Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Balasan
Sudah lebih dari dua minggu, tidak ada kabar dari Dino. Tidak ada pesan, tidak ada suara langkah kaki yang biasa terdengar di ujung jalan itu.
Namun, hari-hari Mela tetap berjalan.
Ia tetap sibuk seperti biasa. Kini lahannya tidak hanya ditanami sayuran, tapi juga berbagai jenis buah. Tangannya tidak pernah berhenti bekerja, menanam, menyiram, memanen, semuanya ia lakukan dengan rapi dan penuh ketekunan.
Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kosong yang tidak bisa ia isi.
Setiap sore, tanpa sadar, Mela selalu berdiri di tepi lahannya. Matanya menatap jalan kecil yang sama, yang sudah terlalu sering ia pandangi dalam diam.
Namun, tetap saja kosong.
"Aneh," gumamnya pelan. "Kenapa aku masih nungguin dia?"
Ia menggeleng, menertawakan dirinya sendiri. "Kamu ini bodoh banget, Mel."
Ia terdiam, teringat pengakuan Dino. Semua terasa begitu nyata saat itu. Namun sekarang, yang tersisa hanya sepi.
"Mungkin, semua itu memang cuma omong kosong saja," lanjutnya lirih.
Malam harinya, Mela duduk sendiri di dalam rumah kayu yang kini terlihat lebih hidup setelah ia merenovasi nya. Namun, suasana tidak berubah, tetap sunyi seperti biasa.
Biasanya, ia akan sibuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, menyusun daftar pesanan untuk esok hari, atau mengecek kebutuhan bibit dan alat pertanian.
Namun malam ini, Ia hanya diam. Tatapannya kosong menembus meja kayu di depannya. Hingga tanpa ia sadari, air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena Rahman, bukan karena masa lalu. Tapi, karena seseorang yang baru saja ia biarkan masuk dalam hidupnya, lalu kini menghilang begitu saja.
"Bodoh," bisiknya pada diri sendiri.
Ia menyeka air matanya cepat, seolah tidak ingin terlihat lemah meski hanya oleh dirinya sendiri. Namun, di saat ia hampir benar-benar menyerah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
TOK! TOK! TOK!
Mela mengernyit. Ia berdiri, melangkah menuju pintu. Dan saat pintu itu terbuka, ia membeku, melihat Dino berdiri di sana.
Debu perjalanan masih terlihat di pakaiannya. Napasnya sedikit berat. Namun matanya, langsung tertuju pada Mela.
"Apa kabar, Mel?" ucapnya pelan. "Maaf, baru bisa datang."
Satu kalimat itu langsung meruntuhkan semua dinding yang susah payah Mela bangun. Matanya memanas. Bibirnya bergetar.
"Kamu ke mana saja?" suaranya pecah, menahan emosi yang sudah lama ia pendam.
Dino menghela napas panjang. "Ada urusan penting dan semuanya terjadi mendadak. Aku nggak sempat hubungi kamu."
Mela ingin marah. Ingin membentak. Ingin berkata bahwa ia tidak peduli. Tapi, rasa rindu lebih kuat dari semuanya.
"Kamu lama sekali," ucapnya pelan. "Aku pikir... kamu nggak akan kembali."
Hening sesaat.
"Maaf," jawab Dino lirih.
Mela memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai basah. "Aku pikir... kamu cuma main-main."
Dino mengangkat alisnya sedikit. "Soal perasaanku?"
Mela tidak menjawab. Tapi, diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Dino tersenyum tipis, lalu menggeleng mantap.
"Aku nggak pernah main-main soal kamu, Mel. Aku serius." Ia menatapnya dalam. "Makanya, aku akan tetap menunggu. Apa pun jawaban kamu nanti, aku terima."
Ucapan itu membuat hati Mela kembali goyah. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Ya sudah kalau begitu."
Dino mengernyit. "Ya sudah gimana maksudnya?"
"I-itu..." Mela menunduk, kedua tangannya saling menggenggam gugup.
Dino tersenyum kecil, sedikit canggung. "Sebagai gantinya, aku mau ajak kamu makan malam."
"Makan malam?" Mela menatapnya heran.
"Iya. Anggap saja permintaan maafku karena sudah buat kamu menunggu."
"Ck, siapa yang nunggu," gerutunya, meski pipinya sedikit merona.
Dino terkekeh pelan. "Jadi, mau tidak?"
Mela diam sejenak. Namun akhirnya, ia mengangguk setuju. Ia kembali masuk, mengambil jaket dan tasnya. Baru kemudian, ia mengunci pintu sebelum berangkat dengan Dino menggunakan mobil pick-up nya.
Malam itu, mereka pergi ke sebuah warung makan sederhana di pinggir desa.
Lampu-lampu kuning temaram menggantung, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Tidak mewah, tapi terasa nyaman.
Mereka duduk berhadapan dengan pesanan yang sudah tersaji di meja. Mereka menikmatinya dalam diam.
Awalnya canggung namun, perlahan percakapan mengalir dengan sendirinya. Mereka membicarakan tentang lahan, sayuran, pesanan dan tentang hari-hari yang terlewat.
Hingga akhirnya, Dino terdiam. Ia menarik napas dalam sebelum kembali membuka suara.
"Mel!" panggilnya
Mela menatapnya. "Ya?"
Dino merogoh saku, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang membuat mata Mela membesar. Lalu, Dino berdiri di sisi meja.
"Dulu, aku kehilangan kesempatan ini," ucap Dino tenang namun, penuh kesungguhan. "Aku nggak mau kehilangan lagi."
Ia membuka kotak itu. Sebuah cincin sederhana terlihat di dalamnya. Kemudian, ia berlutut. "Menikahlah denganku, Mel."
Dunia Mela seolah berhenti. Semua suara menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung Mela yang berdentum keras.
"Di-dino... A-aku... " Suara Mela bergetar.
"Aku serius, Mel," lanjut Dino.
Mela menunduk. Tangannya gemetar pelan. "Aku... " ia menelan ludahnya, "aku cuma seorang janda, Din. Aku udah gak muda lagi dan... Aku gak pantas buat kamu."
Dino langsung menggeleng. "Itu semua bukan masalah. Aku terima kamu apa adanya, Mel."
"Tapi... " Mela menggigit bibir bawahnya. "Aku takut akan mempermalukan kamu," lirihnya
Dino tersenyum lembut. "Mel, Orang tuaku sudah nggak ada. Aku hidup sendiri." Ia menatapnya dalam. "Nggak ada yang akan menghakimi kamu."
Hening.
"Dan, kalaupun ada, aku yang akan berdiri di depan kamu," lanjut Dino.
Air mata Mela jatuh lagi. Tapi, kali ini bukan karena luka. Melainkan, karena haru.
"Aku nggak peduli dengan status kamu," kata Dino mantap. "Aku cuma peduli sama kamu."
Mela menutup matanya sejenak. Semua ketakutan, luka, dan keraguan bercampur jadi satu. Namun, di balik semuanya ada satu hal yang lebih kuat. Keinginan untuk bahagia.
Dan, akhirnya perlahan ia mengangguk.
"Iya," lirihnya
Dino terdiam, seolah tidak percaya. "I-iya?"
Mela tersenyum. Air matanya masih menggenang di pelupuk matanya. "Iya, Din. Aku mau."
Senyum lebar menghiasi wajah pria itu. Ia langsung memasangkan cincin itu di jari Mela. Lalu, menarik Mela berdiri dan memeluknya erat.
"Terima kasih, Mel. Aku sangat bahagia."
Mela membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hatinya benar-benar hangat.
Namun, di saat Mela mulai menemukan kebahagiaannya, Di tempat lain, kehidupan Rahman justru runtuh..
Di ruang kerja perusahaan Wijaya, suasana kacau. Sejak tadi siang, satu persatu masalah datang.
"Pak! Ini tidak bisa ditahan lagi!"
Rahman berdiri dengan wajahnya tegang. "Apa maksudnya tidak bisa?!" bentaknya.
"Dana kita... hilang, Pak."
Kalimat itu membuat Rahman membeku.
"Investasi itu gagal total."
Rahman menatap kosong. "Ti-tidak mungkin," lirihnya.
Namun, kenyataan tidak bisa dibantah. Satu per satu laporan masuk. Kerugian, penarikan dana, investor kabur. Dan, dalam waktu yang sangat singkat semuanya runtuh.
Tabungan habis, aset terseret, dan utang menumpuk.
Rahman terduduk lemas. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak punya kendali.
Saat ia memutuskan untuk berinvestasi, ia begitu yakin. Dan, memang benar. Ia mendapatkan keuntungan. Namun, itu semua hanya di awal saja.
Setelah ia menggunakan semua hartanya, investasinya justru gagal total.
"Ti-tidak mungkin! Semua ini, tidak mungkin!" teriaknya frustasi.
Di rumah, Dyah terlihat panik setelah mendengar kabar itu. Napasnya memburu, tubuhnya melemah hingga penyakitnya kambuh.
Sementara, Lina yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis. Dan Camila, berdiri diam. Tangannya mengepal erat dan tatapannya berubah dingin.
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
aq bnc ms ll... igt tu
dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.
ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.