Menjadi anak seorang janda dengan ekonomi pas-pasan tak membuat Cika putus asa dan ia tetap semangat bersekolah,
Dan dengan pribadinya yang tak biasa itu, Cika pun jadi menarik perhatian seorang cowok murid baru yang tampan dan tajir.
Namun, kisah cinta mereka kemudian mengantarkan mereka pada satu pusaran masalah yang terhubung dengan masa lalu.
Apakah kira-kira?
Dan, bagaimana kemudian nasib hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pesan Sang Bunda
Bus metromini berhenti di depan sebuah toko sembako kecil dengan banner yang bagian ujungnya lepas pakunya hingga tulisan pada Banner terlipat dan jadi tak terbaca dengan jelas,
Cika melompat turun dari bus metromini sambil membawa tumpukan wadah dagangannya yang kini masih ada tersisa,
Romi yang entah kenapa begitu tertarik melihat Cika turun tampak berdiri dari duduknya dan matanya terus tertuju pada pintu,
Cika tampak berjalan cepat ke trotoar dan kemudian berjalan ke arah toko sembako yang banner namanya terlipat, di mana di sampingnya ada tiang listrik dan gang kecil yang sepertinya menuju perkampungan,
"Mau turun juga De, nyusul pacarnya?"
Tanya si kenek dari pintu pada Romi, yang tentu saja membuat hampir seisi bus metromini jadi melihat ke arah Romi yang cepat menggeleng sambil nyengir keki,
Buset nih kenek, julid abis. Batin Romi,
Tampak kemudian Romi akhirnya duduk kembali di tempat duduknya, ia melihat tempat duduk di sampingnya yang semula Cika yang duduk di sana kini kosong tak ada yang menduduki,
Jadi dia tinggal di perkampungan belakang toko sembako itu? Batin Romi lagi,
Bus metromini telah berjalan lagi, dan di sepanjang jalan itupun Romi akhirnya sibuk memikirkan Cika terus, bahkan hingga ia sampai di rumah.
Tentu saja, baginya, di jaman sekarang, menemukan gadis dengan wajah cantik lalu mau berdagang seperti itu di saat ia masih sekolah adalah sesuatu yang tidak biasa,
Karena selama ini, Romi banyak menemui teman gadisnya yang sebetulnya tidak secantik Cika saja, mereka akan berperilaku sangat manja,
Ya, manja, bahkan ada yang sampai sangat manja,
Sementara itu, Cika yang baru pulang sekolah tampak pergi ke beberapa warung lagi di sekitar rumah untuk mengambil dagangan sebelum benar-benar sampai di rumahnya sendiri,
Ia mengambil wadah-wadah dagangan yang dititipkan di sana, sekaligus menghitung berapa jumlah uang masuk dari dagangan hari ini di setiap warung,
"Cika, tadi Ibunya titip kunci rumah, mungkin hari ini dia bakal lembur lagi,"
Kata Bu Surti, si pemilik warung terakhir yang didatangi Cika, yang mana merupakan warung terdekat dari rumah,
Jaraknya hanya sekitar tiga rumah saja dan satu tanah kosong milik Pak Haji Samsul, seorang sesepuh di perkampungan tersebut, yang merupakan tokoh agama sekaligus juga tokoh masyarakat yang cukup disegani,
"Oh iya Bu Surti, tadi Ibu sudah kirim sms, katanya kunci rumah dititipkan Bu Surti,"
Kata Cika,
Bu Surti mengangguk, lalu ia tampak berjalan ke arah meja dekat rak-rak yang ada banyak macam dagangan,
Dari mie instan, sampai beberapa macam bumbuan,
"Sudah makan belum? Kalau belum, makan dulu saja Cika di sini,"
Ujar Bu Surti,
Cika tampak tersenyum sambil menggelengkan,
"Terimakasih Bu Surti, biasanya Ibu sudah masak kok, Cika makan di rumah saja,"
"Oh ya sudah, syukurlah kalau Ibu sempat masak, memang tadi sempat pulang dan beli telur di sini, tapi kalau nanti ternyata belum ada lauk, jangan sungkan ke tempat Bu Surti lagi ya Cika,"
Kata Bu Surti baik sekali,
Cika pun mengangguk, setelah itu ia pun pamit pulang karena hari sudah mulai sore dan ia ingin cepat mandi serta istirahat sebelum nanti belajar sambil menunggu Ibu lembur,
Ya, Ibu belakangan memang sering sekali lembur di tempat kerjanya,
Selain membuat dagangan untuk dititip-titipkan di warung dan kantin sekolah, Ibunya Cika memang bekerja di salah satu konveksi yang cukup besar milik orang Tionghoa,
Konveksi yang memproduksi baju-baju anak dalam banyak model itu nantinya akan dikirimkan ke beberapa pasar besar di Jakarta, baik di Tanah Abang, pasar senen, maupun juga di Cipulir,
"Cika, baru pulang?"
Tanya seorang pemuda yang merupakan anak Bu Surti saat Cika baru meninggalkan warung sekaligus rumah Bu Surti,
Bang Edy, anak Bu Surti itu tampak dengan kedua temannya, mereka duduk di bangku kelas X di SMU,
"Iya Bang,"
Jawab Cika seraya menyunggingkan senyuman, membuat kedua teman Edy langsung menggoda Edy,
"Tiap hari nanya mulu, kapan nembaknya,"
Kata mereka, membuat Edy langsung memukuli lengan mereka yang tergelak-gelak,
Cika sendiri melihat Edy dan teman-temanya heboh pun memilih untuk meninggalkan mereka dengan bergegas membawa langkahnya menuju rumah,
Sampai rumah, begitu ia masuk, iapun kembali mengunci pintu dari dalam,
Ini adalah pesan Ibunya yang selalu Cika ingat-ingat, jika ia tidak boleh sampai lupa mengunci pintu, baik pintu depan maupun pintu belakang,
Bukan buruk sangka dengan tetangga, tapi apapun, hati-hati adalah lebih baik, karena mengingat belakangan ini banyak sekali kejadian yang tidak mengenakkan menimpa pada anak-anak perempuan yang tinggal sendirian di rumah,
Tentu saja, Ibu tidak mau sesuatu yang buruk sampai terjadi pada putri satu-satunya, itulah sebab beliau selalu wanti-wanti pada Cika,
"Jangan keluar malam, sekalipun itu untuk kepentingan sekolah, tidak usah ikut ekstra kurikuler jika pulangnya sampai hari gelap, jangan pernah lupa kunci pintu rumah sekalipun itu siang hari, jangan terlalu dekat dengan teman laki-laki sampai duduk bergerombol,"
Dan Cika pun terus mengingat semua pesan itu, karena bagi Cika, pesan dari Ibunya bukanlah hanya sekedar pesan, tapi juga wasiat, tapi juga perintah yang tak boleh dibantah.
...****************...
gapapa lah yang penting Cika dan Romi udah bahagia,kalau aja semua hidup bisa sesimple itu yaa hihi
buruan bantuin s Cika
kasihan noh tas nya pda somplak pda awur awuran buku nya ge