NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Janji Sang Dokter

Bekas luka di bahu Anindya tidak lagi merah, tetapi masih menarik ketika ia mengangkat lengan terlalu lama.

“Rentang gerak membaik,” kata Dewa setelah mencatat hasil pemeriksaan. “Kekuatan sisi kanan hampir seimbang. Masih ada nyeri saat udara dingin?”

“Kadang. Dua atau tiga dari sepuluh.”

“Dan tangan yang terkena kaca?”

Anindya menunjukkan bekas sayatan tipis di bawah jari kelingking. “Sudah menutup. Tidak mati rasa.”

Dewa memeriksa gerak jari, kekuatan genggam, dan warna kulit, lalu menulis bahwa luka tidak menimbulkan gangguan fungsi. Ia tidak menjanjikan bekasnya akan hilang. Ia hanya menjelaskan perawatan kulit dan tanda peradangan yang perlu dilaporkan.

Di meja samping, Salsabila menata berkas pasien berikutnya. Adik Dewa itu menyerahkan salinan hasil pemeriksaan kepada Anindya, lalu keluar untuk membantu bagian administrasi tanpa ikut campur percakapan.

“Secara medis, Anda bisa melanjutkan tugas sesuai penilaian dokter penerbangan,” kata Dewa. “Saya kirim laporan hari ini. Latihan bahu tetap tiga kali seminggu.”

“Baik.”

Dewa menutup berkas, tetapi tidak langsung memanggil pasien berikutnya.

“Ada satu hal lain yang masih relevan dengan pemulihan,” ujarnya. “Tidur dan tingkat stres. Berita tentang Anda cukup ramai. Apakah itu mengganggu makan, tidur, atau konsentrasi di kokpit?”

Pertanyaannya tidak terdengar seperti rasa ingin tahu. Ia menyebut fungsi, bukan gosip.

“Tidur saya berkurang dua malam setelah acara,” jawab Anindya. “Sekarang kembali normal. Tidak ada gangguan konsentrasi saat bertugas.”

“Kalau berubah, laporkan. Bukan untuk menghentikan Anda otomatis, tetapi supaya kita menangani sebelum menjadi risiko.”

Anindya mengangguk.

Dewa ragu sesaat. “Setelah konsultasi selesai, kalau Anda punya waktu, saya ingin bicara sebagai teman. Anda bebas menolak.”

“Di kafetaria?”

“Tempat terbuka. Lima belas menit.”

Anindya melihat jam. “Baik.”

Mereka turun ke kafetaria rumah sakit setelah Dewa menyerahkan perawatan pasien berikutnya kepada jadwal dokter lain. Ia mengganti jas putih dengan jaket tipis, memisahkan peran dokter dari percakapan pribadi setidaknya secara tampak.

Anindya memilih meja dekat jendela. Dewa membawa dua air mineral, bukan kopi, karena ia ingat Anindya baru selesai pemeriksaan.

“Saya menonton pernyataan Anda di Menteng,” katanya. “Bukan potongan gosipnya.”

“Semua orang rupanya menonton versi lengkap sekarang.”

“Versi lengkap biasanya kurang laku, tapi lebih jujur.”

Anindya memutar tutup botol. “Apa yang ingin Anda tanyakan?”

“Apakah Anda aman?”

“Secara fisik, ya.”

“Yang lain?”

Anindya memandang taman rumah sakit. Ia tidak menceritakan semua hal. Hanya bahwa Amara mencoba membangun isu konflik kepentingan, Arka sedang memperbaiki kesalahan lama, dan terlalu banyak orang mendadak merasa berhak menilai kehidupan yang dulu tidak mereka ketahui.

Dewa mendengarkan tanpa menawarkan solusi cepat.

“Arka mengakui kesalahannya,” kata Anindya. “Itu seharusnya baik. Tapi setiap kali dia melakukan hal benar, saya marah karena dulu dia bisa memilih melakukan hal yang sama dan tidak melakukannya.”

“Dua perasaan itu bisa benar bersamaan.”

“Saya tidak suka merasa bingung.”

“Kebingungan bukan kegagalan mengambil keputusan. Kadang itu tanda Anda belum memaksa luka menjadi jawaban.”

Anindya menatapnya. “Anda selalu bicara seperti dokter.”

“Itu masalah saya.” Dewa tersenyum kecil, lalu kembali serius. “Ada hal yang perlu saya katakan dengan jelas. Perhatian saya kepada Anda sudah tidak sepenuhnya profesional.”

Jari Anindya berhenti pada tutup botol.

“Saya tidak akan memakai posisi dokter untuk mendekati Anda,” lanjut Dewa. “Kalau pengakuan ini membuat Anda tidak nyaman, saya akan mengalihkan perawatan lanjutan kepada kolega tanpa memengaruhi laporan medis.”

“Kenapa mengatakan sekarang?”

“Karena diam sambil berpura-pura netral juga tidak jujur.”

Dewa menatap botol air di tangannya. “Perasaan itu tidak muncul karena saya ikut menyelamatkan hidup Anda. Tindakan medis bukan utang pribadi, dan pasien tidak berutang kedekatan kepada dokter.”

Ia berhenti sebentar, memilih kata.

“Saya mulai memperhatikan Anda ketika Anda menolak catatan pemulihan dipermudah, ketika Anda mengakui nyeri tujuh meski sangat ingin kembali terbang, dan ketika Anda tetap bertanya apakah pasien lain dari Merapi sudah mendapat perawatan. Tapi saya tidak mengatakan apa pun karena saat itu Anda bergantung pada penilaian klinis saya.”

“Sekarang saya masih pasien Anda.”

“Benar. Itu sebabnya pilihan dokter pengganti harus tersedia sebelum ada percakapan lebih jauh.”

Anindya menghargai bahwa Dewa tidak menyebut ketertarikannya sebagai janji untuk melindungi. Ia juga tidak memakai malam operasi, masa ketika Anindya tidak berdaya, sebagai kisah romantis yang harus dibalas.

“Saya tidak bisa memberi jawaban.”

“Saya tidak meminta hari ini.”

Anindya mengembuskan napas. “Hati saya masih terlalu penuh oleh hal yang belum selesai.”

“Saya paham.”

Dewa tidak menjanjikan akan selalu muncul tanpa diminta. Ia menawarkan sesuatu yang lebih masuk akal.

“Kalau Anda memilih tetap menjadi pasien saya, batas klinis tetap sama. Kalau Anda memilih saya sebagai teman, hubungi di luar nomor rumah sakit. Kalau tidak memilih keduanya, saya akan menghormatinya.”

Anindya merasakan kehangatan kecil, bukan karena dikejar, melainkan karena diberi jalan keluar.

“Saya akan mempertimbangkan dokter pengganti untuk pemeriksaan berikutnya,” katanya. “Untuk pertemanan, kita lihat nanti.”

“Itu adil.”

Mereka berpisah di lobi tanpa janji romantis.

Saat Anindya berjalan menuju area penjemputan, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirim satu kalimat.

Hati-hati pada orang yang tampak peduli. Terutama ibu Damar Wibisana.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada permintaan uang atau tautan.

Anindya memotret layar untuk dokumentasi, meneruskannya kepada Sisi, lalu menatap pintu kaca rumah sakit dengan wajah mengeras.

Peringatan itu bisa tulus. Bisa pula menjadi umpan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!