Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pensi
Selepas Maghrib dan mandi air hangat, aku merasakan tubuhku lebih ringan. Tenagaku juga seakan ter-charge kembali. Kuhampiri Ferdy yang masih setia dengan ponsel nya. Menghubungi beberapa tim inti dan memastikan semuanya telah selesai untuk persiapan besok.
"Gue udah baikan Dy. Lo kalau mau ke sekolah buat mastiin semuanya, nggak apa-apa gue ditinggal." Ku tepuk pundak nya pelan dan dia pun menatapku sebentar.
"Kita nggak lagi berantem Dit. Nggak perlu baikan." Masih dengan fokus nya mengetik sesuatu di aplikasi chat yang ada, Ferdy menjawab asal.
Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya. Aku tahu jawaban nyeleneh nya itu merupakan final dan fixasi dia yang akan tetap bertahan disini dan tidak akan meninggalkan ku sendiri. Itu juga merupakan jawaban penegasan bahwa dia tidak ingin diganggu sekarang.
Aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil bubur ayam yang masih tersisa. Ya, aku akan berusaha menghabiskan nya.
Menit demi menit kuhabiskan di depan televisi sambil tetap berusaha menghabiskan bubur ayam ini. Kubiarkan Ferdy fokus menuntaskan semua tugas nya yang dikerjakan secara online di dalam kamar.
Bubur ayam yang ada di depan ku masih belum habis, dan aku memutuskan untuk menyudahinya. Entahlah... Aku merasa sudah banyak memakan nya, tapi tidak kunjung habis juga. Dan Gejolak mual itu kembali datang, alasan pasti yang membuatku harus menyudahi memakan bubur ini.
***
Bunyi alarm dengan nada kokokan ayam terdengar di telingaku. Aku segera membuka mata ini. Kulihat Ferdy tertidur di atas karpet di bawahku. Sementara aku sendiri ada diatas sofa. Televisi pun masih menyala di depan kami.
Apa semalam aku tertidur disini?
"Dy! Banguun! Alarm Lo berisik!" Aku masih mencari sumber suara kokokan ayam di ponsel Ferdy. Tapi tidak kutemukan dimana poselnya.
"Ferdy! Bangun!!" Aku memutuskan mendekatinya dan berusaha menggoyang tubuhnya.
Panas...
Lengan yang kupegang terasa panas tidak seperti normal nya suhu tubuh. Aku beralih menempelkan punggung tanganku pada dahinya.
Panas.
"Dy,,,"
Ssssh...
Erangan kecil terdengar dari bibirnya yang kering. Selanjutnya dengan gerakan cukup tiba-tiba Ferdy mengangkat tubuhnya dan berlari menuju toilet.
Ada apa dengan anak itu?
Aku yang masih mengumpulkan tenaga, tersentak kaget saat mendengar suara muntahan disana.
Ferdy, Lo kenapa?
Langsung kulangkahkan kaki ini menghampirinya.
"Tenang Dit! Aman! Udah empat hari ini tiap bangun tidur gue harus muntah dulu. Tiba-tiba mual gitu. Mungkin jigong gue kebanyakan keluar pas gue tidur." Langkah ku belum sampai di toilet itu saat Ferdy berbalik dan menemukan ku di belakangnya.
"Lo beneran oke? Demam juga Lho Dy." Aku kembali menekan punggung tanganku pada keningnya. Aku khawatir. Meski Ferdy masih terlihat baik-baik saja bahkan sempat-sempatnya dia berkelakar tapi wajah pucat itu tidak bisa berbohong.
Masih panas
"Tenang Dit... Gue baik-baik aja. Bentar lagi juga turun ko demam nya. Udah biasa. Udah ayo, nggak usah panik gitu mukanya. Kita duduk dulu di sofa ya." Aku menurut saat tanganku ditarik dan terpaksa mengikuti langkah ferdy menuju Shofa tempat tidurku semalam.
"Jadi,,, gue oke. Memang sejak kejadian gue harus begadang ngurus ini itu, yaa sekitar empat hari ini lah. Tiap bangun tidur, gue merasa mual banget. Dan karena mual itu, gue harus muntah kan biar mual nya hilang. Jadi selesai, setelah muntah aman. Gue kembali baik-baik aja kalau udah muntah." Ferdy menjelaskan setelah kami duduk diatas sofa.
"Tapi Lo demam. Itu tandanya ada yang nggak baik-baik aja di dalam sana." Aku berusaha mencari kejujuran dari nya. Muntah bukanlah hal biasa yang harus disikapi dengan santai.
"Oke, gue ngaku, khusus hari ini gue memang merasa agak meriang. Tapi kemaren-kemaren nggak kok. Biasanya setelah muntah udah enakan." Setelah mengucapkannya, Kulihat Ferdy menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Ada gerakan menahan muntah disana, meski tanpa suara. Aku cukup paham posisi itu karena beberapa kali aku pun terpaksa melakukannya saat situasi dan kondisi tidak memungkinkan ku untuk memuntahkan saat itu juga.
"Dy,,,"
"Aman dit. Gue ke toilet dulu sekalian mandi." Langkah cepatnya menuju toilet tidak kutahan sama sekali.
Sakit apa dia sebenarnya?
Sepuluh menit kemudian Ferdy keluar dari kamar mandi masih dengan wajah pucatnya.
"Kayaknya hari ini gue beneran sakit deh Dit. Pegel semua badan gue." Ucapnya sambil membuat gerakan Stretching yang cukup absurd.
"Lo masih ada mual nggak?" Aku benar-benar khawatir sekarang. Dia bahkan mengakui langsung kalau dirinya sakit.
"Sedikit. Tapi masih aman dit. Nggak akan ganggu aktifitas gue." Ucapnya masih dengan santai tanpa beban. Padahal mata sayu dan muka pucatnya cukup menggambarkan betapa dirinya tengah berjuang untuk terlihat biasa saja.
"Gue ikut Lo ke sekolah. Gue mau tampil, Lo nggak usah maksain diri Lo." Akhirnya keputusan ini kubuat. Aku tidak mengkonsumsi obat apapun hari ini. Seharusnya keadaan ku akan baik-baik saja tanpa serangan efek dari obat ARV yang kuminum seperti biasanya.
"Serius?! Lo udah enakan?! Tapi gue bingung harus seneng atau harus ngelarang Lo." Ucapnya kemudian dengan penuh binar kebahagiaan.
"Nggak usah Lo bilang pun gue tau kalau Lo lagi seneng. Shubuh dulu Sono, gue nyusul. Mau mandi dulu." Dengan langkah yang cukup ringan aku melangkah ke arah toilet disini. Sulit dipercaya aku bisa memutuskan ini dengan tiba-tiba. Semoga semua akan berjalan lancar hari ini.
***
"Selanjutnya penampilan puncak dari seluruh kakak kelas XII tahun ajaran 2025-2026" Gema suara MC di depan panggung membuat kami yang sudah berbaris rapi di belakang panggung mulai melangkahkan kaki. Aku yang berada di barisan paling depan bersama Ferdy, melangkah ringan ke atas panggung.
Ku posisikan diriku berdiri di depan sebagai center seluruh barisan, Ferdy ada di sampingku dengan posisi yang sama dan gitar ditangannya. Kami memang sepakat hanya memakai instrumen gitar, karena menurut sebagian besar dari kami, akan lebih terasa feel nya. Dan teman-teman seluruh angkatan ku memenuhi semua sisi panggung dengan barisan yang sangat rapi. Sebagian ada di belakang kami sampai memenuhi sisi belakang panggung ini.
Petikan gitar yang Ferdy mulai, membuatku bersiap menggenggam erat mic di depanku.
Hari ini aku akan menyanyikan lagu lama dari sheila on 7 berjudul 'sebuah kisah klasik'.
Lagu ini memang bukan pilihanku, tapi atas hasil voting seluruh angkatan kami akhirnya lagu ini terpilih. Aku pun tidak menyanyikan seluruh lagu ini sendiri, kami sepakat di bagian reff nanti semua akan bersuara.
Akupun mulai bernyanyi mengikuti alunan gitar dari Ferdy.
Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua
Oooh.. oooh...
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian
Tepuk tangan membahana memenuhi seluruh penjuru aula indoor tempat acara pensi ini berlangsung. Aku merangkul Ferdy erat, lagu ini cukup mewakili perasaan ku saat ini.
Sampai jumpa Ferdy...
Aku sudah memikirkan dengan matang, aku akan segera pergi dari kehidupanku disini. Aku akan memulai semuanya dari awal tanpa seorangpun yang mengenaliku.
"Sukses, thanks banget Dit.." Suara serak yang sarat dengan nafas tersengal milik Ferdy membuatku kembali memperhatikan wajahnya.
"Lo... Baik-baik aja?"
"Anter gue ke UKS Dit." Tanpa menghiraukan yang lainnya, aku segera menuruni panggung dan menarik Ferdy menjauhi kerumunan. Kami berjalan sedikit cepat menuju UKS. Beruntung koridor sekolah sangat sepi sekarang, semua penghuni sekolah ini sepertinya berada di aula tempat acara pensi.
Aku memperhatikan Ferdy yang langsung membaringkan tubuhnya di salah satu brangkar yang ada di UKS ini.
"Gue tidur dulu ya Dit. Lo tenang aja, gue beneran baik-baik aja. Gue cuma butuh tidur." Aku mengangguk cepat menanggapinya. Nafasnya yang memburu saat berbicara membuatku takut mendengarnya. Biarlah Ferdy beristirahat disini, aku pun akan mengikutinya membaringkan tubuh. Sepertinya ini pilihan paling tepat yang bisa kulakukan, dari pada mengikuti kelanjutan acara pensi yang isinya kesan pesan dan salam-salaman.
semangatt juga kak 💪