Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
Suasana di dalam mobil Ziko sepanjang perjalanan menuju kantor terasa begitu mencekam. Kabar penolakan total dan pemutusan hubungan bisnis sepihak dari Grand Wijaya Group benar-benar meruntuhkan konsentrasinya.
Berkali-kali ia memukul setir mobilnya dengan frustrasi, mencoba mencari tahu di mana letak kesalahan proposalnya hingga mendapat sanksi sekeras itu.
Namun, sorenya ketika Ziko kembali ke rumah dengan wajah yang semakin layu, ia justru disambut oleh pemandangan yang bertolak belakang.
Rumah mewah itu tidak lagi sepi. Di ruang tamu, Bu Rani duduk di sofa dengan wajah yang sangat cerah, ditemani oleh Clarissa yang sore itu datang mengenakan gaun kasual bermerek, lengkap dengan senyum manisnya yang biasa.
Begitu Ziko melangkah masuk dan meletakkan tas kerjanya dengan lemas, Bu Rani langsung berdiri dan menghampiri putranya dengan wajah berseri-seri.
"Ziko! Akhirnya kamu pulang juga, Nak!" seru Bu Rani gembira, langsung menarik lengan Ziko untuk duduk di sebelah Clarissa. "Kamu tahu tidak? Sejak perempuan pembawa sial itu angkat kaki dari sini, aura rumah ini rasanya langsung berubah jadi sangat positif. Ibu merasa plong sekali hari ini!"
Ziko hanya menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya yang lelah tanpa gairah. "Ibu... Ziko sedang pusing. Urusan di kantor sedang kacau."
Clarissa yang duduk di samping Ziko segera mengulurkan tangan, mengusap bahu pria itu dengan lembut dan penuh perhatian. "Ziko, kamu tenang saja. Soal urusan bisnis, pasang surut itu biasa. Kan ada aku di sini yang selalu siap mendukungmu."
Bu Rani langsung menepuk tangannya dengan heboh, memandangi Clarissa dengan binar mata penuh kekaguman. "Nah, dengar itu, Ziko! Ini baru namanya wanita berkelas yang beruntung. Berbeda jauh dengan si Mahira yang cuma bisa bikin malu dan merusak acara ulang tahun Ibu semalam."
Wanita tua itu kemudian memajukan duduknya, menatap Ziko dengan pandangan yang penuh desakan ambisius. "Ziko, mumpung si Mahira sudah tahu diri dan pergi membawa koper bututnya itu, kamu jangan buang-buang waktu lagi. Kertas gugatan cerai yang dia tinggalkan di mejamu itu adalah berkah luar biasa dari Tuhan untuk keluarga kita."
Ziko menoleh, menatap ibunya dengan kening berkerut. "Maksud Ibu bagaimana?"
"Maksud Ibu, kamu harus segera meresmikan hubunganmu dengan Clarissa!" desak Bu Rani tanpa ragu sedikit pun. Suaranya terdengar sangat antusias. "Untuk apa kamu mempertahankan pernikahan dengan anak desa yang tidak punya masa depan seperti Mahira? Lebih baik kamu urus perceraian itu secepatnya ke pengadilan, jangan ditunda-tunda! Begitu ketuk palu, langsung nikahi Clarissa secara resmi!"
Clarissa yang mendengar desakan Bu Rani langsung menundukkan kepala, berpura-pura malu dan tersenyum anggun, meskipun di dalam hatinya ia bersorak kegirangan. Rencananya untuk menyingkirkan Mahira secara perlahan kini telah membuahkan hasil yang sempurna.
"Iya, Ziko...." Clarissa menimpali dengan suara yang dibuat selembut mungkin, menatap Ziko dengan mata berkaca-kaca penuh harap.
"Keluargaku juga sudah mulai bertanya-tanya tentang kejelasan hubungan kita. Kalau kamu segera menyelesaikan urusan masa lalumu dengan Mbak Mahira, ayah dan ibuku pasti akan jauh lebih mudah untuk memberikan restu... termasuk memberikan bantuan dana dari jaringan bisnis keluarga kami untuk membantu perusahaanmu yang sedang kesulitan."
Mendengar umpan lambung berupa bantuan dana bisnis dari Clarissa, mata Bu Rani makin berbinar-binar. Ia menyenggol lengan Ziko dengan tidak sabar.
"Dengar itu, Ziko! Clarissa kurang baik apa lagi coba? Dia mau membantumu bangkit, membawa nama baik, dan punya koneksi tingkat atas. Ibu benar-benar gembira hari ini. Kepergian Mahira adalah hari kemenangan untuk kita." Bu Rani mengucapkannya dengan nada sangat puas, seolah-olah mereka baru saja memenangkan lotre bernilai triliunan rupiah.
Ziko terdiam, memandangi wajah Clarissa dan ibunya bergantian. Di satu sisi, egonya sebagai pria yang telanjur sakit hati oleh sikap dingin Mahira semalam membuatnya ingin membuktikan bahwa ia bisa hidup jauh lebih bahagia dan sukses setelah menceraikan wanita itu.
Di sisi lain, tawaran Clarissa mengenai bantuan dana dari jaringan keluarganya adalah satu-satunya pelampung darurat yang ia miliki saat ini untuk menyelamatkan Adhi Jaya Perkasa yang baru saja di-blacklist oleh Grand Wijaya Group.
Ziko menarik napas panjang, menegakkan posisi duduknya, lalu menggenggam tangan Clarissa dengan erat. Sisa-sisa keraguan di hatinya lenyap, digantikan oleh rasa percaya diri yang semu.
"Baik, Bu. Kalau itu yang terbaik," ujar Ziko dengan suara tegas. "Besok aku akan meminta sekretarisku untuk menghubungi pengacara agar gugatan cerai dari Mahira segera diproses dengan cepat di pengadilan. Aku tidak akan mengulur-ulur waktu lagi."
Mendengar keputusan bulat Ziko, Clarissa langsung menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, menyembunyikan binar kelicikan di matanya di balik sandiwara pelukan hangat.
Sementara itu, Bu Rani segera beranjak menuju dapur untuk mengambil camilan mewah sisa pesta semalam, bermaksud merayakan kesepakatan krusial ini.
Ziko menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah datar Mahira yang tiba-tiba melintas di benaknya. Ia meyakinkan diri bahwa ambisi bisnisnya jauh lebih penting daripada mempertahankan istri kampung yang tidak memiliki kontribusi apa pun bagi masa depannya.
Di bawah lampu ruang tamu yang benderang, ketiganya mulai menyusun rencana makan malam mewah berikutnya untuk menyambut kedatangan orang tua Clarissa, tanpa sedikit pun memedulikan piring-piring kotor yang mulai menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap di dapur belakang, karena tidak ada lagi tangan cekatan yang biasanya membersihkan seluruh sudut rumah itu tanpa pernah mengeluh.
Bu Rani langsung tertawa lebar dan memeluk Clarissa dengan penuh rasa bangga. "Bagus! Begitu dong baru anak Ibu. Kita tunjukkan pada Mahira kalau dia sama sekali tidak berharga di rumah ini."
Di tengah kepungan tawa kemenangan dan sorak gembira Bu Rani serta Clarissa di ruang tamu yang gemerlap itu, Ziko merasa keputusannya sudah sangat tepat.
Mereka bertiga merayakan kepergian Mahira seolah-olah wanita itu hanyalah seonggok sampah yang berhasil dibuang dari kehidupan mereka.
Mereka sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa wanita dasteran yang mereka soraki kepergiannya hari ini, saat ini sedang duduk dengan tenang di dalam ruang rapat utama lantai teratas gedung pencakar langit Grand Wijaya Group.
Mahira yang mereka anggap miskin dan tidak punya nyali, kini telah kembali mengenakan pakaian sutra terbaiknya, siap memegang pena hitam untuk menandatangani surat eksekusi kebangkrutan total bagi perusahaan Adhi Jaya Perkasa milik Ziko yang akan berlaku mulai esok hari.