"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Perburuan
Jeritan histeris manusia bercampur dengan suara tengkorak yang hancur dan derakan kayu patah menggema hebat di sekitar pondok yang runtuh. Rombongan SMA Fujimi kian terdesak. Takashi Komuro terengah-engah dengan luka goresan di bahunya, mempertahankan Rei Miyamoto yang sudah lemas tak berdaya. Saeko Busujima mengayunkan bokken-nya dengan sisa-sisa tenaga, memecahkan rahang zombie yang mendekat, tetapi raut wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kewaspadaan mutlak.
Bukan karena kerumunan mayat hidup biasa—melainkan karena kehadiran sosok raksasa yang baru saja merobohkan sisa dinding pondok.
ROAAAAAR!
Raungan mengerikan yang memecah gendang telinga bergema dari tenggorokan zombie beruang pegunungan itu. Tubuhnya yang setinggi tiga meter dilapisi otot-otot hitam membengkak dengan cairan bernanah yang meleleh dari sela-sela bulunya yang membusuk. Cakar-cakarnya yang memanjang hingga dua puluh sentimeter menghantam lantai kayu, menghancurkan fondasi pondok seperti meremas kerupuk.
"M-monster macam apa itu?!" jerit Kohta Hirano dengan suara pecah. Pipa besi di tangannya terasa tidak ada gunanya sama sekali di hadapan makhluk sebesar itu.
"Mundur! Semuanya mundur ke arah tebing!" teriak Saeko, tahu betul bahwa senjata tumpul atau tombak rakitan mereka tak akan sanggup menembus kulit tebal sang beruang mutan.
Beruang zombie itu mengendus udara, lalu matanya yang memutih dan pekat menatap lurus ke arah Saya Takagi yang tersungkur di tanah karena kakinya terkilir. Monster itu mengangkat kedua cakar depannya, siap menghantam dan melumat tubuh gadis itu menjadi adonan darah.
"TIDAK!" teriak Saya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, memejamkan mata menantikan kematian yang mengerikan.
SUSH!
Sebuah bayangan hitam membelah udara malam dengan kecepatan yang tak masuk akal.
CRAAAK!
Bilah baja machete berwarna hitam pekat menancap sangat dalam di pergelangan tangan kanan sang beruang zombie, menahan tebasan cakarnya hanya beberapa sentimeter di atas kepala Saya Takagi. Darah kental berwarna hitam pekat membuncah ke udara!
"A-apa...?" Saya membuka matanya perlahan.
Di depannya, berdiri seorang pria dengan posisi kuda-kuda kokoh bagaikan batu karang. Pria itu mengenakan masker taktis, rompi tempur lengkap, dan matanya memancarkan aura dingin yang membekukan darah.
"Kau..." cicit Takashi yang menyaksikan dari jarak sepuluh meter dengan mata terbelalak tak percaya. "Thomas?!"
Thomas tidak membalas. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Saya atau Takashi. Kehadirannya di sini sama sekali bukan untuk menjadi penyelamat heroik.
GGRRRRR!
Beruang zombie itu merungut kesakitan dan murka. Ia mengayunkan cakar kirinya untuk memenggal kepala Thomas dengan kecepatan angin.
Namun, Thomas yang telah memiliki kekuatan Evolusi Tier 1 bergerak jauh lebih cepat. Ia menarik parangnya dengan satu sentakan kuat, lalu melakukan gulingan taktis ke samping kanan, menghindari tebasan fatal itu dengan sangat presisi. Cakar beruang itu justru menghantam pohon pine besar di belakang Thomas hingga tumbang seketika!
"Langkah kakinya lambat di sisi kiri karena infeksi jaringan," analisis Thomas dalam hati. Matanya yang tajam mengunci pendaran cahaya ungu yang sangat terang di dalam dada sang beruang.
Kristal Tier 2.
Thomas mengepalkan tangan kirinya, merogoh pisau komando bergaya militer dari rompinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat gagang machete. Tanpa ragu sedikit pun, Thomas memacu fisiknya hingga batas maksimal, menerjang maju lurus ke arah dada sang monster!
"Pria itu gila! Dia menyerangnya secara langsung?!" teriak Kohta histeris.
Beruang zombie itu membuka rahangnya yang lebar dan berbau bangkai, mencoba menelan kepala Thomas bulat-bulat. Tetapi di udara, Thomas melentingkan tubuhnya secara tak wajar—sebuah refleks luar biasa hasil gabungan latihan dan penyerapan kristal sebelumnya. Ia hinggap tepat di atas bahu beruang raksasa itu!
THUK!
Thomas menancapkan pisau komandonya ke mata kiri sang beruang untuk mengunci pegangannya, membuat monster itu meraung histeris dan bergoyang kebingungan.
"Selesai," bisik Thomas dingin di samping telinga busuk monster itu.
Menggunakan seluruh kekuatan otot lengan dan bahunya yang telah melampaui batas manusia biasa, Thomas memutar machete bajanya lurus ke bawah, menancapkannya tepat di antara sela-sela tulang leher belakang hingga menembus pangkal otak sang beruang.
CRAAAAK-CRUNCH!
Bilah baja hitam itu memotong saraf utama monster tersebut. Raungan beruang zombie itu mendadak terhenti. Tubuh raksasanya bergetar hebat sebelum akhirnya tumbang menghantam tanah dengan dentuman keras yang menggetarkan bumi pegunungan: THUD!
Debu dan ceceran darah hitam beterbangan.
Thomas melompat turun dengan mulus, mendarat dengan kedua kakinya tanpa suara. Di sekelilingnya, puluhan zombie biasa yang tersisa mendadak berhenti melangkah, terintimidasi oleh pendaran aura membunuh yang keluar dari tubuh Thomas.
Di antara puing-puing pondok, Takashi, Rei, Saeko, Saya, dan Kohta membeku kaku. Mereka menatap Thomas dengan campuran rasa takut, kagum, dan ketidakpercayaan yang mendalam. Pria yang tadi siang mereka usir karena dianggap "berbahaya dan asing", baru saja membunuh monster raksasa yang hampir memusnahkan mereka hanya dalam kurun waktu kurang dari dua menit—seorang diri.
Thomas membelakangi mereka. Ia menyapukan pisaunya ke dada beruang itu, membelah jaringan daging tebalnya, lalu menarik keluar sebuah batu kristal berwarna ungu pekat seukuran kepalan tangan anak kecil yang memancarkan pendaran cahaya berkilau murni.
Kristal Zombie Tier 2.
Thomas menyapu darah di kristal itu ke rompinya, lalu memasukkannya ke dalam kantung taktis tanpa memedulikan tatapan lapar dan memohon dari anak-anak sekolah di belakangnya.
Ia membalikkan badan perlahan, menatap Takashi Komuro dan kelompoknya dengan pandangan yang teramat dingin.
"Kalian masih bernapas?" tanya Thomas datar di balik maskernya. "Nikmati sisa napas kalian. Karena besok pagi, tempat ini akan dipenuhi oleh hal yang jauh lebih buruk daripada beruang ini."
Tanpa menunggu balasan dari mereka, Thomas berbalik dan melangkah pergi menyatu dengan kegelapan hutan pegunungan, meninggalkan kelompok pahlawan sekolah itu terlentang dalam kebingungan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa keberadaan mereka sama sekali tak berarti apa-apa baginya.