael yang masih tertidur pulas.
Wajah pria itu terlihat begitu tenang, seolah tidak ada beban yang menghampirinya. Pemandangan itu justru membuat amarah Aurora semakin membuncah. Jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagaimana mungkin kau bisa tidur setenang itu...?" gumamnya lirih, menahan air mata yang kembali menggenang. "Apa kau sama sekali tidak memikirkan apa yang telah terjadi?"
Aurora memalingkan wajah, berusaha mengendalikan emosinya. Ia membuka laci kecil di samping tempat tidur, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya keluar dari situasi itu. Di dalamnya, hanya ada beberapa benda pribadi dan sebuah gunting kecil.
Ia mengambil gunting itu tanpa suara.
Benda itu tergenggam erat di tangannya. Sesaat, pikirannya dipenuhi amarah dan keinginan untuk melampiaskan semua rasa sakit yang memenuhi dadanya.
Namun ketika menatap Kael sekali lagi, tangannya mulai bergetar hebat.
Napasnya memburu. Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia cegah.
Gunting yang sempat terangkat di tangan Aurora perlahan bergetar.
Amarah yang beberapa saat lalu menguasai pikirannya mulai terkikis oleh suara hati yang masih tersisa. Napasnya memburu, sementara air mata kembali mengaburkan pandangannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Akhirnya, dengan jemari yang gemetar, ia menurunkan gunting itu dan meletakkannya perlahan di atas ranjang, tak jauh dari Kael yang masih terlelap tanpa sedikit pun menyadari gejolak batin yang sedang menghancurkan gadis di hadapannya.
Aurora menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah, namun ia berusaha meredamnya agar tidak membangunkan pria itu.
"Aku tidak bisa..." bisiknya lirih. "Aku bukan orang yang berhak menentukan hidup atau mati seseorang. Meski dia telah menghancurkan hidupku, aku tak ingin berubah menjadi seseorang yang sama kejamnya."
Ia mengusap air mata dengan punggung tangan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang masih dimilikinya.
Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah kemeja putih milik Kael yang tergeletak di kursi. Tanpa banyak pilihan, Aurora meraihnya dan mengenakannya untuk menutupi tubuhnya.
Setelah itu, ia berjongkok perlahan. Dengan jemari yang gemetar, ia memunguti pakaian, ponsel, dan tasnya yang berserakan di lantai. Setiap langkah terasa berat, seolah luka di hatinya ikut membebani seluruh tubuhnya.
Aurora lalu mencari kunci kamar. Dengan hati-hati, ia menemukannya di saku celana Kael yang tergeletak di dekat ranjang. Ia mengambilnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Sebelum pergi, Aurora berhenti sejenak di ambang pintu.
Tatapannya jatuh sekali lagi pada sosok Kael yang masih tertidur dengan wajah tenang.
"Dasar pria iblis." gumamnya pelan, suaranya dipenuhi kemarahan yang berusaha ditahan.
Tanpa menunggu lebih lama, Aurora memutar gagang pintu dan melangkah keluar.
Dengan langkah tertatih, ia meninggalkan kamar itu, membawa luka yang akan selalu mengingatkannya pada malam paling kelam dalam hidupnya, sementara sosok Kael perlahan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
...----------------...
Kael terbangun ketika cahaya matahari mulai memenuhi kamar hotel. Secara refleks ia menoleh ke sisi ranjang yang semalam masih ditempati Aurora. Kini tempat itu telah kosong, hanya menyisakan selimut yang kusut dan kesunyian yang terasa begitu pekat.
Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah gunting berukuran kecil yang tergeletak di atas kasur. Ia mengangkat benda itu perlahan, mengamatinya beberapa saat sebelum sudut bibirnya membentuk senyum tipis, seolah memahami apa yang sempat terlintas di benak gadis itu.
"Aku sudah menduganya," gumamnya pelan. "Kau bukan seseorang yang tega melukai orang lain, bahkan ketika sedang ketakutan."
Ia mengembuskan napas panjang sambil memandang sekeliling kamar yang masih berantakan. Seprai yang kusut dan beberapa jejak warna merah yang tertinggal menjadi saksi bisu bahwa malam sebelumnya telah meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di mata.
Kael berdiri terpaku beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak bangun, pikirannya tidak dipenuhi kemenangan, melainkan bayangan wajah Aurora.
"Aurora..."
Ia memanggil nama itu sekali.
Tak ada jawaban.
Dengan suara yang lebih kuat, ia kembali memanggilnya.
"Aurora..."
Keheningan tetap menyelimuti kamar. Hanya gema suaranya sendiri yang terdengar.
Kael memanggil nama Aurora berulang kali begitu menyadari kamar itu telah sunyi. Ia sempat mengira gadis itu masih berada di sekitar hotel. Di benaknya terlintas untuk meninggalkan sejumlah uang sebagai bentuk penyelesaian, seolah semua yang terjadi semalam dapat diselesaikan dengan materi.
Ia menyusuri setiap sudut kamar, bahkan membuka pintu menuju balkon dan memeriksa ruangan lain. Namun, sosok Aurora telah menghilang tanpa jejak.
Kael mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya bergumam pelan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Biarkan dia pergi. Cepat atau lambat, dia akan kembali ke hadapanku. Tak ada yang benar-benar bisa menghilang dari jangkauanku."
Tatapannya kemudian jatuh pada ranjang yang masih berantakan. Tangannya bergerak perlahan merapikan seprai yang kusut. Sesaat jemarinya terhenti ketika melihat noda yang tertinggal di atas kain putih itu.
Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, wajah Kael kehilangan ketenangannya. Pemandangan tersebut bukan menghadirkan rasa bangga, melainkan meninggalkan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ia menyadari bahwa malam itu telah mengubah hidup seseorang, dan bayangan mata Aurora yang dipenuhi ketakutan terus menghantuinya.
Ruangan yang semula terasa biasa mendadak dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Kael berdiri lama di depan ranjang, sementara pikirannya terus kembali pada gadis yang telah pergi tanpa sepatah kata pun. Sejak saat itu, tanpa ia sadari, Aurora telah meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus dari ingatannya.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe