Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18: "Aku lagi nunggu sahabat ku dulu"
Bel tanda berakhirnya rangkaian upacara bendera akhirnya berbunyi nyaring.
"Seluruh peserta upacara... dibubarkan!" seru Komandan Upacara dengan vokal yang melengking tegas.
"Barisan... dibubarkan!"
Seketika itu juga, suasana lapangan yang tadinya sunyi mendadak riuh rendah. Ribuan murid dari kelas X, XI, hingga XII melangkah berbondong-bondong meninggalkan lapangan menuju gedung kelas masing-masing.
Gema obrolan meluap di sepanjang selasar sekolah. Ada yang meratapi deretan tugas yang menumpuk, mengeluhkan jadwal ulangan harian di jam pertama, hingga topik hangat yang mendominasi pagi itu: pengumuman deretan peraih medali olimpiade yang baru saja dipanggil ke depan.
Dalam hitungan menit, area lapangan yang semula dipadati manusia perlahan melengang. Yang tersisa di sana hanyalah beberapa guru piket, tim petugas upacara, dan jajaran pengurus OSIS yang masih harus membereskan sisa perlengkapan mikrofon serta panggung podium.
Di sisi kiri lapangan, di bawah rindangnya pohon ketapang yang meneduhkan, Arga masih berdiri santai. Ransel hitam miliknya sudah tergeletak manis di atas bangku taman kayu. Tangan kirinya memegang topi upacara, sementara jemari tangan kanannya sesekali mengusap layar ponsel.
Uniknya, di lipatan lengan kiri Arga, tersampir jas almamater OSIS milik Nadira yang tadi sempat dilepas gadis itu karena cuaca mulai menyengat.
Arga menengadah, melirik sebentar ke tengah lapangan. "Belum kelar juga ternyata..." gumamnya pelan.
Arga sangat paham. Jika sudah menyangkut urusan kepengurusan OSIS, Nadira pasti menjadi orang paling belakangan yang meninggalkan lapangan. Gadis itu punya dorongan tanggung jawab yang tinggi memastikan seluruh alat kembali ke ruang OSIS, merekap berkas keterlambatan, hingga koordinasi akhir dengan pembina.
Namun bagi Arga, menunggu lima atau sepuluh menit bukanlah sebuah persoalan. Ritme ini sudah menjadi bagian dari keseharian mereka sejak lama.
Baru saja Arga hendak mengecek notifikasi ponselnya, derap langkah kaki terdengar mendekati tempatnya berdiri.
"Permisi... Kak Arga?"
Arga mendongak. Di hadapannya kini berdiri empat orang murid baru—dua siswa cowok dan dua siswi cewek. Dari gestur yang masih tampak canggung dan cemas, sudah sangat jelas mereka adalah anak kelas sepuluh.
Arga mengulas senyum ramahnya. "Eeh, iya? Kenapa, Dek?"
Salah satu siswa cowok memberanikan diri maju selangkah. "Kak... kami mau daftar ekskul basket."
"Oh ya?" mata Arga membinar ramah.
"Iya, Kak. Tadi kami sempat nanya Kak Fahri, terus kata Kak Fahri formulir pendaftaran angkatan baru ada di Kak Arga," jelasnya polos.
Arga manggut-manggut paham. "Oalah, iya bener kok."
Siswi cewek di sebelahnya buru-buru menimpali, "Tadi kami sebenarnya udah sempat nyari ke kelas XII IPA 1, Kak. Tapi kata Kak Bima di dalam, Kak Arga masih di lapangan. Makanya kami nekat nyusul ke sini..."
Arga terkekeh pelan, memasang raut wajah penuh penyesalan. "Wah, maaf ya jadi bikin kalian bolak-balik. Soalnya ini... aku lagi nungguin sahabatku dulu di lapangan."
Arga mengarahkan pandangannya ke tengah lapangan tempat Nadira berdiri. "Nanti kalau dia udah selesai urusan OSIS-nya, kita balik ke kelas barengan. Nanti formulir basketnya langsung aku ambilkan di tas."
Keempat murid baru itu kompak mengangguk paham. "Siap, Kak! Nggak apa-apa banget kok, kami tunggu di sini aja."
"Sip, makasih ya," balas Arga manis.
Sembari menunggu, keempat adik kelas itu berdiri tak jauh dari Arga. Salah seorang siswi tampak menyikut lengan temannya, lalu berbisik pelan yang sayangnya masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Arga.
"Eh... itu beneran Kak Arga yang tadi dipanggil ke depan kan?" "Iya! Kapten basket yang dapet emas olimpiade fisika itu!" "MasyaAllah... keren banget ya. Mana ganteng, ramah banget lagi..." "Iya, nggak ada senioritasnya sama sekali..."
Arga yang mendengar bisikan bertubi-tubi itu hanya mampu menyunggingkan senyum tipis, agak canggung namun tetap tenang.
Tak berselang lama, dari arah tengah lapangan, sosok gadis beralmamater abu-abu tampak melangkah cepat membawa setumpuk folder map. Di belakangnya, Cantika dan Rani mengekor seraya menyelesaikan diskusi singkat bersama Pak Toni.
Begitu mendapati Arga masih setia berdiri di bawah pohon ketapang, langkah kaki Nadira mendadak semakin cepat.
"Argaaa..." panggil Nadira nyaring.
Arga menoleh. "Hm?"
Nadira menghentikan langkah tepat di depan Arga dengan napas sedikit terengah. "Loh? Kamu masih di sini?!"
Arga mengangkat topi upacara di tangannya. "Iya lah. Kan nungguin lu."
Mata Nadira membulat penuh rasa bersalah. "Ya Allah, Arga... Kirain kamu udah naik ke kelas dari tadi!"
"Nggak," sahut Arga santai. "Kan tadi di selasar udah bilang bakal nunggu."
Nadira mengembuskan napas halus, senyum hangat terukir di bibirnya. "Oalah... Yaudah yuk, balik ke kelas."
Namun saat hendak melangkah, tatapan mata Nadira membentur empat siswa kelas sepuluh yang berdiri tegap di dekat Arga.
"Loh? Ini kenapa ramai-ramai di sini, Ga?" tanya Nadira bingung.
Siswi kelas sepuluh yang diajak bicara langsung menjawab dengan semangat. "Hehe... kami mau daftar basket, Kak Ketos!"
"Iya, Kak. Tadi disuruh Kak Fahri minta lembar formulir ke Kak Arga," tambah teman cowoknya.
"Ooh... gitu," Nadira manggut-manggut paham. "Pantesan berdiri di bawah pohon."
Tiba-tiba, salah seorang siswi kelas sepuluh menatap wajah Nadira tanpa kedip untuk beberapa detik. Lalu, cengiran malu-malu terbit di wajahnya.
"Kak Dira..."
"Iya, Dek?"
"Btw... Kakak cantik banget harinya. MasyaAllah..."
Siswa-siswi yang lain langsung mengangguk cepat mengiyakan. "Iya, Kak! Cantik banget. Pantes cocok banget jadi Ketua OSIS!"
Mendapat pujian mendadak di depan umum, wajah Nadira seketika merona merah. Rona merah muda menyebar hingga ke ujung telinganya. Gadis itu tersenyum malu seraya mengibas tangan pelan.
"MasyaAllah... Makasih banyak ya, Dek," tutur Nadira dengan nada suara yang begitu lembut. "Kalian juga cantik-cantik banget kok."
Kedua siswi itu langsung bertukar pandang kegirangan. "Hehe... makasih banyak, Kak!"
"Semangat ya sekolahnya. Nanti kalau ada kendala atau kebingungan soal lingkungan SMA, jangan sungkan tanya ke kakak-kakak OSIS ya," pesan Nadira hangat.
"Siap, Kak Ketua!"
Arga yang menyimak interaksi itu hanya mampu menyunggingkan senyum simpul. Ada satu hal yang selalu Arga kagumi dari sahabat kecilnya ini: tiap kali berbicara dengan adik kelas, mode tegas Nadira otomatis melunak, berubah menjadi sosok kakak perempuan yang amat hangat, ramah, dan mengayomi.
Melihat obrolan Nadira sudah usai, Arga mengangkat almamater OSIS yang sejak tadi bertengger di lengannya.
"Nih. Jas almamater lu," panggil Arga.
Nadira mengerjap, lalu menepuk jidatnya pelan. "Oh iya! Hehehe... Lupa lagi kan!"
Nadira tertawa kecil saat menerima jas almamater tersebut dari tangan Arga. "Untung ada kamu, Ga."
"Lah, kalau nggak dipengangin... bisa-bisa ini jas udah melayang ketinggalan di bangku taman," sindir Arga jenaka.
Nadira menyengir tanpa dosa. "Iya juga sih... Hehe."
Arga lantas menyangkutkan topi upacaranya ke tali ransel hitam, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Oke, aman. Yuk naik ke kelas," ucap Arga. Kemudian ia memutar tubuh menatap empat siswa kelas sepuluh tadi. "Ayo, ikut Kakak ke gedung XII IPA. Nanti formulir basketnya aku ambilkan di kelas."
"Siap, Kak Arga!" seru mereka berempat kompak.
Dengan santai, Arga dan Nadira melangkah beriringan membelah koridor sekolah, diikuti oleh empat murid baru di belakang mereka—menampilkan potret manis kepemimpinan dan persahabatan yang begitu hangat di SMAN 1 Yogyakarta.